Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Sekutu Illuminati
Rio tertawa renyah, namun tawa itu tak membawa kehangatan sama sekali—hanya rasa dingin yang menusuk tulang, bagaikan suara serpihan es yang saling berbenturan. Ia melangkah perlahan mendekati Natalia, sepasang matanya menyala penuh rasa kagum yang bercampur niat jahat yang tak lagi ia sembunyikan.
"Kau benar-benar wanita yang cerdas," ucapnya pelan namun terdengar jelas di setiap sudut ruangan yang kini terasa begitu sempit dan menyesakkan. "Bahkan sebelum aku sempat menjelaskan semuanya, kau sudah bisa membaca setiap kebohongan yang kucoba tutupi. Memang sayang sekali... seharusnya kau bisa menjadi bagian dari kami. Tapi sayangnya, kau memilih untuk berdiri di sisi mereka yang lemah."
Natalia tak mundur selangkah pun, meskipun jantungnya berdegup kencang seakan mau melompat keluar dari rongga dadanya. Ia meremas tangan Mega yang berada di sampingnya, berusaha menenangkan diri sekaligus memberi kekuatan pada sahabatnya yang kini tampak gemetar hebat.
"Bukan karena kami lemah," balas Natalia dengan suara yang berusaha ia tekan agar tetap tenang, meski rasa takut menjalar di setiap urat nadinya. "Tapi karena kau sudah kehilangan kemanusiaanmu, Rio. Di saat orang lain saling bergandengan tangan untuk bertahan hidup, kau justru menjadikan sesamamu sebagai mangsa. Kau pikir dengan cara ini kau akan selamat? Kau hanya menunda kematianmu sendiri dengan cara yang paling hina."
Tawa Rio kembali meledak, kali ini terdengar lebih tajam dan penuh ejekan. Ia mengangkat tangannya sedikit, dan seketika itu juga puluhan orang bersenjata yang sedari tadi bersembunyi di balik tirai tebal, di balik pintu ruangan sebelah, bahkan di atas langit-langit yang tersembunyi, serentak melangkah maju. Senapan, parang, dan senjata tajam lainnya kini terarah tepat ke arah rombongan Danu yang tak memiliki satu pun alat pertahanan diri.
"Kemanusiaan?" ulang Rio sinis, wajahnya yang tadi tampak ramah kini berubah menjadi topeng kejam yang mengerikan. "Kemanusiaan apa yang kau bicarakan, wanita bodoh? Sejak wabah ini datang, tidak ada lagi yang namanya kemanusiaan! Hanya ada yang hidup dan yang mati! Hanya ada yang kuat mengambil apa yang ia mau, dan yang lemah harus rela menjadi santapan! Kau kira makanan dan obat-obatan yang ada di sini kami dapatkan dari mana? Kami ambil dari mereka yang terlalu lemah untuk mempertahankannya! Dan sekarang... giliran kalian untuk berkontribusi."
Saat Danu maju selangkah, menempatkan dirinya tepat di depan Natalia dan Mega, seorang wanita yang berdiri di samping Rio melangkah maju. Wajahnya yang cantik namun dingin menatap tajam ke arah Danu, senyum sinis merekah di bibirnya seakan sedang melihat barang koleksi yang sangat ia inginkan.
"Aku suka dengan mereka, Rio," ucapnya lembut namun penuh ancaman yang tak tersembunyi. "Natalia dan Danu... keduanya sangat spesial. Mata yang tajam, nyali yang besar, dan detak jantung yang masih berapi-api. Darah mereka pasti terasa jauh lebih nikmat daripada yang lain."
Ia melirik sekilas ke arah mereka berdua, lalu melanjutkan ucapannya yang membuat bulu kuduk semua orang meremang:
"Kalian harus tahu, sebelum wabah ini menyebar ke seluruh penjuru negeri, kami sudah lama bersekutu. Kami membentuk persekutuan rahasia—yang mungkin kalian sebut dengan nama Illuminati. Kami meminum darah manusia muda dan sehat untuk menjaga awet muda, menghentikan penuaan, dan menjaga stamina kami tetap prima abadi. Dan sekarang... wabah ini justru memudahkan kami mendapatkan persediaan itu tanpa harus bersembunyi lagi. Benar begitu, Anna?"
Wanita itu menoleh ke arah sosok yang baru saja melangkah masuk ke ruangan itu—Anna. Kepala wanita itu tertunduk dalam, rambutnya menutupi separuh wajah, seakan tak sanggup menatap siapa pun yang ada di hadapannya.
Aldo terpaku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya. Ia menatap lekat-lekat sosok istrinya, wanita yang selama ini ia rindukan, wanita yang ia perjuangkan nyawanya hingga menembus ratusan kilometer bahaya. Namun kini... Anna berdiri di sisi musuh. Wanita yang selama ini ia yakini setia, ternyata menyembunyikan rahasia yang mengerikan di balik senyumnya yang tulus.
"Anna..." panggil Aldo lirih, suaranya pecah. "Benarkah apa yang mereka katakan? Katakan padaku, itu tidak benar..."
Namun Anna hanya semakin merapatkan tubuhnya, tak berani mengangkat wajah. Keheningan yang ia berikan justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Aldo.
Melihat itu, amarah Danu meledak tak terbendung. Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menonjol menahan gejolak yang meluap-luap.
"Apa sebenarnya yang kalian mau?!" teriak Danu dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah yang hampir tak terkendali. "Kalian bukan lagi manusia... kalian iblis yang menyamar! Tapi bahkan iblis pun tak sekejam kalian! Kalian memakan daging dan darah sesama makhluk hanya demi kepentingan sendiri?!"
Rio tertawa lebar, sementara wanita di sampingnya tersenyum puas melihat kekacauan emosi yang terjadi di hadapannya.
"Kau benar sekali, Danu," sahut Rio tenang seakan sedang membicarakan cuaca. "Kemanusiaan hanyalah belenggu yang menahan kita untuk menjadi yang terkuat. Selama ribuan tahun, aturan itu mengikat kita. Tapi wabah ini... adalah berkah terbesar yang pernah diberikan takdir. Ia menghapus semua aturan itu, dan membiarkan kita mengambil apa yang menjadi hak kita—hak mereka yang kuat untuk bertahan hidup dengan cara apa pun."
Wanita itu kembali melangkah mendekat, matanya menatap lekat ke arah Natalia.
"Darah kalian... sangat berharga," bisiknya dingin. "Kalian bertahan hidup melawan mayat hidup, kalian berjuang melawan ketakutan setiap hari. Itu membuat darah kalian penuh dengan energi yang murni. Sayang sekali harus berakhir begitu cepat... tapi setidaknya, kalian akan berguna bagi kami selamanya."
Natalia mundur selangkah, namun tak menyembunyikan ketakutannya. Ia melirik Aldo yang kini tampak hancur lebur—lebih hancur daripada saat ia terjebak di tengah kawanan zombie. Pengkhianatan orang yang paling dicintainya ternyata jauh lebih mematikan daripada gigitan makhluk hidup mati itu sendiri.
"Kalian tidak akan lolos dari ini," ucap Natalia tegas, meski suaranya sedikit bergetar. "Kalian pikir dengan meminum darah orang lain, kalian akan selamat? Kalian hanya akan menjadi monster yang diburu oleh semua orang yang masih memiliki hati nurani. Termasuk kami."
"Kalian sudah tidak punya senjata, tidak punya tempat lari," potong Rio dingin sambil memberi isyarat tangan. Puluhan orang bersenjata kembali mengeratkan lingkaran pengepungan. "Dan sekarang... kalian juga tidak punya alasan untuk saling percaya. Lihatlah dia..." Rio menunjuk ke arah Anna. "Siapa lagi yang kalian percayai di antara kalian? Siapa yang tahu, mungkin ada pengkhianat lain yang bersembunyi di balik wajah polos kalian?"
Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris hati setiap orang yang ada di sana. Keraguan mulai merayap masuk, namun di tengah kekacauan itu, tatapan Danu kembali bertemu dengan tatapan Rafli, Mega, dan yang lainnya. Meski hancur, meski terluka, benih perlawanan itu belum mati.
"Kalian salah," ucap Danu perlahan, namun dengan ketegasan yang kembali mengeras. "Kalian bisa mengambil senjata kami, kalian bisa mengurung kami, kalian bahkan bisa mencoba menghancurkan hati kami. Tapi satu hal yang tidak akan pernah kalian miliki... adalah persatuan yang kami miliki. Dan itu adalah kekuatan yang tak bisa kalian rampas dengan darah atau pedang sekalipun."
Di tengah keheningan yang mencekam, saat Rio dan wanita itu merasa sudah sepenuhnya menguasai keadaan, mereka tak sadar satu hal: di balik lengan baju panjang yang ia kenakan, Natalia masih menyembunyikan sebilah pisau kecil yang ia temukan saat berhenti sejenak di jalan—yang ia selipkan rapat-rapat, berharap tak akan pernah perlu menggunakannya.
Natalia mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa, mengabaikan detak jantung yang berpacu liar di dadanya. Ia melangkah maju perlahan, menatap lurus ke manik mata wanita itu dengan tatapan yang tak lagi penuh ketakutan, melainkan penuh amarah yang membara—tatapan buas seseorang yang tak lagi rela menjadi mangsa.
"Kalian memang jahat..." ucapnya perlahan, namun setiap kata mengandung ketegasan yang mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya. "Tapi aku pastikan... sekutu jahat kalian akan lenyap satu per satu dari muka bumi ini."
Belum sempat wanita itu merespons atau sekadar membalas, tangan Natalia bergerak secepat kilat. Pisau kecil yang tersembunyi itu melesat keluar, dan dengan kekuatan penuh yang ia miliki, Natalia menancapkannya tepat ke rongga dada wanita itu—tepat di pusat jantung yang selama ini mereka banggakan sebagai sumber kekuatan abadi mereka.
"AKKKHHH!!"
Jeritan nyaring meledak dari mulut wanita itu, memecah keheningan ruangan seketika. Tubuhnya tersentak hebat, matanya membelalak lebar penuh ketidakpercayaan. Darah segar muncrat membasahi tangan Natalia dan lantai di bawahnya.
Rio terpaku, wajahnya pucat pasi seketika. Anna yang berdiri tak jauh dari sana ikut terbelalak, seolah dunia runtuh tepat di hadapannya.
"Kurang ajar... kalian..." erang wanita itu lemah, kakinya mulai tak sanggup menopang tubuh. Ia meraba dada yang kini berdenyut perih, mencabut pisau itu namun tangannya gemetar hebat. Darah terus mengalir deras di sela-sela jari-jarinya. "Kalian... tidak akan lolos..."
Rio meledak dalam amarah yang tak terkendali. "Bodoh! Kau benar-benar sudah gila!" teriaknya, mengacungkan senjata ke arah Natalia. Namun sebelum peluru melesat, Danu, Rafli, dan yang lainnya sudah bergerak serentak. Meskipun tak bersenjata lengkap, mereka menyerang anak buah Rio dengan tangan kosong—meninju, menendang, merebut senjata, dan menjatuhkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
Kekacauan meledak seketika di ruangan itu. Teriakan, benturan, dan dentuman benda keras saling bersahutan. Di tengah kegemparan itu, Aldo hanya diam terpaku menatap Anna—wanita yang dicintainya, yang kini berdiri gemetar melihat sekutunya terkapar sekarat.
"Anna..." panggil Aldo parau, suaranya pecah. "Katakan padaku... kau masih ada di sana... bukan?"
Anna menggeleng lemah, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang pucat. Ia tak sanggup berkata apa-apa—karena ia tahu, tak ada kata yang mampu memperbaiki apa yang telah ia khianati.
Sementara itu, wanita yang ditusuk Natalia perlahan merosot jatuh ke lantai. Napasnya tersengal-sengal, matanya perlahan meredup, dan dalam detik terakhir kesadarannya, ia menatap tajam ke arah Natalia—namun kini tak lagi berisi ancaman, melainkan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kau... merusak segalanya...kau.. Kalian semua akan menyesal."bisiknya pelan sebelum akhirnya napas terakhir terlepas dari bibirnya.
Natalia berdiri tegak, napasnya memburu, tangan yang berlumuran darah masih bergetar. Ia tahu, satu nyawa telah diambilnya—dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung