NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 : Mulai Audit

Keesokan Paginya...

Matahari mulai menyinari vila yang dikelilingi pepohonan. Kali ini Adrian bangun bukan karena suara pintu besi, langkah petugas, atau suara obat-obatan. Ia membuka tirai kamar, pemandangan hijau terbentang luas di hadapannya.

Adrian menghela napas panjang. "Ini sangat indah dan berbeda."

Tok... tok... tok...

Adrian menoleh.

"Adrian, sudah bangun?" Suara Nadira.

"Sudah."

Pintu terbuka perlahan.

Nadira berdiri di sana mengenakan pakaian kerjanya, rambutnya diikat rapi.

"Kamu sudah siap?"

Adrian menatapnya sejenak. "Untuk apa?"

Nadira mengangkat alis. "Hari pertama menjadi orang normal."

Adrian tersenyum tipis. "Aku rasa aku sudah normal."

Nadira tertawa kecil. "Kalau begitu, jangan lupa sarapan."

"Aku akan turun."

Nadira berbalik, tetapi Adrian tiba-tiba memanggil.

"Nadira."

Wanita itu menoleh.

"Terima kasih."

Nadira tersenyum. "Jangan berterima kasih dulu. Aku belum tahu seperti apa sifatmu kalau sudah kembali menjadi direktur."

Adrian terkekeh. "Kalau begitu, kita lihat saja."

Di ruang makan, Gunawan sudah menunggu. Di atas meja terdapat beberapa dokumen.

"Adrian, duduk."

Adrian menarik kursi.

Gunawan menyerahkan sebuah map. "Ini data perusahaan yang akan kamu kelola."

Adrian membukanya. PT Pratama Logistik Nusantara.

Adrian membaca beberapa halaman dengan cepat. "Ini anak perusahaan Om?"

"Benar."

"Kenapa memilih perusahaan ini?"

Gunawan tersenyum tipis. "Karena perusahaan ini sedang mengalami masalah."

Adrian mengangkat wajah. "Masalah keuangan?"

"Bukan hanya itu."

Gunawan meletakkan sebuah laporan di depannya. "Selama tiga bulan terakhir, ada beberapa transaksi mencurigakan."

Adrian langsung membaca laporan tersebut. "Transfer ke perusahaan luar negeri..."

"Ya."

"Jumlahnya cukup besar, dan yang lebih menarik..." Gunawan menunjuk satu bagian. "Penerimanya selalu berubah."

Adrian menyipitkan mata. "Namun rekening akhirnya tetap mengarah ke satu perusahaan induk."

Gunawan mengangguk.

"Siapa pemiliknya?"

"Belum diketahui."

Adrian menutup map. "Jadi Om sengaja menempatkanku di sana."

"Benar."

Gunawan tersenyum tipis. "Kalau orang yang mengendalikan Miranda memiliki jaringan bisnis yang luas, kita harus menemukannya dari jalur bisnis."

Adrian mengangguk. "Dan kalau ada seseorang di dalam perusahaan Om yang bekerja untuk mereka..."

"Justru itu yang ingin aku temukan."

Suasana menjadi hening.

Adrian kemudian bertanya, "Apakah Miranda tahu aku bekerja di sana?"

"Belum."

"Bagus."

Gunawan menatapnya serius. "Jangan membuat mereka tahu bahwa kita sedang menyelidiki transaksi itu."

Adrian tersenyum tipis. "Kalau begitu, mulai hari ini aku bukan Adrian yang sedang mencari kebenaran."

Gunawan mengangkat alis.

"Aku hanya seorang direktur yang baru kembali bekerja."

Gunawan tersenyum puas. "Tepat."

Sementara itu, Nadira sudah bersiap meninggalkan vila.

Gunawan menghampirinya. "Om sudah mengatur semuanya."

Nadira mengangguk. "Rumah sakit barunya tidak jauh dari sini?"

"Sepuluh menit dari vila."

"Baik."

Gunawan menyerahkan sebuah kartu identitas baru. "Mulai hari ini, kamu bekerja di sana."

Nadira membaca kartu tersebut. "Om sampai menyiapkan ini?"

"Om tidak ingin ada orang yang menghubungkanmu dengan Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat."

Nadira terdiam, kemudian ia tersenyum. "Terima kasih, Om."

Gunawan mengangguk. "Dan satu hal."

"Apa?"

"Jangan pernah pulang sendirian."

Nadira mengernyit. "Om..."

"Ini bukan permintaan." Nada suara Gunawan membuat Nadira akhirnya mengangguk.

"Baik."

Adrian yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kemudian berkata, "Aku bisa mengantarnya."

Nadira menoleh. "Kamu juga harus bekerja."

"Aku bisa mengantarmu sebelum ke kantor."

Gunawan justru tersenyum. "Bagus."

Nadira terlihat sedikit salah tingkah. "Kalau begitu... ayo."

Beberapa jam kemudian...

Sebuah mobil berhenti di depan gedung tinggi milik PT Pratama Logistik Nusantara. Adrian turun, beberapa karyawan yang sedang berada di lobi langsung terkejut.

Bisik-bisik mulai terdengar. "Itu siapa?"

"Katanya direktur baru."

"Masih muda sekali."

Adrian berjalan masuk dengan tenang. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun segera menghampirinya.

"Selamat pagi, Pak Adrian."

Adrian mengangguk. "Anda siapa?"

"Saya Clara, sekretaris anda."

"Baik, Clara. Mulai hari ini saya ingin semua laporan keuangan tiga bulan terakhir ada di meja saya."

Clara tampak sedikit terkejut. "Semua?"

"Iya, semua."

"Baik, Pak."

Adrian berjalan menuju lift. Namun sebelum pintu lift tertutup, ia sempat melihat seorang pria berdiri di ujung lobi. Pria itu mengenakan jas abu-abu. Tatapan mereka bertemu, hanya beberapa detik. Namun pria tersebut langsung membuang muka dan pergi.

Adrian mengernyit. "Siapa dia?"

Clara menjawab, "yang mana, Pak?"

Adrian menoleh. "Pria tadi."

Clara melihat ke arah pintu. "Oh, dia?"

"Namanya?" Clara terdiam sebentar. "Kalau tidak salah... Anton."

Adrian mengangguk pelan, namun ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Karena dari gelegat nya pria itu terlihat mencurigakan. Tapi Adrian menepis itu semua, mungkin hanya perasaannya saja karena akhir-akhir ini ia selalu mendapatkan masalah.

Beberapa jam berlalu sejak Adrian tiba di ruang kerjanya. Ruangan direktur itu cukup luas. Dari balik kaca, ia bisa melihat kesibukan para karyawan yang berlalu-lalang di lantai bawah.

Namun Adrian sama sekali tidak menikmati pemandangan tersebut. Perhatiannya hanya tertuju pada tumpukan dokumen di atas meja. Laporan keuangan, laporan pengeluaran, daftar transaksi, kontrak kerja sama. Satu per satu ia membacanya dengan teliti.

Semakin lama, kening Adrian semakin berkerut. "Ini tidak masuk akal..."

Ia mengambil satu laporan. Pada bulan pertama, perusahaan mencatat biaya pengiriman sebesar dua miliar rupiah. Bulan berikutnya, jumlahnya meningkat menjadi hampir lima miliar. Namun jumlah pengiriman justru menurun.

Adrian mengambil dokumen lain. "Biaya perawatan gudang juga meningkat..."

Ia membuka laporan inventaris. Jumlah barang yang tercatat tidak sesuai dengan laporan pengiriman.

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Barang berkurang, tetapi biaya pengiriman meningkat."

Ia kemudian memperhatikan daftar perusahaan yang menerima pembayaran. Beberapa nama berbeda muncul, namun nomor rekening tujuan memiliki pola yang hampir sama.

Adrian mengambil pena dan mulai mencatat.

Perusahaan A, perusahaan B, perusahaan C, nama berbeda, alamat berbeda. Tetapi semuanya memiliki transaksi dengan perusahaan yang sama di luar negeri.

Adrian menyipitkan mata. "Siapa yang mengatur semua ini?"

Tok... tok... tok...

Pintu terbuka.

Clara masuk membawa beberapa dokumen tambahan. "Pak Adrian, ini laporan yang Bapak minta."

Adrian mengangguk. "Letakkan di sini."

Clara menaruh berkas di atas meja. Namun ketika hendak pergi, Adrian memanggilnya.

"Clara."

"Ya, Pak?"

"Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan ini?"

"Enam tahun."

"Selama itu, apakah kamu pernah melihat laporan seperti ini?"

Clara terdiam. "Jujur saja." Clara akhirnya menghela napas. "Beberapa kali saya menemukan angka yang tidak sesuai, Pak."

Adrian langsung menatapnya. "Kenapa tidak dilaporkan?"

"Saya pernah menyampaikannya kepada atasan sebelumnya."

"Lalu?"

"Mereka mengatakan itu hanya kesalahan administrasi."

Adrian mengetuk meja dengan jarinya. "Dan kamu percaya?"

Clara tersenyum tipis. "Dulu saya tidak punya alasan untuk tidak percaya."

Adrian kembali melihat dokumen. "Sekarang?"

Clara menatapnya beberapa saat. "Sekarang saya juga mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres."

Adrian mengangguk. Ia sudah mendapatkan jawaban yang dibutuhkannya. "Clara, saya ingin melakukan audit internal."

Clara tampak terkejut. "Audit?"

"Ya."

"Pak, kalau ingin melakukan audit menyeluruh, biasanya harus ada persetujuan dari pemilik perusahaan terlebih dahulu."

Adrian menatapnya tenang. "Ini sudah mendapat persetujuan."

Clara mengerutkan kening. "Siapa yang menyetujuinya?"

"Pak Gunawan."

Clara langsung terdiam.

"Beliau sudah memberikan perintah langsung kepada saya untuk memeriksa perusahaan ini."

Adrian kemudian menyerahkan sebuah dokumen.

"Ini surat tugasnya."

Clara membaca dokumen tersebut dengan teliti. Setelah memastikan tanda tangan Gunawan benar, ia mengangguk. "Baik, Pak."

Adrian bersandar di kursinya. "Saya ingin audit dilakukan secepat mungkin."

"Divisi mana saja yang harus diperiksa?"

"Keuangan, logistik, pengadaan, gudang, dan semua bagian yang berhubungan dengan transaksi perusahaan."

Clara mencatat. "Baik."

Adrian kemudian menambahkan, "Panggil kepala masing-masing divisi ke ruang rapat."

Clara berhenti menulis. "Sekarang?"

"Iya, sekarang."

"Baik, Pak." Clara segera keluar.

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!