NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Orang yang Membayar

BAB 2 — Orang yang Membayar

Tiga menit sebelum presentasi dimulai, ponselku menampilkan satu notifikasi yang seharusnya tidak muncul.

BRANKAS LAMA — AKSES TERBUKA.

Aku sedang berdiri di depan layar setinggi dua meter, dikelilingi sembilan orang yang menunggu keputusan tentang investasi senilai ratusan miliar. Di ujung meja, ayahku mengetuk pulpen sekali, tanda bahwa ia sudah kehilangan kesabaran bahkan sebelum aku mulai bicara.

“Rendra?” panggil direktur keuangan.

Aku mengangkat telunjuk, meminta waktu tanpa menjelaskan. Notifikasi kedua masuk.

BENDA TERDAFTAR TIDAK TERDETEKSI.

Sistem tidak menyebut nama benda. Aku yang membuatnya begitu tujuh tahun lalu. Hanya ada satu barang di brankas itu yang memiliki sensor terpisah dari dokumen lain.

Buku berkulit abu-abu.

Ruangan seketika terasa terlalu terang.

“Lanjutkan tanpa saya,” kataku.

Ayahku menyandarkan punggung. “Rapat ini dijadwalkan ulang dua kali karena kamu.”

“Jadwalkan ketiga kali.”

Beberapa orang menunduk, pura-pura membaca berkas. Tidak ada yang ingin terlihat memperhatikan ketika Surya Kalyana dan putranya saling menatap terlalu lama.

“Apa ada keadaan darurat?” tanyanya.

Aku mengambil jas dari sandaran kursi. “Belum.”

“Kalau belum, duduk.”

Biasanya aku akan duduk. Bukan karena takut, tetapi karena melawan ayahku selalu menambah pekerjaan banyak orang. Hari ini aku tidak peduli.

Aku keluar dari ruang rapat sambil menelepon kepala keamanan pribadi. Sambungan baru berbunyi sekali sebelum kuputuskan.

Yang langsung kupikirkan cuma satu: cari buku itu, ambil kembali, dan pastikan Nadira tidak sempat membuka halaman terakhir.

Aku bahkan tahu siapa yang harus dihubungi.

Gilang bisa mencapai kantor Nadira dalam dua belas menit. Dua petugas lain dapat menutup akses lift tanpa menimbulkan keributan. Tara akan menyerahkan buku itu jika ditekan dengan cara yang tepat. Kalau tidak, ada salinan kartu akses, rekaman kamera, dan daftar semua jalan keluar dari gedung tersebut.

Aku hafal semua pilihan itu karena bertahun-tahun memastikan tidak ada keadaan yang benar-benar berada di luar jangkauanku.

Jempolku berhenti di atas nama Gilang.

Lalu kuturunkan ponsel.

Tidak.

Kalau aku mengambil buku itu sekarang, aku hanya akan membuktikan semua yang tertulis di dalamnya.

Aku masuk ke lift pribadi. Pintu menutup, memantulkan wajahku di dinding logam: kemeja putih, dasi gelap, ekspresi yang cukup tenang untuk menipu siapa pun yang tidak mengenalku.

Nadira akan tahu aku berbohong hanya dari cara rahangku mengeras.

Aku meneleponnya.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Panggilan kedua langsung ditolak.

Pada panggilan ketiga, nomor itu tidak lagi dapat dihubungi.

Ia memblokirku.

Aku menatap layar sebentar. Seharusnya tidak mengejutkan, tetapi tetap terasa seperti pintu ditutup tepat di depan wajahku.

Aku kemudian menelepon Tara.

Ia menjawab setelah cukup lama hingga aku sempat menghitung tujuh dering.

“Di mana Nadira?” tanyaku.

“Pertanyaan pertama kamu bukan soal bukunya?”

“Kalau aku menelepon soal buku, aku akan bertanya di mana buku itu.”

“Dia baik-baik saja.”

“Itu bukan jawaban.”

“Sekarang kamu tahu rasanya menerima jawaban yang tidak menjawab.”

Nada suara Tara gemetar, tetapi ia tidak mundur. Selama ini ia hampir selalu berhati-hati ketika bicara kepadaku. Aku pernah mengira itu karena ia menghormati batas. Sekarang aku sadar sebagian kehati-hatian itu lahir dari rasa bersalah.

“Apakah Nadira masih di kantor?” tanyaku.

“Aku enggak akan kasih tahu.”

“Aku tidak meminta kamu menahannya.”

“Belum.”

Satu kata itu menancap lebih dalam daripada seharusnya.

Aku masuk ke mobil sendiri, menolak ketika pengemudi gedung menawarkan bantuan. “Dengar, Tara. Jangan kirim foto, jangan menyalin halaman, dan jangan bicara dengan siapa pun dari keluarga Kalyana.”

“Kenapa? Takut rahasiamu dibaca orang?”

“Takut ada orang lain yang tahu buku itu sudah keluar.”

“Orang lain siapa?”

Aku menyalakan mesin. “Bawa Nadira ke tempat yang dia pilih. Jangan arahkan dia pulang. Jangan arahkan dia ke mana pun.”

Tara terdiam.

“Maksudmu apa?”

“Untuk sekali ini, biarkan dia memilih.”

Aku mengakhiri panggilan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh.

Perjalanan pulang biasanya membutuhkan empat puluh menit. Aku menempuhnya dalam dua puluh tujuh menit, tetap mengikuti lampu lalu lintas, tetapi tidak mengingat satu pun kendaraan yang kulewati.

Sepanjang jalan, pikiranku terus kembali ke susunan buku itu.

Nama. Tanggal. Jumlah. Sumber rekening. Kata kerja.

Sistem yang awalnya dibuat sederhana karena kata-kata panjang lebih mudah disalahgunakan. Ironisnya, kata-kata pendek justru memberi ruang lebih besar untuk membenarkan apa saja.

TEMANI.

JEMPUT.

LAPOR.

TUNDA.

Pada awalnya setiap kata memiliki batas. Kemudian aku mulai menambahkan catatan, instruksi, jadwal, dan pengecualian. Aku menyebutnya penyesuaian risiko. Tidak pernah kusebut pengawasan, sebab manusia lebih mudah hidup dengan kesalahan yang diberi nama profesional.

Aku tahu Nadira akan membaca nama Tara lebih dahulu. Itu cukup untuk menghancurkan persahabatan yang dibangun selama dua belas tahun.

Setelah itu ia akan menemukan Gilang.

Dr. Mira.

Pemilik apartemen lamanya.

Naufal, klien pertama yang membuat Ruang Tengah dikenal.

Setiap halaman akan mengambil satu bagian hidup yang ia anggap miliknya, lalu membuatnya terlihat kotor.

Daftar nama bukan bagian yang paling kutakuti.

Ada satu halaman yang seharusnya tidak pernah berada di buku itu.

Aku tidak menulisnya. Aku juga tidak pernah mencabutnya.

Kesalahan yang paling sulit kuakui bukan ketika aku melakukan sesuatu yang salah. Yang paling buruk adalah saat aku melihat kebohongan yang menguntungkanku, lalu memilih membiarkannya tetap hidup.

Ponselku berdering melalui sambungan mobil.

Gilang.

Aku mengangkatnya.

“Pak, Bu Nadira tidak jadi memakai kendaraan kantor.”

“Siapa yang menyuruhmu mengikuti?”

“Tidak ada. Sistem mengirim pemberitahuan karena ponsel beliau tidak terhubung ke kendaraan terdaftar.”

Aku menahan kemudi lebih erat.

Bahkan ketika aku memutuskan tidak mengawasinya, sistem yang kubangun tetap melakukannya untukku.

“Matikan pelacakan ponselnya.”

Di seberang, Gilang menunda jawaban satu detik.

“Semua pelacakan, Pak?”

“Semuanya.”

“Termasuk fitur darurat?”

Aku hampir menjawab tidak. Kebiasaan membuat kata itu sudah sampai di ujung lidah.

“Termasuk fitur darurat.”

“Baik.”

“Dan jangan datang ke rumah malam ini.”

“Kalau Ibu Nadira—”

“Jangan datang kecuali dia sendiri yang menghubungimu.”

Setelah sambungan berakhir, kabin mobil menjadi sunyi.

Aku baru menyadari tangan kiriku gemetar ketika berhenti di lampu merah.

Bukan kepergiannya yang membuatku gemetar. Ketakutan itu sudah tinggal di tubuhku selama bertahun-tahun sampai terasa terlalu biasa untuk dikenali.

Aku takut ia akan melihat hidup kami seperti ia melihat perkara para kliennya: memisahkan perasaan dari tindakan, niat dari akibat, lalu menyusun semuanya dengan bahasa yang tidak bisa kubantah.

Aku pernah menyaksikannya membantu seorang perempuan memahami bahwa suami yang selalu datang menjemput bukan selalu suami yang perhatian. Kadang ia hanya lelaki yang tidak tahan istrinya berada di tempat yang tidak bisa ia lihat.

Saat itu aku berdiri di luar ruang konsultasi, membawa makan siang yang terlambat dimakan Nadira, dan merasa bangga pada pekerjaannya.

Aku tidak pernah bertanya apa yang akan ia katakan jika perempuan itu adalah dirinya sendiri.

Di luar tidak ada mobil Nadira ataupun Gilang; hanya penjaga kompleks yang tampak di kejauhan.

Aku memarkir mobil dan turun.

Rumah tampak sama seperti pagi tadi. Tirai ruang depan setengah terbuka. Pot tanaman yang Nadira pindahkan tiga kali masih berdiri di sisi tangga. Gelas yang dipakainya sebelum berangkat mungkin masih berada di dekat wastafel.

Untuk sesaat, aku membayangkan masuk, menunggu di ruang kerja, lalu menyiapkan kalimat yang tepat. Kalimat yang bisa membuatnya duduk. Kalimat yang akan menahan amarahnya cukup lama agar aku bisa mengendalikan urutan kebenaran.

Lalu aku melihatnya.

Nadira duduk di bangku kecil di samping pintu utama. Tas kerjanya berada di lantai. Buku abu-abu itu tergeletak di atas kedua pahanya.

Ia tidak menangis.

Aku lebih siap menghadapi air mata daripada ketenangan di wajahnya.

Ketika aku menaiki anak tangga pertama, Nadira berdiri.

“Jangan buka pintunya,” katanya.

Aku berhenti.

Ia mengangkat buku itu di antara kami.

“Kita bicara di sini. Di tempat yang belum sempat kamu atur.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!