Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.
“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.
Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”
“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.
Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.
Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.
Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
...🌼🌼🌼🌼...
"Iya, pak! Dayat janji bantuin bapak beres beres ruang makan! Tapi Dayat gak bisa bangun ini, pak!” ringis Dayat.
“Bisa!” seru Risan.
Dengan wajah penuh kelegaan, saat Dayat berhasil beranjak dari berbaring nya.
“Iya, pak! Dayat bisa duduk.” seru Dayat dengan tatapan berbinar senang. Nafas nya ngos ngosan.
Pluk pluk.
Risan menepuk punggung Dayat.
“Ayo turun! Bantu bapak beres beres!” bujuk Risan.
Belum seberapa lama, Dayat dan Risan bernafas lega. Kini Dayat kembali terhempas, berbaring di atas tempat tidur, dengan tangan kiri Risan yang ikut ia tind1h karena masih berada di punggung nya tadi.
Brugh.
“Akkkkhhhhh! Sakiiiiit!!” jerit Dayat kaget, di sertai rasa sakit pada dada nya yang teramat.
“Aduuuh tangan bapak, Dayaaaat!” jerit Risan dengan wajah kesakitan. Merasa kan berat yang lebih dari sebelum nya pada tubuh Dayat.
Genderuwo terkekeh senang, usai menendang dada Dayat lalu menginjak nya dengan satu kaki. Satu caranya ,menah4n Dayat untuk tetap berbaring diatas tempat tidur.
~“Ahahahhahaha mampus kalian! Enak kan rasanya?” ~ tawa genderuwo.
🍂
Ratih yang baru ke luar dari kamar, sampai mendengar jeritan Risan dan Dayat.
“Buset dah! Bapak sama bang Dayat lagi kenapa si, bang? Berisik bangat malam malam! Gak takut ibu ngomel apa ya!” gerutu Ratih, menatap Danang yang duduk gak jauh dari kamar nya.
“Gak usah peduliin! Mending makan sana! Belum makan kan lu?” seru Danang, tanpa mengalih kan pandangan nya dari televisi.
Tanpa peduli malam, merasa rumah nya jauh dari tetangga. Dengan sengaja Danang menambah volume suara dari televisi yang ia tonton. Berharap bisa meredam suara berisik dari bapak dan adik nya, Dayat.
Ratih sampai berteriak untuk bicara dengan Danang, gak peduli dengan jarak tanpa batas dari ke dua nya.
“Lili sama Jojon belum juga pulang, bang?” serunya. Ratih berjalan menuju dapur. Mendengar kan apa kata kaka tertua nya untuk makan malam.
“Belum, tar juga kalo ngantuk. Pada pulang 2 bocah tuh!” timpal Danang dengan berteriak juga.
“Ibu kemana, bang? Masih di kamar?” teriak Ratih lagi.
Danang mengerdik kan bahu nya, “Kaga tau! Jangan berisik kaya bapak dah lu, Tih!”
Ratih berdecak kesal, “Cuma nanya, masa marah, bang!”
Ratih duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Danang. Piring berisi nasi dan lauk ia pegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan, ia guna kan untuk menyuapi diri nya sendiri.
“Lu yang masak, Tih? Masakan lu enak. Abang ampe nambah 2 kali ini! Ora mau udah makan nya!” adu Danang, dengan mulut penuh makanan.
Ratih terkekeh. “Abang kali yang makan kaga baca bismilah! Itu bapak yang masak! Ratih mana bisa masak! Masak air aja gosong.”
‘Jadi ingat Anggi! Lagi ngapain ya pujaan hati gua!’ pikir Danang, dengan senyum di bibir nya.
Ratih menyenggol lengan Danang dengan sikunya, membuat Danang menoleh ke arah nya.
“Kenapa lu senyum senyum, bang? Kesambet setan lu ya?” goda Ratih tanpa saringan.
Danang dengan tatapan mengejek, “Waya gini masih percaya setan lu! Tahayul itu! Gak usah di percaya!”
Ratih mengerdik kan bahu nya, dengan nada terkekeh, “Siapa juga yang percaya! Setan udah kaga ada, bang! Yang ada setan pala item!”
“Itu baru ade gua!” beo Danang dengan bangga.
"Ahahahah!" Ratih dan Danang terbakal bersama.
Wusshhhh.
Angin malam berhembus kencang, menggoyang kan gorden yang sejak tadi tertutup rapat. Bak angin lalu untuk ke dua kaka beradik macam Danang dan Ratih.
“Enak ya bang masakan bapak!”
Danang terkekeh, “Iya enak, ada guna nya juga itu bapak di rumah. Buka warung makan laku itu. Pasti banyak yang beli.”
Ratih mengibas kan tangan nya di depan wajah, “Jangan lah, bang! Nanti gak ada yang beli sayuran ibu kalo bapak buka rumah makan.”
Danang tersenyum sinis, “Lagi juga, modal dari mana bapak buat buka warung makan? Berani dia minta di bukain warung makan sama ibu?”
Prang.
Bersambung …