NovelToon NovelToon
The Dark Lord

The Dark Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Vampir
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.

Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.

Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.

Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan Purnama

Sonja terpaku menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Langit yang semula keemasan mulai berubah menjadi jingga kemerahan, lalu sedikit demi sedikit ditelan bayang-bayang malam. Pemandangan seindah itu sangat jarang ia nikmati. Selama ini hidupnya hanya dipenuhi kesibukan bekerja di kafe, hingga nyaris tak pernah memiliki waktu untuk sekadar menyaksikan senja.

Namun, keindahan itu sama sekali tidak mampu menenangkan hatinya. Pikirannya terus dihantui satu pertanyaan yang sama. Entah sampai kapan dia harus bertahan di tempat asing ini.

Dan benarkah semua yang dikatakan Alea? Apakah malam ini Pangeran Kegelapan benar-benar akan datang?

Saat Sonja masih larut dalam lamunannya, pintu kamar mendadak terbuka. Alea melangkah masuk dengan wajah dingin. Di tangannya sudah ada sepasang pakaian berwarna hitam yang langsung disodorkan kepada Sonja.

"Pakailah." Nada suaranya singkat, tegas, dan tak memberi ruang untuk membantah."Apa kau masih memakai kalung naga itu?" tanya Alea setelah memastikan Sonja menerima pakaian tersebut.

Sonja mengangguk pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alea mengeluarkan sebuah pistol dari balik mantelnya lalu menyerahkannya kepada Sonja. Mata Sonja langsung membelalak. Napasnya tercekat saat jemarinya menerima benda dingin itu."Apa ini?"

"Sebuah pistol. Aku yakin kau sudah tahu fungsi benda itu," jawab Alea datar.

"Kenapa kau memberiku pistol? Aku bahkan tidak tau cara menggunakannya?"

"Hanya untuk berjaga-jaga." Alea menunjuk bagian pelatuk dan memperagakan cara menggunakannya. "Pistol ini berisi peluru perak. Peluru itu mampu melukai vampir. Memang tidak cukup untuk membunuh kami, tetapi rasa sakit yang ditimbulkannya sangat luar biasa."

Tatapan mata Alea berubah semakin serius."Simpan baik-baik. Jika ada vampir yang mendekat dan mencoba menyerangmu, jangan ragu, tarik pelatuknya seperti ini."

Sonja menelan ludah. Tangannya mulai gemetar menggenggam pistol itu."Apa kita akan diserang?" gumamnya lirih.

"Malam ini bulan purnama, Sonja." Suara Alea terdengar begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Sonja meremang."Aku sangat yakin dia akan datang dan akan menyerang rumah ini, dan mengejarmu."

Jantung Sonja berdetak semakin cepat."Mengejarku? Apa kau benar-benar berpikir kalau aku adalah gadis yang terberkati itu?"

Alea mengangguk tanpa sedikit pun keraguan."Tidak pernah aku seyakin ini." Jawaban singkat itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada penjelasan panjang apa pun.

"Sudahlah." Alea berbalik menuju pintu. "Ayo keluar. Pangeran Alex dan yang lainnya sudah menunggu kita."

Sonja menggenggam pistol itu semakin erat sebelum akhirnya mengikuti langkah Alea. Entah mengapa, semakin dekat malam menjelang, perasaannya semakin yakin bahwa sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi. Apakah ia akan mati di sini?

***

Sonja ikut menegang saat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Aula besar itu telah dipenuhi para vampir yang berdiri dalam formasi tempur, siap menyambut kedatangan Sang Pangeran Kegelapan.

Udara terasa begitu berat, dipenuhi aroma darah dan ketegangan yang menyesakkan dada. Menurut penuturan Pangeran Alex, musuh sudah berada sangat dekat, bahkan aroma keberadaannya mulai memenuhi setiap sudut rumah besar itu.

Ketiga gadis manusia yang menjadi kandidat gadis terberkati kini dijaga oleh pengawal pilihan Pangeran Alex. Alea ditugaskan mengawal Sonja. Sebenarnya, dia sendirilah yang meminta tugas itu.

"Mereka sudah datang, dan jumlahnya tidak sedikit. Bersiap di posisi masing-masing!" seru Pangeran Alex lantang, tatapan tajamnya mengarah ke pintu utama.

Alea langsung menggenggam tangan Sonja erat, hingga jemari gadis itu nyaris mati rasa."Tetap di dekatku, apa pun yang terjadi," bisiknya pelan.

Jantung Sonja berdetak semakin cepat. Napasnya memburu. Walaupun dia sudah berdamai dengan kemungkinan terburuknya, yaitu kematian. Namun tetap saja rasa takut itu terus membayangi.

"Jangan takut, Sonja. Aku akan melindungimu."

Entah mengapa, kalimat sederhana itu mampu sedikit meredakan kepanikan yang mencengkeram hati Sonja.

Di luar rumah, pasukan musuh bergerak cepat seperti kawanan bayangan yang menelan malam. Dalam hitungan detik mereka telah mengepung seluruh bangunan.

Lalu, sosok itu akhirnya muncul. Dengan langkah perlahan namun penuh wibawa, Sang Pangeran Kegelapan memasuki rumah besar. Aura membunuh yang menguar dari tubuhnya membuat udara seolah membeku. Bahkan ia tak melirik ayahnya yang tergeletak tak berdaya. Tujuannya hanya satu, menghancurkan rumah itu dan membawa gadis terberkati.

"Selamat datang kembali, Kakakku tersayang. Senang rasanya kau masih mau berkunjung," sapa Pangeran Alex tenang, meski sorot matanya penuh kewaspadaan.

Sosok itu mendengus sinis."Kau tidak berubah, terlalu banyak berbasa-basi. Sayangnya aku tidak punya waktu untuk melayanimu. Serahkan gadis itu."

"Ambil saja kalau kau mampu."

Seringai tipis menghiasi wajah Pangeran Kegelapan. Tanpa aba-aba, tubuhnya melesat bagai kilat.

Brak!

Satu hantaman keras membuat tubuh Pangeran Alex terpental hingga menghantam pilar batu. Debu beterbangan memenuhi udara. Namun sesaat kemudian Alex kembali bangkit. Pertarungan sengit pun tak terelakkan.

Benturan cakar, pukulan, dan ledakan kekuatan memenuhi aula. Dinding retak, lantai pecah, sementara para vampir saling menerjang tanpa belas kasihan. Tak jauh dari sana, Alea juga sibuk menghadapi para musuh yang terus berusaha merebut Sonja. Dengan gerakan cepat dan mematikan, cakar Alea merobek satu demi satu lawannya. Tubuh-tubuh vampir berjatuhan, tetapi jumlah mereka seolah tidak ada habisnya."Ayo, Sonja! Kita harus pergi dari sini!" serunya sambil tetap menggenggam tangan gadis itu. Sonja hanya mampu mengangguk dengan wajah pucat.

Di sisi lain, Elleanor masih terlibat pertarungan sengit melawan Yuno.

"Kau semakin kuat, Elle," goda Yuno sambil menyeringai.

Elleanor mendecak kesal."Baru sekarang kau mengakuinya? Memangnya ke mana saja kau selama ini, iblis mesum?"

Serangan demi serangan terus dilancarkan tanpa memberi kesempatan lawan bernapas. Namun di balik pertarungan itu, Elleanor sesekali melirik Debora yang berdiri gemetar beberapa meter di belakangnya. Gadis manusia itu adalah tanggung jawabnya. Dia harus segera mengakhiri pertarungan ini.

Sementara itu, pertarungan antara kakak beradik semakin brutal. Tiba-tiba mata tajam Pangeran terkutuk menyipit tajam. Dia mencium aroma yang sangat dikenalnya. Aroma gadis terberkati. Namun aroma itu semakin menjauh.

Alex sengaja mengalihkan perhatiannya. Seringai dingin kembali muncul di wajah kakaknya. Dengan satu pukulan telak yang dipenuhi kekuatan besar.

Duar!

Tubuh Pangeran Alex kembali tersungkur menghantam tanah. Tanpa menoleh sedikit pun, sang Pangeran kegelapan langsung melesat mengikuti jejak aroma gadis itu.

Berlari.

Hanya itu yang bisa dilakukan Alea. Melawan Pangeran Kegelapan sama saja dengan mencari kematian. Dia terus menggenggam tangan Sonja sambil berlari menembus gelapnya hutan.

Napas Sonja mulai memburu. Dadanya terasa sesak. Pemandangan di hadapannya perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang pernah menghantuinya.

Hutan yang sama.

Malam yang sama.

Rasa takut yang sama.

Seolah semua ini pernah terjadi.

Mereka terus berlari seakan Malaikat Maut sedang mengejar dari belakang. Hingga akhirnya...

Buk!

Sonja terjatuh.

Tubuhnya sudah benar-benar kelelahan. Sebagai manusia, ia mustahil mampu menyamai kecepatan seorang vampir.

Alea segera berlutut di sampingnya."Apa kau tidak apa-apa?"

"Kakiku sakit sekali, Lea..." rintih Sonja sambil menahan air mata.

Alea menatap wajah pucat gadis itu selama beberapa detik. Mereka tak punya banyak waktu."Naik ke punggungku."

Sonja menggeleng."Tidak, tubuhku berat."

"Aku vampir. Tenagaku jauh berbeda dengan manusia." Tanpa memberi kesempatan Sonja menolak lagi, Alea langsung mengangkat tubuh gadis itu ke punggungnya. Alea sendiri tidak mengerti. Mengapa ia begitu ingin melindungi gadis manusia ini?

Sejak pertama kali bertemu, seharusnya Sonja sudah menjadi mangsanya setelah mengetahui jati dirinya sebagai vampir. Namun sesuatu dalam diri Sonja membuatnya tak sanggup melukai gadis itu. Justru dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya.

"Alea turunkan aku. Kurasa kakiku sudah lebih baik," lirih Sonja.

"Berjalan dengan kaki yang terkilir hanya akan memperlambat kita. Jadi diamlah."

"Maafkan aku .. aku hanya menjadi beban."

Alea menggeleng pelan."Ini tugasku..." Ia mempererat gendongannya."dan juga janjiku."

Dengan Sonja di punggungnya, Alea kembali berlari menerobos pekatnya malam. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata merah menyala tengah mengawasi dari balik kegelapan.

Semakin dekat.

Dan semakin dekat lagi.

1
Firkoh
menegangkannya dapet, cepet update ya kaka author
Saasaa: Terimakasih 🙏 Update tiap hari
total 1 replies
Firkoh
ngeri banget loe thur
Firkoh
kaaaaan bener
Firkoh
ikut tegang Cuy
Firkoh
jangan2 Arthur nih pangeran kegelapannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!