NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prinsip Navigasi

Di luar kubah barier yang mengisolasi SMK Media Kota Cirebon, keputusasaan yang mengikat para siswa di dalam dimensi gaib kini menular kepada barisan personel Nightguard di dunia nyata.

BOOM! BOOM! BOOM!

Hantaman bertubi-tubi yang dilepaskan Kapten Johandi memicu gelombang kejut yang menderu keras, menyapu debu jalanan hingga beterbangan seperti badai pasir kecil. Sebagai seorang Esper B Class Tipe Striker, setiap pukulan Johandi seharusnya mampu meruntuhkan dinding beton bertulang dalam sekali serang. Namun di hadapan tirai dimensi transparan yang membiaskan cahaya sore itu, energinya yang meluap-luap seolah hanya diserap tanpa sisa.

Merasa usahanya percuma, ia melangkah mundur sambil menyesuaikan napasnya yang berdebar. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya. Frustrasi dan kemarahan mulai menggerogoti ketenangan yang biasanya dimilikinya.

"Kapten!" Seorang anggota Nightguard dari divisi analisis berlari tergesa-gesa menghampirinya sambil mendekap sebuah tablet digital. Wajahnya pias, matanya memancarkan horor yang mendalam. "Kami baru saja selesai membedah frekuensi barier ini dan mencocokkannya dengan arsip prabencana 2012!"

"Langsung ke intinya! Jangan buang waktu!" bentak Johandi, matanya masih menatap tajam ke arah distorsi udara di depannya.

"Penghalang ini bukan fenomena alam biasa. Ini diciptakan secara sengaja melalui sebuah ritual, dan waktu di dalam Dunia Gaib ini sangat kacau!" jelas analis itu dengan suara bergetar.

Johandi menoleh patah-patah, matanya melebar sempurna. "Apa Maksudmu?"

"Hitungan menit di luar sini... bisa berarti berjam-jam atau berhari-hari di dalam sana!"

Pernyataan itu bagai palu besar yang menghantam dada Johandi. Bila mereka tidak segera menghancurkan penghalang itu, anak-anak di dalam mungkin sudah mati kelaparan atau habis dibantai oleh entitas di sana!

Namun, di tengah kebuntuan dan rasa frustrasinya yang kian memuncak, radio komunikator di bahu Johandi tiba-tiba berdesing nyaring, memutus keheningan dengan suara operator pusat komando yang terdengar panik.

"Pusat komando kepada Kapten Johandi! Laporan darurat! Terjadi kebakaran massal di sektor perumahan lama... tepat di area dekat markas Nightguard"

Jantung Johandi seolah berhenti berdetak. Darahnya mendingin seketika. Sektor perumahan lama di dekat markas... itu adalah alamat rumah kakak perempuannya. Rumah ibu Ryan.

"Apa yang kalian lihat di CCTV?!" teriak Johandi ke arah radio komunikatornya.

"Visual CCTV jalan menunjukkan satu siluet mencurigakan menerobos masuk ke rumah bergaya lama di kompleks itu," balas operator di seberang sana.

Mendengar laporan itu, kepingan puzzle yang ganjil akhirnya menyatu menjadi sebuah konspirasi berdarah. Rahang Johandi mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.

Insiden barier dimensi berskala besar di SMK Media ini tidak lebih dari sebuah pengalihan isu. Bajingan itu sengaja menciptakan neraka di sekolah demi memancing keluar seluruh personel elit Nightguard. Dalang itu tahu betul bahwa Johandi tak akan pernah mengabaikan nyawa para siswa apalagi ada keponakannya disana.

"Brengsek!" terhampar makian kasar dari mulut Johandi. Ia berbalik dan menunjuk lima personel senior di belakangnya. "Kau, kau, dan kalian bertiga! Ambil mobil, segera pergi ke Kompleks Perumahan Lama! Tangkap dalang yang menyebabkan semua ini!"

"Siap, Kapten!" Kelima personel itu langsung berbalik dan memacu kendaraan mereka, meninggalkan Johandi yang kini kembali menatap barier dimensi dengan penuh amarah.

Kakek... aku harus bagaimana? batin Johandi menjerit di tengah dilema yang menyiksa. Di satu sisi, rumah kakaknya diserang. Di sisi lain, keponakannya terperangkap di dalam barier yang terus menyusutkan waktu ini.

Namun, seolah menjawab keputusasaannya, dinding penghalang transparan di depan Johandi tiba-tiba memperlihatkan gejala aneh. Pergerakan energi spiritual yang semula mengalir tenang kini mulai bergolak tidak beraturan. Barier itu melonggar selama sepersekian detik.

Johandi tidak menyia-nyiakan celah itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi spiritual murni di dalam tubuhnya, dan mengalirkannya ke tangan kanan. Udara di sekeliling kepalan tangannya mendesis panas, menciptakan pendaran cahaya biru pekat yang begitu padat hingga tanah di bawah kakinya retak.

BOOM!!!

Pukulan terkuat Johandi menghantam titik distorsi tersebut, menghasilkan tekanan udara luar biasa yang menghempas mundur para personel Nightguard.

Crakkkk... PRANG!!!

Bunyi nyaring seperti kaca raksasa yang pecah menggema di udara. Sebuah retakan besar muncul dan hancur, membentuk lubang dimensi selebar tiga meter.

"Cepat masuk!" teriak Johandi sembari melompat menerobos lubang tersebut terlebih dahulu.

Namun, Dunia Gaib seolah menolak kehadiran mereka. Belum sempat personel lainnya menyusul, dinding penghalang itu memperbaiki dirinya sendiri dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menutup rapat lubang dimensi dan mengunci Johandi seorang diri di dalam.

Sementara itu, jauh di dalam koridor sekolah yang diselimuti kabut tipis dan cahaya merah darah, seorang pemuda melangkah dengan santai seolah-olah sedang menikmati jalan-jalan sore di taman kota.

Ryan menatap deretan loker siswa yang tampak sama untuk kesekian kalinya. Ia baru saja berjalan memutar selama sepuluh menit penuh, melewati ruang guru, ruang kepala sekolah, dan kembali lagi ke depan mading sekolah.

"Perasaan tadi jalannya lurus... kenapa papan pengumumannya ketemu lagi?" gumam Ryan. Ia mulai curiga bahwa arsitek sekolah ini sengaja mendesain koridor dengan konsep labirin untuk mengerjai murid baru seperti dirinya.

Tiba-tiba, keheningan koridor itu dipecahkan oleh sebuah gelombang energi spiritual yang masif dari arah luar, disusul oleh suara auman buas yang menggetarkan kaca-kaca jendela.

Groaaarrr!!!

Ryan menghentikan langkahnya, berkedip lambat. "Suara harimau?"

Dahi Ryan berkerut tipis. Otaknya yang polos mulai merangkai teori asal-asalan. "Apa mungkin Rahman dan yang lain menyusulku, tapi mereka malah papasan sama hantu harimau?"

Merasa bertanggung jawab, Ryan segera berlari menuju arah sumber suara. Ia memacu langkahnya membelah kegelapan koridor. Lurus, belok kanan, melewati tangga, belok kiri lagi, lalu lurus—

Duk.

Langkah Ryan terhenti seketika. Di hadapannya kini tidak ada jalan lagi. Hanya ada sebuah dinding beton tebal yang berdiri kokoh, menutup jalur koridor menuju area gedung olahraga bagian belakang.

"Aduh... Bagaimana bisa ada dinding di tengah jalan begini?" Ryan mengumpat pelan dalam hati, wajahnya menampakkan raut pasrah yang mendalam. Ia benar-benar yakin arah suaranya berasal dari balik dinding ini.

Groaaarrr!!!

Suara auman harimau kembali terdengar, kali ini diikuti oleh suara pekikan melengking dari para hantu dan teriakan panik banyak siswa. Jarak mereka hanya terpisah oleh beberapa meter beton tebal di depan Ryan.

Ryan sempat membalikkan tubuhnya, berniat mencari jalan memutar. Namun, Membayangkan harus memutari koridor itu lagi saja sudah membuat kepalanya pening. Ia sangat merindukan kasur kamarnya, dan ia tidak mau menghabiskan malam di dalam koridor sekolah yang bau anyir.

Beberapa saat kemudian, sebuah ide yang sangat absurd sekaligus praktis melintas di kepalanya.

Kenapa tidak kuhancurkan saja? pikir Ryan polos.

Bagi Ryan, ini adalah solusi paling logis. Lagipula, ada satu prinsip navigasi yang selalu ia pegang teguh. Jika terus berjalan lurus, seseorang tidak mungkin tersesat.

Ryan mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekati dinding beton tersebut. Tanpa ia sadari, di balik lapisan kulit tangannya, sepercik riak Energi Hitam yang murni, mulai menyebar secara tipis.

Ia mengepalkan tangan kanannya dengan tenang.

Di permukaan beton yang dingin itu, retakan-retakan hitam tipis mulai menjalar bahkan sebelum tinjunya menyentuh dinding.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!