NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 9

Aiko melirik Daichi yang sedang menyetir melalui kaca spion tengah. Tangan kanan Ren itu hanya melempar senyum canggung, seolah meminta maaf karena harus menjalankan tugas yang merepotkan ini.

Saat papan nama universitas tempat Aiko kuliah mulai terlihat di ujung jalan, Aiko segera memajukan tubuhnya sedikit. "Daichi-san, tolong berhenti di tikungan depan saja. Jangan tepat di depan gerbang."

Daichi sempat ragu, matanya melirik spion untuk meminta persetujuan bosnya.

"Berhenti tepat di depan gerbang utama, Daichi," perintah Ren tanpa nada bantahan sedikit pun.

"Baik, Bos," jawab Daichi patuh, langsung mengarahkan kemudi menuju area lobi gerbang utama kampus yang saat itu sedang dipenuhi oleh ratusan mahasiswa yang baru berdatangan.

Aiko menghela napas tajam, menatap Ren dengan kilatan kesal di matanya. "Apa kau sengaja ingin membuatku menjadi pusat perhatian, Tuan Tachibana?"

"Aku hanya memastikan istriku sampai dengan selamat di tempat tujuannya," sahut Ren datar, kembali bersandar dengan santai tanpa memedulikan kekesalan Aiko.

Begitu mobil sedan hitam itu berhenti sempurna di depan gerbang, salah satu pengawal dari mobil depan dengan sigap turun dan membukakan pintu untuk Aiko. Tindakan formal itu seketika membuat perhatian hampir seluruh mahasiswa di area gerbang tersedot sepenuhnya ke arah mereka.

Aiko melangkah turun dengan ekspresi sedatar mungkin, mencoba mengabaikan bisik-bisik yang mulai terdengar di sekelilingnya. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika sesosok gadis berambut pendek dengan jaket denim berlari menghampirinya dengan mata membelalak lebar.

"Aiko!?" Hana Fujimoto berseru setengah berteriak, mencengkeram kedua pundak sahabatnya itu dengan heboh. "Demi apa!? Kau diantar pakai mobil mewah begitu? Dan pria-pria berjas hitam itu siapa? Jangan bilang kau diculik!"

Aiko buru-buru membekap mulut Hana sebelum sahabatnya itu meneriakkan hal yang lebih tidak masuk akal lagi. "Diamlah, Hana. Suaramu keras sekali," bisik Aiko panik.

Dari dalam mobil, kaca penumpang bagian belakang perlahan turun beberapa senti, menampilkan siluet wajah tegas Ren Tachibana yang menatap dingin ke arah mereka berdua selama beberapa detik sebelum kaca kembali naik sepenuhnya. Mobil mewah itu pun perlahan bergerak pergi, meninggalkan dua mobil sedan hitam lainnya yang sengaja parkir di seberang jalan untuk berjaga.

"Aiko! Jelaskan padaku sekarang juga!" tuntut Hana setelah Aiko melepaskan bekapannya. Mereka kini berjalan cepat menuju koridor gedung fakultas untuk menghindari tatapan penasaran mahasiswa lain. "Siapa pria tampan di dalam mobil tadi? Auranya mengerikan sekali, tapi sial, dia tampan banget! Apa dia pacar barumu? Kenapa kau tidak pernah cerita?!"

Aiko memutar otaknya dengan cepat. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa pria itu adalah pemimpin Yakuza kejam yang kini berstatus sebagai suaminya.

"Bukan pacar, Hana," jawab Aiko berbohong, berusaha membuat suaranya terdengar sesantai mungkin. "Dia... dia adalah wali baruku yang ditunjuk oleh Ayah."

"Wali?" Hana mengerutkan alisnya heran. "Setahu aku, ayahmu kan masih ada. Lagipula, wali macam apa yang usianya kelihatan masih muda begitu dan dikawal banyak orang?"

"Kondisi kesehatan Ayah belakangan ini memburuk, jadi dia meminta kerabat jauh dari keluarga besar untuk mengurus beberapa hal, termasuk mengawasiku," jelas Aiko, menyusun kebohongan yang terdengar paling masuk akal bagi orang awam. "Pria tadi itu namanya Tuan Tachibana. Dia orangnya sangat kaku, kolot, dan protektif yang berlebihan. Makanya dia mengirim pengawal untuk mengikutiku. Menyebalkan, bukan?"

Hana tampak manggut-manggut, meskipun masih ada ganjalan di wajahnya. "Oh, jadi dia paman jauhmu? Pantas saja tatapannya dingin sekali seperti ingin membunuh orang. Tapi jujur, dia tipe pria yang bakal bikin semua mahasiswi di kampus ini langsung antre meminta nomor ponselnya."

Aiko hanya bisa tersenyum kecut di dalam hati. Jika mahasiswi di kampus ini tahu berapa banyak nyawa yang sudah dicabut oleh pria itu, mereka pasti akan memilih untuk lari terbirit-birit.

Setelah melewati dua kelas perkuliahan yang cukup melelahkan, Aiko dan Hana memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat sore di perpustakaan lantai tiga yang biasanya sepi. Hana sibuk mencari buku referensi untuk tugas dosen mereka di barisan rak bagian belakang, sementara Aiko memilih duduk di salah satu meja sudut yang dekat dengan jendela besar, menghadap langsung ke arah halaman kampus yang mulai temaram oleh senja.

Aiko membuka buku catatannya, namun pikirannya melayang kembali pada ucapan Ren di dalam mobil tadi. Pria itu jelas tidak akan pernah berhenti mencurigainya.

Sret... sret...

Suara gesekan halus kertas dari arah rak buku di belakangnya membuat Aiko menoleh. Ia mengira itu adalah Hana, namun dugaannya salah.

Udara di sekitar meja tempat Aiko duduk mendadak turun drastis. Hawa dingin yang sangat akrab mulai merayap naik dari lantai perpustakaan, membuat napas Aiko kembali mengembun. Dari sela-sela bayangan rak buku yang gelap, sesosok arwah pemuda berpakaian almamater kampus yang tampak lusuh perlahan berjalan keluar.

Wajah arwah pemuda itu dipenuhi oleh luka lebam biru kehitaman yang parah, dengan salah satu sudut matanya yang bengkak dan mengeluarkan cairan hitam. Yang membuat Aiko tercekat adalah aura pekat yang mengelilingi arwah tersebut.

Arwah pemuda itu berhenti tepat di samping meja Aiko. Mata bengkaknya menatap tajam ke arah leher Aiko, tepatnya ke arah tanda samar yang tertinggal akibat hawa dingin dari kediaman Ren semalam.

"Bau Serigala... kau membawa bau busuk dari Tachibana-gumi..." bisik arwah itu dengan suara bergetar yang dipenuhi rasa sakit dan amarah yang mendalam.

Aiko mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menguasai dirinya agar tidak membuat gerakan mencurigakan. Jangan melihat, jangan mendengar, jangan merespons. Ingat Aiko, ini tempat umum, batinnya mengingatkan diri sendiri.

Namun arwah itu tidak peduli. Ia memajukan wajah lebamnya hingga sangat dekat dengan wajah Aiko, membuat aroma anyir darah yang mulai menusuk hidung Aiko. "Mereka membunuhku... Klan Tachibana menyiksaku di gudang dermaga wilayah barat hanya karena aku tidak sengaja melihat transaksi mereka... Pria bermata serigala itu... dia yang memberikan perintah untuk membuang tubuhku ke sungai...!" ratap arwah itu, suaranya semakin meninggi dan melengking di dalam kepala Aiko.

Kepala Aiko mendadak berdenyut pening akibat benturan energi negatif dari arwah tersebut. Informasi baru ini menghantam dadanya dengan keras. Dermaga wilayah barat... tempat yang sama dengan kasus penggelapan dana paman Ren, batin Aiko menyadari benang merahnya. Ternyata tempat itu memang sarang eksekusi yang kejam bagi klan suaminya.

"Kau akan mati juga... semua orang yang dekat dengan Serigala itu akan hancur...!" arwah pemuda itu berteriak, tangannya yang penuh luka lebam bergerak hendak mencengkeram pundak Aiko.

Aiko mati-matian memejamkan mata, tangannya meremas kuat-kuat tusuk konde di dalam tasnya, merapalkan mantra perlindungan dalam hati agar jiwanya tidak goyah. Tubuhnya mulai bergetar hebat menahan serangan mental tersebut.

"Aiko? Kau sedang apa? Kenapa matamu terpejam sambil gemetaran begitu?"

1
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Cerita nya seru dan menegangkan. Kehidupan yang tidak biasa yang harus Aiko jalani. Karakter Aiko sendiri sangat Memukau.
putri
😖 mau ngapain knp gw yang ngeri
putri
mencekam muka nya si ren itu
putri
mau ngapain si Ren
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jangan sampai ibunya Aiko di bunuh sam Ren ya.
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
istri yang di tahan
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ada yang hawatir nih ye
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Kalau aku jadi Aiko langsung pingsan pasti
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus Ren
putri
Ceritanya seru
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
putri
Si Renn kayanya? apa dia jemput Aiko 😂
putri
knp nih??
putri
SII ren ini sebenernya udah ada rasa sama Aiko blm ya?? tapi kaya ga ada cemburu-cemburunya
putri
Hana beneran tertarik sama daichi ini 😭 Jagan yahhh hana
putri
gigih bgt si Hana ini 🤣
putri
aku ikut batuk dengernya 😖
putri
🤣🤣🤣 Hana kamu jangan nekat ya
putri
kenapa ini hana?? apa suka Daichi 😂
putri
Si Charming
putri
Daichi ini ga kalah serem dari Ren
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!