NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaring yang Merapat

Pagi berikutnya, sisa-sisa badai semalam masih meninggalkan jejak berupa langit mendung yang menggantung rendah di atas kampus Universitas Airrawan. Koridor utama gedung Fakultas Bahasa dan Seni tampak sibuk dengan lalu lalang mahasiswa yang buru-buru masuk kelas sebelum rintik hujan kembali turun. Di antara kerumunan itu, Melanie berjalan dengan langkah yang tak lagi seliat biasanya. Matanya yang sedikit sembab disamarkan oleh sapuan tipis bedak, namun gurat kelelahan batin di wajahnya tak mampu disembunyikan dari Diandra.

"Mel, kamu beneran tidak apa-apa? Dari tadi aku ajak bicara kamu cuma melamun," tanya Diandra cemas sambil menyelingos masuk ke dalam ruang kelas Teater yang masih setengah kosong.

Melanie meletakkan tasnya di atas kursi dengan pelan, lalu menatap Diandra dengan senyum yang dipaksakan. "Hanya kurang tidur, Di. Semalam hujan deras sekali di rumah, suaranya membuatku terjaga sampai subuh."

Diandra menghela napas, duduk di sebelah Melanie dan menggenggam tangan sahabatnya itu. "Kalau ada masalah yang berat, cerita padaku, Mel. Jangan dipendam sendiri. Kita ini sudah bersahabat sejak maba, aku tahu kapan kamu sedang menyembunyikan sesuatu."

Melanie hanya mengangguk pelan, merasa bersalah karena harus terus berbohong. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan bahwa dirinya sedang menjadi target balas dendam dari mahasiswa sastra tertampan di kampus mereka? Itu terdengar seperti plot fiksi yang gila, namun sayangnya, itulah kenyataan pahit yang kini harus ia telan bulat-bulat.

Di seberang lorong, di dalam ruang kelas Sastra yang temaram, suasana justru terasa lebih menekan. Glen duduk di bangku paling belakang, menatap kosong ke arah lembaran buku dongeng bersampul kulit di atas mejanya. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Bayangan Melanie yang jatuh terduduk di tengah derasnya hujan semalam, dengan air mata yang luruh dan kalimat pasrah tentang kematian, terus berputar di kepala Glen seperti kaset rusak.

Ada getaran halus yang mengusik ketenangan dinding es yang selama belasan tahun ini ia bangun dengan rapi. Rasa bersalah yang asing mencoba menyelinap masuk, namun dengan cepat Glen mengeras, mengepalkan jemarinya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Dia adalah anak dari orang yang menghancurkan hidupku. Dia harus membayar harganya, batin Glen, mencoba membakar kembali api dendam yang sempat meredup.

"Glen, dosen tidak datang hari ini. Ada rapat rektorat," Thone tiba-tiba duduk di sebelah Glen, memutus pergulatan batin pria itu. Thone menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Kamu terlihat kacau hari ini. Lebih kacau dari biasanya setelah pulang dari kafe semalam."

Glen menutup bukunya dengan gerakan tenang, kembali memasang topeng acuh tak acuhnya. "Aku tidak apa-apa, Thone. Hanya sedang memikirkan bab terakhir dari cerita yang sedang kutulis."

"Cerita tentang merpati putih dan serigala?" Thone mendengus pelan, menyandarkan punggungnya. "Kuharap cerita itu tidak berakhir dengan genangan darah, Glen. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Melanie semalam di gedung teater, tapi pagi ini... aku melihat Melanie dan dia terlihat seperti kehilangan jiwanya. Apa yang sebenarnya kamu katakan padanya?"

Glen tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursi, menyampirkan tasnya di bahu dengan gerakan yang teratur, lalu menatap Thone dengan sepasang mata elang yang kembali sedingin es. "Akhir dari sebuah cerita dongeng selalu ditentukan oleh takdir, Thone. Dan sebagai penulisnya, aku hanya memastikan setiap karakter berjalan menuju panggungnya masing-masing."

Tanpa memedulikan panggilan Thone, Glen melangkah keluar dari kelas Sastra. Namun, langkah kakinya tidak membawanya menuju gerbang keluar kampus, melainkan berbelok ke arah koridor kelas Teater. Jaring balas dendam yang ia siapkan sudah terlalu rapat untuk dilepaskan, dan ia perlu memastikan bahwa korbannya tidak mencoba melarikan diri dari permainan ini.

Dari balik celah kaca pintu ruang Teater yang sedikit terbuka, Glen berdiri diam. Matanya terkunci pada sosok Melanie yang sedang duduk menekur di pojok ruangan. Melihat gadis ceria itu kini tampak begitu rapuh dan layu, ada kepuasan ganjil yang berbaur dengan rasa sesak yang tak kasat mata di dalam dada Glen. Permainan ini baru saja dimulai, dan lembaran dongeng tragis mereka berdua kini siap memasuki babak yang paling menghancurkan.

1
Filan
langsung nembak aja nih Melanie
Filan
terlalu kejam untuk Melanie? untukmu kali
Xlyzy
sadarkan teman mu itu thone
Xlyzy
Kamu fikir naskah mu sudah rapih namun kamu lupa kamu membuat naskah dengan manusia yang memiliki akal dan sifat yang berbeda kamu tidak bisa mengatur mereka sesuai dengan alur yang kamu mau seharus nya kamu punya naskah cadangan antisipasi kalau naskah pertama tidak sukses di eksekusi
-Thiea-
perlahan, tanpa kamu sadari, niatmu itu sudah melenceng dari tujuan aslinya.
-Thiea-
ditantangin langsung sama Melani tuh Glen. kamu melampiaskan kekesalan pada orang yang gak tahu apa-apa. Apakah itu adil?
Mingyu gf😘
wahhh ada apa nih
Three Flowers
kayaknya kehidupan Glen ini ngeri banget sampai dia selalu ngehalu jadi pahlawan, mungkin dia pingin banget menyelamatkan keluarganya tapi tidak berdaya
Mingyu gf😘
iya kalau di pikir pikir buat apa begitu
Mingyu gf😘
Aduhh para cogan kampus🤭
Three Flowers
dia habis ngadepin penjahat terselubung 🤣
Filan
Kok Thone tahu segalanya? Kasihan juga Glen sok misterius padahal semua orang bisa baca dia 😅
Cimol krispy
panjang lebar banget kalimat Melanie dan itu langsung kena ke hati sih harusnya
Cimol krispy
Kenapa Glen? Kamu berfikir Melanie akan terus menjadi kelinci ketakutan yang tidak akan melawanmu
Sarifah_Aini97: Kelinci penakutnya sekarang udah berubah jadi penantang paling telak buat Glen 🤭 Makasih banget ya Kak Cimol udah selalu ngikutin perkembangan karakter Melanie dan Glen sejauh ini 🤭
total 1 replies
Miu.Nuha
selamatkan Glen, Melanie...
dia kayaknya gk benar2 jahat, tapi tersesat 😭😭
Miu.Nuha
karna melanie bukan wanita yang mudah kamu pikirkan bahkan kamu permainkan...
mau dicoba? entar kamu kena mental lagi malah 🤭🤭🤭
Mega Siregar
memang benar... walaupun Melanie tidak tahu apa2, tapi hati Glen pasti sakit melihat kehidupan yg hancur karena orang tua Melanie sedangkan Melanie hidup dengan kecemewahan diatas air mata orang tua Glen..
Mega Siregar
akhirnya, kamu jujur juga, Glen...
pasti beran memendam semuanya sendiri...
ginevra
inikah awal Glen menyukai melanie
ginevra
makjleb banget melanie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!