Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring yang Merapat
Pagi berikutnya, sisa-sisa badai semalam masih meninggalkan jejak berupa langit mendung yang menggantung rendah di atas kampus Universitas Airrawan. Koridor utama gedung Fakultas Bahasa dan Seni tampak sibuk dengan lalu lalang mahasiswa yang buru-buru masuk kelas sebelum rintik hujan kembali turun. Di antara kerumunan itu, Melanie berjalan dengan langkah yang tak lagi seliat biasanya. Matanya yang sedikit sembab disamarkan oleh sapuan tipis bedak, namun gurat kelelahan batin di wajahnya tak mampu disembunyikan dari Diandra.
"Mel, kamu beneran tidak apa-apa? Dari tadi aku ajak bicara kamu cuma melamun," tanya Diandra cemas sambil menyelingos masuk ke dalam ruang kelas Teater yang masih setengah kosong.
Melanie meletakkan tasnya di atas kursi dengan pelan, lalu menatap Diandra dengan senyum yang dipaksakan. "Hanya kurang tidur, Di. Semalam hujan deras sekali di rumah, suaranya membuatku terjaga sampai subuh."
Diandra menghela napas, duduk di sebelah Melanie dan menggenggam tangan sahabatnya itu. "Kalau ada masalah yang berat, cerita padaku, Mel. Jangan dipendam sendiri. Kita ini sudah bersahabat sejak maba, aku tahu kapan kamu sedang menyembunyikan sesuatu."
Melanie hanya mengangguk pelan, merasa bersalah karena harus terus berbohong. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan bahwa dirinya sedang menjadi target balas dendam dari mahasiswa sastra tertampan di kampus mereka? Itu terdengar seperti plot fiksi yang gila, namun sayangnya, itulah kenyataan pahit yang kini harus ia telan bulat-bulat.
Di seberang lorong, di dalam ruang kelas Sastra yang temaram, suasana justru terasa lebih menekan. Glen duduk di bangku paling belakang, menatap kosong ke arah lembaran buku dongeng bersampul kulit di atas mejanya. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Bayangan Melanie yang jatuh terduduk di tengah derasnya hujan semalam, dengan air mata yang luruh dan kalimat pasrah tentang kematian, terus berputar di kepala Glen seperti kaset rusak.
Ada getaran halus yang mengusik ketenangan dinding es yang selama belasan tahun ini ia bangun dengan rapi. Rasa bersalah yang asing mencoba menyelinap masuk, namun dengan cepat Glen mengeras, mengepalkan jemarinya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Dia adalah anak dari orang yang menghancurkan hidupku. Dia harus membayar harganya, batin Glen, mencoba membakar kembali api dendam yang sempat meredup.
"Glen, dosen tidak datang hari ini. Ada rapat rektorat," Thone tiba-tiba duduk di sebelah Glen, memutus pergulatan batin pria itu. Thone menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Kamu terlihat kacau hari ini. Lebih kacau dari biasanya setelah pulang dari kafe semalam."
Glen menutup bukunya dengan gerakan tenang, kembali memasang topeng acuh tak acuhnya. "Aku tidak apa-apa, Thone. Hanya sedang memikirkan bab terakhir dari cerita yang sedang kutulis."
"Cerita tentang merpati putih dan serigala?" Thone mendengus pelan, menyandarkan punggungnya. "Kuharap cerita itu tidak berakhir dengan genangan darah, Glen. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Melanie semalam di gedung teater, tapi pagi ini... aku melihat Melanie dan dia terlihat seperti kehilangan jiwanya. Apa yang sebenarnya kamu katakan padanya?"
Glen tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursi, menyampirkan tasnya di bahu dengan gerakan yang teratur, lalu menatap Thone dengan sepasang mata elang yang kembali sedingin es. "Akhir dari sebuah cerita dongeng selalu ditentukan oleh takdir, Thone. Dan sebagai penulisnya, aku hanya memastikan setiap karakter berjalan menuju panggungnya masing-masing."
Tanpa memedulikan panggilan Thone, Glen melangkah keluar dari kelas Sastra. Namun, langkah kakinya tidak membawanya menuju gerbang keluar kampus, melainkan berbelok ke arah koridor kelas Teater. Jaring balas dendam yang ia siapkan sudah terlalu rapat untuk dilepaskan, dan ia perlu memastikan bahwa korbannya tidak mencoba melarikan diri dari permainan ini.
Dari balik celah kaca pintu ruang Teater yang sedikit terbuka, Glen berdiri diam. Matanya terkunci pada sosok Melanie yang sedang duduk menekur di pojok ruangan. Melihat gadis ceria itu kini tampak begitu rapuh dan layu, ada kepuasan ganjil yang berbaur dengan rasa sesak yang tak kasat mata di dalam dada Glen. Permainan ini baru saja dimulai, dan lembaran dongeng tragis mereka berdua kini siap memasuki babak yang paling menghancurkan.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...