NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Mobil hitam itu membelah jalanan malam yang sepi, meninggalkan Yogyakarta dengan kecepatan tinggi menuju Jakarta.

Di dalam kabin, keheningan yang canggung sempat merayap sebelum Daniel akhirnya membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.

"Kita hanya melakukan pernikahan sandiwara," ucap Daniel datar, suaranya terdengar dingin dan lugas.

"Setibanya di Jakarta nanti, kamu akan kuberi kamar sendiri. Kita tidak akan tinggal satu ranjang."

Amira menoleh cepat, keningnya berkerut rapat. "Sandiwara?" tanya Amira memastikan.

"Iya, sandiwara," sahut Daniel acuh tak acuh.

"Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak mencintaiku? Pernikahan ini terjadi hanya karena ibumu yang meminta syarat itu."

Mendengar penuturan pria di sampingnya, Amira mengembus napas lega yang samar.

Ia membetulkan posisi duduknya, lalu menganggukkan kepalanya perlahan sambil bersedekap dada.

Setidaknya, batas-batas dalam hubungan terpaksa ini mulai jelas.

"Aku akan melakukan apa pun, memberikan fasilitas apa pun yang kamu mau, asalkan kamu bersedia menemani Felia dan membantunya pulih," lanjut Daniel, mempertegas kesepakatan sepihak itu.

Amira menatap lurus ke depan, menatap aspal jalanan yang disorot lampu mobil.

"Aku mau membantu anakmu, tapi ada syaratnya. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang Selena," tegas Amira dengan nada suara yang tak kalah dingin.

"Di rumahmu nanti, aku tetap memakai namaku sendiri, Amira. Dan satu lagi, tidak akan ada hubungan intim antara kita berdua. Pernikahan ini murni untuk Felia."

Daniel terdiam sejenak, mencengkeram setir mobilnya lebih erat.

Baginya, syarat dari Amira justru mempermudah posisinya, karena di dalam hatinya pun, posisi Selena tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.

Tanpa keraguan, Daniel menganggukkan kepalanya dengan pasti.

"Setuju. Tidak akan ada hubungan intim, dan kamu tetap menjadi dirimu sendiri."

Setelah kesepakatan tak tertulis itu disetujui kedua belah pihak, keheningan kembali menguasai mobil yang terus melaju kencang menembus kegelapan malam, membawa mereka berdua menuju takdir baru yang rumit di Jakarta.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang dan melelahkan, mobil Daniel akhirnya tiba di pelataran rumah sakit Jakarta.

Tanpa membuang waktu, Daniel langsung membawa Amira masuk menuju ruang rawat intensif tempat Felia berada.

Sebelum diizinkan masuk, dokter meminta Amira untuk memakai pakaian khusus steril terlebih dahulu agar kondisi Felia tidak memburuk akibat kuman dari luar.

Amira menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh.

Dengan memantapkan hati, ia mendorong sendiri kursi rodanya perlahan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi bunyi mesin medis tersebut.

"Sayang, ini Mama," bisik Amira lembut saat mendapati tubuh mungil Felia yang masih terbaring lemah dengan selang infus.

Mendengar suara yang begitu dirindukannya, Felia membuka matanya perlahan-lahan.

Manik mata bulatnya yang semula sayu seketika berbinar saat menangkap sosok wanita di hadapannya.

"Mama? Mama, jangan pergi lagi ke surga," ucap Felia dengan suara parau.

Air mata kecil mulai menggenang di sudut matanya yang mungil.

Amira tersenyum sangat manis, hatinya mendadak lumer melihat kepolosan anak itu.

Ia mengusap pipi Felia dengan penuh kasih sayang. "Iya, Sayang, Mama tidak akan pergi lagi. Tapi sekarang, panggil Mama dengan nama Mama Amira, ya? Jangan panggil Mama Selena lagi."

Kening Felia yang kecil tampak berkerut bingung. "Kenapa, Ma?"

Amira terkekeh pelan, mencoba menyusun alasan yang bisa diterima akal anak seusianya.

"Karena di surga, Mama sudah ganti nama menjadi Mama Amira."

Mendengar penjelasan itu, Felia tertawa kecil, suara tawa yang begitu dirindukan oleh seluruh isi rumah sakit.

"Wah, kalau begitu, boneka gajah Felia juga ganti nama, Ma! Dulu namanya Bona, sekarang ganti jadi Rona!" ujar Felia dengan ceria sembari memeluk boneka gajahnya erat-erat.

Amira tidak bisa menahan tawa kecilnya mendengarkan celotehan menggemaskan itu.

"Oh ya? Wah, nama Rona bagus sekali. Nah, sekarang Felia janji sama Mama Amira untuk cepat sembuh, ya? Harus mau makan dan minum obat."

"Janji, Mama Amira!" sahut Felia penuh semangat.

Dengan jemari mungilnya yang masih lemas, Felia menarik tangan Amira.

Spontan, Felia mengajarkan Amira gerakan menepuk-nepuk punggung tangan dengan ritme tertentu—sebuah gerakan rahasia yang dulu selalu dilakukan mendiang Selena untuk menenangkan putrinya sebelum tidur.

Amira sempat tertegun merasakan kesamaan itu, namun ia membiarkan Felia menuntun tangannya.

Tak lama kemudian, dokter penanggung jawab masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Felia.

Dokter itu tersenyum lebar melihat indikator pada monitor yang menunjukkan grafik perkembangan yang sangat pesat.

Suhu tubuh Felia pun sudah berangsur normal. Keajaiban psikologis benar-benar terjadi berkat kehadiran Amira.

"Luar biasa. Kondisi mental dan fisik Felicia menunjukkan pemulihan yang sangat cepat," ucap dokter dengan nada lega.

"Karena fasenya sudah melewati masa kritis, sekarang saya akan memindahkan Felia ke ruang perawatan biasa agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman bersama ibunya."

Perawat dengan sigap mendorong brankar Felia menyusuri koridor rumah sakit, membawa balita itu menuju ruang perawatan biasa yang jauh lebih nyaman.

Di sepanjang jalan, Felia yang sudah kembali ceria tampak memperhatikan penampilan Amira dari atas brankarnya.

Matanya yang bulat menatap heran pada kebaya putih yang masih melekat di tubuh Amira.

"Papa, kenapa Mama memakai kebaya?" tanya Felia dengan suara khas anak-anak yang polos, mendongak menatap Daniel yang berjalan di sisi brankar

Daniel tersentak sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi kepanikannya. Ia melirik Amira sekilas sebelum menjawab, "Itu... Mama tadi sedang ikut lomba kebaya, Sayang. Terus Papa langsung jemput Mama karena Felia sakit. Jadi Mama tidak sempat ganti baju."

"Oh..." Felia mengangguk-angguk percaya, melipat kedua tangan di dadanya. Namun, sedetik kemudian, mata jernihnya kembali menangkap kejanggalan lain dari kedua orang tuanya.

"Terus, kenapa Papa sama Mama dari tadi jauh-jauhan?" cecar Felia lagi.

Ia menunjuk jarak yang sengaja dibuat oleh Daniel dan Amira sejak keluar dari ruang ICU.

"Biasanya kan kalau Papa ketemu Mama, Papa langsung cium pipi Mama, terus Papa bilang 'Aku sayang kamu'."

Mendengar ucapan polos Felia, langkah Amira seketika terhenti.

Wajahnya langsung memerah sempurna karena terkejut.

Ia menatap Daniel dengan pandangan panik, memberi isyarat lewat matanya agar pria itu mencari alasan lain.

Mereka baru saja menyepakati pernikahan sandiwara tanpa hubungan intim, dan kini anak ini meminta hal yang berada di luar kesepakatan.

Daniel sempat membeku di tempatnya. Namun, demi menjaga kondisi psikologis Felia yang baru saja melewati masa kritis, Daniel terpaksa mengalah pada keadaan.

Daniel tertawa kecil, tawa yang dipaksakan untuk mencairkan suasana.

Ia melangkah lebar memangkas jarak, lalu berdiri tepat di samping kursi roda Amira.

Tanpa memberikan aba-aba, Daniel membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi kanan Amira.

"Aku sayang kamu," ucap Daniel dengan suara berat dan dalam, tepat di dekat telinga Amira.

Cup.

Sentuhan bibir Daniel yang hangat di kulit pipinya seketika membuat seluruh tubuh Amira menegang.

Amira bisa merasakan detak jantungnya berdegup begitu kencang, bertalu-talu seperti ingin melompat keluar dari dadanya.

Desir aneh yang asing mendadak menyergap hatinya, membuat Amira hanya bisa terpaku dengan napas tertahan.

Melihat pemandangan di depannya, Felia langsung tertawa riang dan bertepuk tangan dengan heboh.

"Horeee! Papa sama Mama sudah baikan!" seru Felia senang, sama sekali tidak menyadari badai canggung yang kini sedang berkecamuk hebat di antara dua orang dewasa di dekatnya.

"Sudah, sudah... sekarang putri Mama harus istirahat lagi," ucap Amira buru-buru menimpali, mencoba mengalihkan perhatian Felia sekaligus menutupi rasa gugupnya yang kian merayap setelah kecupan tiba-tiba dari Daniel tadi.

Saat brankar Felia akhirnya sampai di dalam ruang perawatan yang luas dan nyaman, perawat membantu memindahkan balita itu ke ranjang pasien yang empuk. Namun, begitu Amira hendak memundurkan kursi rodanya, jemari mungil Felia bergerak cepat menahan pergelangan tangannya.

"Mama mau ke mana?" tanya Felia dengan raut wajah yang seketika berubah cemas, seolah takut pegangannya akan terlepas lagi.

Amira tersenyum menenangkan, mengusap punggung tangan Felia dengan lembut.

"Mama tidak akan pergi jauh, Sayang. Mama hanya mau ke kamar mandi sebentar untuk ganti pakaian. Baju Mama sudah gerah sekali."

Felia menatap kebayanya bergantian, lalu menoleh ke arah ayahnya yang berdiri di dekat pintu.

"Papa, antar Mama," pinta Felia dengan nada manja yang tidak bisa dibantah.

Daniel mengangguk patuh. "Baik, Sayang. Papa antar Mama."

Daniel melangkah mendekati kursi roda Amira, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di pegangan kursi roda tersebut.

Sembari berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam ruang perawatan itu, Daniel meraih sebuah tas jinjing yang sejak tadi dibawanya dari mobil—sebuah tas yang berisi pakaian ganti milik mendiang Selena yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.

Begitu pintu kamar mandi yang cukup luas itu terbuka, Daniel mendorong kursi roda Amira masuk ke dalam, lalu meletakkan baju ganti di atas meja wastafel.

Di dalam ruangan yang tertutup itu, suasana mendadak menjadi sangat canggung.

Keheningan yang pekat langsung menyelimuti mereka berdua, hanya menyisakan suara detak jantung Amira yang kembali berpacu cepat semenjak kejadian di koridor tadi.

Melihat Daniel yang masih berdiri tegak di dekat pintu tanpa berniat keluar, Amira mengerutkan keningnya dengan cemas.

"Apa?" tanya Daniel polos, menatap bingung ke arah Amira yang tampak salah tingkah.

"Tutup matamu!" seru Amira tertahan, setengah berbisik agar suaranya tidak terdengar sampai ke luar kamar mandi.

"Aku mau membuka kebaya ini. Tubuhku masih kaku untuk berdiri dan mengunci pintu sendiri. Jadi, tutup matamu sekarang!"

Daniel tersentak, baru menyadari kecerobohannya.

Dengan kikuk, Daniel segera membalikkan tubuhnya membelakangi Amira, menghadap lurus ke arah dinding marmer, sambil mengangkat kedua telapak tangannya untuk menutup matanya rapat-rapat.

"Sudah. Aku tidak melihat apa-apa," ucap Daniel dengan suara berat yang terdengar sedikit gugup, berusaha meredam debaran aneh yang tiba-tiba saja ikut menyergap dadanya di dalam ruangan yang sempit itu.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!