Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi nyaring, memecah keheningan kelas dan halaman yang tadi masih tenang. Suasana langsung berubah menjadi ramai; siswa berjalan beriringan sambil tertawa, bercerita tentang pelajaran hari itu atau rencana kegiatan sore nanti. Di antara kerumunan itu, Alena berjalan tenang menuju tempat parkir kendaraan sekolah. Sesuai janji, Elio menyuruhnya menunggu lebih dulu di dalam mobil agar tidak kepanasan di bawah terik matahari sore yang cukup menyengat.
“Tunggu sebentar saja ya, aku harus ke ruang guru sebentar bersama Bima—ada urusan administrasi yang belum selesai. Tidak akan lama, paling lama sepuluh menit,” ujar Elio sambil tersenyum, lalu menyelipkan kunci mobil ke telapak tangan Alena dan mengusap kepalanya sejenak sebelum berjalan cepat menuju gedung kantor.
Alena masuk ke dalam mobil berwarna gelap yang nyaman, menutup pintu hingga tertutup rapat, lalu duduk di kursi penumpang depan sambil menyandarkan punggungnya. Udara di dalam terasa sejuk, jauh lebih nyaman dibandingkan berdiri di luar. Ia berencana membaca sedikit catatan pelajaran sambil menunggu, namun pikirannya terus melayang—menghitung detik demi detik berlalunya waktu. Sepuluh menit yang dijanjikan terasa berjalan lambat sekali.
Sudah sepuluh menit berlalu, lalu menjadi lima belas menit, namun sosok Elio belum juga tampak muncul di ujung jalan setapak. Alena mulai melirik ke sana‑sini, sedikit gelisah namun tetap berusaha tenang. Ia tahu kadang guru bisa saja menambah pembicaraan tanpa sengaja, sehingga urusan jadi sedikit lebih lama.
Tiba‑tiba suara langkah kaki yang cepat dan berat terdengar mendekat ke arah kendaraan itu. Alena mengira itu Elio, namun saat ia mengangkat wajah dan melihat ke luar jendela, senyum harapannya langsung hilang. Yang datang bukan Elio, melainkan Jena—berjalan dengan wajah yang kaku, bibir terkatup rapat, dan tatapan yang tajam seolah menemukan sasaran yang tepat. Di belakangnya terlihat Dinda berdiri agak jauh di balik tiang, seolah hanya menjadi pengamat yang penakut namun mendukung diam‑diam.
Jena mendekat, lalu mengetuk kaca jendela dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Alena menurunkan kaca sedikit saja, cukup untuk berbicara namun tidak memberi ruang lebar bagi gadis itu untuk masuk lebih dekat.
“Kamu ternyata sendirian ya? Bagus sekali,” ujar Jena dengan nada yang manis namun penuh kepahitan, langsung menyeringai. “Kira‑kira sampai kapan kamu akan terus bersembunyi di balik punggung Elio? Tanpa dia di dekatmu, rasanya kamu terlihat jauh lebih kecil dan tidak berdaya, bukan?”
Alena tidak terkejut maupun takut. Ia menatap lurus ke mata gadis itu dengan tenang, lalu menjawab tanpa nada gemetar sedikit pun. “Aku tidak bersembunyi. Aku hanya menunggu seperti yang sudah disepakati. Dan soal berdaya atau tidak, itu bukan hakmu untuk menilai.”
Jena tertawa pendek, lalu mencondongkan badan makin dekat ke jendela, suaranya mulai meninggi dan menyindir. “Berani bicara keras juga ya! Padahal semua orang tahu, kamu hanya beruntung saja karena kebetulan dijodohkan. Kalau tidak ada perjodohan itu, Elio takkan pernah sekalipun melirik gadis sebiasa dirimu. Aku sudah kenal dia jauh lebih lama, lebih mengerti apa yang dia butuhkan, dan jauh lebih pantas berada di sisinya daripada kamu yang baru datang dan langsung berlagak seperti nyonya besar.”
Perlahan tapi pasti, kata‑kata tajam itu mulai meluncur satu demi satu—mulai dari merendahkan penampilan, menyebut keberadaannya mengganggu, hingga berusaha membuat Alena merasa kecil hati. Namun kali ini, Alena tidak lagi diam saja seperti dulu. Ia sudah belajar bahwa kelembutan tidak sama dengan kelemahan, dan Elio pun selalu mengingatkan: jangan biarkan siapa pun menginjak‑injak harga dirimu.
Tanpa terburu‑buru, Alena membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan tenang namun tegas, berdiri tegak setingkat dengan Jena. Gerakannya membuat Jena sedikit mundur karena terkejut.
“Dengar baik‑baik, Jena,” ucap Alena perlahan namun jelas, suaranya cukup tegas hingga terdengar tegas dan berwibawa. “Pertama, hubungan kami bukan sekadar perjodohan—kini sudah didasari rasa cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Kedua, berkenalan lebih lama belum tentu berarti lebih mengerti hati seseorang. Dan ketiga… berhentilah berbicara seolah‑olah kamu yang paling tahu segalanya tentang Elio, karena nyatanya dia sendiri yang memilih untuk menjaga jarak darimu.”
Wajah Jena langsung memerah padam karena tersinggung. Ia berusaha mendorong bahu Alena sedikit, namun Alena dengan sigap mengelak dan menangkap pergelangan tangannya dengan cekatan—tidak menyakiti berlebihan, cukup untuk menahan gerakan itu agar tidak berlanjut.
“Jangan berani menyentuhku,” bisik Alena dengan nada dingin namun tetap tenang. “Kalau kamu mau berbicara, gunakan kata‑kata yang sopan. Kalau hanya ingin mencari keributan, kamu salah alamat.”
Jena berusaha melepaskan tangannya sambil berteriak pelan namun tajam: “Lepaskan! Kamu ini tidak tahu sopan santun! Aku akan katakan pada Elio betapa kasarnya kamu padaku!”
“Silakan saja katakan apa pun yang kamu mau,” jawab Alena santai sambil melepaskan cengkeramannya perlahan namun tetap menjaga jarak aman. “Tapi ingat: dia juga sudah tahu niat‑niat licik yang kalian rencanakan bersama Dinda. Dan aku yakin dia cukup bijak untuk membedakan mana kebenaran dan mana rekayasa.”
Mendengar itu, Jena tertegun sejenak—seolah ada yang menusuk di dalam—namun ia segera mengumpulkan keberaniannya lagi untuk terus berusaha mendesak: “Kamu hanya berani bicara besar karena berharap dia akan membelamu terus‑menerus. Suatu hari nanti dia akan bosan dan sadar bahwa aku lebih baik darimu!”
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, terdengar suara langkah kaki yang cepat dan berat mendekat. Jantung Alena langsung berdebar namun kali ini karena lega—ia mengenali langkah itu. Saat berbalik sedikit, tampak Elio berjalan terburu‑buru dari arah gedung kantor, diikuti Bima yang berjalan sedikit di belakang sambil tersenyum melihat pemandangan itu. Wajah Elio langsung berubah serius saat melihat posisi mereka berhadapan di pinggir mobil.
Jena yang melihat kedatangannya langsung mengubah ekspresi wajahnya seketika—dari marah berubah menjadi sedih dan tertindas. Ia segera berjalan mendekat ke arah Elio sambil mengusap‑ngusap lengan seolah baru saja dipukul keras.
“Elio… terima kasih kamu datang juga!” serunya dengan suara bergetar dan penuh kepura‑puraan. “Kamu lihat kan? Alena sangat kasar padaku! Aku hanya ingin menyapa sebentar, tapi dia malah keluar dan mendorongku, bahkan mencengkeram tanganku begitu kuat hingga sakit sekali. Tolonglah katakan padanya supaya tidak berbuat semena‑mena pada teman‑temanmu…”
Ia menunjuk‑nunjuk ke arah bekas cengkeraman yang sebenarnya tidak ada bekas apa pun, namun ia berusaha melebih‑lebihkan. Bahkan Dinda yang masih bersembunyi di kejauhan ikut mengangguk pelan seolah membenarkan—padahal matanya berusaha menghindari tatapan tajam Elio.
Namun, reaksi Elio sama sekali tidak seperti yang diharapkan Jena. Ia tidak langsung menoleh ke arah Alena dengan curiga atau marah. Sebaliknya, ia melangkah melewati Jena begitu saja seolah tidak mendengar keluhannya, berjalan lurus ke arah Alena, lalu menatap wajah gadis itu dengan lembut dan perhatian sepenuhnya.
“Apakah kamu baik‑baik saja? Apakah dia mengganggumu saat aku belum datang?” tanyanya rendah dan tenang, hanya terdengar oleh mereka berdua saja. Tangannya bergerak perlahan menyentuh lengan Alena seolah memastikan tidak ada yang terluka.
Alena tersenyum lega dan mengangguk pelan. “Baik saja. Hanya mencoba mengganggu seperti biasa, tapi tidak berhasil.”
Baru setelah itu Elio menoleh ke arah Jena yang masih berdiri menunggu tanggapan mendukung, namun tatapan yang ditujukan padanya kini dingin, datar, dan jelas tidak percaya satu kata pun.
“Kalau kamu merasa ada yang salah, silakan lapor ke guru atau kepala sekolah,” ujar Elio singkat dan datar, tanpa nada simpati sedikit pun. “Tapi aku tahu persis bagaimana Alena bersikap—dan aku juga tahu niat kedatanganmu ke sini bukan sekadar menyapa. Jangan berharap aku akan menelan cerita yang sudah disusun rapi.”
Jena tertegun, mulutnya sedikit terbuka namun tak bisa mengeluarkan kata‑kata pembelaan lagi. Ia berharap setidaknya Elio akan menegur atau memeriksa, namun justru sebaliknya—dia benar‑benar mengabaikan keluhannya seolah hal itu tidak penting sama sekali.
“Tapi… Elio… ini benar‑benar terjadi…” masih berusaha memaksa sedikit lagi.
“Cukup,” potong Elio tegas namun tenang. “Kami harus pulang sekarang. Jangan coba mengulanginya lagi.”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Elio membukakan pintu mobil untuk Alena dengan sopan dan lembut—gerakan yang sangat kontras dengan sikapnya pada gadis lain—lalu melambaikan tangan singkat kepada Bima sebelum berkeliling masuk ke kursi kemudi. Mesin menyala halus, dan kendaraan bergerak perlahan menjauh meninggalkan tempat parkir, meninggalkan Jena yang berdiri kaku di sana dengan wajah merah padam karena kecewa dan malu.
Di dalam mobil, suasana terasa tenang namun hangat. Setelah beberapa saat melewati gerbang sekolah, Elio melirik ke arah Alena dan tiba‑tiba tersenyum kecil—senyum yang lucu namun penuh kebanggaan.
“Tadi aku melihat sedikit dari kejauhan sebelum mendekat,” ujarnya pelan sambil memegang kemudi dengan tenang. “Kamu berani sekali menegurnya. Sangat berbeda dari dulu yang sering hanya diam saja.”
Alena tersipu sedikit namun ikut tersenyum sambil memutar wajah ke arah jalan raya yang indah diterangi cahaya matahari sore. “Aku hanya berpikir… kalau aku selalu mengandalkanmu untuk membelaku di setiap kesempatan, lama‑kelamaan aku tidak akan bisa berdiri tegak sendiri. Lagipula, kamu juga sudah bilang: jangan biarkan mereka merasa bebas berbuat semaunya.”
Elio tertawa renyah—suara yang membuat suasana menjadi ringan dan romantis sekaligus sedikit jenaka. Ia mengulurkan satu tangan kosongnya ke samping, menggenggam lembut tangan Alena yang tergeletak di paha, lalu mengusap punggung tangan itu perlahan dengan ibu jarinya.
“Dan kamu melakukannya dengan sangat cerdas dan tenang—persis seperti yang aku harapkan,” bisiknya lembut namun tulus. “Tapi ingatlah satu hal: meski kamu sudah bisa membela diri sendiri, aku tetap akan selalu ada untukmu. Tak peduli seberapa sering mereka datang atau seberapa rapi cerita yang mereka buat—aku takkan pernah mendengar keluhan mereka lebih dulu daripada mendengarkan hatimu.”
Alena merasakan kehangatan menjalar dari genggaman itu ke seluruh tubuhnya, membuat hati terasa aman dan damai. “Aku tahu… dan rasanya sangat beruntung memilikimu.”
“Dan aku pun begitu,” balas Elio lembut, lalu sedikit bercanda dengan nada jenaka agar suasana makin santai. “Lagipula, kelakuan mereka itu justru lucu jika dilihat dari sisi lain: semakin mereka berusaha memisahkan kita, semakin terlihat jelas betapa sia‑sianya usaha itu. Seperti sekarang—setelah sekian kali berusaha, hasilnya hanya mereka yang makin terlihat tidak berdaya, sementara hubungan kita makin erat saja.”
Alena tertawa kecil mengingat ekspresi kecewa Jena tadi—sangat lucu dan sedikit menyedihkan sekaligus. “Benar juga. Seolah‑olah belum sadar bahwa pintu itu sudah tertutup rapat sejak lama.”
Perjalanan pulang dilanjutkan dengan obrolan ringan dan tawa yang sesekali terdengar di dalam mobil, ditemani pemandangan jalanan yang mulai berubah warna menjadi keemasan karena matahari hampir tenggelam. Di luar mungkin masih ada yang berusaha mencari celah, namun di dalam ruang kecil yang hangat itu, hanya ada dua hati yang saling percaya dan saling menjaga—tanpa ragu, tanpa keraguan.