NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Yang Menyakitkan

Nadia mengikuti langkah Mario yang terasa semakin cepat dan tegas, seolah setiap langkahnya membawa dia semakin dekat ke dalam jantung bahaya. Lorong yang biasanya terasa luas dan nyaman, kini terasa sempit dan menyesakkan dada. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya, sementara tangannya terus mencengkeram erat tali tasnya, berusaha menyembunyikan kegemetaran yang tak bisa ia kendalikan sepenuhnya.

Sesampainya di depan pintu lift utama, Mario menekan tombol dengan gerakan cepat. Saat pintu terbuka, dia melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh Nadia yang hanya bisa menunduk diam, tidak berani menatap ke mana pun kecuali ke ujung sepatunya sendiri. Lift itu melaju naik perlahan namun terasa sangat lambat, seolah waktu berhenti berputar untuk menyiksa perasaannya.

Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, suasana yang berbeda langsung menyambutnya. Koridornya lebih lebar, lantainya terbuat dari marmer mengkilap yang memantulkan cahaya lampu gantung mewah, dan udaranya terasa lebih dingin namun beraroma harum wewangian mahal. Di ujung lorong itu, terlihat pintu besar berukir indah yang mengarah ke ruang tamu khusus untuk tamu-tamu penting.

Mario berhenti tepat di depan pintu itu, lalu menoleh sebentar ke arah Nadia dengan tatapan peringatan terakhir yang tajam.

"Ingat apa yang sudah saya katakan," bisiknya pelan namun tegas. "Jangan bicara berlebihan, jawab seperlunya saja, dan tunjukkan rasa hormat yang seharusnya. Kalau kamu membuat Nyonya marah, jangan harap saya bisa menolongmu sedikit pun."

Tanpa menunggu jawaban, Mario mengetuk pintu tiga kali dengan irama yang teratur, lalu membukanya perlahan.

"Masuklah," ucapnya singkat.

Nadia melangkah masuk dengan hati-hati. Begitu kakinya menapaki lantai ruangan itu, pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita yang duduk santai di sofa besar berwarna krem. Itu Nyonya Ardila Santoso. Wanita yang usianya baru menginjak awal empat puluh tahun itu tampak sangat anggun, berpakaian rapi dengan gaun berwarna krem muda, rambutnya disusun rapi ke belakang, dan perhiasan mutiara di leher serta di telinganya menambah kesan wibawa yang tak terbantahkan. Wajahnya cantik namun dingin, tatapannya tajam dan penuh pengamatan, seolah mampu membaca segala rahasia yang tersembunyi di balik wajah orang yang dia tatap.

Begitu melihat Nadia masuk, Nyonya Ardila tidak langsung menyapa. Dia hanya menatap gadis itu dari atas ke bawah selama beberapa detik yang terasa sangat lama, seolah sedang menilai harga diri dan posisi gadis biasa itu di hadapannya. Di dalam ruangan yang luas itu, hanya ada mereka berdua—Mario sudah mundur keluar dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Nadia sendirian menghadapi ibunya Aga.

Nadia menelan ludah dengan susah payah, lalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat, meski kakinya terasa sangat lemas.

"Selamat sore, Nyonya Ardila," ucapnya dengan suara yang berusaha dijaga agar tetap stabil.

Nyonya Ardila mengangkat secangkir teh hangat ke bibirnya, menyesapnya perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari Nadia. Setelah meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja kaca, dia akhirnya membuka suara dengan nada yang tenang namun berat, penuh kekuasaan yang terasa menekan.

"Jadi kamu yang namanya Nadia...," ucapnya pelan namun jelas. "Duduklah, tidak perlu berdiri kaku seperti patung. Kita hanya akan bicara sebentar saja."

Nadia mendekat dengan langkah pelan, lalu duduk di ujung sofa yang paling jauh dari Nyonya Ardila, menjaga jarak yang sopan namun juga menjadi batas aman bagi dirinya. Dia tetap menunduk, tidak berani menatap mata wanita itu secara langsung.

Nyonya Ardila tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Kamu pasti sudah tahu mengapa aku memintamu datang ke sini, bukan?" tanyanya tiba-tiba. "Sebentar lagi, anakku Aga akan melangsungkan pertunangan resmi dengan Jenna Wijaya. Semua persiapan sudah selesai, undangan sudah terkirim ke seluruh kalangan terhormat, dan kesepakatan antara kedua keluarga sudah ditandatangani. Tidak ada satu hal pun yang boleh mengganggu rencana ini, tidak ada yang boleh menghalangi jalan masa depan Aga," tegasnya.

Nadia hanya diam, jntungnya terasa semakin sesak mendengar kata-kata itu. Kabar itu, dia sudah pernah mendengarnya dari Mario, tapi mendengarnya langsung dari mulut ibunya Aga terasa jauh lebih menyakitkan.

"Aku tahu apa yang terjadi antara kamu dan anakku," lanjut Nyonya Ardila, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga ketenangannya. "Aku tidak bodoh, dan aku juga tidak buta. Aku tahu semuanya. Aku anggap perasaan Aga selama ini hanya rasa penasaran sesaat, atau mungkin rasa kasihan yang salah arah. Jadi, aku harap kamu bukan tipe wanita yang mudah terbawa perasaan. Lagi pula, kamu harus sadar diri, kamu dan Aga berada di dunia yang berbeda, Nadia. Jarak antara kamu dan dia terlalu jauh untuk bisa disatukan. Kamu hanya seorang karyawan biasa, sedangkan dia adalah pewaris kerajaan bisnis yang tanggung jawabnya jauh lebih besar dari sekadar perasaan pribadi."

Nadia menggigit bibirnya, menahan rasa perih yang menyayat hatinya. Dia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa perasaannya tulus. Tapi dia sadar, kata-kata itu hanya akan terdengar seperti omong kosong di telinga wanita paruh baya itu.

"Aku tidak datang ke sini untuk memarahimu atau mengancammu—setidaknya belum saatnya," ucap Nyonya Ardila lagi, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Aku datang hanya untuk memastikan satu hal, kamu sadar akan posisimu, dan kamu berjanji untuk tidak lagi mengganggu kehidupan Aga mulai hari ini. Jangan menunggu sampai hal-hal buruk terjadi, karena jika kamu terus mendekat, aku tidak akan segan-segan mengambil langkah tegas demi menjaga nama baik keluarga kami."

Wanita paruh baya itu lantas mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tas tangan yang tergeletak di sampingnya, lalu meletakkannya di atas meja di antara mereka.

"Di dalam amplop itu ada sejumlah uang yang cukup untuk membantumu memulai hidup baru di tempat lain. Cukup untuk biaya hidup, biaya pindah, dan kebutuhanmu selama beberapa bulan ke depan. Ambillah ini, berhenti bekerja di sini, dan pergilah ke kota lain. Jangan pernah menghubungi Aga lagi, jangan pernah mencari dia, dan anggap saja semua yang pernah terjadi di antara kalian hanyalah mimpi yang tidak perlu diingat lagi."

Nadia menatap amplop itu dengan mata terbelalak, lalu mengangkat kepalanya perlahan, menatap wajah Nyonya Ardila untuk pertama kalinya. Air matanya sudah menggenang, tapi dia menahannya sekuat tenaga.

"Saya tidak butuh uang, Nyonya," jawabnya dengan suara yang bergetar namun tegas. "Saya tidak pernah berniat mengganggu kehidupan Aga atau keluarga Anda. Saya juga tidak berniat mengambil apa pun yang bukan hak saya. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang, menyelesaikan tugas saya, dan hidup seperti orang biasa. Saya tidak akan mengganggu dia, saya tidak akan mengganggu pertunangannya, dan saya berjanji akan menjaga jarak sejauh mungkin. Tapi tolong... biarkan saya tetap bekerja di sini sampai saya bisa menemukan tempat lain."

Nyonya Ardila terdiam sejenak, menatap Nadia dengan pandangan yang berubah—tidak lagi hanya dingin, tapi juga penuh kecurigaan.

"Kalau begitu, apa yang kamu inginkan sebenarnya?" tanyanya tajam. "Jika bukan untuk uang, lalu kenapa kamu mendekati Aga? Oh, jangan bilang kamu mencintainya dengan tulus. Itu terdengar sangat munafik jika dilihat dari latar belakang kalian yang jauh sekali berbeda."

Perkataan itu menusuk tepat ke jantung Nadia. Dia merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak, tangannya secara otomatis menyentuh perutnya lagi dengan gerakan yang sangat cepat namun tidak luput dari pandangan Nyonya Ardila.

Nadia tidak tahu bagaimana jelinya Nyonya Ardila. Wanita paruh baya itu terkenal memiliki sifat yang tenang seperti air kolam yang tak beriak. Tapi air yang tenang justru memiliki sisi yang sulit ditebak.

"Kenapa dengan perutmu? Aku melihatmu lebih dari beberapa kali menyentuhnya," tanya Nyonya Ardila, menatap penuh selidik.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!