NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Alma memasuki kelas. Tidak ada sambutan hangat. Bahkan sekadar ucapan selamat pagi pun terasa asing di ruangan ini.

Di sekolah seperti Athena International Senior High School, para siswa hidup di dalam lingkaran sosial mereka masing-masing. Tertutup, eksklusif, dan tersegmentasi oleh nama keluarga, pengaruh, serta status sosial yang diwariskan sejak lahir. Jika tidak berasal dari lingkungan yang sama, mereka cenderung tak peduli. Tidak ada tempat untuk basa-basi atau keramahan di antara yang tak setara.

Langkah kaki Alma terdengar pelan saat ia berjalan menuju mejanya yang berada di barisan pojok kiri, urutan ketiga dari depan, dekat jendela yang menghadap taman belakang sekolah. Matahari pagi menyelinap masuk di sela tirai, menyinari meja kayu elegan itu dengan lembut. Di sana, teman semeja yang telah bersamanya selama setengah tahun terakhir sudah duduk dengan tenang, menyesap minuman dari tumbler metalik bertuliskan inisial namanya.

Alma menarik kursi, lalu duduk di samping kanannya. "Pagi, Sherin," sapanya dengan senyum kecil.

Sherin, gadis berambut bob hitam menoleh cepat dan membalas. "Alma, kau juga datang pagi"

"Ya. Hari pertama sekolah," jawab Alma pelan, sambil mengatur letak bukunya di atas meja.

Sherin mendesah panjang sambil menyenderkan punggung ke sandaran kursi. "Menyebalkan, bukan? Rasanya dua minggu liburan itu terlalu singkat. Padahal aku baru menginjak beberapa negara di Eropa. Aku bahkan belum sempat ke Norwegia dan Swedia!"

Alma tersenyum menanggapi, "Dua minggu memang bukan waktu yang lama."

"Dan kau? Bagaimana liburanmu?" tanya Sherin dengan nada ingin tahu, meski ekspresinya menunjukkan kalau dia sudah menduga jawabannya tidak akan semenarik kisah Eropanya.

"Aku…" Alma menatap ke luar jendela sesaat, matanya menerawang. "Masih seperti biasa. Menghabiskan waktu di beberapa panti asuhan, menjadi relawan, mengajar anak-anak di sana."

Sherin spontan memutar bola matanya. "Tuhan, itu terdengar membosankan."

Alma terkekeh pelan, tidak tersinggung sedikit pun. Ia sudah terbiasa dengan komentar seperti itu.

Namun, Sherin mendadak mencondongkan tubuh ke arahnya, menurunkan nada suara dan memasang ekspresi konspiratif. "Hei, kau sudah dengar kabar itu belum?"

Alma menoleh, sedikit bingung. "Kabar apa?"

"Kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi. Itu menghebohkan!" Mata Sherin berbinar penuh antusias, seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru.

Alma terdiam sejenak. Ia menggali kembali ingatan pagi itu. Ketika Mamahnya, Isabella, mengomentari  berita tentang seorang pria yang dibunuh secara keji.

"Ah, kau maksud… pria berusia empat puluh tahun yang ditemukan dengan kondisi mengenaskan? Yang… bola matanya diambil?"

Sherin menjentikkan jarinya cepat dan mengacungkan jempol. "Seratus. Itu tebakan yang tepat. Tapi tahukah kau identitas korban sebenarnya?”

Alma menggeleng perlahan.

"Pak Albert. Guru matematika mesum itu," ucap Sherin dengan nada geli yang kejam. "Aku dengar pihak sekolah juga ikut menyelidiki karena kasus itu sangat mencoreng reputasi sekolah."

Alma menaikkan alisnya, sedikit terkejut. Namun di dalam hatinya, ada dia tidak merasa aneh. Seolah tidak benar-benar terkejut, lebih kepada… seolah dia sudah tahu sejak awal.

"Wajar kau tahu cepat," ujar Alma. "Ayahmu punya stasiun TV. Informasi seperti ini pasti lebih dulu sampai ke telingamu sebelum disiarkan ke publik."

Sherin menyeringai bangga. "Keuntungan jadi anak bos media, tahu banyak sebelum orang lain," katanya dengan nada bercanda, lalu menambahkan dengan santai, "Tapi sejujurnya, ada bagusnya juga. Kita tidak akan melihat lagi wajah babi tua itu di kelas."

"Ya, setidaknya kita tidak akan merasa risih lagi saat belajar," Alma menyetujui dengan suara lembut.

Sherin tertawa pelan. "Tapi… kupikir Terresa akan kehilangan. Bukankah dia murid kesayangan Pak Albert? Sering duduk di depan, sok manis, sok rajin. Kau tahu, aku selalu curiga mereka punya hubungan tidak wajar."

Alma hanya mengangkat bahu, tidak ingin mengomentari lebih lanjut. Tapi di dalam kepalanya, ada bayangan samar akan sosok Terresa. Gadis dengan tatapan angkuh, sepatu yang selalu mengilap, dan senyum penuh superioritas.

"Ngomong-ngomong, kemana gadis sombong itu?" Sherin melanjutkan, melirik sekeliling kelas yang mulai ramai. "Biasanya dia sudah duduk di depan dengan raut sok serius, cari muka. Pagi-pagi begini harusnya dia sudah datang, kan?"

Alma menggeleng, tersenyum kecil. "Aku tidak tahu."

Namun, dalam sekelebat, ada sesuatu di matanya yang berbeda.

🥀🥀🥀

Brakk!

Suara dentuman keras mengejutkan seisi kelas. Pintu terbuka dengan kasar, membentur dinding hingga menimbulkan gema. Spontan, seluruh kepala menoleh ke arah sumber suara.

Seorang siswi berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat kesal. Freya.

Rambutnya tergerai berantakan, dan sorot matanya tajam, menyapu seluruh penjuru ruangan seakan mencari sesuatu. Atau lebih tepatnya, seseorang. Namun, saat ia tidak menemukan sosok yang dicarinya, raut wajahnya kian menggelap.

Dengan langkah cepat dan penuh emosi, ia berjalan memasuki kelas. Setiap derap langkahnya terdengar berat, penuh tekanan. Sesekali, ia menendang kaki-kaki meja yang dilewatinya, termasuk meja tempat Sherin dan Alma duduk.

Duk! Meja mereka sedikit bergeser akibat tendangan itu.

Sherin spontan menarik kakinya dan menoleh tajam. Namun, ketika melihat siapa yang melakukannya, ia hanya mendengus kesal.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Freya duduk di kursi paling belakang, tepat di barisan kanan. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai dengan kasar dan menyandarkan tubuh ke kursi dengan posisi malas, seolah menantang dunia.

"Apa yang kalian lihat?!" teriaknya tiba-tiba, membentak seluruh siswa yang masih menatap ke arahnya.

Suasana kelas yang semula tenang berubah menjadi tegang. Beberapa siswa buru-buru mengalihkan pandangan, sebagian lagi menunduk pura-pura sibuk menulis atau membaca.

Sherin melirik Freya sambil berbisik pelan kepada Alma, "Astaga… orang itu benar-benar tidak punya kendali. Kurasa karena Terresa tidak masuk, jadi tidak ada lagi yang menyambutnya sambil membawakan tas."

Alma mengangguk kecil, kemudian menjawab dengan suara pelan, "Jangan pedulikan. Itu bukan urusan kita."

Namun, bukan hanya Sherin. Beberapa siswa lain mulai berbisik di antara mereka sendiri, membicarakan tingkah Freya yang kembali membuat keributan di pagi hari.

"Freya mengamuk lagi?"

"Tanpa Terresa, dia seperti macan yang kehilangan mangsanya."

Freya tampak semakin kesal. Ia membanting pulpen ke atas meja, lalu bergumam dengan nada rendah namun penuh kemarahan, "Dasar pengecut…"

Sherin yang memang duduk tak jauh darinya, tak mampu menahan diri. Ia sedikit menoleh dan berkata sinis, "Sedang mencari siapa? Sapi perah mu kabur, Freya?"

Freya langsung mendongak. Tatapannya tajam menusuk.

"Kau ingin ribut, Sherin?" ujarnya lantang, nadanya terdengar seperti ancaman.

Sherin mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah. "Tenang saja, aku hanya bertanya. Tak perlu semarah itu."

Alma meraih lengan Sherin perlahan, berusaha menenangkannya. "Sudahlah, jangan diladeni."

Sherin menghela napas dan memalingkan wajah, menahan kekesalan.

Sementara itu, Freya kembali menunduk. Jemarinya sibuk mengetik sesuatu di ponsel dengan cepat dan emosi yang meletup. Wajahnya tetap tegang, seolah menahan ledakan yang belum sempat ia tumpahkan.

Ketegangan masih terasa di dalam kelas. Meskipun tidak ada yang berani berbicara secara langsung, bisik-bisik dan pandangan penuh rasa ingin tahu terus memenuhi ruang.

Alma melirik ke luar jendela, lalu bergumam lirih kepada Sherin, "Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang…"

🥀🥀🥀

Pagi penuh ketegangan itu akhirnya berlalu. Ketika jarum jam menunjuk pukul sebelas tepat, suara bel istirahat menggema dari pengeras suara di tiap sudut sekolah, seolah menjadi isyarat bahwa semua yang tertahan sejak pagi boleh ditarik napasnya kembali.

Alma berjalan sendirian di koridor selatan, memeluk sebuah buku bersampul kain berwarna cokelat muda yang dia beli di toko buku hari Minggu kemarin. Jemarinya menggenggam erat, seakan buku itu satu-satunya hal yang bisa menenangkannya hari ini.

Tak seperti biasanya, Sherin tidak berjalan bersamanya. Gadis itu langsung melesat keluar kelas begitu bel berbunyi, beralasan ingin 'mencari informasi.' Tapi Alma tahu betul apa maksudnya. Sherin pasti sedang berburu gosip terbaru tentang absennya Terresa, terutama tentang amarah pagi ini yang sempat meledak dari Freya.

Alma tidak ingin terlibat.

Ia mengarahkan langkah ke taman belakang, tempat danau sekolah yang terkenal tenang berada. Satu-satunya tempat di Athena International yang tidak dikuasai oleh sistem kasta atau geng prestise. Tempat itu dikenal sebagai wilayah netral. Bukan milik Polaris, Arcturus, maupun yang lain. Di sana, setiap siswa bisa duduk berdampingan tanpa mempedulikan lambang di seragam mereka.

Semilir angin musim panas menyambutnya. Daun-daun bergemerisik pelan, menari bersama bayangan pepohonan yang memanjang di atas tanah.

Namun begitu sampai di tepi danau, langkah Alma terhenti.

Seseorang sudah duduk. Lebih tepatnya tidur, di bawah pohon ek tua yang biasanya menjadi tempat favoritnya. Ia bisa melihat jaket seragam khas siswa Polaris terlipat rapi di samping tubuh itu. Rambutnya berwarna cokelat keemasan, sedikit berantakan tertiup angin.

Alma menghela napas. Meski merasa sedikit kecewa karena tempat itu sudah diduduki, dia tidak ingin mengganggu. Ia melirik ke sekeliling dan menemukan sebuah pohon pinus tinggi yang berdiri sedikit lebih jauh dari danau. Dedaunannya lebat, batangnya kokoh, dan tanah di sekitarnya cukup bersih untuk dijadikan tempat duduk.

Ia melangkah ke sana. Setelah duduk menyender ke batang pohon, Alma membuka bukunya perlahan dan mulai membaca. Kakinya ditarik sedikit, posisi duduknya santai namun anggun. Ia tenggelam dalam dunia cerita didalamnya.

Namun tanpa sepengetahuannya, siswa yang tertidur tadi. Calvin Harris Tarrant, tidak benar-benar tidur.

Pendengarannya yang tajam sejak awal menangkap langkah-langkah pelan Alma saat gadis itu datang. Awalnya, dia mengira itu hanya salah satu dari sekian banyak penggemar yang ingin mencuri momen bersamanya. Banyak gadis di sekolah yang diam-diam datang ke taman hanya untuk melihatnya dari dekat. Beberapa bahkan cukup nekat untuk pura-pura tersandung agar bisa jatuh di dekatnya.

Dengan malas, Calvin bersiap menyingkirkan kehadiran siapa pun yang datang hari ini.

Tapi… tidak ada jeritan tertahan.

Tidak ada bisik-bisik heboh.

Tidak ada aroma parfum menyengat atau suara centil yang biasa menghampirinya.

Yang ada hanya keheningan… dan suara lembaran buku yang dibalik dengan pelan.

Dia membuka sebelah matanya, melirik ke arah suara.

Dan untuk pertama kalinya hari ini, Calvin merasa terkejut.

Di bawah pohon pinus tak jauh darinya, duduk seorang gadis dengan rambut panjang legam yang mengilat tertimpa cahaya matahari. Wajahnya menunduk, fokus pada buku yang dia baca. Sekilas senyum tipis mengembang di bibirnya. Bukan karena melihat Calvin, tapi karena isi buku yang ia baca.

Gerakan kecil tangan gadis itu yang menyelipkan rambut ke balik telinga menampakkan lebih jelas wajahnya. Ada ketenangan, keanggunan, dan sikap penuh kendali dari gadis itu. Tidak dibuat-buat. Tidak seperti siswi lain yang sering bereaksi berlebihan saat menyadari keberadaan Calvin.

Dan untuk pertama kalinya pula, Calvin merasa terintimidasi oleh kesederhanaan.

Tanpa sadar ia mengeluarkan suara, berdehem untuk menyadarkan dirinya sendiri dari keterpakuan. Tapi suara itu terlalu keras.

Alma menghentikan bacaannya. Menoleh ke arah suara.

"Oh," gumamnya, "Maaf… apakah aku terlalu berisik?"

Nada suaranya datar dan sopan. Tidak ada ekspresi gugup, tidak ada tatapan berbinar, atau senyum malu-malu seperti yang biasa Calvin dapatkan. Alma mengira suara dehaman tadi karena dia mengganggu tidur siswa itu saat membalik halaman bukunya.

Calvin mengangkat tubuhnya perlahan. Duduk bersandar ke batang pohon dengan satu lutut terangkat. Pandangannya menyipit, menilai gadis di depannya. Matanya sempat melirik lambang kecil di sisi kiri seragam Alma. Lambang Arcturus. Sontak senyumnya berubah sinis.

"Siapa kau?" tanyanya langsung.

Alma memiringkan kepala sedikit, heran dengan nada bicara Calvin. Tapi ia menjawab dengan tenang.

“Alma Romilly. Arcturus tahun kedua.”

Calvin mengangkat satu alis, lalu menunjuk sekeliling dengan dagunya. "Ini wilayah Polaris. Kau tahu itu, kan?"

Alma menutup bukunya pelan. Ia menatap Calvin, tak gentar, lalu mengoreksi. "Ini wilayah netral."

"Netral," Calvin mengulang, seolah menimbang kata itu. "Tapi tempat ini dekat dengan danau utama. Biasanya kami yang ada di sini lebih dulu."

"Biasanya, bukan berarti harus selalu begitu," jawab Alma tenang. "Kalau kau tidak nyaman, aku bisa pergi."

Calvin terdiam sejenak. Matanya menilai Alma dari kepala hingga kaki. Tidak ada niat memuja, tidak ada ketertarikan yang berlebihan. Tapi justru karena itu, ia merasa sedikit... terganggu.

"Tidak," gumamnya akhirnya. "Aku hanya tidak suka diganggu."

Alma membuka kembali bukunya. "Aku pun sama."

Udara di antara mereka terasa seperti benang tipis yang tertarik. Tapi tidak ada yang memutuskan untuk pergi. Tidak ada yang mengusir. Hanya dua siswa dari dua kasta berbeda, yang tanpa sengaja berbagi ketenangan di tempat yang sama.

Dan, entah mengapa, tidak terasa seburuk yang dibayangkan Calvin.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!