NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Berdarah di Balik Bayangan

Cahaya fajar menyusup perlahan melalui celah-celah papan kayu di jendela ruang perawatan. Debu-debu halus tampak menari-nari di udara yang masih terasa menggigit tulang.

Valerius membuka matanya dengan gerakan lambat yang sangat terkendali. Ia telah terjaga sepanjang malam untuk menyempurnakan rencana pembantaian di dalam kepalanya.

Ia sengaja mengacak-acak rambut peraknya dan membiarkan selimutnya sedikit berantakan di ujung ranjang. Ia harus terlihat persis seperti pemuda trauma yang terus menerus dihantui mimpi buruk.

Terdengar derap langkah kaki berat mendekati pintu ruangannya dari arah koridor batu. Suara itu adalah irama langkah keserakahan yang sangat ia kenal sejak kemarin.

Pintu berderit terbuka, menampilkan sosok Baron Kaelos yang memamerkan senyuman palsu nan menjijikkan. Lemak di pipi sang Baron tampak bergetar saat ia mencoba menampilkan wajah penuh kepedulian seorang ayah.

"Selamat pagi, Tuan Muda Draken," sapa Kaelos dengan nada merayu yang terlalu dibuat-buat. "Aku melihat sarapan malammu habis tak bersisa, sebuah pertanda pemulihan fisik yang sangat bagus."

Valerius menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum mematikan di balik poni rambutnya yang kotor. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Baron, obat tidur di dalam makanan itu membuatku tidak bermimpi buruk."

Kaelos terkekeh pelan, merasa sangat bangga karena tipu daya murahannya berhasil mengelabui bangsawan muda ini. Ia lalu menarik kursi kayu dan duduk di samping ranjang dengan napas terengah-engah akibat timbunan lemak.

"Aku telah menyiapkan seekor burung gagak pos tercepat yang kumiliki sebelum fajar menyingsing," bisik Kaelos penuh rahasia. "Pesan rahasia tentang keberadaanmu sedang melesat cepat menuju telinga ayahmu di ibu kota."

Valerius tahu persis bahwa burung gagak pembawa pesan itu tidak terbang menuju sang Duke tua. Burung itu melesat lurus ke arah Aldrich, menandai langkah pertama dari pengkhianatan ganda yang sudah ia prediksi.

"Anda adalah penyelamatku yang sesungguhnya di dunia yang kejam ini," ucap Valerius seraya meraih tangan gemuk Kaelos dengan pura-pura gemetar. "Aku sama sekali tidak akan pernah melupakan janjiku tentang sepertiga isi brankas rahasia itu."

Mata sipit Kaelos berbinar terang layaknya kepingan koin emas yang baru saja dipoles oleh pengrajin. Jari-jarinya yang dipenuhi cincin permata murahan balas meremas tangan Valerius dengan cengkeraman yang sangat erat.

Keserakahan pria tambun itu memancarkan aura hijau pekat yang membuat Valerius hampir tertawa terbahak-bahak. Bau keringat dingin sang Baron yang masam nyatanya gagal mengkhianati kecemasan batinnya sendiri.

"Beristirahatlah dengan tenang, anak muda," kata Kaelos seraya beranjak berdiri dengan susah payah dari kursinya. "Benteng Besi Hitam ini dijamin sebagai tempat paling aman di seluruh benua Aethelgard."

Setelah pintu tertutup rapat kembali, Valerius segera bangkit dari ranjangnya tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Ia harus memastikan secara mutlak isi pesan yang dikirimkan oleh sang Baron bodoh itu tadi malam.

Ia langsung mengaktifkan skill 'Langkah Bayangan', membuat wujud fisiknya menyatu sempurna dengan sudut-sudut gelap ruangan. Valerius menyelinap keluar secara mulus melalui celah jendela kecil dan merayap di dinding batu benteng bagai laba-laba malam.

Angin pagi yang dingin menerpa wajahnya dengan kasar, namun hal itu tidak sedikit pun mengganggu konsentrasinya. Ia bergerak lincah melintasi atap-atap bangunan pertahanan menuju menara komunikasi khusus di sayap timur.

Di sana, ia melihat penjaga sarang gagak sedang membersihkan kotoran burung dengan wajah mengantuk dan sesekali menguap. Sebuah meja kayu panjang di sudut ruangan tampak dipenuhi oleh sisa-sisa gulungan perkamen dan tumpahan tinta hitam.

Valerius diam membeku dan menunggu hingga penjaga ceroboh itu berbalik untuk mengambil ember air pencuci. Dalam sekejap mata, ia meluncur turun tanpa suara dan memeriksa sisa perkamen pelapis di atas meja.

Jejak tekanan pena bulu pada perkamen pelapis itu menunjukkan pola tulisan yang ditekan dengan sangat kasar dan terburu-buru. Valerius menggesekkan sedikit sisa bubuk arang di atas permukaan perkamen itu untuk memperjelas pesan rahasia tersebut.

"Pangeran kedua berada di tanganku, kirim bayaran sepuluh ribu koin emas atau dia kembali ke pelukan Duke." Itulah kalimat kotor yang tertera, membuktikan bahwa tebakan Valerius seratus persen akurat tanpa celah.

Baron bodoh itu mencoba memeras kakak kandung Valerius demi keuntungan materi secara instan. Pria tambun itu sama sekali tidak sadar bahwa ia sedang mengundang algojo kematian ke dalam rumahnya sendiri.

Valerius segera menyapu bersih bubuk arang itu dan kembali melesat bersembunyi di balik bayangan atap menara. Senyum asimetris penuh kekejaman kembali terukir di wajahnya yang sedingin bongkahan es abadi.

Tiga hari berlalu dengan laju yang terasa sangat lambat di dalam kurungan Benteng Besi Hitam tersebut. Valerius terus memainkan peran sempurna sebagai pasien lemah yang benar-benar bergantung pada perlindungan Baron Kaelos.

Setiap pagi, ia sengaja memuntahkan setengah porsi makanannya untuk membuat wajahnya terlihat semakin pucat pasi. Ia bahkan rela membiarkan para tabib menguras darahnya menggunakan lintah demi menyembuhkan luka-luka palsunya.

Penderitaan fisik semacam ini nyatanya tidak ada artinya bagi pria yang pernah disiksa secara brutal menggunakan listrik ribuan volt. Ini hanyalah harga yang sangat murah untuk dibayar demi sebuah pertunjukan teater berdarah yang sempurna.

Sore ini, awan kelabu yang sangat tebal menggantung rendah menutupi langit di atas padang rumput perbatasan. Suasana benteng tiba-tiba berubah sangat tegang ketika suara terompet penjaga berbunyi nyaring bersahut-sahutan.

Valerius segera berdiri menempel di balik jendela kamarnya, menatap tajam ke arah gerbang utama dari celah kayu. Segerombolan penunggang kuda berjubah hitam tampak mendekati area benteng dengan kecepatan luar biasa tinggi.

Kuda-kuda yang mereka tunggangi bukanlah kuda perang biasa, melainkan jenis Kuda Bayangan dari wilayah utara yang tak kenal rasa lelah. Jubah hitam pekat mereka sama sekali tidak memiliki lambang keluarga apa pun, sebuah tanda mutlak dari pasukan pembunuh bayaran rahasia.

Jumlah gerombolan penunggang kuda misterius itu ada sekitar lima belas orang bersenjata lengkap. Udara di sekitar barisan mereka memancarkan aura niat membunuh yang sangat pekat, dingin, dan terlatih.

Baron Kaelos tampak berlari tergesa-gesa melintasi halaman berbatu benteng dengan raut wajah pucat pasi. Ia sepertinya mengira rombongan misterius itu akan membawa peti besi berisi sepuluh ribu koin emas yang ia minta tempo hari.

Namun saat melihat matanya tidak menemukan satu pun gerobak harta yang menyertai mereka, keringat dingin mulai membasahi leher sang Baron. Keserakahannya yang membara perlahan digantikan oleh rasa panik luar biasa yang meremas kuat jantungnya.

Gerbang kayu raksasa akhirnya dibuka, membiarkan kelima belas penunggang kuda itu memasuki area dalam benteng. Pemimpin rombongan tersebut, seorang pria bertubuh kekar bermata satu dengan codet melintang di bibir, melompat turun dari pelana kudanya.

"Salam, Tuan Baron," ucap pria bermata satu itu dengan suara parau yang sangat memuakkan telinga pendengarnya. "Kami adalah utusan khusus dari Tuan Muda Aldrich untuk menjemput adik kesayangannya yang hilang."

Pria itu sama sekali tidak membungkuk hormat layaknya seorang ksatria kepada bangsawan wilayah yang memiliki teritori. Matanya justru terus menyapu tajam setiap sudut benteng layaknya seekor burung nasar yang mencari tumpukan bangkai.

Baron Kaelos menelan ludah dengan susah payah, mencoba sebisa mungkin mempertahankan sisa-sisa arogansinya di depan pasukannya sendiri. "Lalu, di manakah kepingan emas yang aku minta dalam pesanku tempo hari?"

Pria bermata satu itu tersenyum miring, menampilkan deretan gigi tajamnya yang kotor dan menghitam. "Emas yang Anda impikan itu sedang dalam perjalanan bersama kereta kuda pengawal di belakang kami, Tuan Baron."

Ucapan itu merupakan sebuah kebohongan yang sangat murahan, kotor, dan mudah ditebak oleh orang waras. Valerius yang mengamati dari kejauhan dapat melihat dengan sangat jelas niat membunuh dari aura pria tak sopan tersebut.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!