Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Dibalik Dinding Es
Jam menunjukkan pukul 18.30 WIB ketika mobil SUV hitam milik Sael memasuki halaman rumah.
"Baru pulang, Sael?"
Suara berat dan dingin itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang, Sael yang terkejut refleks menarik badannya ke atas hingga kepalanya membentur bingkai pintu mobil dengan keras.
𝘋𝘶𝘨
"Awww..." Sael merintih pelan, memegangi belakang kepalanya yang berdenyut. Begitu ia berbalik, ia mendapati Aeros sudah berdiri menjulang di belakangnya.
"Kak Aeros? Kamu ngapain di sini?" tanya Sael sambil mengerutkan kening.
"Pertanyaanku belum kamu jawab, Sael. Dari mana? Lembur lagi?" tanya Aeros lambat.
"Tadi ada temen ngajak makan bareng," jawab Sael.
Aeros menatap Sael yang masih meringis kecil sambil mengusap kepala belakangnya. Ada rasa bersalah Sael kesakitan karena ulahnya, tapi wajahnya tetap terkunci dalam ekspresi datar.
"Lain kali hati-hati. Makanya jangan melamun," ujar Aeros datar, meski tangannya hampir saja bergerak sendiri untuk memeriksa memar di kepala Sael. Ia terpaksa mengepalkan tangan di dalam saku celananya untuk menahan dorongan itu.
"Ya, Kakak lagian muncul kayak hantu, mana suara gede banget lagi," gerutu Sael sambil mengerucutkan bibirnya kesal, melangkah melewati Aeros menuju pintu utama rumah.
Aeros hanya diam, mengekor di belakang Sael. Aroma parfum Sael yang manis bercampur segar menguar, menyapa penciumannya. Aeros tidak bisa menyembunyikan seringai tipis diwajahnya.
Sebenarnya, Aeros tahu persis dengan siapa Sael pergi sore tadi, tapi ego dan rasa penasarannya memaksa bibirnya untuk memancing Sael.
Sore tadi, sekitar pukul 17.30 WIB, Aeros sedang berada di dalam mobilnya, terjebak macet tepat di depan sebuah rumah makan yang terbuka. Matanya yang jenuh mendadak terpaku pada satu figur yang sangat ia kenal di dalam rumah makan tersebut.
𝘚𝘢𝘦𝘭
Sael sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki bertubuh tegap. Aeros bisa melihat bagaimana mata Sael menyipit jenaka saat tertawa kecil dan merespon ucapan laki-laki itu.
Dada Aeros bergemuruh hebat, ada rasa panas yang membakar, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
𝐅𝐋𝐀𝐒𝐇𝐁𝐀𝐂𝐊 𝟐 𝐌𝐈𝐍𝐆𝐆𝐔 𝐋𝐀𝐋𝐔
(𝐏𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚)
Saat di balkon Aeros ingat betul bagaimana jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat Sael berbalik dan tersenyum ke arahnya malam itu.
Aeros hanya bisa terpaku. Sael yang ia ingat dulu adalah remaja polos yang menggemaskan, kini telah tumbuh menjadi sosok yang luar biasa cantik. Kedewasaan terpancar dari cara Sael berpakaian dan berbicara, namun binar di matanya tetap sama.
Saat mereka duduk berhadapan di meja makan, Aeros hampir tidak menyentuh makanannya. Fokusnya tersita sepenuhnya oleh Sael. Setiap kali Sael tidak melihat, Aeros akan mencuri pandang—menatap bibir Sael yang bergerak saat bercerita, memperhatikan bagaimana jemari itu bergerak, dan setiap ekspresi yang keluar dari Sael tak luput dari pandangan Aeros.
Ketika mata mereka tidak sengaja berpapasan, Aeros dengan cepat mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk memotong daging di piringnya dengan wajah dingin atau mengangguk sopan.
𝐅𝐋𝐀𝐒𝐇𝐁𝐀𝐂𝐊 𝐃𝐈 𝐓𝐄𝐏𝐈 𝐉𝐀𝐋𝐀𝐍
Sore itu, langit mendung, setelah seharian mengurus keperluan kafe, Aeros berniat langsung pulang, sampai ia menangkap sesosok siluet yang ia kenal di tepi trotoar jalan raya yang padat.
Itu Sael.
Ia berdiri terlalu dekat dengan jalanan. Gestur tubuhnya tegang, tangannya memijat pelipis, dan ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aeros baru saja hendak memanggilnya ketika sebuah truk kontainer besar menerobos lampu kuning dengan kecepatan tinggi.
𝘉𝘙𝘈𝘒𝘒
Suara hantaman logam dan gesekan ban yang memekakkan telinga itu menggema. Fokusnya terkunci sepenuhnya pada Sael.
Jantungnya rasanya berhenti berdetak saat melihat reaksi Sael.
Napas Sael tercekat. Tubuhnya mulai bergetar hebat.
Ia tahu persis apa yang sedang terjadi di kepala Sael. Suara hantaman itu adalah pemicu yang melemparnya kembali ke tragedi delapan tahun lalu.
𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘚𝘢𝘦𝘭, batin Aeros panik. Ia langsung berlari, Tepat saat kaki Sael lemas dan tubuhnya hampir limbung, ia berhasil menyambar lengannya. Menggenggamnya kuat-kuat agar ia tidak jatuh.
"Sael, lihat aku," kata Aeros,
"Jangan melihat ke jalan. Lihat aku saja," perintahnya lagi. Ia menuntunnya menjauh dari hiruk-pikuk itu, membawanya ke balik dinding beton.
Melihatnya bersandar di dinding dengan napas tersengal dan mata berkaca-kaca membuat dadanya berdenyut sakit. Tangannya gemetar saat Aeros menyodorkan botol air.
Aeros tidak membiarkannya menyetir dalam kondisi seperti ini. Ia memakaikan helmnya ke kepala Sael, mengambil alih kunci mobilnya, dan menyuruhnya naik ke motor.
Sepanjang perjalanan menembus gerimis, fokusnya terbagi dua: jalanan di depan dan pantulan Sael di kaca spion. Jari-jemari Sael mencengkeram jaket kulitnya dengan erat, masih agak gemetar. Ia sengaja menurunkan kecepatan motor, memilih rute yang lebih sepi dari kendaraan besar, dan memposisikan badannya agak membungkuk menghalau angin malam agar tidak langsung menerpa tubuh Sael.
Begitu sampai di kafenya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵, ia langsung membawanya masuk. Membuatkannya secangkir 𝘤𝘩𝘢𝘮𝘰𝘮𝘪𝘭𝘦 hangat dengan madu.
Saat duduk di hadapannya, ia terus memperhatikan jemari Sael yang terus memainkan pinggiran cangkir.
Sael merasa canggung.
Ia bilang, tujuh tahun itu waktu yang cepat.
𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵? batin Aeros getir. Baginya tujuh tahun tanpa Sael dan Killian adalah waktu yang teramat lama.
"Kamu nggak nyaman ya," ujarnya, blak-blakan menyuarakan apa yang ia lihat.
Ketika Sael mengaku bingung harus bersikap bagaimana, Aeros menatap kaki kanannya. "Kita mulai pelan-pela aja, gimana kakimu sekarang? Udah mendingan?" Pertanyaan itu tulus keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia selalu ingin tahu keadaannya.
Suasana mulai mencair ketika Sael mulai membahas interior kafe dan mengungkit kenangan masa kecil. Detik itu, Aeros merasa Sael yang dulu telah kembali.
"Kamu masih ingat ya..." ia tidak bisa menahan senyum kecil saat Sael mengenang bagaimana ia mengusir Kael yang berisik, atau saat Sael dihukum mamanya karena terus mengikutinya demi sebuah buku cerita.
Melihatnya tersenyum dan tertawa kecil membuat seluruh ketegangan dan kekhawatirannya menghilang begitu saja.
Tanpa sadar, Aeros terus menuangkan teh ke cangkirnya setiap kali kosong.
"Maaf kak, karena lagi cerita jadi banyak minum," ujarnya agak sungkan setelah menghabiskan cangkir ketiganya.
Aeros tersenyum tipis, berdiri dan merapikan bajunya untuk menyembunyikan rasa enggan yang mendadak muncul karena harus mengakhiri momen ini. "Nggak masalah... udah siap pulang?"
"Sering-seringlah mampir ke sini," ucap Aeros, berharap Sael benar-benar akan melakukannya.
𝐅𝐋𝐀𝐒𝐇𝐁𝐀𝐂𝐊
𝐒𝐄𝐌𝐈𝐍𝐆𝐆𝐔 𝐋𝐀𝐋𝐔
(𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐤𝐨𝐧)
Saat ia sedang bersantai di balkon kamarnya yang menghadap balkon kamar Sael. Tiba-tiba, pintu kaca balkon kamar Sael terbuka.
Aeros tersentak. Secara refleks, tubuhnya langsung bergerak mundur, bersembunyi di balik tembok pilar yang gelap. Jantungnya berdegup kencang, Dari balik celah tembok, mata Aeros tidak bisa beralih sedikit pun dari sosok Sael.
Sael keluar hanya mengenakan kaus putih dan celana pendek. Ia merentangkan kedua tangannya, menghirup angin dalam-dalam sambil memejamkan mata, menikmati angin malam. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, membuat dahi indahnya terekspos.
Aeros menahan napas. Di bawah temaram cahaya lampu balkon dan sinar bulan, Sael terlihat begitu tenang dan begitu indah. Aeros memperhatikan bagaimana Sael kemudian menyandarkan dagunya di atas lipatan tangan pada pembatas balkon, menatap langit malam dengan senyum tipis.
𝐅𝐋𝐀𝐒𝐇𝐁𝐀𝐂𝐊
𝐊𝐄𝐄𝐒𝐎𝐊𝐀𝐍 𝐇𝐀𝐑𝐈𝐍𝐘𝐀
(𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐤𝐨𝐧)
Rupanya, takdir masih ingin mempermainkan jantung Aeros. Keesokan paginya, sekitar pukul tujuh, Aeros keluar ke balkon dengan air putih di tangannya, masih mengantuk. Namun, rasa kantuknya menghilang seketika begitu mendengar suara gemercik air dari halaman samping rumah Sael.
Ia menunduk dan melihat Sael di bawah sana, sedang sibuk memegang selang, menyiram deretan tanaman hias milik mamanya. Sael mengenakan kaus santai berwarna kuning cerah.
Mungkin karena merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya, Sael mendongak. Begitu pandangan mereka bertemu, wajah Sael langsung berubah cerah. Ia melambaikan tangannya dengan heboh ke arah Aeros.
"Selamat pagi, Kak Aeros! Baru bangun kak?!" seru Sael dari bawah, suaranya terdengar renyah dan penuh energi.
Aeros terpaku di tempatnya. Sinar matahari pagi yang terik jatuh tepat di atas kepala Sael, membuat helai-helai rambutnya berkilau kecokelatan. Kulit wajahnya yang bersih tampak bersinar, memancarkan aura yang begitu segar.
Senyumannya membuat matanya sedikit menyipit terlihat begitu indah di mata Aeros.
Aeros menelan ludah dengan susah payah. Pegangannya pada gelasnya mengerat.
"Apa perlu ditanya lagi Sael, karena seseorang aku nggak bisa tidur" jawab Aeros merapikan rambutnya yang masih acak-acakan.
"Hahaha... Ternyata ada orang yang bisa bikin kakak nggak bisa tidur yaa " goda Sael.
Sael tertawa renyah, ia lalu mematikan keran air, meletakkan selang di sudut tembok, dan menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas.
"Seseorang itu sepertinya harus bertanggung jawab," ujar Sael dengan nada yang sengaja dibuat dramatis, namun matanya berbinar jenaka.
Begitu Sael kembali berbalik untuk melanjutkan kegiatannya, Aeros langsung mundur selangkah, menyandarkan punggungnya ke tembok kamar dengan napas memburu. Ia menyentuh dadanya menutup kedua matanya, lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri dengan frustrasi.
"Gila... Dia cantik banget."
Kata itu lolos begitu saja dari bibirnya. Aeros meremas rambutnya, merutuki dirinya sendiri.
𝐊𝐄𝐌𝐁𝐀𝐋𝐈 𝐊𝐄 𝐑𝐔𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐀𝐊𝐀𝐍
"Aeros, Sael, kalian sudah sampai? Ayo langsung ke meja makan, Mama sudah masakin makanan kesukaan kalian," suara Mama Sael memecah lamunan Aeros, menyambut mereka di ruang tengah dengan senyum hangat.
Sael langsung berhamburan memeluk mamanya, mengadu manja tentang kepalanya yang baru saja terbentur. Sementara Aeros berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memasang senyum tipis yang sopan.