Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 (Rahasia yang Mulai Terbuka)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Malam itu, sebuah restoran mewah di lantai atas hotel berbintang tampak dipenuhi cahaya lampu hangat dan alunan musik piano lembut. Suasana romantis yang tenang membuat tempat itu sering menjadi pilihan para pasangan elite kota untuk makan malam privat.
Dan di salah satu sudut ruangan…
Arsen Rafael Mahardika duduk berhadapan dengan Vivian.
Wanita itu tampil cantik dengan dress hitam elegan, rambut panjangnya tergerai rapi di bahu. Sedangkan Arsen tetap terlihat tenang dalam kemeja hitam dan jas gelapnya, Namun suasana di antara mereka malam ini jauh berbeda dibanding sebelumnya.
Tidak ada lagi pembicaraan penuh emosi, tidak ada pertengkaran.
Yang ada hanyalah makan malam diam-diam yang seharusnya tidak terjadi. “Kamu akhirnya datang juga,” ucap Vivian pelan sambil tersenyum tipis.
Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku cuma punya waktu sebentar.”
Vivian terkekeh kecil. “Kamu masih setegang itu kalau sama aku.”
“Aku lagi banyak pikiran.”
“Karena Elvara?”
Pertanyaan itu membuat Arsen diam sesaat. Vivian memperhatikan ekspresi pria itu pelan sebelum akhirnya berkata— “Kamu kelihatan nggak bahagia.”
Arsen langsung meminum wine di depannya tanpa menjawab, Sementara di sisi lain restoran. Pintu lift terbuka perlahan, Kael Sebastian Pranata baru saja keluar bersama salah satu rekan bisnisnya setelah meeting di hotel yang sama.
“Akhirnya selesai juga,” keluh rekannya.
Namun langkah Kael tiba-tiba terhenti, tatapannya membeku ke arah salah satu meja restoran, dan dalam hitungan detik. Rahang pria itu langsung mengeras, Karena ia melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk di sana.
Arsen Bersama Vivian.
Dalam suasana makan malam yang jelas terlihat bukan sekadar urusan bisnis, Kael langsung mengepalkan tangannya kuat. Apalagi saat ia melihat Vivian tersenyum lembut sambil menyentuh tangan Arsen pelan di atas meja, dan yang paling membuat emosinya naik— Arsen tidak menolak.
“Kael?” panggil rekannya bingung.
Namun Kael sama sekali tidak menjawab, tatapannya masih tertuju tajam pada pasangan itu. Pikirannya langsung teringat wajah Elvara, Wanita itu masih mempercayai suaminya sepenuhnya.
Sementara Arsen…
Diam-diam sedang mengkhianatinya di belakang, Kael mengepalkan tangannya kuat. Dadanya dipenuhi amarah saat mengingat wajah Elvara pagi tadi, Wanita itu masih membela Arsen. Masih percaya pada suaminya, Sementara yang ia lihat sekarang justru sebaliknya.
"Permisi."
Rekan bisnisnya menoleh heran saat Kael tiba-tiba berjalan menjauh. "Kael?"
"Aku ada urusan." Langkah Kael tegas menuju meja Arsen dan Vivian.
Sementara di meja itu, Vivian sedang tersenyum kecil saat membicarakan sesuatu, Namun senyum itu langsung menghilang ketika sebuah suara dingin terdengar di samping mereka.
"Jadi ini yang namanya meeting?"
Arsen langsung menoleh, dan wajahnya seketika mengeras.
"Kael."
Vivian terlihat terkejut.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Arsen dingin.
Kael tertawa kecil tanpa humor. "Harusnya aku yang tanya."
Tatapannya beralih kepada Vivian lalu kembali ke Arsen. "Kalian lagi ngapain?"
"Ini bukan urusan kamu," jawab Arsen tegas.
"Bukan urusan aku?" Kael mengangguk pelan. "Memang bukan."
Lalu suaranya berubah lebih tajam. "Tapi ini urusan Elvara."
Suasana meja langsung menegang, Nama itu membuat Vivian menundukkan pandangannya sesaat. Sedangkan Arsen menatap Kael tanpa berkedip. "Jaga ucapan kamu."
"Aku justru lagi jaga perasaan Elvara."
Kael melangkah sedikit mendekat. "Dia percaya sama kamu, Arsen."
"Sudah kubilang, ini bukan urusan kamu."
"Lalu apa?" balas Kael. "Kamu mau bohong terus sampai kapan?"
Rahang Arsen mengeras, Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.
Vivian langsung berdiri. "Kael, tolong jangan bikin keributan."
Kael menoleh ke arahnya. "Aku nggak bicara sama kamu."
Vivian terdiam, Kael kembali menatap Arsen.
"Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa harus sembunyi-sembunyi?"
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Karena bahkan Arsen tidak bisa menjawabnya dengan mudah.
"Kamu tahu nggak?" lanjut Kael. "Elvara tadi masih mikirin makan malam kamu. Masih khawatir kamu capek kerja."
Setiap kata yang keluar membuat wajah Arsen semakin dingin. "Sedangkan kamu ada di sini."
"Sudah cukup." Suara Arsen rendah namun berbahaya.
Namun Kael sama sekali tidak mundur. "Nggak. Belum cukup."
Tatapannya tajam menusuk Arsen.
"Kalau kamu nggak sanggup menghargai dia sebagai istri, lepaskan dia."
Mata Arsen langsung berubah gelap. "Apa maksud kamu?"
Kael tertawa kecil. "Maksudku jelas."
Lalu untuk pertama kalinya, ia mengucapkan apa yang selama ini disembunyikannya.
"Karena ada orang yang nggak akan pernah bikin Elvara nangis seperti ini."
Dan saat mengatakan itu, tatapan Kael tidak pernah lepas dari mata Arsen. Tatapan Arsen langsung berubah tajam. Udara di sekitar meja itu terasa semakin panas.
Kalimat Kael barusan benar-benar berhasil menyulut emosi Arsen.
"Apa kamu bilang?" suara Arsen terdengar rendah dan berbahaya.
Kael sama sekali tidak mundur. "Kamu dengar sendiri."
Brak!
Arsen berdiri dari kursinya dengan keras, Beberapa pengunjung langsung menoleh ke arah mereka.
Vivian yang melihat situasi semakin buruk buru-buru berdiri. "Arsen, udah."
Namun pria itu tidak mendengarnya, tatapannya hanya tertuju pada Kael.
"Kamu terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang."
Kael tertawa kecil. "Kalau rumah tangga itu nggak bikin Elvara menderita, aku juga nggak akan peduli."
Seketika emosi Arsen meledak.
Bugh!
Arsen mendorong bahu Kael dengan keras.
Kael langsung membalas dorongan itu. "Apa? Nggak terima dengar kenyataan?"
Dalam hitungan detik, keduanya sudah saling dorong dan nyaris berkelahi di tengah restoran, beberapa tamu langsung berdiri menjauh.
Vivian panik. "Berhenti! Kalian berhenti!"
Namun tidak ada yang mendengarkan, Arsen dan Kael sama-sama dipenuhi emosi. Terutama Kael yang sudah lama menahan kemarahannya sejak melihat Elvara terus menangis karena Arsen.
"Kalau nggak cinta sama dia, lepaskan dia!" bentak Kael.
"Aku nggak butuh nasihat dari kamu!"
Suasana restoran langsung menjadi kacau, Tak lama kemudian, dua satpam hotel dan beberapa petugas keamanan berlari menghampiri mereka.
"Pak! Tolong tenang!"
"Kami minta berhenti sekarang juga!"
Satpam segera memisahkan Arsen dan Kael sebelum situasinya semakin buruk, Keduanya akhirnya terpaksa mundur beberapa langkah. Napas mereka sama-sama berat karena emosi.
"Pak, kalau tetap membuat keributan kami terpaksa meminta Bapak meninggalkan area restoran."
Arsen mengusap rahangnya kasar sambil memalingkan wajah. Sedangkan Kael masih menatapnya tajam, Vivian berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah pucat.
"Kita pergi aja," ucap Vivian pelan kepada Arsen.
Beberapa tamu masih memperhatikan dari kejauhan, Arsen mengepalkan tangannya kuat sebelum akhirnya mengambil jasnya. Namun sebelum pergi, ia kembali menatap Kael.
"Jangan dekati istriku."
Kael tersenyum tipis tanpa rasa takut. "Itu keputusan Elvara. Bukan keputusan kamu."
Rahang Arsen kembali mengeras, Namun sebelum keributan baru dimulai, satpam kembali mengingatkan mereka.
Akhirnya Arsen dan Vivian meninggalkan restoran lebih dulu, Sementara Kael tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti langkah Arsen sampai menghilang di balik pintu lift, dan Kael mulai berpikir bahwa Elvara berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam ini.
Bersambung…..