NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lo Terlalu Polos..

"Katakan apa tujuannu..!" tegas Hakim Lee.

Varren menatapnya polos seakan dirinya tidak paham. Ikhsan melihat ayahnya menggeleng. "Pa udah pa.. jangan begitu. Harusnya kita berucap terima kasih sama Varren. Kalo Varren nggak buat aku kayak gini, mungkin musuh papa udah buat aku lumpuh total." jelas Ikhsan nanar dan tak enak pada Varren. Dasar manusia baik.

Varren mengangguk. "Saya mengenali Ikhsan sebagai laki-laki baik, jadi saya melakukan ini demi kebaikan Ikhsan tidak lebih. Saya tidak menuntut banyak atau apa pun. Cukup Ikhsan hidup tenang tanpa diganggu orang lain saja sudah cukup." jelas Varren tenang.

Hakim Lee terlihat tidak percaya menatap Varren.

Memang masih ada orang yang tulus tanpa minta imbalan di muka bumi ini?

Bullshit.

Varren berdehem. "Saya hanya membatasi pergerakan musuh bapak. Saya akan memberikan arahan kepada kalian untuk berangkatlah ke Singapura, sebulan setelahnya pulang dan sebar jika anak bapak Ikhsan tidak bisa lagi berjalan dengan beberapa rangkaian surat dokter. Usai itu saya akan membuat Ikhsan kembali normal." jelas Varren tegas.

"Bagaimana caranya?" tanya ibunya Ikhsan.

Varren mengeluarkan botol kecil dalam sakunya. "Tentu saja saya punya obatnya. Saya sendiri yang akan menyuntikkannya nanti. Tapi itu tergantung dengan kalian. Jika kalian ingin sekarang bisa saja. Tapi saya jamin jika Ikhsan akan dicelakai lagi oleh orang-orang, dan jika musuh Hakim Lee yang membuatnya cacat, saya tidak bisa berbuat banyak atau bahkan membantu." jelas Varren tenang.

Hakim Lee menatap Varren penuh tanda tanya. Tapi Varren tidak menunjukkan hal mencurigakan dirinya. Apa tujuan dari Varren adalah pertanyaannya saat ini.

"Baik. Kami akan menuruti semua yang kamu sarankan." jelas Hakim Lee mutlak. Ia tidak punya pilihan lain selain mempercayai Varren.

Varren mengangguk menatap keluarga Hakim Lee tenang. Varren memilih segera pulang usai menyelesaikan masalahnya. Varren tidak akan mau dibodohi oleh Alvino.

Jika dirinya bisa membodohi balik, kenapa tidak???

---

Varren menatap lamban motor Alvino yang di jalanan, berdehem, mendekati Alvino. Alvino melihat Varren baru sampai tersenyum lebar. "Loe dari mana?" tanyanya.

Varren meliriknya dan menggeleng. "Dari rumah Ikhsan, memastikan dia bener-bener cacat atau nggak." jelas Varren tenang.

Alvino menatap Varren dengan tatapan menyorot. "Loe nggak bohong kan Ren?" tanyanya.

Varren menaikkan satu alisnya. "Memang apa yang gue dapetin kalo gue bohong?" tanya Varren tenang kepada Alvino. "Nggak ada kan?" tanyanya lebih lanjut.

Alvino terkekeh menepuk pundak Varren. "Gue percaya sama loe, gue cuma bercanda. Ayok naik, kita ke markas inti." jelasnya.

Varren mengangguk menaiki motor Alvino. Samar-samar Varren tersenyum miring di belakang Alvino. Tidak, Varren tidak bodoh. Jika Alvino merasa sudah mengendalikannya, maka Varren akan melakukan tugasnya untuk membalikkan keadaan.

Jika Alvino sudah berani bermain dengannya, Varren bukan permainan yang tepat.

Perjalanan menuju markas mereka cukup lamban, memasuki pekarangan bangunan tua. Varren melirik keseluruhan tempat yang terlihat sangat gelap gulita.

"Turun. Ikutin gue. Loe harus punya pin ini, kalo nggak loe nggak akan bisa masuk. Taroh di baju loe." jelasnya kepada Varren.

Varren menerimanya dan menaikkan satu alisnya. Pin bulan dan bintang yang berwarna emas. Lucu juga. Tapi tunggu, pin ini bersinar di kegelapan.

"Yah itu tanda buat anggota kita." jelasnya lagi.

Varren mengangguk. Alvino membawa Varren memasuki bangunan-bangunan tua yang sudah sangat usang. Dulu perusahaan ini adalah salah satu pusat perbelanjaan yang sangat besar, memiliki empat tingkat, dengan luas yang cukup besar. Tapi karena tragedi kebakaran memakan banyak korban meninggal dan juga beberapa yang terluka parah, itu membuat mall ini jadi tidak lagi beroperasi.

Orang-orang juga mulai berpikir tiga kali jika ke sini dikarenakan tempatnya yang terlihat suram dan menyeramkan. Ada beberapa tawaran untuk membuat beberapa konten menyeramkan, tapi tidak ada yang berani sampai lantai atas. Konon katanya siapa yang masuk kebanyakan meninggal atau bahkan menghilang dan tidak ditemukan.

Varren menatap Alvino yang memasuki lift. Ternyata masih bisa digunakan??? Itu artinya ini bukan bangunan tinggal kan?

Alvino masuk diikuti Varren. Menatap tanda jika Alvino menekan tombol lantai tiga. Paling atas. Varren melirik sekeliling lift sangat buruk, sarang laba-laba di mana-mana. Varren diam sampai lift terbuka dan menampilkan ruangan super gelap.

Sampai tidak terlihat apa pun selain pin yang dirinya kenakan.

Sesaat setelahnya lampu menerang dan dua orang keluar dari tempat yang Varren tidak ketahui.

"Itu karena pin kita terlihat oleh mereka dan kita bisa lolos." jelas Alvino. Varren bergumam paham. Pantasa saja ini pin didesain bercahaya di tengah kegelapan, itu agar bisa menjadi barang pengenal yah.

Alvino di sana menatapnya datar dan berjalan menuju ruangan yang Varren tidak ketahui. Varren melirik sekeliling. Gila, bau busuk menyengat seperti bau bangkai tikus sangat mengganggu. Mana aura dan udara yang begitu pengap membuat dadanya agak sesak.

Banyak barang yang tidak dikenakan, dan beberapa ruangan yang masih terbengkalai dengan barang-barangnya yang habis dan hangus.

Alvino memasuki satu toko yang terlihat banyak barang yang bertebaran. Varren diam memperhatikan langkah Alvino. Alvino mendekati dinding yang terlihat biasa saja, menggesernya pelan usai menempelkan pin. "Ini pinnya ada di pin yang kamu kenakan." jelasnya.

Varren menatap pinnya di dada dan menatap ke depan. Matanya melebar menatap hal yang menakjubkan di sana. Di luar dugaannya, bangunan tua nan busuk ini tersimpan pembuat dosa yang sedang menikmati dunia.

Alvino memasuki tempat yang dilihat oleh Varren kaget. Suasana yang gelap dipenuhi dengan warna-warni tadi sekarang terganti lampu biasa seketika. Varren bisa melihat anggota-anggota secara langsung di sana.

"Mereka semua adalah anggota inti dari kelompok kita, dan lagi beberapa dari mereka ada yang ketua kelompok lain. Ini perkumpulan para bandit kelas kakap Varren." jelas Alvino kepada Varren tersenyum evil.

Varren melirik Alvino dan berdehem pelan. "Jadi jangan buat masalah. Soalnya kalo loe berbuat masalah sama mereka, gue nggak tanggung jawab." bisiknya.

Varren diam mengangguk pelan.

"Wah Ren lo ke sini?" tanya Haikal pada Varren yang memasuki ruangan.

Varren berdehem melihat Haikal yang mendekatinya dan Alvino yang duduk di sofa tempat Haikal. Di sana ada banyak tempat duduk, ada meja, ada sofa seperti ini. Mungkin pembagian kelompok, Varren tidak terlalu paham.

"Gue nggak nyangka bangunan tua dan dikenal angker ini ada manusia di dalamnya. Malah ada party lagi." gumam Varren pada Haikal jujur.

Haikal terkekeh mendengarnya. "Loe terlalu polos sih. Loe tau gosip kalo ini tempat angker itu kenapa ada? Yah karena politik dan taktik orang-orang kita, supaya orang-orang nggak berani ke sini. Dan kalau pun ada juga harus mikir dua kali." jelasnya. Terakhir blogger ke sini bersama dua temannya tapi besoknya kabar mereka menghilang menggemparkan dunia maya.

Varren mendengarnya berdehem. "Jadi di sini nggak angker?" tanya Varren polos.

Haikal terkekeh pelan. "Dia polos banget rupanya." ujar Hiro melirik Varren yang masih bertanya.

Varren diam menatap keduanya tak tahu apa-apa. Lain pada hati Varren. Mereka pikir Varren bisa sebodoh itu untuk tidak paham?

"Ini persembunyian pertemuan kelompok mafia Ren. Memang dirancang tempat yang sama sekali orang nggak kunjungi. Beberapa orang yang udah tahu tempat ini pasti bakal dihabisin. Banyak mengatakan kalo udah masuk lantai tiga dia nggak bakal balik lagi, jikapun balik besoknya mati secara tragis. Itu yah kelompok mafia kita. Varren di sini itu gudangnya iblis. Lebih dari iblis yang orang lain pikirkan, sosok yang nggak punya bentuk." jelas Hiro pada Varren.

"Jadi yang bunuh orang yang ke sini itu orang-orang yang ada di sini?" tanya Varren shock.

"Yap. Pinter." ujar Haikal tersenyum miring.

Varren berdehem ngeri melihat Haikal. "Makanya jangan buat masalah sama siapapun yang ada di sini yah Ren." tegas Haikal.

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!