Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Siapa Kamu Sebenarnya?
Belum?
Kalimat singkat itu justru membuat Rahardja semakin sulit berkata-kata.
Sebelum suasana menjadi semakin canggung, Chantika segera berdiri. "Pa..."
Rahardja menoleh.
"Boleh kita bicara di ruang kerja Papa?" pinta Chantika. Tatapannya penuh permohonan. "Bertiga... bersama Enzo."
Rahardja memandang putrinya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
"Baik." Ia menutup kembali map tersebut. "Mari ke ruang kerja Papa."
Rahardja berdiri lebih dulu sambil membawa map hitam itu.
Enzo ikut bangkit dari duduknya. Sebelum melangkah, ia sempat memberi isyarat kecil kepada Marco agar tetap berada di ruang tamu. Marco mengangguk paham.
Tak lama kemudian, Rahardja, Chantika, dan Enzo menghilang di balik pintu ruang kerja. Pintu pun tertutup.
Begitu pintu tertutup rapat, Saras langsung menoleh ke arah ibunya. "Ma... Apa sebenarnya isi map itu?"
Ranti menggeleng pelan. "Mama juga belum tahu. Tapi ekspresi Papa kamu sampai berubah begitu..."
Saras menggigit bibirnya. "Pasti bukan dokumen biasa."
Di sisi lain, Marco hanya duduk dengan punggung tegak. "Kalau mereka tahu Bos sebenarnya menyerahkan aset bernilai ratusan miliar rupiah saat lamaran, mungkin mereka bukan cuma terkejut..."
Sudut bibir Marco terangkat samar, nyaris tak terlihat. "Mereka bisa mengira Bos sedang mengakuisisi keluarga calon istrinya."
Marco segera mengusir pikiran itu dan kembali memasang wajah datar.
Sebagai asisten dan sekretaris utama, ia sudah terbiasa melihat keputusan-keputusan besar Enzo. Namun bahkan baginya, lamaran kali ini tetap terasa di luar dugaan.
Ia menghela napas pelan. "Bahkan aku yang sudah lama bekerja dengan Bos pun masih dibuat terkejut."
Sementara itu, begitu pintu ruang kerja Rahardja tertutup di belakang Enzo, suasana langsung berubah hening.
Rahardja tidak segera duduk. Ia kembali membuka map hitam di tangannya. Satu per satu dokumen itu diperiksanya lagi.
Akta hibah hotel. Akta hibah vila. Dokumen pengalihan saham. Semua menggunakan kop perusahaan yang sama.
Nomor akta. Tanda tangan notaris. Cap resmi. Tidak tampak sedikit pun seperti dokumen palsu. Rahardja mengangkat wajahnya.
"Ini asli?"
"Asli, Pa," jawab Enzo tenang.
"Kalau begitu..." Tatapan Rahardja menajam. "Siapa kamu sebenarnya?"
Enzo tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh kepada Chantika. Chantika mengangguk pelan, seolah memberi izin.
Enzo menarik napas. "Nama saya Enzo Arkan Pradana."
Rahardja menunggu kelanjutannya.
"Saya CEO Arkana Global Logistics."
"..."
Beberapa detik Rahardja hanya memandang wajah Enzo. "CEO Arkana...?"
"Iya, Pa," jawab Enzo mantap.
Rahardja kembali melihat dokumen di tangannya. Pantas saja. Semuanya kini terasa masuk akal. Ia kembali menatap Enzo.
"Kalau kamu memang CEO, kenapa datang berpakaian seperti staf?"
Kali ini Chantika yang menjawab. "Itu permintaanku, Pa."
Rahardja menoleh.
"Aku ingin mengenalkan Enzo apa adanya," jelas Chantika. "Bukan karena jabatan. Bukan karena hartanya. Aku ingin tahu... apakah keluarga kita bisa menerima seseorang hanya karena dia adalah pilihanku."
Rahardja terdiam.
Chantika melanjutkan dengan pelan. "Dan ternyata dugaanku benar."
Rahardja mengernyit.
"Dari awal Tante Ranti dan Saras sudah menganggap Enzo rendah karena mengira dia hanya staf."
Rahardja langsung teringat gumaman Saras beberapa menit yang lalu.
"Yakin ini semua premium?"
Chantika menatap ayahnya. "Papa juga mendengarnya, 'kan?"
Rahardja mengangguk pelan. "Lalu..."
Chantika tersenyum tipis. "Papa ingat dulu waktu Papa ingin menjodohkanku dengan putra rekan bisnis Papa?"
Rahardja mengangguk lagi. "Masih."
"Waktu itu Tante Ranti yang membujuk Papa agar perjodohan itu dikasih sama Saras. Aku gak keberatan. Karena saat itu aku memang ingin fokus mengejar cita-citaku menjadi polisi."
Rahardja mulai memahami arah pembicaraan putrinya.
"Tapi sekarang berbeda, Pa." Chantika menatap lurus ke mata ayahnya. "Kalau Saras tahu Enzo adalah CEO Arkana Global Logistics..."
Ia berhenti. Tak perlu melanjutkan kalimatnya. Rahardja sudah mengerti. Saras kemungkinan besar tidak akan berhenti membandingkan.
Bahkan bukan tidak mungkin mencoba merebut perhatian Enzo seperti yang pernah terjadi pada perjodohan dahulu.
Rahardja mengembuskan napas panjang. Ia menoleh kepada Enzo. "Jadi... kamu rela menyamar hanya karena permintaan Chantika?"
Enzo mengangguk tanpa ragu. "Kalau itu bisa membuat Chantika merasa tenang, saya gak keberatan."
Rahardja memerhatikan pemuda di hadapannya cukup lama. Bukan jawabannya yang membuatnya terdiam. Melainkan caranya menjawab.
Tidak ada nada membanggakan diri. Tidak ada kesan sedang memamerkan kekayaan. Semuanya diucapkan setenang orang yang memang tidak merasa statusnya perlu dibicarakan.
Perlahan sudut bibir Rahardja terangkat. "Kalau begitu..."
Ia menutup kembali map di tangannya. "Sepertinya malam ini aku bukan cuma belajar mengenal calon menantuku."
Rahardja tersenyum tipis. "Aku juga sedang belajar mengenal putriku sendiri."
Rahardja akhirnya mengalihkan pandangannya kepada putrinya. "Jadi... selama ini kamu merasa tertekan tinggal di rumah ini?"
Chantika menggeleng pelan. "Gak juga, Pa." Ia tersenyum hangat. "Aku masih punya Papa yang selalu berusaha ngertiin aku."
Jawaban itu justru membuat dada Rahardja terasa semakin sesak. Ia mengembuskan napas panjang.
"Dulu Papa berpikir, setelah mamamu meninggal, kamu butuh figur seorang ibu." Tatapannya perlahan menunduk. "Karena itu Papa menikahi Ranti."
Ia kembali menatap Chantika. "Alasan Papa yang lainnya juga sudah pernah Papa ceritakan kepadamu."
"Iya, Pa." Chantika mengangguk pelan. "Aku ngerti. Aku gak pernah nyalahin Papa. Papa ngambil keputusan itu juga dengan banyak pertimbangan. Lagipula, Papa memang berhak memiliki pendamping hidup setelah Mama meninggal."
Rahardja tersenyum pahit. "Tapi ternyata..." Ia menghentikan kalimatnya sejenak. "Papa salah memperkirakan."
"Bukan salah, Pa." Chantika menggeleng. "Hanya saja... siapa sangka sejak awal aku merasa ada jarak antara aku dan Tante Ranti."
Ia tersenyum tipis. "Jarak yang rasanya sulit sekali untuk diseberangi."
Rahardja memejamkan mata sesaat. "Maafkan Papa."
Suara pria itu terdengar lebih berat dari biasanya. "Papa benar-benar mengira keputusan itu juga akan baik untukmu. Papa berharap kamu kembali punya sosok ibu yang bisa menemani dan menyayangimu."
Ia menghela napas. "Awalnya Papa melihat hubungan kalian memang masih canggung. Papa pikir itu wajar. Papa yakin seiring berjalannya waktu kalian akan semakin dekat."
Rahardja tersenyum getir. "Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Jarak itu semakin lama semakin lebar."
Chantika menggenggam lembut tangan ayahnya. "Karena itu aku memilih tinggal bersama Nenek. Tapi Papa tetap berusaha ngasih aku perhatian dan kasih sayang. Walaupun dari jauh. Walaupun kita gak bisa ketemu tiap hari."
Ia tersenyum hangat. "Bagiku... itu sudah lebih dari cukup."
Rahardja menggenggam balik tangan putrinya. "Makasih..."
Suara itu hampir tak terdengar. "Makasih karena gak pernah membenci Papa."
Chantika menggeleng sambil tersenyum. "Aku gak punya alasan untuk membenci Papa. Aku justru bangga punya ayah seperti Papa."
Di sudut ruangan, Enzo hanya terdiam. Sejak tadi ia memilih menjadi pendengar. Namun melihat percakapan ayah dan anak itu, ada sesuatu yang menghangatkan dadanya.
"Ternyata... Chantika menyayangi ayahnya bukan karena beliau sempurna. Tetapi karena di balik kekurangannya, Papa selalu berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab."
Enzo menunduk tersenyum pahit. "Gak kayak ayahku." Jemari tangannya perlahan mengepal. "Pria brengsek itu malah bikin aku trauma hingga saat ini."
Enzo kembali menatap Chantika. Urat-urat di jemari tangannya perlahan mulai mengendur.
"Pantas saja Chantika tumbuh menjadi perempuan yang begitu lembut, gak pendendam, dan selalu berusaha memahami orang lain."
Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Dalam hati ia berjanji...
"Mulai hari ini, bukan hanya Chantika yang akan aku jaga. Tetapi juga keluarga yang begitu berarti baginya."
"Jadi..." suara Rahardja memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruangan.
Ia menatap Enzo dan putrinya secara bergantian.."Kalian ingin Papa merahasiakan identitas Enzo?"
Chantika dan Enzo saling berpandangan sejenak. Tak satu pun dari mereka langsung menjawab.
...🔸🔸🔸...
..."Tidak semua rahasia lahir dari kebohongan. Ada yang disimpan demi melindungi ketenangan orang-orang yang kita cintai."...
..."Status bisa disembunyikan, tetapi ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenali."...
..."Keluarga yang baik bukan keluarga tanpa kekurangan, melainkan keluarga yang mau saling memahami dan memperbaiki kesalahan."...
..."Anak yang baik bukanlah anak yang tidak pernah terluka, melainkan anak yang tetap memilih menghormati orang tuanya meski pernah kecewa."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...
Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.
Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.
Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.
Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.
Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.
Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.
Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.
Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.
Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.
Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.
Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏