Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
"Ingat rumah juga kamu, Mas."
Suara Linda terdengar dari arah pintu depan. Ia baru saja masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Pakaiannya tampak kusut, wajahnya pucat kelelahan. Selendang hitam yang tadi ia gunakan di kepala saat pemakaman kini sudah terlepas, hanya tersampir di bahunya.
Linda berhenti beberapa langkah dari ruang tamu.
Tatapannya langsung tertuju pada Dewangga yang masih berlutut di lantai.
Matanya menyala penuh amarah.
Tatapan itu membuat Dewangga yang tadinya menatap lantai semakin menundukkan kepalanya.
"Mas, kamu tahu kan… hari ini adalah hari pernikahan kamu sama Zeya, sahabat aku. Di mana kamu, Mas?"
Linda melangkah mendekat dengan napas yang berat. Tanpa ragu ia mencengkeram kerah baju Dewangga dengan kuat, menariknya berdiri,sedikit ke depan.
Gerakannya penuh emosi.
Sementara kedua orang tua mereka hanya bisa menyaksikan dari sofa. Tidak ada satu pun yang menyela. Mereka sudah kehabisan kata untuk situasi ini.
"Mas tahu kan hari ini adalah hari bahagia yang berujung duka," lanjut Linda dengan suara bergetar. "Dan harusnya Mas ada di sana… memberikan pelukan untuk perempuan yang Mas bilang mau jagain dia."
Cengkeraman tangannya semakin kuat.
"Tapi kenapa di situasi seperti ini Mas nggak ada?"
Tatapan penuh kekecewaan dari Linda membuat dada Dewangga terasa semakin berat.
Ia tahu ini semua salahnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, adiknya membentak dirinya dengan suara keras dan ia tidak mencoba untuk menghentikan perlakuan kasar adiknya itu.
Dia hanya diam… menerima semua kemarahan dari adiknya.
Karena bagaimanapun, Zeya adalah sahabat Linda sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Wajar jika dia adalah orang yang paling marah kepadanya.
"Mas selalu mentingin perempuan itu daripada Zeya," kata Linda lagi, emosinya semakin memuncak. "Orang yang Mas bilang adalah tanggung jawab dari sahabat mas"
Ia tertawa pahit.
"Lalu bagaimana dengan Zeya?"
Linda melepaskan kerah baju Dewangga dengan kasar, lalu menunjuk ke arahnya.
"Dia juga perempuan yang aku titipin ke Mas," ucapnya dengan suara yang penuh penekanan. "Perempuan yang aku harap bisa Mas cintai dan perlakukan dengan baik."
Napas Linda mulai tidak stabil.
"Aku titipin dia ke Mas karena aku percaya… Mas akan menyayanginya dengan sepenuh hati."
Kalimat terakhir itu keluar lebih lirih.
"Tapi apa?"
Tenaganya seolah habis seketika.
Linda menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan perasaan hancur. Tangannya menutupi wajahnya sebentar, mencoba menahan emosinya yang semakin sulit dikendalikan.
Semua harapan yang ia titipkan kepada kakaknya… hancur begitu saja.
Hanya karena satu perempuan yang entah datang dari mana.
Ruangan itu kembali sunyi beberapa detik.
Dewangga yang berdiri dengan wajah kacau dan air mata yang terus saja berjatuhan sejak tadi.
"Dia istri sahabat aku, Dek" gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Namun kata-kata itu justru membuat Linda mengangkat wajahnya dengan cepat.
Matanya yang sudah merah kini menatap Dewangga dengan kemarahan yang lebih besar.
Ia berdiri kembali dari sofa, menghadap kakaknya.
"Dia sahabat kamu, dan aku adiknya Mas," ucap Linda tajam. "Dia nitipin istrinya, aku nitipin sahabat aku."
Ia melangkah satu langkah mendekat.
"Sekarang Mas menunaikan tanggung jawab sebagai seorang sahabat"
Suaranya menurun sedikit, namun justru terasa lebih menekan.
"tapi melupakan janji terhadap adiknya sendiri?"
Dewangga kembali menunduk.
Setiap kata dari Linda terasa seperti menamparnya.
Benar.
Seharusnya dia lebih mengutamakan Zeya.
Perempuan yang dititipkan adiknya padanya. Perempuan yang selama ini ia klaim sebagai cinta dalam hidupnya.
Namun semua itu terasa seperti ironi sekarang.
Linda menarik napas dalam sebelum kembali berbicara.
"Mas tahu nggak kalau Zeya sedang hamil?"
Ruangan itu seketika menjadi semakin sunyi.
Dewangga mengepalkan kedua tangannya di lantai, mencoba menahan gejolak yang tiba-tiba muncul di dadanya.
"dan aku rasa Mas tahu anak itu milik siapa."
Napas Dewangga tercekat.
"Dan sekarang," lanjut Linda dengan suara yang semakin berat, "Zeya pergi membawa anak itu… ke tempat yang tidak akan pernah Mas temukan."
Kepala Dewangga perlahan terangkat.
Matanya menatap Linda dengan wajah penuh keterkejutan.
"ke tempat yang jauh," tambah Linda, "untuk selamanya."
Ekspresi Dewangga berubah seketika.
"Dek… apa maksud kamu?" tanyanya dengan suara bergetar.
Di dalam hatinya, ia terus berdoa bahwa ia salah mendengar.
Namun Linda menatapnya tanpa sedikit pun keraguan.
"Iya," katanya pelan tapi tegas. "Zeya sudah pergi. Jauh dari tempat ini."
Kalimat itu terasa seperti palu terakhir yang menghantam Dewangga.
"Jauh dari Mas… dan dari kita semua."
Tatapan Linda berubah lebih dingin.
"Dia pergi… dan tidak ingin kita menemuinya lagi."
Setelah mengatakan itu, Linda tidak menunggu reaksi siapa pun.
Ia langsung berbalik dan berjalan menuju tangga. Langkahnya cepat, seolah tidak ingin berada lebih lama di ruangan itu.
Tak lama kemudian, suara langkahnya menghilang di lantai atas.
Yang tersisa hanya keheningan yang berat.
Dewangga perlahan jatuh terduduk di lantai, wajahnya kosong.
Ia masih mencoba memproses apa yang baru saja ia dengar.
Sementara kedua orang tuanya di sofa juga terlihat sama terkejutnya. Mereka saling bertukar pandang, namun tidak ada satu pun kata yang keluar.
Para pengawal yang berdiri di sisi ruangan hanya menundukkan kepala.
Tidak ada yang berani menatap langsung ke arah keluarga itu.
Di dalam hati mereka, masing-masing hanya berharap satu hal
Semoga semua ini segera berakhir.
Karena jika tidak… rumah besar itu mungkin akan tenggelam dalam masa suram yang panjang.
"Ma, Pa…"
Suara Dewangga terdengar pelan. Ia menatap kedua orang tuanya dengan perasaan tak percaya, seolah berharap mereka akan menyangkal semua yang baru saja dikatakan Linda.
Malvin perlahan berdiri dari sofa. Ia menggandeng tangan istrinya, Rissa, sebelum menatap anaknya dengan wajah yang masih menyimpan kekecewaan.
"Mama sama Papa berharap kamu bisa introspeksi diri setelah kejadian ini," ucap Malvin tegas.
Nada suaranya tidak lagi sekeras sebelumnya, tetapi justru terasa lebih berat. Seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk marah.
Rissa yang berdiri di sampingnya menatap Dewangga sebentar. Matanya tampak sembap, tetapi ia mencoba tetap tenang.
"Renungkan kesalahan kamu, Mas," ucapnya pelan. "Mama harap kejadian ini jadi pelajaran berharga buat kamu. Tidak semua hal bisa terus dimaklumi. Karena kalau semuanya sudah terjadi… menyesal pun sudah tidak ada gunanya."
Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat dada Dewangga terasa semakin sesak.
Setelah mengatakan itu, Malvin menepuk bahu istrinya dengan pelan, lalu mengajaknya pergi ke kamar mereka untuk istirahat.
Langkah mereka perlahan menjauh.
Tidak ada yang menoleh lagi.
Beberapa detik kemudian, para pengawal yang sejak tadi berdiri di sisi ruangan saling bertukar pandang. Tanpa suara, mereka juga mulai mundur satu per satu.
Tak lama kemudian, ruang tamu yang besar itu benar-benar kosong.
Hanya Dewangga yang masih berada di sana.
Ia tetap diam di tempatnya.
Tubuhnya masih terduduk di lantai, punggungnya sedikit membungkuk, sementara kedua tangannya tergeletak lemah di samping tubuhnya.
Tatapan matanya kosong.
Seolah otaknya belum mampu menerima semua yang baru saja terjadi.
Kata-kata Linda…
Kemarahan ayahnya…
Kekecewaan ibunya…
Semuanya masih terngiang jelas di kepalanya.
Rumah yang biasanya terasa hidup kini terasa begitu sunyi.
Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan di kejauhan.
Dewangga menundukkan kepalanya perlahan. Tangannya naik menutup wajahnya.
Napasnya mulai tidak teratur.
Zeya pergi.
Dan ia pergi… membawa anak mereka.
Dewangga menggeleng pelan, seolah mencoba menolak kenyataan itu.
"Zeya…" gumamnya lirih.
Suaranya hampir tidak terdengar di ruangan yang luas itu.
Beberapa saat kemudian, bahunya mulai bergetar.
Ia menunduk lebih dalam, kedua tangannya mengepal di rambutnya sendiri.
Penyesalan yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh juga.
Untuk pertama kalinya malam itu, Dewangga benar-benar sendirian… bersama semua kesalahan yang berharap bisa ia perbaiki.