NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan yang Terbagi

Malam semakin larut ketika mobil sedan mewah milik Reza melaju membelah jalanan kota yang masih menyisakan sisa-sisa basah genangan hujan sore.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara, aroma parfum melati milik Gita terasa begitu pekat, mendominasi setiap jengkal udara di antara mereka.

Gita duduk menyilang kaki di kursi penumpang depan, jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku merah marun bergerak lincah di atas layar ponselnya, sesekali membalas email kerjaan dari kolega Singapuranya.

Di sebelahnya, Reza fokus pada kemudi, namun fokus pikirannya diam-diam terbelah.

Sistem live feed CCTV sanggar aerobik yang terpasang di ponselnya menunjukkan bahwa kelas sore sudah bubar sejak pukul setengah enam.

Berdasarkan riwayat perjalanan ojek daring Alya yang otomatis masuk ke notifikasinya, istrinya itu tercatat sudah sampai kembali di rumah Blok C-12 pada pukul enam sore kurang sepuluh menit.

Reza mengembuskan napas pendek, merasa segalanya berada dalam kendali. Di matanya, Alya adalah tawanan patuh yang saat ini pasti sedang meringkuk di dalam kamar tidur utama, kelelahan setelah berolahraga—atau mungkin masih merasakan sisa lemas dari penaklukan liar yang mereka lakukan kemarin.

"Reza, kita makan malam di restoran hotel biasa, kan? Aku sudah rindu sekali dengan wagyu steak di sana," suara Gita memecah keheningan kabin, memutus rantai pikiran Reza.

Reza menoleh sekilas, menampilkan senyuman hangatnya. "Tentu, Git. Aku sudah memesan meja sudut yang biasa kamu sukai. Malam ini sepenuhnya milik kita."

Gita tersenyum puas, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Reza sembari memeluk lengan pria itu dengan posesif.

"Bagus. Aku butuh relaksasi setelah seminggu penuh menghadapi investor Singapura yang cerewet. Dan aku butuh kamu, Rez."

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang kelas Manajemen-A yang diterangi lampu neon putih, Alya sedang menikmati sisa lima belas menit terakhir perkuliahan malamnya.

Dosen di depan kelas baru saja menutup laptopnya, menandakan materi Pengantar Akuntansi hari ini telah selesai. Begitu kelas dibubarkan, Maya langsung merebahkan kepalanya di atas meja dengan helaan napas dramatis.

"Aduh, Al... kalau gak ada kamu yang bantu koreksi bagian debit-kredit tadi, mungkin aku sudah nangis di pojokan kelas," keluh Maya sambil menatap Alya dengan pandangan penuh rasa terima kasih.

Alya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat lepas dan bebas. Ia memasukkan buku catatan dan pulpennya ke dalam tas jinjing hitamnya.

"Kak Maya berlebihan. Kakak cuma kurang teliti di bagian akumulasi penyusutan saja. Nanti kalau ada tugas lagi, kita kerjakan bersama lagi sebelum kelas dimulai."

Doni yang baru saja kembali dari mesin fotokopi lobi kampus menyodorkan kembali buku catatan Alya dengan senyuman lebar.

"Ini, Al. Catatanmu rapi banget, kayak diketik pakai komputer. Makasih banyak ya. Kamu benar-benar penyelamat kelas karyawan angkatan kita."

"Sama-sama, Kak Doni. Semangat ya kerjanya besok," balas Alya ramah.

Saat ia melangkah keluar dari gedung kampus menembus udara malam yang sejuk, Alya merasakan dadanya berbusung penuh. Perasaan dihargai, dibutuhkan, dan diakui sebagai manusia yang memiliki otak encer di tempat ini menjadi penawar rasa sakit yang paling mujarab bagi jiwanya.

Ia berjalan cepat menuju mulut gang buntu di dekat halte utama, tempat ojek daring yang dipesannya sudah menunggu di bawah temaram lampu jalan. Begitu motor melaju membelah angin malam, Alya meraba ponsel di saku jaket biru tuanya.

Sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari nomor baru yang baru saja ia simpan sore tadi.

Diana: Sudah sampai di rumah, Alya? Ingat untuk melakukan peregangan ringan pada kaki dan pinggulmu sebelum tidur agar ototmu tidak kaku besok pagi. Kabari aku jika kamu butuh sesuatu.

Alya menatap layar itu lama. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hangat. Perhatian Diana yang matang, penuh perlindungan, dan terkesan intens memberikan sebuah warna baru di tengah hidupnya yang kelam.

Di dunia yang penuh duri ini, ia tahu ia harus membatasi diri dan tetap taktis, namun kehadiran Diana terasa seperti sebuah pegangan yang kokoh bagi kewarasannya.

Alya membalas singkat: Ini sedang di jalan pulang, Mbak Diana. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Selamat istirahat.

Pukul sembilan lewat dua puluh menit malam, motor ojek daring yang ditumpangi Alya berhenti di mulut gang buntu belakang komplek Blok C-12. Alya turun, menyerahkan helm, lalu berjalan cepat menembus kegelapan gang yang sepi.

Dari balik rimbunnya pohon kenanga yang bergoyang pelan ditiup angin malam, ia mengamati sekeliling teras belakang. Sunyi.

Lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan daun-daun kenanga yang menutupi titik buta kamera pengawas.

Alya bersiul pelan sebanyak dua kali.

Sebuah desis halus terdengar, disusul oleh bergesernya dua bilah pagar bambu yang longgar. Wati muncul dari balik celah, matanya bergerak waspada memantau area teras sebelum memberi isyarat tangan agar Alya segera masuk.

"Aman, Mbak. Bapak belum pulang. Tadi jam delapan malam Bapak sempat telepon ke rumah, menanyakan apakah Mbak Alya sudah tidur. Bu Aminah yang angkat dan bilang kalau Mbak sudah tidur lelap di kamar karena kecapekan aerobik," bisik Wati dengan napas lega setelah Alya berhasil meloloskan tubuh mungilnya melewati pagar.

"Terima kasih banyak, Wati. Bu Aminah di mana?" tanya Alya lirih sembari merapikan jaketnya.

"Bu Aminah sedang menjaga koridor tangga lantai satu, Mbak. Takut kalau Bapak tiba-tiba masuk tanpa suara," jawab Wati.

Alya mengangguk taktis. Dengan gerakan yang terlatih dan tanpa suara, ia menaiki anak tangga besi darurat di bagian belakang rumah, menyelinap masuk melalui pintu geser balkon lantai dua, lalu mengunci seluruh akses luar kamarnya.

Ia menanggalkan kemeja flanel dan celana jinnya, menyembunyikannya di tempat rahasia di dasar lemari pakaian, lalu menggantinya dengan daster katun longgar berwarna hitam—pakaian tidur yang sama dengan malam sebelumnya. Setelah memastikan kunci pintu kamar bagian dalam terlepas agar terkesan wajar, Alya berjalan menuju ranjang king-size yang luas.

Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas seprai sutra krem, menarik selimut tebal hingga ke dada, lalu memejamkan matanya dengan napas yang teratur.

Sementara itu, di restoran mewah lantai teratas hotel berbintang, Reza dan Gita baru saja menyelesaikan santap malam mereka. Dua gelas wine kosong berdiri di atas meja marmer, dan alunan musik jazz romantis mengisi atmosfer di sekitar mereka.

Gita menyesap sisa wine terakhir di gelasnya, matanya yang tajam menatap wajah Reza yang malam ini tampak sedikit tidak fokus, meski pria itu terus melemparkan senyuman patuh ke arahnya.

"Reza," panggil Gita, suaranya yang lembut kini berubah menjadi nada introgasi yang halus.

"Aku perhatikan sejak di bandara tadi... pikiranmu seperti tidak bersamaku. Ada apa? Apa proyek kontraktor kita ada masalah?"

Reza tersentak sedikit, lalu buru-buru menggenggam tangan Gita di atas meja, meremasnya lembut.

"Sama sekali tidak, Git. Semua proyek berjalan lancar. Aku hanya... memikirkan beberapa rencana ekspansi yang sempat tertunda selama kamu di Singapura."

Reza kembali berbohong. Pikirannya malam ini justru terus-menerus diganggu oleh rasa bersalah yang aneh karena telah menikmati raga Alya dengan begitu liar di bawah hujan kemarin, di saat wanita yang ia puja ini sedang bekerja keras di luar negeri.

Namun di sisi lain, kepuasan primitif sebagai seorang lelaki yang berhasil menaklukkan istri mudanya hingga memohon pasrah terus berdenyut di dalam egonya.

Gita menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Reza selama beberapa detik, mencoba mencari celah rahasia di balik ketenangan pria itu.

"Bagus kalau begitu, Rez. Karena besok malam, ibumu mengundang kita untuk makan malam keluarga di rumah besar. Dan seperti yang ibumu katakan... kita tidak perlu membawa pajangan kecilmu itu ikut serta."

Gita tersenyum penuh kemenangan, menegaskan kembali dominasinya atas posisi Reza. Ia merasa aman karena berpikir Alya tetaplah bocah delapan belas tahun yang tidak berdaya di rumah Blok C-12.

Reza mengangguk patuh. "Aku tahu, Git. Besok malam sepenuhnya agenda kita bersama Ibu."

Di balik dinding kaca restoran yang menampilkan kelap-kelip lampu kota, jam malam terus berputar. Dua pasang kekasih gelap itu merasa telah memenangkan seluruh permainan manipulasi ini.

Namun di bawah langit malam yang sama, di dalam kamar tidur utama Blok C-12, Alya tertidur dengan senyuman tipis yang dingin di bibirnya.

Umpan telah termakan, aliansi telah kokoh, dan ketika jamuan makan malam keluarga besok berlangsung tanpa dirinya, Alya tahu... itu adalah kesempatan emas berikutnya bagi dirinya untuk melangkah lebih jauh menuju kebebasannya.

1
falea sezi
cerai alya😒 ngapain sakit sendiri
La Rue
Alya mesti waspada dengan Diana ni, bahaya sepertinya.
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
uhen: mampir kk hehe ke chat story aku 😭
total 1 replies
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!