Kisah ini mengikuti seorang wanita penjelajah novel yang berpindah dari satu dunia cerita ke dunia lain. mulai dari romansa manis, cinta masa sekolah, hingga dunia CEO yang penuh intrik.
Dalam setiap dunia, ia tidak pernah sendirian. Sebuah sistem hologram setia membimbing, membantu, sekaligus menemaninya menyelesaikan berbagai misi yang telah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mobil mewah Rolls-Royce berwarna hitam legam itu berhenti tepat di depan lobi utama Argantara Group. Gedung pencakar langit itu seolah tunduk pada aura dingin yang terpancar dari kendaraan tersebut. Begitu mesin mati, seorang pria dengan setelan jas rapi dan kacamata frameless sudah berdiri tegak menyambut mereka.
"Selamat siang, Tuan Devan. Selamat siang, Nyonya Clarissa," ucap Liam, sekretaris— Devan, sambil membukakan pintu mobil dengan gerakan sempurna.
Devan turun terlebih dahulu, lalu dengan sikap protektif, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Clarissa keluar. Meski wajah Devan masih sedikit pucat pasca keluar dari rumah sakit, tatapannya tetap tajam dan mendominasi.
"Jadwal hari ini, Liam?" tanya Devan singkat sambil merangkul pinggang Clarissa, memastikan semua mata di lobi tahu siapa wanita yang berada di bawah perlindungannya.
"Rapat direksi akan dimulai sepuluh menit lagi, Tuan. Namun—" Ucapan Liam terhenti. Matanya melirik ke arah pintu masuk lobi di mana seorang wanita cantik sedang bersikeras menerobos penjagaan keamanan.
Itu adalah Luna Sanjaya, sang protagonis wanita yang asli. Luna berhenti tepat di depan mereka dengan napas memburu. "Devan! Sampai kapan kau mengabaikanku!? Aku tahu kau sedang marah padaku, kan!!" seru Luna, menuntut perhatian yang biasanya selalu menjadi miliknya.
Suasana lobi mendadak senyap. Liam hanya diam mematung, menunggu ledakan amarah atau obsesi yang biasanya ditunjukkan Devan setiap kali melihat Luna. Namun, pemandangan kali ini sungguh di luar dugaan. Devan justru menatap Luna dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Kau sakit! Sebaiknya pergi ke rumah sakit jiwa," ucap Devan dingin, suaranya datar namun terasa menusuk hingga ke tulang.
Luna terpaku. Ia tidak percaya pria yang dulu memujanya dengan gila, kini justru mengusirnya dengan begitu hina. Di tengah situasi yang mulai memanas, Clarissa tetap bersikap tenang. Ia tidak ingin waktu suaminya terbuang sia-sia hanya untuk drama yang tidak perlu.
"Sayang, abaikan saja. Bukankah rapat penting akan segera dimulai? Jangan biarkan hal tidak berguna seperti ini membuatmu terlambat," ucap Clarissa dengan nada anggun dan tenang. Ia memberikan usapan lembut pada lengan Devan, seolah sedang menjinakkan seekor singa yang siap mengamuk.
Seketika, aura tiran di mata Devan melunak. Ia menunduk menatap Clarissa dengan binar pemujaan yang hanya diberikan khusus untuk istrinya. "Kau benar, Baby. Waktuku terlalu berharga untuk ini."
Devan kemudian melirik Liam dengan tajam. "Liam, urus wanita ini. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di kantorku lagi. Jika dia masih tidak mengerti bahasa manusia, hubungi rumah sakit jiwa untuk menjemputnya."
"Baik, Tuan Devan," jawab Liam tegas.
Tanpa menoleh lagi, Devan menuntun Clarissa menuju lift pribadi, meninggalkan Luna yang mematung layaknya patung di tengah lobi. Obsesi yang seharusnya menghancurkan hidup Luna kini telah sepenuhnya bergeser pada sosok Clarissa.
Di dalam lift yang bergerak naik, Devan tiba-tiba menyudutkan Clarissa ke dinding besi yang dingin, mengurung tubuh istrinya dengan kedua tangan.
"Kenapa kau begitu tenang melihatnya, Baby?" bisik Devan dengan suara serak. "Apa kau tidak cemburu? Atau kau memang sangat percaya bahwa aku hanya milikmu?"
Clarissa menatap balik mata Devan yang kini hanya memantulkan bayangan dirinya sendiri. "Karena aku tahu, hanya aku yang bisa menerimamu apa adanya, Devan. Dan kau... sudah terikat padaku selamanya, kan?"
Devan tersenyum miring—sebuah senyuman penuh obsesi yang kini telah menemukan pelabuhan barunya. "Benar. Kau adalah satu-satunya duniaku, Clarissa."
Ting—
Pintu lift berdenting, menandakan mereka telah sampai di lantai teratas. Devan merangkul pinggang Clarissa dengan posesif, menuntunnya masuk ke dalam ruangan kantor yang luas dan mewah. Tanpa ragu, ia membawa Clarissa duduk di kursi kebesarannya.
"Baby, tunggu di sini sebentar. Aku harus pergi rapat," ucap Devan sambil menatap Clarissa dalam.
"Apakah aku tidak bisa ikut bersamamu?" tanya Clarissa.
Devan terkekeh kecil, ia mengusap pipi istrinya lembut. "Tidak perlu. Kau bukan sekretaris pribadiku sekarang. Tunggu saja di sini, jika kau bosan, kau bisa membaca buku," ucapnya sambil menunjuk deretan buku di rak kerja yang tertata rapi.
"Baiklah."
"Tunggu aku, Baby," bisik Devan sebelum mendaratkan kecupan hangat di dahi Clarissa.
Di sisi lain, Luna yang baru saja diusir dengan kasar tidak menyerah begitu saja. Ia yakin jauh di dalam lubuk hati Devan, pria itu masih mencintainya. Luna beranggapan bahwa di kehidupan ini Devan hanya tersesat atau melupakan ikatan mereka di masa lalu.
"Dia harus kembali padaku. Hanya aku satu-satunya untuknya," gumam Luna penuh ambisi.
Luna mulai menyusun rencana nekat. Ia menyamar sebagai petugas kebersihan (cleaning service) agar bisa menyusup kembali ke dalam gedung. Tujuannya hanya satu: menyelinap ke ruangan kerja Devan dan melakukan sesuatu yang akan membuat Devan membenci Clarissa selamanya.
Sementara itu, di dalam ruangan kerja, Clarissa mulai merasa jenuh. Ia sudah cukup lama memainkan ponsel dan membaca beberapa buku, namun rapat Devan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
"Aku butuh sesuatu yang segar," gumamnya. Clarissa memutuskan untuk turun ke lantai bawah menuju dapur perusahaan, berniat membuat teh dan mengambil camilan untuk mengusir bosan.
Sesaat setelah Clarissa pergi, sosok Luna yang mengenakan seragam petugas kebersihan muncul di depan pintu. Dengan tangan gemetar namun cepat, ia memasukkan kode pin brankas Devan—kode yang ia ingat dari ingatan di kehidupan sebelumnya.
Klik. Brankas terbuka. Luna mengambil sebuah flashdisk penting dan menukarnya dengan yang palsu. Ia berencana membuat perusahaan Devan merugi besar dan memfitnah Clarissa sebagai pelakunya. Setelah misinya selesai, Luna segera pergi dengan senyum kemenangan.
Tak lama kemudian, Clarissa kembali dengan nampan berisi teh dan camilan. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah suara mekanik bergema di kepalanya.
[Peringatan! Nona 07, gawat! Anda sedang dijebak oleh protagonis wanita!]
Clarissa terkejut. "Hah? Dijebak? Kenapa?" tanyanya dalam hati. "Bukannya seharusnya dia senang Devan tidak mengekangnya lagi? Di kehidupan sebelumnya dia sangat membenci pria itu."
[Saya tidak tahu, Nona. Maaf, saya tidak bisa membantu lebih jauh meskipun saya tahu alur ceritanya. Setiap emosi karakter di dunia novel yang nyata ini bisa berubah-ubah.]
Clarissa menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Matanya kemudian melirik ke sudut ruangan, ke arah kamera kecil yang tersembunyi dengan sangat rapi.
"Hufst, baiklah. Tapi... dia lupa ada CCTV di sini?" Clarissa tersenyum tipis, rasa paniknya menghilang. "Sistem, kau tidak perlu khawatir. Aku yakin Devan tidak akan pernah menyalahkanku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruang rapat utama, suasana terasa tegang. Para petinggi Argantara Group sedang memaparkan progres proyek besar yang sangat krusial. Devan duduk di kursi utama dengan tatapan tajam, meski sesekali ia melirik jam tangannya, tampak ingin segera kembali ke ruangannya untuk menemui istrinya.
Namun, ketenangan itu hancur berantakan.
BRAK!
Pintu ruang rapat terbuka dengan sangat kasar tanpa ketukan atau izin sedikit pun. Semua orang tersentak. Di ambang pintu, Luna Sanjaya berdiri dengan napas terengah-engah, masih dengan sisa-sisa penyamarannya yang berantakan.
"Devan! Istrimu baru saja mengkhianatimu! Dia menukar flashdisk penting di brankasmu!" teriak Luna dengan lantang di depan semua jajaran direksi.
Bisikan-bisikan mulai memenuhi ruangan. Para karyawan dan pemegang saham Argantara Group terkejut. Salah satu manajer senior memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Tuan, jika itu benar, sebaiknya Anda segera mengusir Nyonya Clarissa!"
"Betul, Tuan! Kita tidak bisa membiarkan pengkhianat berada di sekitar kita sebelum perusahaan ini hancur!" timpal yang lain.
"DIAM!" Suara Devan menggelegar, seketika membungkam seluruh ruangan. Ia menatap Luna dengan kemarahan yang meluap. "Liam, bawa Clarissa ke sini sekarang juga! Dan kau... kenapa kau masih ada di perusahaanku?!”
Luna mendengus, merasa di atas angin. "Apakah itu penting sekarang? Yang terpenting adalah kau akan segera tahu kebusukan wanita yang kau puja itu!"
Devan terdiam, rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, Liam datang membawa Clarissa. Bukannya marah atau menginterogasi, Devan justru berdiri, menarik kursi di sebelahnya, dan mendudukkan Clarissa di sana dengan lembut—seolah melindunginya dari tatapan menghakimi semua orang.
Luna mematung. Ia tak percaya Devan masih memperlakukan Clarissa layaknya ratu meski tuduhan besar baru saja dilontarkan.
"Aku tanya pada kalian semua... kalian ingin aku mengusir istriku, kan?" Devan bertanya dengan nada rendah yang berbahaya. Ia melirik Liam. "Liam, tunjukkan."
Liam mengangguk, lalu menghubungkan perangkatnya ke layar besar di ruang rapat. "Tuan Devan memasang kamera tersembunyi dengan sistem real-time di seluruh sudut ruang kerjanya," jelas Liam tenang.
Sebenarnya, Devan memasang CCTV itu bukan untuk keamanan, melainkan bentuk obsesinya agar ia bisa memantau Clarissa setiap detik. Namun siapa sangka, alat pengawas itu kini menjadi senjata yang berguna.
Layar besar itu menampilkan rekaman yang sangat jernih. Di sana terlihat Clarissa keluar untuk membuat teh, dan beberapa saat kemudian, seorang petugas kebersihan masuk. Sosok itu membuka brankas dengan lincah dan menukar flashdisk di dalamnya. Saat sosok itu melepas maskernya sejenak, wajah Luna terpampang sangat jelas.
Luna diam mematung. Wajahnya pucat pasi, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Bagaimana? Sudah cukup jelas siapa pelakunya?!" suara Devan kembali menggelegar, menatap para stafnya yang kini tertunduk malu dan ketakutan. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.
Devan kemudian menoleh pada Luna dengan tatapan penuh kebencian. "Kau pikir aku sebodoh itu? Liam, bawa wanita ini pergi. Serahkan ke pihak berwajib atas tuduhan pencurian data dan masuk tanpa izin!"
"Baik, Tuan. Segera," jawab Liam tegas sambil memberi isyarat pada petugas keamanan untuk menyeret Luna keluar.
"Tidak! Devan, dengarkan aku! Aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu!" teriak Luna histeris saat diseret keluar, namun Devan bahkan tidak sudi meliriknya lagi.
Di tengah kekacauan itu, Devan menggenggam tangan Clarissa erat-erat, seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi. "Maafkan aku karena membiarkanmu melihat sampah seperti itu, Baby."
Bersambung.....