NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara

Clara melangkah keluar dari kamarnya dengan senyum kemenangan yang masih mengembang sempurna di bibir.

Berbekal bayangan wajahku yang sengsara karena kelelahan mengangkut galon mengelilingi labirin rumahnya, dia berjalan santai menuju area tengah. Dalam pikirannya, aku pasti masih terengah-engah, kebingungan di lorong-lorong sepi, dan berjalan amat lambat karena menuruti jalur memutar tak masuk akal yang dia buat khusus untukku.

Namun, dia lupa satu hal penting: aku ini bukan cuma Ketua OSIS yang tegas dan disiplin, tapi juga Ketua OSIS yang cerdas dan cepat tanggap. Mana mungkin aku mau dibodohi begitu saja oleh taktik amatir anak manja? Setelah beberapa langkah mengikuti petunjuk jalannya yang mencurigakan, aku langsung bertanya pada Bibi pelayan yang melintas. Beliau dengan senang hati menunjukkan jalur potong khusus area servis—jalur lurus yang hanya butuh waktu setengah menit menuju dapur.

Tepat saat Clara sampai di koridor dekat pantry, matanya mendadak melotot lebar. Mulutnya sedikit terbuka, menatapku yang sedang berjalan santai membawa galon terakhir tanpa ada raut kelelahan sedikit pun.

"Loh?! Kok cepat banget sih?!" seru Clara histeris, wajah cantiknya berubah menjadi sangat tidak terima karena rencananya gagal total. "Bukannya tadi aku sudah suruh dia lewat jalur..."

Kalimatnya terhenti seketika saat aku berjalan melintas di depannya dengan ketenangan yang dibuat-buat.

"Maaf ya, Mbak. Mohon jangan berdiri di tengah jalan, nanti tertabrak galon," ujarku santai seraya melewatimunya tanpa dosa.

Bisa kulihat dengan jelas dari sudut mata, wajah Clara memerah padam karena menahan emosi. Aura kebencian memancar kuat dari tatapannya, tapi aku benar-benar tidak peduli. Melihat dia kesal karena ulahnya sendiri justru menjadi hiburan tersendiri bagiku di tengah lelahnya bekerja.

Aku meletakkan galon terakhir di sudut dapur bersama Egi yang sudah merapikan nota pembayaran. Setelah memastikan semuanya pas, aku berbalik melangkah keluar melewati Clara yang masih berdiri kaku di tempatnya, menatapku dengan napas naik turun.

"Kak Arkan! Hiiii...!" jerit Clara tertahan sambil menghentakkan kakinya ke lantai.

Aku menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang sengaja kubuat semenyebalkan mungkin. "Terima kasih ya, Mbak cantik... tapi bodoh."

Setelah mengucapkan kalimat pamungkas itu, aku melangkah cepat menyusul Egi keluar dari rumah megah keluarga Sanjaya. Di belakangku, suara Clara yang mengumpat makin terdengar samar-samar, disusul tawa pelan Bibi pelayan yang ikut menyaksikan drama singkat di siang bolong itu.

Begitu masuk ke dalam kabin mobil bak terbuka dan menutup pintunya rapat-rapat, deru mesin yang kunyalakan berpadu harmonis dengan suara ketukan nyaring di dalam perut kami berdua. Rasa lapar yang sempat tertunda akibat urusan angkut-mengangkut galon tadi kini menagih haknya secara brutal.

"Aduh, Kan... perutku rasanya sudah makin melilit ini," keluh Egi sambil memegangi perutnya yang berbunyi nyaring.

"Pinggirkan dulu mobilnya! Kita makan nasi bungkus Bu Tanti sekarang!"

"Siap, Bos!" balasku cepat.

Aku menggerakkan tuas lampu sein ke kiri, memperhatikan spion, lalu perlahan meminggirkan mobil ke bawah rindangnya pohon asam di bahu jalan yang agak lengang. Setelah mematikan mesin, kami berdua tanpa membuang waktu langsung membuka bungkusan kertas cokelat berisi nasi hangat lengkap dengan lauk-pauknya.

Aroma gurih bumbu ayam goreng dan sambal terasi langsung menyergap indra penciuman kami. Tanpa basa-basi, kami menyantap makanan itu dengan sangat lahap.

"Aduh... memang makanan Bu Tanti ini selalu jadi yang terbaik di dunia!" ujar Egi di sela-sakinya mengunyah, wajahnya memancarkan kepuasan yang tiada tara.

Aku tertawa pelan mendengar pujian hiperbolis sahabatku itu.

"Iya, Gi. Aku sih setuju banget kalau kamu nikahin Bu Tanti sekalian. Biar tiap hari kita bisa makan gratis di warungnya."

Egi yang sedang memegang potong tahu goreng mendadak melotot, menatapku dengan ekspresi panik. "Enak aja kamu kalau omong! Astrid tetap di hati ya, Bos! Tak tergantikan oleh siapa pun!" balas Egi cepat, sangat defensif.

Astrid adalah nama kekasih hati Egi sejak zaman SMP. Setiap lembar rupiah yang Egi kumpulkan dari bekerja mengantar galon ini selalu disisihkan untuk tabungan masa depan, demi bisa merayakan pernikahan impian mereka suatu hari nanti.

"Lagi pula, kalau mau ada yang nikah sama Bu Tanti, kamu saja tuh, Arkan!" tambah Egi tak mau kalah, membalas godaanku. "Kamu cocok sekali sama dia. Sama-sama suka mengatur dan hemat!"

"Oh, tentu tidak bisa, Saudaraku," sahutku cepat sambil menggelengkan kepala dramatis. "Kita beda usia jauh banget.

Bu Tanti itu sudah seperti ibuku sendiri!"

Tawa kami berdua pun pecah membahana di dalam kabin mobil yang sempit itu, melenyapkan segala rasa lelah yang menumpuk di pundak sejak pagi.

Namun, di tengah-tengah tawa gembira itu, suasana mendadak berubah hening ketika Egi menelan makanannya, lalu menatapku dengan raut wajah yang cukup serius. Ada pancaran rasa penasaran yang dalam dari balik matanya.

"Hei, Arkan... dari tadi aku memperhatikan kamu," ujar Egi

pelan sambil menunjukku dengan sendok plastiknya. "Aku lihat tadi kamu akrab sekali dengan dua anak gadis cantik di rumah-rumah mewah tadi. Yang satu anak Pak Hendra, yang satu lagi anak Pak Frans Sanjaya. Sebenarnya... yang jadi pacar kamu itu yang mana?"

Egi mendekatkan wajahnya sedikit, memelan suara bak seorang penasihat spiritual. "Satu saja, Arkan... pilih satu saja. Kalau dua-duanya kamu gebet, nanti kamu sendiri yang susah."

Uhuk! Uhuk-uhuk!

Mendengar pertanyaan ajaib dari mulut Egi yang datang tanpa peringatan itu, aku yang sedang asyik mengunyah nasi langsung tersedak hebat! Tenggorokanku terasa tersumbat, dan wajahku mendadak memerah panik.

"Air! Mana air, Gi?!" seruku panik sambil menepuk-nepuk dadaku.

Egi dengan sigap menyodorkan botol air mineral. Aku menyambarnya dan meminumnya dengan sangat rakus sampai separuh botol terisi penuh habis dalam seketika.

Setelah pasokan oksigen kembali melancari tenggorokanku, aku menatap Egi dengan pandangan tak percaya.

"Kamu ini ngomong apa sih, Gi?!" protesku dengan suara agak meninggi, mencoba menutupi kegugupanku. "Siapa juga yang pacaran sama dua gadis bodoh itu! Mereka itu anak-anak orang kaya raya, jangankan jadi pacar, mimpi buat sejajar sama mereka saja aku tidak berani. Kamu kalau bicara suka asal ceplos saja!"

Egi hanya terkekeh pelan, mengangguk-angguk seolah tidak percaya penuh dengan pembelaanku. Dia kembali fokus menikmati sisa nasinya tanpa memperpanjang perdebatan.

Aku kembali menyandarkan punggungku ke sandaran kursi mobil, menatap lurus ke arah kaca depan yang tertimpa dedaunan jatuh. Pembelaan keras yang baru saja kuucapkan pada Egi mendadak terasa hambar saat bisikan kecil di dalam lubuk hatiku yang paling dalam mulai menyuarakan kenyataan yang berbeda.

Tapi... kalau boleh jujur, gumamku dalam hati, bibirku tanpa sadar menyunggingkan senyuman tipis yang teramat halus, yang paling cantik dan bikin penasaran itu... memang Clara Adelin, putri dari Pak Frans Sanjaya.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!