NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Kembali Terbang

Sendok Kai kembali bergerak seolah tidak pernah berhenti.

"Semua pria tinggi punya punggung yang mirip."

Keira bangkit dari kursi. "Berdiri."

"Untuk apa?"

"Aku mau melihat punggungmu."

"Itu kalimat paling aneh yang pernah kudengar saat makan malam."

Keira berjalan mengitarinya, menyipitkan mata pada bahu Kai. Pria itu tetap duduk dengan sabar, meski sudut bibirnya mulai terangkat.

"Tegakkan badan."

"Bu Pemilik Rumah, pasal kontrak kita tidak mengatur inspeksi punggung."

"Kalau kamu banyak bicara, aku tambah pasalnya."

Kai akhirnya berdiri. Keira mengamati garis bahunya dari belakang, lalu membandingkan dengan ingatan tentang sosok bersetelan abu-abu di ujung koridor.

Kaus murah. Celana santai. Rambut berantakan.

Tidak mungkin seorang CEO yang membuat satu ruang rapat menahan napas pulang dan dimarahi soal harga daging impor.

"Sudah?" tanya Kai.

Keira mendengus. "Mungkin aku salah lihat."

"Kecewa?"

"Sangat. Kalau kamu Pak Kaizan, aku bisa meminta cicilan apartemen dilunasi."

"Ternyata cintamu punya harga."

"Aku realistis."

Kai menahan tawa, lalu mengangkat piring kotor ke dapur. Nyaris saja.

Keesokan pagi, ponsel Keira berbunyi pukul lima lewat dua belas menit.

Dia membuka surel sambil masih berdiri di ambang kamar. Baris pertama membuat kantuknya hilang.

PEMBEBASAN TUGAS DICABUT.

Keira membaca seluruh dokumen dua kali. Tim internal membatalkan rekomendasi disipliner karena prosedur cacat dan potensi konflik kepentingan. Dia diminta datang ke basis operasi NusAir di Bandara Soekarno-Hatta pukul tujuh untuk pemeriksaan dokter penerbangan, evaluasi singkat simulator, dan penetapan kembali jadwal.

"Kai!"

Pintu ruang sempit terbuka. Kai muncul dengan wajah tegang, siap menghadapi bahaya.

Keira mengangkat ponsel. "Aku bisa kembali."

"Kembali ke mana?"

"Terbang."

Senyum Keira datang begitu terang hingga Kai tidak langsung menjawab.

"Aku boleh terbang lagi," ulangnya. "Mereka mencabut pembebastugasan."

"Selamat."

Hanya satu kata, tetapi cara Kai menatapnya terasa seperti dia juga baru menerima sesuatu yang lama ditunggu.

Keira berlari kembali ke kamar. Lemari terbuka, seragam dikeluarkan, tas penerbangan ditarik dari rak. Lima menit kemudian dia kembali ke ruang tamu dengan kemeja putih belum dikancing sempurna.

"Aku harus berangkat sekarang."

Kai mengambil kunci yang tergantung dekat pintu. "Aku antar."

"Dengan apa?"

Tangannya berhenti.

Keira melirik rak sepatu yang kosong dari kunci kendaraan. "Kamu bahkan tidak punya motor."

"Aku pesan mobil."

"Tidak usah. Aku sudah pesan ojek. Lebih cepat."

Keira menyambar roti dari meja, lalu keluar. Sebelum pintu tertutup, kepalanya muncul lagi.

"Jangan beli apa pun yang mahal hari ini!"

"Terbang yang aman," balas Kai.

Kalimat itu membuat Keira berhenti sepersekian detik. Lalu dia tersenyum dan berlari menuju lift.

Di basis operasi NusAir, proses pengembalian hak terbang tidak dilakukan dengan satu tanda tangan. Dokter penerbangan memeriksa tekanan darah, koordinasi, respons pupil, hasil laboratorium malam kejadian, dan kondisi luka di kaki. Keira juga menyerahkan daftar obat serta surat bahwa dia sudah berhenti mengonsumsi obat yang dapat menyebabkan kantuk.

"Secara medis kamu layak," kata dokter setelah menandatangani formulir. "Kalau pusing, mual, atau sulit fokus, lapor. Jangan memaksakan diri demi membuktikan sesuatu."

"Dipahami, Dok."

Setelah itu Keira masuk simulator bersama penguji. Dia menjalankan prosedur normal, merespons perubahan angin silang, lalu menyelesaikan satu skenario gangguan sistem tanpa melewati daftar periksa.

Empat puluh lima menit kemudian, penguji menutup papan catatannya.

"Kompetensi memenuhi standar. Selamat datang kembali."

Jari Keira mencengkeram sabuk kursi. Tiga kata terakhir hampir membuat matanya panas.

Dia tidak menangis. Dia merapikan rambut, menandatangani hasil evaluasi, lalu menerima jadwal penerbangan pulang-pergi Jakarta-Surabaya sebagai kru tambahan di bawah pengawasan kapten senior.

Di ruang briefing, percakapan empat orang kru berhenti ketika Keira masuk. Seorang pramugari tersenyum menyambut, tetapi seorang pilot cadangan memandang formulir di tangannya.

"Cepat sekali kembali," katanya. "Katanya kasusmu sampai ke manajemen tertinggi."

Nada itu halus, tetapi Keira memahami maksudnya. Bantuan khusus. Jalur orang dalam.

Keira meletakkan hasil evaluasi di meja. "Tekanan darah normal, hasil laboratorium dinyatakan aman, evaluasi simulator lulus tanpa catatan. Kalau ada prosedur yang menurutmu kulewati, tunjukkan sekarang."

Pilot itu terdiam.

Kapten senior masuk tepat saat suasana menegang. Dia membaca lembar pemeriksaan Keira, lalu menaruhnya di tengah meja agar seluruh kru melihat tanda tangan dokter dan penguji.

"Pilot yang kembali dari pembebastugasan harus layak secara medis dan kompeten secara operasional. Bu Keira memenuhi keduanya. Di pesawat saya, yang dinilai adalah keputusan dan disiplin prosedur. Bukan rumor. Ada keberatan?"

Tak ada yang mengangkat tangan.

Keira tidak merasa menang karena orang lain dibungkam. Dia merasa menang karena kertas di meja itu berisi hasil kerjanya sendiri.

"Mulai briefing," kata kapten senior.

Keira membuka dokumen cuaca. "Rute keberangkatan aman. Untuk perjalanan pulang, ada pertumbuhan awan konvektif di utara Jawa. Kita siapkan bahan bakar tambahan untuk deviasi dan kemungkinan holding."

Kapten senior mengangguk. "Itu yang saya tunggu. Lanjutkan."

Saat memasuki kokpit pesawat yang parkir di Terminal 3, aroma kulit kursi, plastik hangat, dan kopi kru menyambutnya. Panel instrumen menyala satu demi satu.

Keira meletakkan telapak tangan di sandaran kursi beberapa detik.

Ini tempatnya.

"Siap untuk penerbangan pertama setelah istirahat?" tanya kapten senior.

Keira memasang headset. Suaranya berubah jernih dan mantap. "Siap, Kapten. Dokumen penerbangan sudah saya periksa. Cuaca di Surabaya cerah, ada potensi angin silang ringan saat kedatangan."

"Bagus. Jalankan pemeriksaan awal."

Keira bekerja tanpa terburu-buru. Baterai, sistem bahan bakar, instrumen, rute, data lepas landas. Setiap langkah mendapat respons silang dari kru lain. Ketika pintu kokpit ditutup dan izin mundur diberikan, denyut di ujung jarinya berubah menjadi energi yang dia kenal.

Pesawat bergerak menuju landasan.

"NusAir 271, diizinkan lepas landas."

Keira menatap garis putih yang memanjang di depan mereka.

"Takeoff."

Mesin mendorong tubuhnya ke kursi. Angka kecepatan naik. Hidung pesawat terangkat, roda meninggalkan landasan, dan Jakarta menyusut di bawah sayap.

Untuk pertama kali sejak malam di hotel, Keira merasa tubuhnya benar-benar milik sendiri lagi.

Penerbangan menuju Surabaya berlangsung stabil. Setelah penumpang turun, kru hanya memiliki waktu singkat untuk menyiapkan sektor pulang. Keira memeriksa pembaruan cuaca. Garis merah dan kuning tumbuh di layar radar, tepat di jalur menuju Jakarta.

"Sel konvektif bergerak lebih cepat dari prakiraan," katanya.

Kapten senior memperbesar peta. "Rekomendasimu?"

"Deviasi ke selatan sebelum masuk area, tambah dua puluh mil. Kita hindari celah sempit di antara dua sel."

"Ajukan ke pengatur lalu lintas."

Di udara, awan gelap menjulang di kejauhan. Kilat menyala di dalamnya seperti lampu di balik tirai tebal. Keira meminta perubahan jalur lebih awal. Izin datang, pesawat berbelok ke selatan, dan tanda cuaca terburuk tetap berada pada jarak aman.

Beberapa menit kemudian turbulensi ringan mengguncang kokpit.

"Lampu sabuk pengaman menyala," kata Keira. Dia menghubungi kepala kru kabin, memastikan pelayanan dihentikan dan semua penumpang duduk.

Pilot cadangan yang tadi meragukannya duduk di kursi pengamat. Kini dia tidak berkata apa-apa. Matanya mengikuti tangan Keira yang berpindah dari radio ke daftar periksa tanpa gerakan berlebihan.

Mendekati Jakarta, angin silang meningkat. Kapten senior tetap membiarkan Keira mengendalikan pesawat.

"Kalau tidak stabil, go-around," katanya.

"Dipahami."

Keira menjaga kecepatan, mengoreksi arah, dan membaca setiap perubahan. Pada ketinggian seribu kaki, pendekatan stabil. Lima ratus kaki, tetap stabil. Tangannya tidak gemetar.

Roda utama menyentuh landasan dengan satu benturan mantap. Hidung pesawat turun perlahan, pengereman bekerja, lalu mereka keluar dari landasan sesuai instruksi.

Kapten senior menatapnya setelah pesawat berhenti di posisi parkir. "Keputusan deviasi tepat. Pendaratan aman. Catat perubahan angin di laporan."

"Siap, Kapten."

Dari kursi pengamat terdengar suara pelan. "Selamat datang kembali, Bu Keira."

Keira menoleh. Pilot cadangan itu tidak lagi menyindir.

"Terima kasih."

Benturan roda di landasan Soekarno-Hatta menjelang senja terasa lebih indah bagi Keira daripada tepuk tangan apa pun.

Keira menyelesaikan pemeriksaan setelah mendarat, menulis catatan teknis, lalu turun melalui akses kru. Di area penjemputan personel yang berbatasan dengan apron, Vera sudah menunggu dengan kartu pengunjung sementara dan dua gelas es kopi.

"Kapten kesayanganku!"

Keira berlari, lalu memeluk Vera sampai es di gelas hampir tumpah.

"Aku kembali, Ve."

"Aku tahu! Kamu mengirim tujuh belas pesan sebelum lepas landas."

Keira tertawa. Beberapa ground staff menoleh. Matahari senja memantul di badan pesawat yang berjajar di belakang pagar pengaman.

"Semua karena manajemen baru memeriksa ulang kasusku," kata Keira. "Kalau Pak Kaizan tidak turun tangan membersihkan perusahaan, mungkin namaku sudah masuk daftar PHK."

Vera menyerahkan kopi. "Jadi sekarang kamu makin cinta pada idolamu?"

Keira mengangkat kedua tangan ke arah langit, tidak peduli pada orang-orang yang melihat.

"Aku cinta Kaizan Tanujaya!"

Seorang petugas bagasi bersiul. Kru kabin yang lewat tertawa. Vera menutup wajah karena malu, tetapi Keira justru tertawa lebih keras.

"Kalau orangnya dengar, kamu mau taruh muka di mana?" tanya Vera.

"Dia tidak mungkin dengar."

Keira tidak tahu seorang petugas komunikasi perusahaan merekam sorakannya dari jauh untuk video sambutan karyawan yang kembali bertugas.

Malam itu, video singkat tersebut sudah sampai ke ponsel Moreno.

Di apartemen, Keira meletakkan topi seragam di atas meja dan menceritakan penerbangannya tanpa berhenti selama hampir dua puluh menit. Kai duduk di sofa, mendengarkan sambil sesekali menggeser piring buah lebih dekat kepadanya.

"Lalu aku bilang di depan Vera," kata Keira, "aku cinta Kaizan Tanujaya."

Alis Kai terangkat. "Berani sekali."

"Itu ungkapan terima kasih. Jangan salah paham."

"Aku tidak bilang apa-apa."

"Wajahmu bilang banyak."

"Mungkin dia senang mendengarnya."

"Pak Kaizan bahkan tidak tahu aku ada."

Kai menatap tiga garis emas di bahunya. "Aku rasa dia tahu."

Ponsel di sakunya bergetar. Nama Moreno muncul.

Kai berdiri. "Aku angkat telepon di balkon."

Keira terlalu sibuk melepas sepatu untuk memperhatikan perubahan suaranya saat pintu kaca tertutup.

"Ada apa?"

"Bos," kata Moreno. "Revan minta dijadwalkan satu penerbangan sama Keira. Gimana?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!