Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SICK
Karel menatap lelah layar laptop. Dirinya tengah melakukan panggilan video dengan James. “Gatau pusing.”
“Pikiran nyokap kamu kuno banget ya. Zaman sekarang masih ribet soal nikah dan punya anak. Padahal gak semua pernikahan tujuannya beranak pinak.”
Bukan masalah itu, dirinya tidak memiliki pewaris untuk meneruskan bisnis dan keturunan keluarganya. Masa habis di Karel? Bagi Karel itu bukan masalah yang besar, yang penting ia bahagia tidak dalam tekanan apapun.
“Beda orang beda pendapat kan? Dan life goals nya. Gak bisa di samain. Sebagai anak, aku juga punya kewajiban nurut. Aku juga rasa mama bukan semata gertak, tapi dia udah muak sama berita miring soal aku yang emang fakta. Mama pengen nepis semua itu, baginya pasti memalukan. Udah di takdirin jadi cowok malah pengen jadi cewek.”
James tampak muak sih. “Yaudah terserah, mama kamu gak bakalan berenti sebelum kamu bener-bener ngeyakinin dia kalau kamu normal.”
“Cuman terbawa arus.” Karel mengakhiri panggilan video karna merasa hal itu hanya menambah pikiran. Dia menjatuhkan dirinya di kasur. Lelah dan selalu melelahkan. Tidak ada teman bicara yang hangat lagi. James mulai berubah, eh tunggu apa dia cemburu? Karel bangkit, tapi enggan untuk bertanya. Gengsi dong. Harusnya dia yang membujuk. Ya sudah biarkan saja, mungkin dia juga capek.
--✿✿✿--
Luz duduk sendirian di salah satu meja kantin, di kantor. Makan siang yang sangat buruk dan sunyi. Ia masih kepikiran, gimana kondisi Minawari sekarang? Rencananya setelah makan, ia akan ke sana berkunjung.
Usai menutup kotak bekal. Disitu Karel datang melihatnya tidak seperti biasanya, terlihat lebih murung. Cuman di abaikan dan tidak bertanya lebih.
Karel melihat yang lain makan bersama, hanya Luz yang selalu sendiri. Apa mungkin dia di intimidasi karna sudah di pecat bisa balik lagi? Atau ada masalah tertentu dengan dirinya. Atau dengan mereka? Apa emang dia sama sekali tidak punya teman di sini? Mungkin memang ada yang salah dengannya? Nanti Karel akan coba bicara dengan karyawan yang lain untuk observasi. Kalo emang Luz yang bermasalah, makanya tidak punya teman. Maka ia akan mengambil tindakan lanjut.
Karna kantin penuh, Karel jadi duduk di tempat bekas Luz. Karna kosong. Ternyata handphone dia ketinggalan. Saat melirik ke sekitar, Luz sudah muncul di hadapannya. Mengambil benda itu tanpa berkata lagi lalu pergi.
Luz berharap Minawari sudah baikan, tapi niat baiknya di tolak mentah-mentah karna tidak di izinkan bertemu dengannya. Buah tangannya juga tidak di terima sama sekali oleh suster yang katanya sudah di tugaskan menjaga Minawari dan tidak boleh mengizinkan seorang bernama Luz datang menemuinya.
“Tapi sebentar aja Sus, saya kangen sama mama saya.”
Suster itu menahan. “Tidak bisa Mbak ini sudah kebijakan kami. Kami di tugaskan untuk menjaga ibu Minawari dengan baik termasuk melarang mbak Luz menemui atau memberinya makan.”
“Salah saya apa? Aturan apaan ini?”
“Saya hanya menjalankan tugas dari keluarga pasien mohon jangan membuat keributan.”
Luz masih berusaha, tapi dirinya malah di usir satpam. Akhirnya kembali ke kantor terlambat membawa soto kesukaan Minawari yang sudah dingin lalu ia buang ke tempat sampah.
Perut Luz terasa sakit. Ia meremas perutnya dan menunduk di meja kerja. Berharap rasa nyerinya berkurang. Kepalanya juga mulai pusing. Mata Luz mengerjap beberapa kali, berharap kesadarannya tetap ada. Ia paksakan kerja bahkan harus lembur mengejar yang tertinggal. Dari pada harus di pecat.
Luz tidak kuat, ia bertopang dagu dan memijat kepalanya. Sepertinya dia kelelahan dan kehilangan banyak energi karna tindakan emosionalnya kemarin. Makan juga cuman sedikit. Tadinya karna masalah pribadi, Luz terlalu leha-leha dan merasa pekerjaan nya akan selesai dalam sekejap. Dan kini ia di kejar deadline dan merasa tertekan untuk menyelesaikan tugasnya telat waktu. Dirinya mulai stres dan harus bekerja lebih keras dan fokus. Tapi perutnya yang sakit membuat konsentrasi nya terganggu.
Bahkan sudah berkeringat dingin dan seluruh badannya terasa dingin. Seakan tidak memakai pakaian sama sekali. Tangannya mulai gemeteran dan pucat. Tidak ada yang menyadarinya sebelum Karel lewat dan menghampirinya. Tanpa peduli orang lain akan berkata apa. Yang jelas sepertinya Luz tidak dalam keadaan baik saja.
“Are you okay?”
Luz mengangguk, matanya terpejam. “Aman. Jangan peduli cuman sama gue, nanti yang lain curiga.”
Padahal Karel ke semua peduli, kalau emang melihatnya. Apalagi karyawannya. “Ayo ke health room aja. Biar di periksa. Tangan lo dingin banget.”
Luz menolak, kalau mereka memeriksanya, akan ketahuan kalau ia hamil. Bisa langsung di pecat lagi, karna melanggar aturan yang tidak tertulis.
“Ayo gue anter, gapapa cepet.” Karel mengulurkan tangannya.
Luz pun berdiri. Walau kepalanya kunang-kunang dan merasa akan berhenti bernafas.
“Masih kuat jalan gak?”
Luz mengangguk, tapi di perjalanan langkahnya mulai gontai dan Karel memapahnya sampai ke ruang kesehatan. Disini tersedia dokter dan juga perawat yang memegang dua tempat bekerja yang berbeda. Jadi harus menunggu beberapa saat, karna mereka lebih aktif di klinik di dekat kantor yang sudah bekerja sama.
Mata Luz terpejam, merasa lebih baik saat rebahan. Dokter pun selesai memeriksanya. Ternyata tekanan darah Luz rendah sekali. Makanya ia mengalami hal seperti ini. Di duga telat makan dan jarang mengonsumsi obat penambah darah.
“Lain kali harus di perhatikan lagi kesehatannya, ya, apalagi sepertinya mbak lagi mengandung. Itu sangat berbahaya, terlebih ibu hamil butuh banyak nutrisi dan gizi untuk pertumbuhan janin yang baik.”
Luz mengangguk. “Tadi awalnya perut saya sakit terus pusing.”
“Mbak mengalami hipotensi untungnya segera di periksa. Untuk perut sakit, itu di sebabkan oleh stres.”
Perawat pun telah menyiapkan makanan untuk Luz dan obat. “Mbak harus makan yang cukup ya. Kata dokter juga maag mbak kambuh.”
Beberapa waktu Luz istirahat di brankar. Lalu kembali ke pekerjaan karna tidak ingin pekerjaannya terbengkalai dan di anggap tidak profesional.
--✿✿✿--
Malamnya Luz bertemu dengan Mireya untuk curhat. Karna sudah tidak tahu lagi bagaimana. Pulang ke rumah pun rasanya enggan, pergi pun tidak tahu harus kemana.
“Banyak kok influencer, artis dan orang di luar sana hamil di luar nikah tapi masih pake akal sehat. Jadi singgle mom, besarin anaknya sendiri. Selagi niat lo baik, jangan takut bakalan di hakimi. Yang jelas lo harus beneran berubah. Kasian nasib anak lo, kata dokter juga bener. Kalo emang lo bener-bener mau bertahan, lo kasih dia kehidupan yang baik dan tubuh yang sehat, jangan bikin dia nyesel lahirnya berkali-kali lipat. Udah gak ada bapak, cacat lagi. Itu bakalan bikin dia di ejek habis-habisan.”
Benar kata Mireya. Luz merenung. “So gue harus kasih dia nutrisi yang cukup biar dia lahir tanpa kekurangan apapun. Sehat tentunya.”
“Kalo lo gak sehat selalu stres bayi lo bakalan kena masalah, kayak berat badan kurang. Tumbuh kembangnya lambat. Emang lo gamau minta tanggung jawab? Ini gak adil banget.”
Luz mengaduk matcha miliknya. “Bukan enggak, tapi gamau maksa orang yang gamau aja. Nyawa gue taruhannya juga. Lagian dia ternyata mau nikah. Kurang ajar banget, abis hamilin gue, nikah nya sama cewek lain.”
Mireya menepuk keningnya. “Lain kali jadi cewek jangan dongo sama polos amat deh. Banyak cowok bejat berkedok malaikat.”
“Gue dari awal udah sepakat, jadi gak kaget atau sepanik itu. Kita udah terbiasa bicara baik-baik soal apapun, gue suka ketenangan kalo di usik ya gue baku hantam kek si Devan tapi. Ya hiburan gue emang DJ atau gak dangdut, suara kendang kane banget cuy.”
Luz tertawa yang kadang ia juga bingung apa yang barusan ia bilang, jadi mikir lagi.
Luz menjauhkan gelasnya. “Sama cowok lo gimana? Yang mana sih? Liat coba, siapa tau ntar kalo gue di luar liat dia sama cewek lain bisa gue laporin ke lo. Jangan takut gue embat, gue gak bakat jadi pelakor.”
“Ntar deh, gue lagi males bahas dia. Alasannya sibuk mulu, sampe gak ngabarin udah lama banget padahal kangen. Mau gue susulin, tapi jadwal gue gak kalah padat. Udah malem, gue balik dulu ya. Lu jangan lupa jaga kesehatan jangan sampe ponakan gue kenapa-kenapa, cukup bapaknya aja yang gila sama emaknya haha.” Mireya langsung tos tangan dan pergi.
Luz pun duduk menikmati malam, ia memakai cardigan rajut berwarna peach, jadi tidak terlalu dingin. Harusnya sih ia istirahat lagi, tapi gabut di kost an. Apa mungkin ia pulang saja? Tapi males berdebat, energinya benar-benar habis mungkin beberapa hari ke depan ia akan pulang. Pas mamanya juga pulang, sekalian meminta maaf.
Dimana hari itu tiba, tiap sore pulang kerja Luz suka ngecek ke rumahnya. Masih kosong. Dan hari itu, Minawari sudah pulang dan duduk di kursi roda entah apa yang terjadi lagi padanya.
Luz di tatap tidak suka oleh Devan.
“Beneran gatau diri lu?” Devan memutar bola matanya. “Bantu ngerawat kagak ada, jenguk juga.”
Dahi Luz mengerut. “Lah... lah... tunggu bukannya lo pada ngelarang gue ketemu mama? Sampe gue di usir dari RS kek maling. Mau di taro dimana muka gue?!”
“Bacot.”
“Sumpah playing victim banget lo jadi cowok Devan!” Luz tersulut emosi hendak menghajarnya lagi tapi menahan diri. “Gue kesini bukan mau ribut sama lo, cuman mau liat kondisi nyokap gue.”
Luz melangkah masuk, mencari mamanya yang terbaring ringkih di tempat tidur dan agak kurusan. “Mama maaf.”
Baru saja bersimpuh, Erwin menarik Luz menjauh. Hingga sikutnya terbentur ujung nakas. “Mina gak butuh lu.”
“Tapi ayah, aku mau jagain mama,” katanya lirih.
Erwin malah mengusir Luz bahkan enggan melihatnya. “Bukannya mau lu pergi mulu dari rumah, gak betah? Sekarang silahkan pergi kemanapun lu suka. Kita gak butuh anak sialan kek lu.”
“Maksud Ayah? Ayah ngusir aku?”
Erwin tidak menjawab. Malah meminta Devan menyeret Luz pergi. Luz memberontak meneriaki mereka.
“Gue tau gue salah, tapi tolong jangan gini. Hargai keputusan gue, apa yang kalian mau emang?!”
Devan membekap mulut Luz dan mendorongnya keluar lalu mengunci pintu. Tidak membiarkannya masuk.
“Luz mana?” ucap Minawari lirih di sela kesadarannya, kondisinya masih melemah. “Mama denger suara dia nangis, kenapa?”
Erwin mengalihkannya. “Mama salah denger, udah gausah di pikirin anak itu. Maunya dia selalu pergi dari rumah, biarin dia tau rasanya jauh dari kita.”
Terdengar Luz menggedor pintu dan kaca meminta di buka pintunya tapi Devan tidak peduli.
Minawari beranjak dan menoleh ke sekitar. “Suara berisik apa itu? Luz? Sayang....”
“Udah biar ayah yang cek, mama tiduran lagi aja.” Erwin keluar kamar dan meminta Devan membuat Luz diam.
Devan membuka pintu dan menghampirinya. “Minimal gausah ganggu bisa?”
“Gue cuman mau ketemu mama! Jahat lo Van!”
“Lo lebih jahat.”
“Mau lo apa sih hah?”
“Bilang sama gua sapa bapak anak lu anjing?!” Devan membentaknya. “Minimal dia tanggung jawab sama lu, biar gak jadi beban kita lagi. Kalo emang dia kagak mau tanggung jawab, aborsi aja, biar aib beres.”
Luz mengepalkan tangan. “Gue masih punya rasa kemanusiaan gak kayak lo gelo.”
...--To Be Continued--...