"Gue tegasin sekali lagi sama lo, jangan sampai identitas gue kebongkar! Kalau satu orang saja tau siapa gue sebenarnya, gue nggak akan segan-segan untuk ngebunuh lo Clara! dan mulai hari ini, lo harus jadi pacar gue, gue nggak terima penolakan!!! So, deal or dead?" Ucap Daren sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Nazhifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bismillahirrahmanirrahim.
•••
"*Please! Heal Me*! "
•••
Clara Pov
"Mau ngapain lo kesini?" tanyaku pura-pura cuek. Padahal dalam hatimah seneng banget.
"Gue lapar"
"Lah terus hubungannya sama gue apa?"
"Temenin gue makan!" pinta Daren se-enaknya.
Aku terdiam mendengar ajakannya, kalau saja tidak mengingat gengsi, mungkin aku sudah berteriak tidak jelas karna saking bahagianya.
"Ayok, nggak usah sok mikir, gue tau sebenarnya lo memang pingin jalan berdua bareng gue kan?" ucapnya kepedean, meskipun ada benarnya.
"Eh s-siapa juga yang mau jalan bareng lo, g-gue terpaksa ya, soalnya kan lo psiko!" elakku cepat.
Mendengar ucapanku, Daren hanya tersenyum tipis sambil terus membawa tanganku kearah mobilnya. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Loh kan tadi lo bilang mau makan, kok malah ke danau?" ucapku heran karna Daren malah membawaku ke tepi danau.
"Ya mau makan lo lah, makanya gue bawa kesini" ucapnya santai yang membuatku bergidik ngeri.
Dan sontak saja aku langsung mundur perlahan, namun baru saja aku ingin kabur, Daren malah menarik tanganku kuat dan membawaku kedalam pelukannya.
Seketika aku terpaku, aku tidak tau harus berbuat apa, jujur aku menyukai posisi seperti ini, karena aku dapat mencium aroma tubuhnya yang membuatku semakin jatuh cinta padanya.
"OMG reen, lo kenapa sih hobi banget bikin hati gue keteteran gini?" ucapku dalam hati sambil tersenyum lebar.
"R-ren lo kenapa sih?" ucapku pura-pura ingin melepaskan pelukannya.
"Udah, diam bentar, gue pingin kayak gini dulu" ucapnya serak yang membuat pipiku semakin merah merona.
Setelah sepuluh menit menit berlalu, akhirnya Daren melepaskan pelukannya.
"Thanks" ucapnya lembut.
"Sama-sama" balasku pura-pura ketus.
"Terus kita ngapain sekarang?" tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Padahal aku ingin sekali bertanya apa maksudnya melakukan itu tadi padaku, apa dia tidak tahu kalau jantungku hampir saja copot gegara perlakuannya tadi, ish memang laki-laki sama saja, suka banget bikin orang baper.
"Emm ra, duduk sini!" pintanya sambil menepukkan tangannya ke arah bangku yang berada disebelahnya.
"Menurut lo, sifat pshyco gue ini bisa hilang nggak sih?" tanyanya yang membuatku sedikit kaget.
"M-maksud lo?" tanyaku kaget.
"Yaa gue pingin aja sifat pshyco ini hilang dari diri gue ra, gue capek harus berbohong terus, dilain sisi gue pingin berhenti ngebunuh, tapi nggak bisa, karena naluri pshcyo gue slalu ingin ngebunuh. Dan gue nggak bisa nolak, karena gue juga seneng ngelakuinnya." Daren menjelaskan sambil termenung.
"Emm sorry ren, gue tau niat lo baik, tapi untuk sekarang, gue nggak bisa ngasih solusi seperti apa, soalnya ini mendadak banget buat gue, terlebihagi, gue nggak ngerti soal psychopath, ini pertama kali nya buat gue", ujarku pelan merasa tidak enak hati.
"Santai saja, gue bakal tunggu sampai lo bisa kasih gue solusinya ra." Ia tersenyum lembut, lalu tiba-tiba langsung menggenggam erat jemariku.
"OMG, bisa pingsan mendadak gue kalau kayak gini ceritanya" batinku Frustasi.
"Lo tau ra, malam besok gue sama Dicky bakal ngebunuh seseorang, gue sebenarnya pingin nolak, tapi seperti yang gue bilang tadi, gue nggak mampu nolaknya" imbuhnya lagi sambil tersenyum getir.
"Ngebunuh, bareng Dicky??" tanyaku kaget.
"Hehe lo belum tahu ya kalau Dicky juga psycho, tapi lo diam-diam saja, jangan sampe Dicky tau, kalau lo udah tau siapa dia sebenarnya!" ancam Daren.
Aku langsung berdecak, "Kalau sudah soal gini aja langsung galak-galak, main ancem, iya iya gue nggak bakalan bocorr!!" ucapku sedikit kesal.
"Jangan kesal gitu dong sayang, tambah cantik tau jadinya," Daren menggombaliku dengan ide recehnya itu.
"Nggak usah modus deh, gue tahu nih cowok-cowok zaman sekarang kan banyak modusnya doang" ujarku kesal, lalu dia terkekeh pelan.
"Ya sudah, lupakan dulu itu, sekarang gue minta sama lo jangan bongkar misi gue ke siapa-siapa ya?" Daren menatapku intens.
"I-iya, gue nggak bakalan bocor, tapi kayaknya jangan deh ren, kalau ketahuan atau aksi kalian tercium sama polisi gimana??" tanyaku takut.
"Itu mah gampang, gue sama Dicky sudah sediain tempat yang jauh dari peradaban buat ngebunuh dia ra," ucapnya santai.
"Sumpah ya lo bener-bener nyeremin! Gue angkat tangan deh kalau soal beginian, nggak sanggup gue dengernya" entah kenapa aku semakin kesal jika mendengar rencannya itu.
"Ya sudah sekarang kita ke cafe yuk, gue beneran laper sekarang" ucapnya sambil kembali menarik tanganku sembarangan.
••••
Ada yang masih baca? 😅
••••
Makasih buat yang sudah mau baca dan coment, see you next chapter ♥
••••
salam hangat
suci nazifah
Menurut gue psikopat itu lebih suka ke wajah&suara kesakitan korbannya, bukan cuma pen bunuh doang. Tapi mereka punya keinginan liat muka orang takut, gituuuu...
sumpah gakk niat buat cerita ini author
padahal ceritanya bagus banget😫😫