NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Si Cupu

Sugar Daddy Si Cupu

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:317.9k
Nilai: 5
Nama Author: KOHAPU

"Apa aku memakai pengaman?" Satu kalimat dari seorang kapten mengacak-acak rambutnya frustasi.

Yang ada diingatan terakhirnya hanya menghabiskan satu malam dengan seorang wanita yang cantiknya bak bidadari. Wanita yang meminta bayaran untuk menjual keperawanannya.

"Apa aku pada akhirnya harus menikahi seorang bocah!?" Teriaknya frustasi.

***
Di tempat berbeda, seorang siswi SMU tidak sabar rasanya menunggu jam pulang sekolah hanya untuk mendapatkan bayarannya.

Seperti kata salah seorang temannya, memiliki Sugar Daddy yang dapat membelikan apapun.

"Sugar Daddy-ku yang tampan, aku ingin smart phone, aku ingin laptop dan biaya kuliah, aku juga ingin sepatu baru, juga membayar hutang ke kang cilok 25.000..." Batin si cupu membayangkan 35 juta yang akan didapatkannya.

Tapi bagaimana jika hidup tidak sesuai anggapannya? Bukannya uang, Sugar Daddy-nya memberi cincin untuk melamarnya?

Cinderella termalang abad ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Circle

Seperti biasanya, dirinya turun dari bis, jarak antara sekolah dan rumahnya sekitar satu kilometer. Tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu dekat.

Perutnya hari ini benar-benar terisi, wajahnya yang terkena debu polusi, lumayan berminyak, tidak lupa juga suasana bis yang padat.

Menghela napas kasar entah apa yang akan terjadi hari ini. Baru kemarin dirinya memeriksakan kandungannya, ada anak yang berkembang diperutnya. Sejujurnya, remaja itu takut, benar-benar takut dengan apa yang akan terjadi padanya.

Kala sampai di depan gerbang beberapa siswa melirik ke arahnya, bagaikan ada yang aneh dengannya.

"Apa kutuku yang mati karena alat catok hidup lagi?" Itulah yang ada diotaknya, sembari mengelus perutnya sendiri. Tidak terlihat sama sekali. Perutnya masih datar bagaikan landasan pacu pesawat. Memang dasar pilot sialan, yang membuat dirinya mengandung di usia muda.

Kasak-kusuk kembali terdengar.

"Katanya jual diri, sampai hamil."

"Apa!? Gila! Mungkin dia ingin menjerat Abdi karena terlanjur hamil!"

"Sudah muka minyak jelantah, ditambah murahan. Lengkap sudah."

"Stt! Bisa saja cuma issue, lagipula muka minyak jelantah sepertinya, dikasih gratis, bonus dua odol juga bakal ditolak."

"Iya juga ya? Hoax!"

Jantungnya berdegup cepat, hamil? Bagaimana berita ini bisa tersebar. Jujur dirinya benar-benar gemetar saat ini. Salah tingkah hingga berusaha tidak menyentuh perutnya sama sekali.

Bagaimana jika beasiswanya dicabut? Itulah yang ada dalam otak Driella saat ini. Masa depannya benar-benar hancur.

Plak!

Plak!

Plak!

Telur dilemparkan oleh Santi, sedangkan Rima menyiramnya dengan tepung. Mari kemudian berteriak."Dasar kotor! Demi uang berbuat apa saja. Aku jadi takut membawa ayahku ke sekolah. Takut kamu menjual diri pada ayahku!"

Suara tawa terdengar dari mulut geng Marimas sachet, menertawakan dirinya. Tapi ada juga orang tidak tahan melihat semua ini. Tentu saja pembela kebenaran dan keadilan anak kelas sebelah Eri, juara dua umum yang biasanya menjadi saingan Driella mendapatkan beasiswa.

"Berhenti! Atau aku panggil pak Agung!" Ucap anak murid kesayangan guru matematika paling galak.

"Eri! Jangan ikut campur! Dia itu pelakor yang sering menjual diri! Bahkan dia sedang hamil!" Teriak Mari.

Driella tertegun, orang yang paling netral di sekolah ini, sekaligus paling ditakuti anak-anak bandel. Eri berpihak padanya? Eri, anggota OSIS seksi perpustakaan. Wajahnya tidak jelek, bisa dibilang cantik walaupun tidak secantik Niar. Juara umum kedua, sedangkan juara umum pertama adalah Driella.

Termasuk siswi yang paling ditakuti. Karena aura membunuhnya yang kuat, jika ada yang macam-macam padanya maka penghapus papan melayang ke kepala. Itulah Eri.

"Punya bukti? Ada video Driella sedang bercinta? Ada catatan bukti kehamilannya!?" Tanya Eri percaya diri."Ayahku jaksa, mau aku memintanya menuntutmu, atas pencemaran nama baik?"

Pertanyaan yang membuat geng Marimas bungkam. Sedangkan siswa-siswa yang menonton bibirnya terkatup. Tidak berani bicara apapun lagi.

"Berlutut dan minta maaf padanya!" Bentak Eri tegas. Jika sudah dalam mode sangar wanita bar-bar ini benar-benar mengerikan.

"A...aku minta maaf!"

"Aku salah!"

"A...aku ..."

Santi yang berucap ragu, tertegun kala penghapus papan andalan Eri hampir menyasar mengenai wajahnya. Jarak 2 sentimeter, Eri yang biasanya pendiam benar-benar murka kali ini.

"Aku apa? Kamu ingin jalan-jalan ke ruangan guru? Mau pak Agung yang menangani mu sendiri?" Tanya Eri tersenyum.

"Aku minta maaf!" Teriak Santi.

"Ke kamar mandi sekarang! Masing-masing lepas rok, kemeja dan sepatu kalian. Pakai seragam dan sepatu Driella yang kotor. Jika tidak mau, aku seret kalian ke ruang guru."

Gila! Satu orang wanita membuat semua orang bungkam. Bahkan Niar yang hendak bergabung membully Driella mengurungkan niatnya. Jika monster yang jarang muncul ini tiba.

"Driella! Ikut aku!" Ucap Eri tidak terbantahkan.

"Keren!" Driella mengacungkan dua jempol untuknya.

"Kalian juga! Marimas sachet! Ikut aku!" Eri menatap tajam ke arah mereka.

*

Dan benar saja, siapa yang pada akhirnya dibully? Tentu saja geng Marimas.

Driella keluar menggunakan kemeja milik Mari, rok milik Rima, dan sepatu milik Santi. Rambut dan wajahnya baru saja dicuci dan dibantu dibersihkan oleh Eri.

Geng Marimas melangkah keluar dengan sebagian pakaian yang kotor berteriak."Eri sialan!" Sebuah teriakan penuh dendam. Tapi sayangnya tidak berani balas dendam, takut dengan juara dua umum yang bahkan dapat berteman dengan guru matematika paling galak.

*

Sedangkan Eri tengah mengikat rapi rambut Driella. Wajahnya tersenyum, kala mendapati sang juara satu umum sekaligus ketua kelas sebelah, Driella begitu cantik. Seragam yang jauh lebih baik, serta rambutnya yang ditata diikat satu ke atas penyebabnya. Serum pembersih yang dibawa Eri menyempurnakan segalanya.

"Ke... kenapa menolongku?" Tanya Driella kala mereka duduk di bangku area belakang sekolah.

"Entahlah, hanya saja tuduhan mereka terlalu konyol. Menjual diri dan hamil di luar nikah? Gila! Apa mereka mengalami delusi? Kamu belajar mati-matian, mencari perhatian guru untuk mendapatkan beasiswa. Tidak mungkin---" Kalimat Eri yang tengah mengigit roti terhenti kala Driella menyelanya.

"Aku memang hamil!" Ucap Driella menangis pada akhirnya.

"Hah?" Eri menghentikan kunyahannya. Mulutnya terbuka, masih dipenuhi dengan sari roti.

"Begini, ayahku sakit ada tunggakan pembayaran asuransi kesehatan. Kakakku terjebak hutang dan uang pendaftaran kuliah, uang ujian..." Driella tertunduk, masih terisak ketakutan, bagaimana jika dirinya dihujat.

Tapi di luar dugaannya. Eri kembali mengunyah rotinya."Kenapa tidak bilang padaku saja? Asalkan kamu mengembalikan uang kurang dari satu tahun, aku bisa meminjamkannya tanpa bunga."

"Tapi---" Kalimat Driella kembali disela.

"Ayahku jaksa, ibuku dokter kandungan. Kehidupanku sempurna bukan? Tapi tidak juga, saat pulang tidak ada orang di rumah. Mereka bekerja, saat pulang bertengkar. Jadi aku fikir kehidupanmu lebih baik daripada kehidupanku. Ternyata sama buruknya." Eri tersenyum pahit, lagi-lagi sari roti dikunyah nya, tidak lupa menikmati teh pucuk harum.

"A...aku lebih buruk, karena itu aku melakukan kesalahan." Driella menitikkan air matanya.

Orang yang hanya bertemu dengannya jika ada kompetisi bidang akademis, itulah Eri. Berbeda kelas membuat mereka hanya saling mengenal sekilas. Tapi ada yang bilang orang pintar juga memiliki circle pertemanan bukan?

Ada beberapa anak lagi, Supra, Jordi, Alba, Mindi. Mereka berenam, termasuk Eri dan Driella, biasa dipanggil jika ada kompetisi mata pelajaran yang sulit. Jangan fikir jika hanya anak geng saja yang memiliki circle pertemanan.

Anak-anak pintar juga memilikinya. Tapi karena kebanyakan introver mereka jarang bertemu.

"Begini, jika kamu belum melakukannya itu adalah lumpur kotor. Tapi jika kamu sudah melakukannya itu adalah tanah subur. (Hal buruk yang hendak dilakukan adalah dosa, tapi jika sudah terjadi berusahalah berfikir positif untuk memperbaikinya)." Kalimat yang membuat Driella tersenyum, kemudian menangis di pelukannya.

"Aku harus bagaimana!? Apa aku harus meminta pertanggungjawabannya?" Tanya Driella padanya.

"Minta sekali sebagai wanita yang memiliki harga diri. Tapi jika dia tidak mau, lupakan saja! Aku akan membantumu menyembunyikan semuanya, sampai kita lulus. Setelah lulus, lebih baik menjadi singel mother terhormat, daripada mengemis pada pria yang tidak mencintaimu. Mengerti?"

Wajah Eri tersenyum, tipikal wanita yang masa bodoh, itulah Eri. Melakukan segalanya dengan cara yang benar dan lurus. Hingga tidak ada satu orang pun yang berani mengganggunya.

Bahkan anak mantan anggota dewan pernah terkena penghapus papan andalannya.

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Reika, menatap dingin ke arah mereka.

"Bermain gundu." Hanya itulah jawaban Eri masa bodoh.

1
✨Susanti✨
ceritanya bagus, buat pembelajaran ya adek-adek reader
✨Susanti✨
baguss
✨Susanti✨
/Grin//Grin//Grin//Facepalm/
✨Susanti✨
semoga ga bakal jadi pelakor
✨Susanti✨
adik-adik reader ini buat pelajaran ya
✨Susanti✨
iklan lewat
✨Susanti✨
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
✨Susanti✨
🤣🤣🤣🤣
✨Susanti✨
pelakor part 2
✨Susanti✨
aku kira perempuan anaknya
✨Susanti✨
ketemu temen duel
✨Susanti✨
driella terharu, karna ada orang ya masih menghargai n menghormati keluarganya
✨Susanti✨
hajarrrt
✨Susanti✨
Waktu mendisiplinkan pelayan
✨Susanti✨
lah ketemu pelayan yg pernah ngusir dia
✨Susanti✨
ini briella paling ya
✨Susanti✨
ayo tunjukan sat
✨Susanti✨
ayah sama kakak sayang briella
Nunung Elasari
karya yg bagus ......
bakpao
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!