Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.
Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.
Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9-Kasmaran
“Iya sih, aku akui penampilanku dulu buruk banget. Bahkan, foto-foto aku nyampe viral, mungkin Kakak juga tahu.”
Episode 9-Kasmaran
Lagi-lagi, Jelita tersenyum. Matanya kembali menatap Reza yang masih mempertahankan tundukan kepalanya. Gadis itu merasa gemas, sebab tingkah Reza memang membuatnya sangat ingin mencubit. Terlebih, pada kedua pipi gembul pria itu. Bagi Jelita, sudah seperti dua buah squishy saja.
Tatapan Jelita lagi-lagi membuat Reza tak bisa bergerak, bahkan merasakan kaku hampir di sekujur badan. Namun, jantungnya semakin berdebar tidak keruan. Sikap pria itu tak lagi tegas, seperti saat menghadapi sidang. Ia benar benar seperti siput, bahkan siput tengah kelaparan.
“Kak!” ucap Jelita lantang, tidak peduli dengan mulut yang telah terisi makanan.
Reza menggeragap. “I-iya, Jel?” balasnya.
“Kenapa sih, enggak mau lihat aku dari tadi? Kakak geli sama aku, atau bahkan jijik?” Bibir Jelita mengerucut, dengan maksud tengah muram sebab sikap pria di hadapannya itu.
“B-bukan begitu, Jeli, aku hanya ....”
“Ya udah, lihat aku dong, Kak!”
Reza mengembuskan napasnya perlahan. Melihat wajah gadis di hadapannya, meski terbilang sepele, tetap sulit baginya. Wajah Jelita akan semakin membuat jantungnya semakin berdegup tidak menentu, terlebih kedua mata hitam milik gadis itu.
Jelita menghela napas, ngambek. Meski sebenarnya hanya pura-pura saja. Ia hanya ingin Reza menatapnya, lebih lama bahkan jika bisa menyukai dirinya. Suka? Gadis itu tersentak atas keinginan hatinya sendiri.
Apa yang gue pikirin?
Dengan hati penuh tanya, Jelita kembali melirik wajah Reza. Senyumnya kembali menghiasi bibir pink miliknya.
Kak Reza emang gemesin, batin Jelita. Sedangkan kedua tangannya menghentikan kegiatan makan, dikepal dan menopang wajahnya di atas meja.
“Kenapa sih, Jel?” tanya Reza, menyadari gadis itu memperhatikan dirinya dengan mesem-mesem.
“Kak?”
“Ya?”
“Jeli boleh minta sesuatu enggak?”
Reza memberanikan diri mengangkat kepalanya. Tatapan matanya kini ia upayakan untuk menatap gadis itu. Benar, jantungnya semakin berdebar tidak keruan. Reza salah tingkah, bahkan dengan pipi berona merah.
“Minta apa?" tanya Reza kemudian.
“Aku ....” Jelita berdiri.
Membuat Reza terkesiap, sekaligus bertanya-tanya perihal apa yang akan dilakukan gadis itu.
“Boleh ya, Kak?” Kembali Jelita tanya pengacara muda di hadapannya.
“Boleh apa dulu?”
“Mm ....” Jelita sedikit merunduk. Lalu, kedua tangannya mengulur ke depan. Dan ... ia mencubit kedua pipi Reza dengan raut wajah gemas. “Uuuh! Aku gemes banget sama pipi, Kakak!”
Reza melongo, kedua matanya membelalak tak berkedip dalam beberapa saat. Ulah Jelita sukses membuatnya terkesiap, bahkan tidak habis pikir. Beberapa detik kemudian ia baru tersadar, seiring rona merah jambu yang menghiasi sekujur wajahnya, juga telinga.
Melihat respon Reza, Jelita sontak tertawa. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun pada dirinya. Rasa gemas yang memang sudah ada, kini semakin bertambah. Jika diperbolehkan, maka ia ingin mengulanginya lagi, mencubit kedua pipi gembul pengacara muda itu. Sayangnya, Jelita sudah ciut nyali, bahkan saat ini meski mampu tertawa, ia tetap was-was terhadap emosi Reza.
“Kak ... marah, ya?” tanya Jelita setelah mendapati Reza tak kunjung tersenyum.
Reza menatap gadis itu. Ia sedikit mendengkus.
Jelita tersentak sebab dengkusan Reza, pria itu pasti kesal terhadapnya. Kali ini, ia sangat menyesal telah berbuat yang tidak sopan. Terlebih, pada bagian fisik pria itu. Benaknya teringat masa lalu, di mana kedua pipinya setara dengan pipi Reza saat ini. Jelita telah salah langkah, bagaimana jika ulahnya akan dinilai sebagai bentuk bully?
“Maafin Jeli, Kak. Jeli udah enggak so—“
“Kamu gemes sama aku?” sahut Reza sebelum ucapan Jelita selesai.
Gadis itu berangsur menunduk, dengan raut wajah teramat menyesal.
Namun, Reza justru tersenyum. “Enggak apa-apa, Jel.”
Mata sang designer muda terbuka lebar, bahkan senyumnya. “Kak Reza maafin aku?”
Reza mengangguk pelan. “Iya, aku sendiri juga sering gemes sama pipiku sendiri. Aku pikir, kamu justru geli sama pipiku ini. Jadi, ... tadi sempet kaget.”
“Enggak! Aku enggak geli, aku suka, Kak!”
Dahi sang pengacara muda mengernyit. “Suka?”
“Aaah ....”
Tidak seperti tadi, yang heboh sendiri, kali ini Jelita salah tingkah. Ia merutuk dirinya sendiri, atas perkataan berikut suka yang ia lontarkan. Jelita menganggap dirinya layaknya wanita penggoda, padahal hanya untuk dua pipi pria itu saja. Namun, apakah Reza akan mengerti?
Sementara, di pihak pria, perasaan gugupnya berangsur hilang. Kini justru senyum yang sering mengembang. Tak hanya Jelita saja yang merasa gemas, juga dirinya terhadap tingkah polah gadis itu. Terlebih, ketika kata suka justru meluncur tanpa beban dari bibir manis milik sang gadis.
“Suka yang gimana, Jel?” tanya Reza penuh selidik, dengan arti menggoda.
“Anu ... i-itu.” Jelita menggeragap detik itu juga. Sulit baginya untuk mencari sebuah jawaban yang pasti.
“Hahaha ....”
“K-kenapa Kakak tertawa?” Dahi Jelita mengernyit, seiring rasa kesal sebab tawa Reza yang membuatnya semakin kewalahan.
“Kamu lucu, ya, ternyata.”
“Benarkah?”
Reza mengangguk pelan. “Mm ... aku juga gemes sama kamu.”
“Hmm ... sejak kapan? Dari pagi tadi, Kak Reza terus menunduk dan enggak mau lihat aku. Bahkan, kesannya geli sama aku.” Jelita mendesis. “Iya sih, aku akui penampilanku dulu buruk banget. Bahkan, foto-foto aku nyampe viral, mungkin Kakak juga tahu.”
Reza berdeham. Hatinya seolah dipenuhi oleh bunga-bunga mawar tanda kasmaran. Tingkah pola Jelita perlahan ia cermati. Baginya, gadis itu memiliki keunikan sifat tersendiri. Tadinya, ia cenderung salah tingkah dan gugup karena menganggap gadis itu sebagai sosok yang elegan. Namun, beberapa saat yang lalu, gadis itu bersikap layaknya bocah kecil yang tengah mencari perhatiannya.
Binar mata Jelita menyiratkan sebuah kejujuran berikut kelembutan. Kendati, tipikal gadis yang ceplas-ceplos dan cenderung seenaknya saja, kedua sifat itu begitu lekat ada pada dirinya. Itu yang saat ini ditangkap oleh mata Reza terhadap diri Jelita. Juga, perasaan kagumnya karena Jelita berhasil menuai banyak pujian berkat diet beberapa tahun yang lalu. Bahkan, ketika gadis itu masih gemuk saja, bagi Reza gadis itu tetap imut.
“Ah! Kak, udah jam tujuh, Kakak enggak berangkat? Makanannya belum habis itu,” ucap Jelita, matanya menatap piring Reza yang masih terisi penuh dengan nasi berlauk tempe orek dan telur dadar.
“Jel, sebenarnya aku tadi udah makan pagi lho,” jawab Reza.
“Hmm? Kenapa enggak ngomong, tahu gitu aku enggak paksa Kakak temani aku sarapan. Habis, aku gemes Kakak diem aja.”
“Aku, ... aku enggak PD. Apalagi kalau jalan sama kamu, kayak beruang sama marsha imut.”
“Hahaha ... ada-ada aja. Jangan gitu, Kak, Jeli cuma mau berteman lebih dekat aja sama pengacara. Nah, kalau udah dekat, kalau Jeli tersandung masalah bisa minta jasa Kakak dengan gratis, ‘kan?”
Samar, kerutan di dahi Reza mendadak muncul. “Jujur banget sih, Dek? Lagian, kamu ‘kan nona muda, masa’ mau minta jasa gratisan?”
“Mau nona muda atau miskin sama aja, Kak, kalau gratis kenapa enggak? Dan yang kaya itu papaku, bukan aku, Kak. Aku nanti, kalau rancanganku jadi kelas dunia bahkan melebihi dior dan channel!”
“Dasar! Ya jangan sampai ada masalah, Jel. Amin, kakak aminkan semua yang kamu inginkan.”
Tawa mereka kompak menggema. Menceritakan perihal keinginan Jelita, bagi Reza sesuatu yang sangat berharga, ia bersyukur bisa mendengar itu langsung dari bibir Jelita. Menjadi sebatas teman pun tak apa, selama bisa dekat bahkan menemani setiap langkah gadis yang ia puja. Toh, jodoh tidak ada yang tahu, Reza akan menanti dengan setia setiap ketetapan dari Tuhan sang maha pencipta.
****
Hai, Guys. Visual buat Reza siapa ya cocoknya? Artis lokal saja, yang gembul tapi tetep gemesin.
Kalau Jelita aku sih pakenya Park Bo-young. Soalnya dia imut, agak chubby. Jawab ya? sekalian jejak jempolnya hehehe
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.
bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.