Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Ujian Pertama (Bagian 1)
Auman itu mengguncang udara.
Jantung Leon berdegup semakin cepat. Ia belum pernah mendengar suara binatang sekeras itu. Bukan sekadar keras, tetapi membawa tekanan yang membuat napasnya terasa berat.
Tanah kembali bergetar.
Daun-daun di pepohonan berguguran, sementara kawanan burung beterbangan meninggalkan hutan seolah sedang menghindari sesuatu yang mengerikan.
Leon menelan ludah.
"Apa itu...?"
Lyra tetap berdiri dengan tenang. Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajahnya.
"Musuh pertamamu."
Leon menatapnya tidak percaya.
"Musuh? Maksudmu aku harus melawannya?"
"Tentu."
"Tapi aku bahkan tidak punya senjata!"
"Itu memang bagian dari ujian."
Leon mengepalkan tangan.
"Kalau aku mati?"
Lyra terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Kalau kamu mati di dunia simulasi, kesadaranmu akan kembali ke dunia nyata."
Leon menghela napas lega.
Namun sebelum rasa lega itu bertahan lama, Lyra melanjutkan ucapannya.
"...Tetapi semua hasil latihanmu akan hilang."
"...Apa?"
"Kamu harus memulai semuanya dari awal."
Leon membeku.
Baginya, hukuman itu hampir sama buruknya dengan kematian.
Ia menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tetap tenang.
"Panik tidak akan menyelesaikan apa pun."
Kalimat itu selalu diingatnya sejak kecil. Ayahnya pernah berkata bahwa orang yang masih bisa berpikir saat bahaya datang memiliki peluang hidup jauh lebih besar dibandingkan orang yang hanya mengandalkan keberanian.
Leon mengamati keadaan sekitar.
Padang rumput ini terlalu terbuka.
Kalau monster itu menyerang, ia tidak punya tempat bersembunyi.
Di sebelah kanan terdapat beberapa batu besar.
Di belakangnya terbentang hutan.
Sedangkan di sebelah kiri, sebuah sungai kecil mengalir tenang.
"Aku harus mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata."
Tanpa menunggu lebih lama, Leon berlari menuju kumpulan batu.
Ia mengambil sebuah ranting tebal.
Sekali ayun.
Krak!
Ranting itu patah menjadi dua.
"Terlalu rapuh."
Ia membuangnya lalu mencari yang lain.
Beberapa saat kemudian, ia menemukan sepotong dahan pohon yang sudah mengering.
Panjangnya sekitar satu setengah meter.
Cukup berat.
Namun masih bisa diayunkan.
Leon mencoba menggerakkannya beberapa kali.
"Setidaknya lebih baik daripada tangan kosong."
Lyra memperhatikan dari kejauhan.
Senyum kecil muncul di bibirnya.
"Kamu bahkan tidak berpikir untuk kabur."
Leon tidak mengalihkan pandangannya dari arah hutan.
"Kalau benar tempat ini dibuat untuk melatihku..."
"...berarti cepat atau lambat aku tetap harus bertarung."
"Itu jawaban yang benar."
Getaran tanah kembali terasa.
Kali ini jauh lebih kuat.
Pepohonan di depan bergoyang hebat.
Beberapa batang pohon bahkan tumbang begitu saja.
Leon menggenggam erat dahan kayu di tangannya.
Lalu...
Seekor makhluk keluar dari balik pepohonan.
Tinggi tubuhnya hampir dua meter.
Seluruh badannya dipenuhi bulu hitam kusam.
Kedua lengannya sangat panjang hingga hampir menyentuh tanah.
Mulutnya dipenuhi taring tajam.
Sepasang mata merah menyala menatap Leon tanpa berkedip.
Makhluk itu mengendus udara.
Lalu menggeram pelan.
【Wolf Ape Lv.1】
Tulisan biru muncul di atas kepala monster itu.
Leon mengerutkan dahi.
"Jadi aku bisa melihat level monster..."
Belum sempat ia berpikir lebih jauh.
GRAAAAH!
Wolf Ape menerjang.
Begitu cepat.
Leon refleks berguling ke samping.
BOOM!
Tanah tempatnya berdiri tadi langsung retak akibat pukulan monster itu.
Debu beterbangan.
Leon membelalakkan mata.
"Kalau tadi aku terlambat sedikit..."
Ia tidak berani membayangkan akibatnya.
Monster itu kembali menyerang.
Kali ini cakar kanannya menyapu dari samping.
Leon mengangkat dahan kayunya untuk menahan.
BRAK!
Benturan keras membuat kedua tangannya mati rasa.
Tubuhnya terpental beberapa meter dan jatuh berguling di atas rumput.
Dahan kayu itu retak.
"Sial..."
"Tenaganya terlalu besar."
Wolf Ape kembali menggeram.
Namun anehnya, monster itu tidak langsung menyerang lagi.
Ia berjalan memutari Leon perlahan, seperti seekor predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya.
Leon memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur napas.
Ia sadar satu hal.
Ia tidak mungkin menang jika mengadu kekuatan.
Satu-satunya peluang adalah menggunakan otak.
Matanya menyapu sekeliling.
Batu besar...
Sungai...
Lereng kecil...
Semua itu mungkin bisa dimanfaatkan.
"Tidak mungkin sistem memberiku ujian yang mustahil."
"Harus ada cara."
Di kejauhan, Lyra hanya mengamati tanpa berniat membantu.
Sebagai Administrator, ia memang memiliki kekuatan yang luar biasa.
Namun ada satu aturan mutlak yang tidak bisa ia langgar.
Ia tidak boleh ikut campur dalam ujian pertama seorang pengguna.
Jika aturan itu dilanggar...
Bahkan seorang Administrator pun akan menerima hukuman.
Leon tidak mengetahui hal tersebut.
Yang ia tahu hanya satu.
Mulai saat ini...
Tidak ada siapa pun yang akan menyelamatkannya selain dirinya sendiri.
Wolf Ape tiba-tiba meraung keras.
Lalu menerjang sekali lagi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.
Leon menggenggam erat dahan kayunya.
Tatapannya berubah tajam.
"Kalau begitu..."
"...aku akan bertaruh pada satu kesempatan ini."