NovelToon NovelToon
Really? We Got Married?

Really? We Got Married?

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:297.3k
Nilai: 5
Nama Author: Axelle Axa

Ketika sebuah pernikahan mengantarkan seorang gadis pada kehidupan yang sama sekali tak pernah dia duga.

Suami tampan super sempurna, kehidupan yang mendebarkan, rahasia yang terkuak satu-persatu, dan dendam masa lalu. Semuanya bercampur menjadi satu mengantarkan si gadis pada situasi untuk memilih antara egonya atau hati nurani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axelle Axa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9. Tak Tahu Malu

Lou berjalan cepat kembali ke kemarnya di bagian barat mansion. Dia sepenuhnya mengabaikan Sean yang mencoba memanggilnya beberapa kali. Entah kenapa dia merasa kesal, tapi pikirannya terus menolak.

Sean mengekor di belakangnya layaknya anjing yang patuh. Irina yang masih terduduk di tanah hanya bisa menatap dengan mata merah berair. Dia baru saja membuka mulutnya untuk memulai keributan saat Gayatri memerintahkan dua pelayan wanita maju dan menyumpal mulutnya.

“Irina, kau benar-benar bodoh.” Gayatri menatap Irina dingin. Dia dengan santai melambaikan tangannya dan seorang pria berperawakan besar maju. Dia mengeluarkan pistol dari pakaiannya dan menodongkannya ke kepala Irina. Irina membelalak kaget, dia panik dan mencoba lari. Tapi dia ditahan oleh dua pelayan wanita Gayatri.

Irina mulai menyesali keputusannya untuk datang ke mansion ini. Dia memang menyukai Sean, tapi dia sebenanrnya tidak cukup berani untuk datang kemari. Hanya saja orang itu memprovokasinya dan dia terpancing. Irina sangat menyesal, andaikan dia tak terpancing perkataan wanita itu. Tapi sayang penyesalannya sudah tak berguna di depan moncong pistol.

Pistol itu menggunakan peredam suara, jadi tak ada suara bising saat pria berperawakan besar itu menarik pelatuk. Semuanya berlalu dengan cepat, hanya menyisakan mayat Irina dengan mata terbelalak penuh kengerian.

Gayatri menatapnya dengan tatapan datar dan dengan satu lambaian tangannya, tidak ada lagi Irina di dunia ini! Harit hanya memasang wajah tidak peduli dan segera pergi. Tidak seperti ini kejadian aneh di mansion keluarga mereka.

Lou sudah terlalu jauh untuk tahu apa yang terjadi pada Irina. Jadi dia tak akan tahu bahwa Irina bahkan sudah tak bernyawa dan Gayatri sendirilah dalang atas kematian Irina.

Saat ini Lou sudah sampai di kamarnya, duduk di sofa panjang di dalam kamar, sementara Sean berdiri bodoh di depannya.

“Apa?” Lou bertanya tak sabar.

“Tidak ingin bertanya?” Sean tersenyum lembut, namu itu terlihat sangat bodoh di mata Lou..

“Tanya apa? Seolah aku peduli!” Lou mendengus dan merogoh sakunya mencari ponsel. Namun kemudian dia mengingat, dia mengenakan sari tanpa saku, jadi ponselnya diletakkan di nakas sebelah tempat tidur.

Lou melirik sedikit dan bisa melihat ponselnya di sana. Namun Sean saat ini berdiri tepat di depannya, sepenuhnya menghalangi jalan menuju ke arah tempat tidur.

Lou mengangkat kepalanya dan menatap Sean, sebisa mungkin memasang wajah garang. Namun saat dia melihat wajah tersenyum Sean, dia membeku. Jantungnya berdebar kencang tanpa bisa dia kendalikan.

Lou berdiri dan mencoba bersikap dingin. Dia maju untuk mendorong Sean agar menyingkir dari jalan, namun tak peduli seberapa kuat dia mendorong, Sean seperti gunung ribuan ton yang tak bergerak. Usaha Lou sia-sia dan kini wajahnya memerah, antara marah dan malu.

“Apa maumu?!” Lou berteriak untuk kesekian kalinya, dia bahkan mulai merasa tenggorokannya agak kering. Sayangnya sikap ini diartikan berbeda oleh Sean. Dia berpikir Lou marah dan cemburu. Jadi dia tanpa sengaja tersenyum puas saat menatap Lou. “Sayang, apa kamu cemburu?!” tanyanya penuh harap.

“Dalam mimpimu!” Lou menjawab sepenuh hati. Tapi sekali lagi hal ini disalahartikan.

“Aku tahu, maafkan aku, Sayang.” Sean maju dan merengkuh Lou ke dalam pelukannya.

“Maafkan aku. Aku benar-benar lengah tadi, aku akan menjaga jarak paling tidak tiga meter dari semua wanita mulai dari sekarang.” ujarnya tulus. Lou terdiam, tak tahu harus berkata apa. Dia hanya ingin menjelaskan pada Sean bahwa dia tak cemburu, tapi semakin dia menjelaskan semakin dia terlihat cemburu. Sialan!

“Ku katakan padamu yah, aku-tidak-cemburu!” Lou mecebikkan bibirnya karena kesal.

Sean tersenyum dan mengangguk dengan manis. Dia patuh mengakui Lou tidak cemburu, tapi sikapnya benar-benar membuat Lou kesal.

“Aku serius!” teriak Lou frustasi. Dia mendorong Sean pelan, antara tak berdaya dan putus asa. Dorongan itu sangat ringan. Telihat hangat dan akrab yang bahkan sama sekali tak dia sadari.

“Iya. Aku percaya.” Sean tersenyum dan merengkuh Lou ke dalam pelukannya.

“Aku ingin memukulmu!” Lou mencubit Sean, namun saat dia menyentuh kulit kencang dan berotot Sean dia tertegun. Begitu sulit untuk mencubitnya. Lou buru-buru menarik tangannya dan menghilangkan keterkejutannya.

Lou meneriaki dirinya dalam hati. Kau harus bersikap keras padanya, Lou! Dia manusia tak tahu malu!!

“Dengar ya,” Lou memelototi Sean dengan kejam, “aku tidak peduli dan tidak mau peduli tentang apa yang ingin kau lakukan. Menjaga jarak tiga meter atau bahkan tiga puluh meter sekalipun … AKU-TIDAK-PEDULI!!!”

Lou menyelesaikan ocehannya dengan kepuasan memaki. Dia menatap Sean dengan mata penuh provokasi, sengaja menunggu kemarahan Sean. Tapi orang ini benar-benar mati otak! Selain senyum menyilaukan itu, tak ada hal lain yang terlihat di wajahnya yang sangat tampan.

Sialan! Jangan gunakan wajah tampan itu untuk tersenyum! Itu sangat mengganggu! Lou menggerutu dalam hati, sebagai pecinta orang-orang tampan, sangat sulit untuk menjaga wajah poker dikondisi seperti ini. Sekarang Lou menandai satu hal baru yang perlu diwaspadai pada Sean. Jangan melihat wajahnya yang tersenyum—terlalu menyilaukan!

Sean masih tersenyum, hanya saja saat ini membawa aura bercanda. “Ide bagus sayang. Aku akan menjaga jarak tiga puluh meter dari semua wanita.” Sean berujar dengan percaya diri.

Lou menganga. “Apa otakmu masih di tempat?” Lou mengumpat kesal.

“Orang bilang, mereka yang jatuh cinta tak berotak.” Sean memeluk Lou dan mencuri sebuah ciuman singkat di dahi Lou. Lou tertegun, namun kemudian dia memukul Sean dengan sepenuh hati.

“Apa yang kau lakukan?!” tanyanya dengan wajah lebih garang.

“Aku? Ohh….” Sean menghindari pukulan Lou setengah-setengah, seolah dia memang rela dipukul oleh Lou. Namun kemudian dia menjangkau lengan Lou dan menariknya ke pelukannya.

Lou sedikit kehilangan keseimbangan sehingga dia terhuyung ke arah Sean. Sean menduga ini dan menangkap tubuh Lou, memeluknya dengan erat dan mendaratkan beberapa kecupan seringan bulu di puncak kepala Lou.

Jantung Lou berdebar kencang, dia ingin marah, tapi setiap umpatan, apa yang ingin dia keluarkan kembali tertelan ke tenggorokannya. Karena setiap dia mencoba mengatakan sesuatu, Sean akan mulai menciuminya lagi dan lagi. Lou terdiam. Sialan!

Sean terus menggoda Lou sampai telinganya berdengung karena teriakan Lou. Namun di wajahnya tetap tergantung senyum bahagia. Dunianya benar-benar di penuhi dengan Lou.

Waktu berlalu begitu cepat tanpa mereka sadari. Mereka terus berdebat dan baru berhenti saat pelayan memanggil keduanya untuk makan malam. Tidak tahu sejak kapan dimulai, tapi kontak dekat seperti dorongan dan pukulan pelan kini terlihat biasa dan manis. Lou bahkan sama sekali tak menyadari, bahwa dia tidak lagi menganggap keberadaan Sean sebagai hal yang mengganggu.

Setelah satu malam berlalu, level kedekatan keduanya bertambah satu tingkat dan ini sangar memuaskan Sean. Dia tahu istrinya sangat keras kepala. Bila dia terus menggunakan cara keras untuk memaksakan peran istri pada Lou, maka dia hanya akan menerima pembalasan yang lebih keras lagi.

Jadi Sean hanya bisa dengan sabar mulai berteman dengan istrinya. Melangkah atau pun merangkak menuju hubungan yang lebih dekat. Dia sabar, tentu saja, hanya beberapa hari tak akan sebanding dengan perjuangannya bertahun-tahun. Dia akan sabar.

Sean terbangun saat fajar, dia melihat Lou tidur di sisi terjauh darinya, dia bahkan memunggungi Sean. Sean tersenyum jahil, dia bergerak perlahan ke sisi Lou, kemudian dengan hati-hati menarik gadis itu kepelukannya.

Lengan Sean melingkar erat di tubuh Lou, sedikit bergerak mencari posisi yang nyaman untuk keduanya. Bibirnya sesekali menyapu puncak kepala Lou, mencuri beberapa kecupan singkat.

Sean terus memeluk Lou sambil sesekali memainkan rambut halus wanitanya. Dia benar-benar ingin melihat bagaimana reaksi Lou saat terbangun dalam pelukannya.

Setelah hampir setengah jam berlalu, Sean merasakan sedikit pergerakan Lou. Dia sepertinya mulai terbangun. Sean tersenyum tipis dan menutup matanya, pura-pura tidur.

Lou terbangun dari tidurnya. Sedikit sulit untuk bergerak, rasanya seperti ditimpa beton bangunan. Lou mengernyit bingung, memaksakan matanya terbuka dan kemudian terdiam. Dia melihat kain berwarna abu-abu di depan wajahnya, sepertinya tak asing.

Lou menyentuh ‘kain’ itu, tapi yang dia rasakan sangat solid dan hangat. Seperti …

Lou tersentak dan mendorong ‘kain’ di depan wajahnya seraya bangkit. Benar saja! Makhluk tak tahu malu ini!

Lou melihat mata terpejam Sean dan mencoba menenangkan emosinya. Namun saat dia mendongak dan melihat ¾ sisi kasur yang kosong, dia tak bisa menahan tawa sinisnya yang penuh amarah.

Rasanya sangat ingin menelan orang! Lou menarik napas berulang kali dengan kesal. Sampai akhirnya dia bisa sedikit menenangkan dirinya. Lou menghela napas dan berdiri, berniat membasuh wajahnya. Tapi sebelum dia bisa melangkahkan kakinya, sepasang lengan kuat memeluk pinggangnya erat.

“Sayang, ini masih sangat pagi, mau kemana?” tanya Sean dengan suara serak.

“Kau sudah bangun dari tadi?” Lou bertanya dengan suara tertahan, sepertinya dia menggertakkan giginya.

Sean tersenyum tipis, tapi masih diam. Mengabaikan pertanyaan penuh niat membunuh Lou.

Kesabaran Lou benar-benar diuji akhir-akhir ini dan ini adalah puncaknya. Seseorang sangat sulit mengontrol emosinya setelah bangun tidur, terlebih lagi Lou. Jadi tanpa pikir panjang dia menekuk lengannya dan menariknya ke dapan. Lalu dengan spenuh hati menyentakkannya ke belakang, tepat ke wajah Sean.

Sean menghindar tepat waktu. Dia terkekeh pelan. “Sayang ….” Bahkan sebelum dia bisa mengutarakan permohonan maafnya Lou sudah menarik tangannya yang lain untuk menyerang Sean.

Sean tak punya pilihan selain menghindar lagi. Kali ini dia bahkan harus sedikit mundur dan melepaskan pelukannya di pinggang Lou.

Lou sudah kesal sejak awal dan kini selalu gagal memukul target menjadi semakin gila. Dia berbalik dan naik ke ranjang untuk menjangkau Sean. Sean tertawa sambil menghindar. Lou tak berhenti, dia terus menyerang Sean tanpa ampun. Sedangkan Sean, selain menghindar, dia tak melakukan apapun lagi, ahh kecuali tertawa.

Sekilas mereka terlihat seperti pasangan bahagia pada umumnya.

Setelah semua upayanya sia-sia, Lou menjadi semakin kesal. Dia menyentak tangannya dan berhenti menyerang. Antara malu dan marah, dia berbalik untuk pergi. Namun sebelum dia bisa melangkah seseorang memeluknya dari belakang.

“Sayang, aku salah. Maafkan aku, oke?” Sean berbisik pelan di telinga Lou. Jantung Lou berdebar kencang. Namun Lou tak menggubrisnya, dia berpikir itu hanya reaksi karena dia terus mencoba memukul Sean tadi.

“Dalam mimpimu!” Lou menyikut Sean pelan.

Sean tersenyum lembut, meletakkan dagunya di bahu kiri Lou. “Yang Mulia, pelayanmu salah. Berikan hukuman pada hamba?” Sean berkata dengan nada setengah bercanda setengah serius.

Lou tersedak kata-katanya. Banyak umpatan yang ingin dia katakan, tapi semuanya tertelan kembali ke tenggorokannya. Lalu dia menyeringai dengan kejam. “Ya. Ya. Kau perlu dihukum.” Lou mencebik kesal.

“Lepas!” teriaknya sambil memukul tangan Sean pelan.

“Baik, Yang Mulia.” Sean mengendurkan pelukannya, tapi tidak melepasnya.

“Terserah!” Lou mendorong tubuhnya ke belakang dan menabrak Sena pelan. Dia lalu memilih diam. Dia sadar sia-sia berdebat dengan Sean. Sean memeluknya lebih erat, membuat Lou menyadari dia melakukan hal yang salah.

Sean kembali tertawa. “Sayang, siapa yang mengajarimu beladiri?” Sean dengan sengaja mencium tengkuk Lou, membuat rasa geli aneh menjalar di sepanjang tulang belakang gadis itu.

Lou menggeliat pelan dan tetap bungkam. Dia sama sekali tak berniat menjawab perntanyaan Sean tak peduli apapun.

“Tak mau memberi tahu?” Sean berbisik pelan di telinga Lou, “baiklah, tak apa.”

Sean menarik Lou pelan dan mendudukkannya di pangkuannya. “Teknikmu sangat halus, sepertinya kamu sudah berlatih cukup lama. Itu bagus. Kamu cukup kuat untuk ukuran perempuan. Tapi masih belum cukup kuat untuk melawanku,” ujar Sean dengan seringai nakal.

Lou melirik Sean dengan tatapan yang seolah berkata, ‘oh ya?’. Sean terkekeh pelan.

“Tidak, istriku adalah yang terhebat.” Sean memeluk Lou dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Lou bergerak cepat dan memutar tubuhnya menghadap Sean, mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu—dan gagal. Hal ini justru membuat jarak di antara keduanya menjadi sangat tipis dan Lou merasa jantungnya akan meledak.

Lou menyipitkan matanya waspada. Otaknya mulai memikirkan cara untuk menyerang Sean dan kabur saat tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk.

“Tuan Hilton, tuan ingin bertemu dengan Anda,” ujar suara dari luar.

Lou dan Sean menghentikan pertarungan kecil mereka. Lou tersenyum senang sementara wajah Sean meghitam layaknya pantat panci. Ayolah, tidak mudah untuk bermain dengan istrinya. Ini kesempatan langka, tapi dia harus melepaskannya dan menemui pak tua itu.

1
elfrine hingis
hai kakk! balik baca lagi nih aku di 2025 hihi karna emang sesuka itu 😍

anyway ini aku yang ketinggalan sesuatu, atau lupa, tapi emang disini extra partnya ga ada ya kak? padahal udah nunggu hihihi walopun masih sempet inget sih ending pas di w***pad gimana hihi tp ttp pengen bnget baca lagi sampe akhir skrng apa lagi yg side storynya 🤩 MANGAT TERUS KAKK! TETAP DITUNGGU EXTRA DAN SIDE PARTSNYA DAN DITUNGGU DIPUBLISH HIHI 🤩
Anonim
thor ayo up lagi dong after story nyaaa
Anonim
bagus bangetttt ceritanyaaa! ayo kaaak dilanjut lagi pweasee udah nunggu dari 2021😭😭
Adinda
kakk extra partnya donggg😁😁😁
sakura
...
justFlio
biar bintang berbicara
justFlio
gemessssss bangett..

ceritanya komplit Thor...sedepp bangettt
⭐⭐⭐⭐⭐
Modali Maluku
🤩
Partiah Yake
uhhhh, merasa ikut dicintai🫠
Ayu Lestari
Suka banget ceritanya dari dulu ❤
Faradiba Firdaus
kak extra partnya dongg
sakura
...
Tri Widayanti
Bar bar😁
Amelie. review
aku udah baca ini belasan kali dan ga pernah bosan. sukses terus kak Axa
Izzy
rebirth of the wildest poison empress kok gk sekalian di up di sini kak?
Giana Nanini
😁
gracia_ratih
kerennn
gracia_ratih
wahhhh daebak
gracia_ratih
goooooooooooddddddd
floo
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!