Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PERTEMUAN DI TEMPAT KITA PERNAH TINGGAL
Hujan turun rintik-rintik sejak sore, membasahi jalanan kota yang mulai sepi. Rian pulang dari pertemuan dengan pemasok di kota sebelah, melewati jalan kecil yang tanpa sadar membawanya ke arah perumahan sederhana di pinggiran kota—tempat rumah kecil yang dulu mereka sebut "rumah kita" berdiri. Ia mengerem kendaraannya perlahan, menatap bangunan itu dari seberang jalan. Rumah itu masih sama, catnya sudah sedikit pudar, namun jendela dan pintu kayu itu masih utuh, seolah menyimpan ribuan kenangan yang tak pernah pindah ke mana-mana.
Tanpa disadari, sebuah mobil berwarna hitam elegan berhenti tidak jauh di belakangnya. Pintu terbuka, dan Nadia turun mengenakan payung sederhana, berdiri terpaku saat melihat sosok yang berdiri mematung di depan rumah yang pernah menjadi saksi pernikahan dan perpisahan mereka.
Mereka berjalan mendekat secara bersamaan, berhenti di bawah pohon rindang di halaman depan yang dulu sering mereka duduki bersama. Hujan mulai turun sedikit lebih deras, namun tak ada yang berniat masuk ke dalam kendaraan.
"Aku tidak berniat ke sini," ucap Rian lebih dulu, suaranya tersapu angin pelan. "Jalan saja seolah membawaku pulang... padahal aku tahu, tempat ini sudah bukan milikku lagi."
Nadia menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu, matanya berkaca-kaca terkena butiran air hujan maupun rindu yang tak terelakkan. "Aku juga sering lewat sini. Kadang aku berhenti sebentar, hanya untuk melihat apakah lampu di teras masih menyala seperti dulu. Dulu kau yang selalu menyalakannya sebelum pulang kerja, katanya agar aku tidak takut gelap sendirian."
Kalimat itu membuat hati Rian teriris. Ia hampir lupa hal-hal kecil yang dulu pernah ia lakukan dengan tulus di awal pernikahan mereka—sebelum ambisi mulai merasuki pikirannya dan membuatnya lupa bahwa cahaya yang seharusnya ia jaga justru ada di dalam rumah, bukan di luar sana yang penuh ketidakpastian.
"Maaf..." ucap Rian parau, menunduk dalam. "Maaf karena kemudian aku yang memadamkan cahayamu di sini. Maaf karena membuatmu takut, membuatmu dingin, dan akhirnya membuatmu pergi dari tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagimu."
"Aku tidak pergi karena takut," jawab Nadia pelan, menoleh menatapnya. "Aku pergi karena aku sadar, aku tidak bisa terus hidup hanya menunggu seseorang yang tidak pernah melihatku lagi. Aku pergi agar aku bisa belajar menyalakan cahayaku sendiri."
Mereka terdiam lama, membiarkan hujan membasahi sebagian pakaian mereka. Di antara deru kendaraan yang lewat dan suara air yang jatuh ke tanah, seolah terdengar gema tawa mereka yang dulu riang, tangis yang tertahan, dan keheningan panjang yang menyakitkan di hari-hari terakhir pernikahan mereka.
"Kau ingat malam terakhir kita di sini?" tanya Rian pelan. "Saat aku meletakkan surat itu di meja makan? Saat itu aku tidak tahu, di balik kesederhanaanmu, kau menyimpan masa depan yang jauh lebih besar dari apa pun yang aku impikan. Aku tidak tahu, wanita yang aku usir dengan kasar ini sebenarnya adalah anugerah terbesar yang pernah dikirimkan Tuhan untukku."
Nadia menarik napas panjang, menghirup udara yang sejuk dan berbau tanah basah. "Di hari itu aku berjanji pada diriku sendiri: aku tidak akan pernah kembali ke sini sebagai wanita yang lemah dan rela diinjak-injak. Dan hari ini... aku berdiri di sini bukan untuk mengulang masa lalu, Rian. Aku berdiri di sini untuk memastikan bahwa aku sudah melewatinya, dan aku tidak akan kembali ke belakang."
Rian mengangguk pahit namun penuh pengertian. "Aku tahu. Dan aku tidak memintamu kembali. Aku hanya... bersyukur masih bisa berdiri di sampingmu sebentar, di tempat yang dulu menjadi awal segalanya—yang dulu aku hancurkan sendiri."
Mereka berpisah di sana, masing-masing kembali ke kendaraannya, membawa perasaan yang berat namun lega. Tempat itu tetap berdiri sama, namun mereka yang pernah tinggal di dalamnya sudah berubah sepenuhnya. Nadia kini bukan lagi wanita yang menunggu di rumah dengan cemas, dan Rian bukan lagi pria yang pulang dengan hati penuh ketidakpuasan. Mereka berdua tumbuh—meski tumbuhnya harus melalui perpisahan dan luka yang dalam.
Saat mobil Nadia melaju pergi, Rian masih sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah itu. Ia tahu, pintu itu tidak akan pernah terbuka untuk mereka berdua seperti dulu. Namun setidaknya, kenangan di tempat itu kini tidak lagi hanya berisi kesedihan—ia juga berisi bukti bahwa dari kehancuran bisa tumbuh orang-orang yang lebih bijaksana, lebih jujur, dan lebih menghargai arti kebersamaan, meski harus terlambat menyadarinya.
(Lanjut ke Bab 35?)