NovelToon NovelToon
Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Tamat
Popularitas:159.4k
Nilai: 5
Nama Author: Momoy Dandelion

6 tahun yang lalu, seorang lelaki telah menghancurkan impian Flora untuk menjadi seorang penyanyi. Akibat malam panas yang dilalui bersama lelaki itu, ia hamil dan harus pergi ke luar negeri untuk bersembunyi.

Kini, ia kembali lagi membawa seorang anak laki-laki yang lucu bernama Gavin. Meskipun terlihat seperti anak ceria pada umumnya, Gavin mengidap penyakit langka yaitu Anemia Aplastik.

"Mama, Gavin sakit parah, ya? Apa Gavin akan mati?" Pertanyaan itu keluar dari mulut kecil Gavin dengan kepolosannya.

Mata Flora sampai berkaca-kaca. Ia tidak tega melihat putranya yang harus terbaring di rumah sakit. "Tidak, Sayang. Kamu pasti akan sembuh!" Katanya dengan optimis.

"Mama ... sebelum mati, Gavin mau ketemu Papa. Gavin mau punya Papa," pintanya.

Usianya baru 5 tahun, namun Gavin sudah pandai mengutarakan kemauannya. Kasih sayang Flora yang besar membuatnya memutuskan untuk kembali ke negara yang pernah ia tinggalkan demi mempertemukan Gavin dengan ayah kandungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Jangan Ikut Campur

Alvaro fokus mengemudikan mobilnya melintasi jalanan yang cukup macet saat jam pulang kerja. Beberapa kali ia harus berhenti karena lampu merah. Flora duduk di sampingnya sementara Gavin di kursi belakang tengah sibuk merakit mainan.

"Maafkan saya hari ini sudah terlalu banyak merepotkan Anda, Pak. Apalagi permintaan Gavin juga ada-ada saja," ucap Flora dengan perasaan yang tidak enak hati.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga tidak terlalu sibuk," kata Alvaro.

Flora menoleh ke arah lelaki itu. "Tapi, Anda bukannya mau balik ke kantor? Saya juga jadi tidak enak dengan yang lain. Mereka pasti sedang menunggu Anda."

"Kenapa kamu terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu? Itu urusanku," tepis Alvaro.

"Bagaimanapun juga, Anda masih di sini karena harus mengantar saya." Flora semakin merasa tidak enak hati.

"Aku sudah mengabari mereka kalau aku tidak bisa datang. Jadi, meeting akan dipimpin oleh kepala manajer proyek. Kamu tenang saja."

Flora menjadi sedikit tenang.

"Kamu setiap hari mengantar Gavin sekolah jalan kaki?" tanya Alvaro.

"Iya, Pak. Sebenarnya kalau lewat jalan pintas lumayan dekat. Tapi, tidak bisa dilalui kendaraan."

Kontrakan yang ditempati Flora dan Gavin memang terletak di kawasan pemukiman padat tak jauh dari sekolah dan kantor. Hanya saja, jalan utama harus memutar sehingga terkesan jauh.

"Kenapa kamu memilih membesarkan anakmu sendiri? Di negara ini sulit untuk menerima keadaan sepertimu. Kamu lihat sendiri anakmu di-bully temannya tadi."

"Apa Anda mau menikahi saya?" sahut Flora.

"Apa?" Alvaro tercengang mendengar ucapan Flora. Ia melirik ke spion belakang, untung saja Gavin sedang tertidur.

"Anda sepertinya tiba-tiba peduli dengan kehidupan pribadi saya. Jadi, apa Anda mau bertanggung jawab pada kehidupan saya?" pancing Flora.

Alvaro tertawa kecil mendengar keberanian wanita di sampingnya itu bicara. "Oke, kapan kamu siap aku nikahi?" tanyanya setengah bercanda.

Flora tidak menyangka Alvaro akan merespon demikian.

"Saya sarankan Anda tidak perlu terlalu peduli dengan kehidupan kami. Nanti Anda akan repot sendiri. Apalagi Anda juga sudah punya anak dan istri. Saya justru menjadi tidak enak hati sendiri."

Ucapan Flora begitu menusuk sampai ke hati. Alvaro memang lupa kalau dirinya sudah menikah.

"Kadang saya heran dengan Anda. Dulu Anda bukannya sangat suka mem-bully saya? Memberikan candaan yang keterlaluan dan memanggil dengan julukan yang mengejek. Saat tahu anak saya di-bully, kenapa Anda tiba-tiba mau menjadi pahlawannya?" ujar Flora.

Lagi-lagi ucapan Flora sangat mengena. Ia seperti tengah disindir habis-habisan. "Kamu masih dendam? Itu kan masa lalu," ujarnya.

"Oh, iya? Masa lalu? Sepertinya masih berlanjut sampai sekarang," tukas Flora. "Kalau saya tidak sakit seperti ini, pasti Anda tidak akan berhenti memberikan saya pekerjaan yang banyak," sindirnya.

"Berani sekali kamu menyindirku secara terang-terangan? Apa kamu tidak takut aku pecat?" tanya Alvaro. Ia membawa-bawa kekuasaannya untuk menakuti Flora.

"Saya sudah bilang, silakan saja kalau Anda mau memecat saya," kata Flora dengan santai.

Alvaro heran Flora sekarang tidak ada takut-takutnya dengan dia. Dulu waktu SMA, Flora selalu berusaha kabur setiap ia dekati.

Ia menyeringai. "Tidak semudah itu. Nanti kamu terlalu bahagia kalau aku pecat. Cepatlah sembuh supaya aku bisa menyiksamu lagi dengan pekerjaan di kantor," katanya tak mau kalah.

Flora memutar malas matanya.

Alvaro ingin sekali mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia dulu sangat suka mengganggu Flora. Namun, wanita itu tampaknya sudah terlalu lelah apalagi mengalami kejadian tak terduga di tempat proyek.

***

Beberapa saat kemudian, Flora menyuruh Alvaro menghentikan mobilnya di depan pertigaan. Katanya untuk mencapai kontrakannya tidak bisa dilewati oleh mobil. Akhirnya mereka berjalan kaki melewati gang kecil. Alvaro menggendong Gavin yang baru bangun tidur.

"Rumahmu dimana?" tanya Alvaro bingung.

"Sudah dekat dari sini. Tinggal jalan kaki sebentar," kata Flora. Ia memakai tongkatnya sebagai alat bantu jalan. Alvaro masih membantunya dengan memegangi lengannya.

Gavin hanya senyum-senyum melihat kedekatan mereka. Dalam pikiran anak kecil itu, akan lengkap rasanya jika mereka menjadi satu keluarga. Gavin sangat menginginkan sosok seorang ayah.

"Kalian tinggal di sini?" tanya Alvaro.

Ia tertegun melihat tempat tinggal Flora. Terletak di gang sempit yang bahkan tidak bisa dilewati mobil. Rumah itu juga kelihatan kecil mungkin hanya seukuran bangunan tempat satpam yang ada di rumahnya. Baginya itu hanya gubuk.

"Iya. Ini rumah kontrakkanku," kata Flora sembari membuka pintu rumahnya. "Gavin, turun, Sayang. Kita sudah sampai," pinta Flora.

Bukannya segera turun, anak itu justru semakin menempel pada Alvaro. Gavin memeluknya dengan erat.

"Gavin," panggil Flora.

"Aku masih mau sama Papa!" ucap anak itu dengan polosnya.

Flora dan Alvaro sama-sama tercengang.

"Gavin tidak boleh seperti itu. Om nya mau pulang dulu, nanti kemalaman," pinta Flora dengan nada lembut.

"Tidak mau! Katanya kan Om Ganteng mau jadi Papa Gavin satu hari. Ini belum satu hari. Gavin masih mau sama Papa!"

Flora dan Alvaro saling berpandangan.

"Baiklah kalau begitu, Papa akan antar Gavin ke dalam." Alvaro mengalah.

Flora tidak berdaya melarangnya. Ia membiarkan Alvaro membawa anaknya masuk ke dalam rumah. Gavin terlihat sangat bahagia.

"Gavin, kamu mandi dulu, ya!" pinta Flora.

Gavin masih tidak mau turun dari gendongan Alvaro. "Papa nggak pergi kan, kalau Gavin mandi?" tanyanya.

Anak itu sangat pintar. Ia tidak mau ditinggal saat ia sedang lengah.

"Kamu takut Papa pergi?" tanya Alvaro.

"Iya, hari ini kan sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya aku punya Papa."

Ucapan Gavin membuat Alvaro tersentuh. "Baiklah, Papa akan tetap di sini sampai kamu selesai mandi," katanya.

Gavin menggeleng. "No! Papa harus bersamaku sampai kita nanti makan malam. Masakan Mama sangat enak."

"Oke, mandilah dengan tenang. Papa tidak akan kemana-mana," kata Alvaro meyakinkan.

Barulah Gavin mau turun dari gendongan Alvaro dan berlari menuju kamar.

"Anda boleh pulang sekarang, Pak. Mumpung Gavin sedang mandi," kata Flora.

"Tidak boleh!" seru Gavin. Ternyata ia masih mengintip dari balik pintu.

Flora menepuk dahinya. "Dia memang sangat keras kepala," gumamnya. Ia tidak menyangka putranya masih mengintip di sana.

Alvaro hanya tertawa kecil. "Gavin, mandilah! Papa janji tidak akan pergi," ucapnya untuk meyakinkan. Akhirnya Gavin benar-benar mau masuk ke dalam kamar mandi.

"Uh, panas sekali," kata Alvaro sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Ia juga melepaskan jas yang dikenakannya.

"Silakan duduk dulu, Pak. Biar saya ambilkan kipas angin!" kata Flora seraya berlari masuk ke dalam.

Alvaro duduk di sofa ruang tamu. Rumah itu benar-benar terlihat kecil. Bahkan tidak dilengkapi dengan AC dan terasa sangat panas.

"Kenapa mereka bisa tahan tinggal di tempat seperti ini, " gumamnya.

1
αуαηgηуαĝøjøκικøβმĝι2
astaga nagih ya Al 😆😆
ardiana dili
lanjut
amilia amel
akhirnya yang ditunggu-tunggu up juga...
makasih author
rahayu
akhirny up lg thor setelah sekian purnama
Momoy Dandelion: hahaha ... sori, ya. lagi berusaha cari waktu buat lanjutin semua novel yang belum selesai.
total 1 replies
Yati Maryati
kapan ceritanya d lanjutkan lagi kak,tiap hari nungguin terus 😭😭😭
Wita Nadhira21
semangat terus Thor
Arman Despi
Aq baru mampir d cerita ini thorr
tapi Aq suka
semangat thorr 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Yati Maryati
kapan thor afdet kgi ceritan masih nunggu nih cerita lanjutannya
Momoy Dandelion: maaf ya, karena kemarin gagal retensi jadi belum aku lanjut.
total 1 replies
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
sudah lama Alvaro berpuasa...gak sabar mau berbuka puasa hehehe... aku jg berharap mama Alvaro dpt menerima Flora dan Gavin
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
aku baru mampir thor, terus semangat 💪 utk berkarya dan update
Wa Tinah
updatenya jangan kelamaan Thor
amilia amel
siap² buka puasa ya pak.. 😅😅😅
amilia amel
semoga pernikahan alvaro dan.flora langgeng, bahagia sampai menua bersama dan maut memisahkan keduanya
Lie Hia
wouww flora siap gak siap...skrg kamu istri Alvaro, kamu hrs bahagia yaaa sampe kakek nenek, semoga gavin cpt sembuh yaaa
Lie Hia
Alvaro luar biasa, semoga pernikahannya dgn flora ttp langgeng dan bahagiaa yaa sampe kakek nenek
Al Vian
lanjut Thor
Muh Nur
semangat berkarya othor
Fajar Alfiyanshah
lanjut thor
Al Vian
lanjut Thor
Muh Nur
prilly ular keket tak punya malu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!