NovelToon NovelToon
TA'ARUF SETELAH TALAK

TA'ARUF SETELAH TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh Tahun yang Belum Usai

Suara azan Magrib yang menggema dari masjid di seberang jalan menjadi penanda berakhirnya jam praktik hari itu.

Satu per satu perawat mulai merapikan meja pemeriksaan. Kursi-kursi di ruang tunggu yang sejak pagi dipenuhi pasien kini kembali kosong. Hanya tersisa aroma cairan disinfektan yang baru saja digunakan petugas kebersihan untuk mengepel lantai.

Lampu di lorong klinik dimatikan sebagian.

Hari itu akhirnya selesai.

Namun tidak bagi Adzra Hanum.

Ia masih duduk di balik meja kerjanya dengan jas putih yang belum sempat dilepas. Stetoskop masih melingkar di lehernya, sementara sebuah map rekam medis tergeletak di sudut meja.

Map berwarna cokelat itu seharusnya sudah berada di bagian administrasi.

Namun sejak tadi, jemarinya tak kunjung bergerak untuk mengembalikannya.

Tatapannya kembali jatuh pada tulisan yang tercetak rapi di bagian depan.

Nama Pasien : Siti Maryam

Di bawahnya tertulis nama penanggung jawab.

Ghazi Farhan Mahendra.

Adzra mengembuskan napas perlahan.

Sepuluh tahun.

Nama itu tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Ia hanya belajar menyimpannya di tempat yang paling dalam, tempat yang tak lagi ia sentuh agar hidupnya bisa terus berjalan.

Hari ini...

Takdir seolah membuka kembali ruang yang selama ini berhasil ia kunci rapat.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan pelan di pintu membuat Adzra segera menutup map tersebut.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Seorang perempuan berhijab krem melangkah masuk sambil membawa dua gelas teh hangat.

"Masih belum pulang juga?"

Adzra mengangkat wajah.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Nabila."

Perempuan itu meletakkan kedua gelas di atas meja sebelum menarik kursi di depan Adzra tanpa perlu dipersilakan.

Sudah bertahun-tahun mereka berteman. Terlalu lama untuk masih menjaga formalitas.

"Kamu belum salat?" tanya Nabila.

"Belum. Habis ini."

Nabila mengangguk pelan. Pandangannya lalu beralih pada map yang masih berada di atas meja.

"Kamu biasanya langsung menyerahkan berkas pasien ke administrasi."

Adzra spontan menutup map itu dengan telapak tangannya.

Gerakan kecil yang tak luput dari perhatian sahabatnya.

Nabila menatap wajah Adzra beberapa detik.

Lalu menghela napas pelan.

"Kamu ketemu dia, ya?"

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Adzra tidak menjawab.

Ia hanya menundukkan kepala.

Namun bagi Nabila, diam itu sudah lebih dari cukup.

Selama sepuluh tahun mengenal Adzra setelah perceraian, hanya ada satu orang yang mampu membuat sahabatnya kehilangan ketenangan seperti ini.

Ghazi Farhan.

Nabila menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Rina cerita sedikit."

Adzra mengangkat kepala.

"Dia cerita apa?"

"Katanya Dokter tiba-tiba diam lama setelah pasien terakhir datang."

Adzra tersenyum tipis.

"Begitu, ya?"

"Aku kenal kamu, Ra."

Nabila mengambil salah satu gelas teh lalu mendorongnya ke arah Adzra.

"Kalau bukan sesuatu yang besar, kamu nggak mungkin kelihatan sekacau tadi."

Adzra menatap uap tipis yang mengepul dari permukaan teh.

Tangannya meraih gelas itu.

Hangat.

Namun tidak cukup hangat untuk mengusir dingin yang sejak siang memenuhi dadanya.

"Aku nggak nyangka akan ketemu hari ini."

Kalimat itu keluar nyaris berbisik.

Nabila mengangguk pelan.

"Dia sengaja datang?"

Adzra langsung menggeleng.

"Nggak."

"Kamu yakin?"

"Kalau sengaja... dia pasti sudah tahu klinik ini milikku."

Nabila mengernyit.

"Kamu yakin dia nggak tahu?"

Adzra terdiam sejenak.

Bayangan wajah Ghazi kembali muncul di benaknya.

Tatapan lelaki itu saat pertama kali melihatnya.

Ada keterkejutan yang sama.

Bukan ekspresi seseorang yang datang dengan rencana.

"Aku yakin."

Jawabannya mantap.

"Itu juga terlihat dari wajahnya."

Nabila menghela napas pelan.

"Berarti memang kebetulan."

Adzra tersenyum hambar.

"Bukan kebetulan."

Ia menatap keluar jendela. Langit mulai berubah gelap, sementara lampu-lampu jalan perlahan menyala.

"Mungkin... Allah memang mengizinkan kami bertemu lagi."

Kalimat itu menggantung di udara.

Tak satu pun dari mereka melanjutkannya.

Karena keduanya sama-sama tahu...

Bertemu kembali bukan berarti luka lama ikut sembuh.

Justru terkadang...

Pertemuan adalah awal dari terbukanya kembali luka yang selama ini tampak telah mengering.

***

Keheningan di antara mereka hanya ditemani kepulan uap dari dua gelas teh yang perlahan mulai menghangatkan ruangan.

Nabila memutar-mutar gelasnya pelan.

"Bagaimana keadaan Bu Maryam?"

Pertanyaan itu membuat Adzra kembali mengingat alasan pertemuan mereka siang tadi.

"Tekanan darahnya masih tinggi, tapi sudah lebih baik dibanding hasil pemeriksaan sebelumnya." jawabnya sambil membuka map rekam medis sekali lagi. "Beliau harus lebih disiplin minum obat dan mengurangi makanan yang terlalu asin."

"Beliau kelihatan kurus."

Adzra mengangguk.

"Iya."

"Usianya juga sudah bertambah."

"Semua orang bertambah tua, Bil."

Nabila tersenyum tipis.

"Iya. Termasuk kita."

Kalimat itu membuat Adzra ikut tersenyum, meski hanya sesaat.

Sepuluh tahun.

Tanpa terasa waktu sudah sejauh itu berjalan.

Mereka bukan lagi dua mahasiswi kedokteran yang sering begadang menghadapi ujian anatomi. Kini masing-masing telah memiliki jalan hidup sendiri.

Nabila memilih membantu Adzra mengelola Klinik Arafah Medika sejak klinik itu berdiri.

Sedangkan Adzra...

Ia memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.

Bukan karena ingin lari dari masa lalu.

Tetapi karena dengan bekerja, ia merasa hidupnya tetap memiliki tujuan.

Nabila memandang sahabatnya lekat-lekat.

"Aku boleh tanya sesuatu?"

Adzra mengangguk pelan.

"Masih marah sama Ghazi?"

Pertanyaan itu datang begitu saja.

Adzra tidak langsung menjawab.

Ia menatap teh di hadapannya yang kini tak lagi mengepulkan uap setebal tadi.

Entah sejak kapan, minuman itu mulai mendingin.

"Susah dijawab."

"Kenapa?"

"Karena aku sendiri nggak tahu."

Nabila mengernyit.

"Aku pernah marah."

Suara Adzra terdengar tenang.

"Sangat marah."

"Lalu?"

"Marah itu capek."

Ia tersenyum tipis.

"Sepuluh tahun terlalu lama untuk terus membawa amarah."

"Lalu sekarang?"

Adzra menarik napas panjang.

"Yang tersisa mungkin... kecewa."

Bukan kepada Ghazi semata.

Tetapi kepada kenyataan bahwa rumah tangga yang dulu begitu ia perjuangkan ternyata hanya bertahan sepuluh bulan.

Nabila tidak menyela.

Ia tahu, ketika Adzra mulai membuka sedikit isi hatinya, tugasnya hanya mendengarkan.

"Aku sering bertanya sama Allah..."

Suara Adzra nyaris berbisik.

"'Apa yang kurang dari kami waktu itu?'"

Ruangan kembali sunyi.

"Jawabannya?"

Adzra menggeleng.

"Nggak pernah ada."

"Bukan berarti Allah nggak menjawab."

Nabila tersenyum lembut.

"Mungkin jawabannya belum kamu pahami."

Adzra mengangguk pelan.

"Mungkin."

Malam mulai turun ketika keduanya meninggalkan klinik.

Lampu papan nama Klinik Arafah Medika masih menyala terang, menerangi halaman yang kini sudah kosong.

"Besok datang jam berapa?" tanya Nabila sambil mengunci pintu utama.

"Seperti biasa."

"Pagi?"

"Pagi."

Nabila mengangguk puas.

"Nah, itu Adzra yang aku kenal."

Adzra tertawa kecil.

"Memangnya kenapa?"

"Kukira setelah ketemu mantan suami, kamu bakal izin seminggu."

Adzra menggeleng sambil tersenyum.

"Aku dokter, Bil."

"Justru karena dokter."

Nabila mengangkat bahu.

"Dokter juga manusia."

Kalimat itu membuat keduanya tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya sejak siang, beban di dada Adzra terasa sedikit lebih ringan.

Mereka berpisah di area parkir.

Adzra masuk ke mobil berwarna putih yang sudah menemaninya hampir lima tahun terakhir.

Begitu mesin menyala, keheningan kembali menyapanya.

Tidak ada musik.

Tidak ada radio.

Ia memang lebih menyukai perjalanan dalam diam.

Mobil melaju perlahan meninggalkan klinik.

Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang pulang setelah seharian bekerja.

Lampu-lampu toko memantulkan cahaya ke aspal yang masih menyisakan bekas hujan sore tadi.

Saat berhenti di lampu merah, pandangan Adzra tanpa sengaja tertuju pada sebuah sepeda motor di samping mobilnya.

Seorang ayah mengemudi di depan.

Seorang ibu duduk di belakang sambil memeluk anak kecil yang tertidur di pelukannya.

Anak itu mengenakan seragam taman kanak-kanak.

Kepalanya bersandar nyaman di dada sang ibu.

Sang ayah sesekali menoleh melalui kaca spion.

Memastikan istri dan anaknya baik-baik saja.

Pemandangan sederhana.

Sangat sederhana.

Namun entah mengapa...

Ada sesuatu yang membuat Adzra tidak mampu mengalihkan pandangannya.

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Motor itu melaju lebih dulu.

Adzra tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya menginjak pedal gas.

Di sepanjang perjalanan, bayangan keluarga kecil itu terus terlintas di benaknya.

Bukan karena iri.

Bukan pula karena menyesal.

Hanya saja...

Dulu, ia pernah membayangkan masa depan yang hampir serupa.

Sebuah rumah kecil.

Suami yang pulang menjelang magrib.

Anak-anak yang berlari menyambut di depan pintu.

Mimpi itu pernah begitu dekat.

Lalu menghilang.

Tanpa sempat ia genggam.

Adzra menghela napas pelan.

Tangannya meraih kemudi lebih erat.

"Alhamdulillah..."

Bisiknya lirih.

"Apa pun yang Allah tetapkan... pasti yang terbaik."

Meski malam itu...

Hatinya masih belajar untuk benar-benar menerima kalimat tersebut.

***

Perjalanan pulang berlangsung nyaris tanpa suara.

Mesin mobil berdengung halus, mengiringi laju kendaraan yang membelah jalanan kota yang mulai lengang setelah salat Magrib. Cahaya lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, sesekali diselingi rintik hujan yang turun kembali.

Ghazi menggenggam kemudi dengan kedua tangan.

Tatapannya lurus ke depan.

Sesekali ia melirik spion tengah, memastikan kondisi ibunya yang duduk tenang di kursi penumpang.

Siti Maryam memandang keluar jendela.

Entah apa yang sedang beliau pikirkan.

Namun Ghazi bisa menebaknya.

Pertemuan siang tadi masih membekas di benak mereka.

Sudah hampir lima belas menit mobil melaju tanpa percakapan.

Hingga akhirnya suara lembut sang ibu memecah keheningan.

"Itu Adzra."

Bukan pertanyaan.

Melainkan sebuah kepastian.

Ghazi mengangguk pelan.

"Iya, Bu."

Beliau menarik napas panjang.

"Ibu hampir tidak mengenalinya."

Ghazi tersenyum tipis.

"Dia berubah."

"Lebih dewasa."

"Iya."

Jawabannya singkat.

Tetapi di dalam hati, Ghazi menambahkan sesuatu yang tidak sempat keluar dari bibirnya.

Dan tetap setenang dulu.

Ia masih ingat bagaimana Adzra selalu berbicara dengan suara lembut, bahkan ketika sedang marah.

Hari ini...

Perempuan itu tetap sama.

Hanya saja kini senyum yang dulu sering ia lihat terasa jauh lebih tipis.

"Kamu tahu kalau klinik itu miliknya?"

Pertanyaan itu membuat jemari Ghazi mengerat pada kemudi.

Ia menggeleng pelan.

"Tidak."

Siti Maryam menoleh.

"Benar-benar tidak tahu?"

"Tidak, Bu."

Ia mengembuskan napas perlahan.

"Kalau tahu... aku pasti memilih tempat lain."

Ucapan itu membuat Siti Maryam terdiam beberapa saat.

"Kenapa?"

Ghazi tidak langsung menjawab.

Ia menunggu hingga mobil berhenti di lampu merah.

Barulah ia berkata pelan.

"Aku tidak ingin mengganggu hidupnya."

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup membuat mata Siti Maryam mulai berkaca-kaca.

Beliau tahu.

Anaknya tidak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.

Mobil kembali melaju.

Tak lama kemudian mereka memasuki kawasan perumahan yang teduh dengan deretan pohon mahoni di sisi jalan.

Rumah bercat krem dua lantai di ujung blok perlahan terlihat.

Ghazi memarkir mobil di garasi.

Ia turun lebih dulu, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi ibunya.

"Hati-hati, Bu."

Tangannya menopang lengan sang ibu dengan hati-hati hingga berhasil berdiri.

Sesaat sebelum melangkah masuk, Siti Maryam memegang pergelangan tangan Ghazi.

"Nak."

Ghazi menoleh.

"Iya, Bu?"

Beliau menatap wajah putranya lama.

Tatapan seorang ibu yang mengenal setiap luka anaknya, meski tak pernah diucapkan.

"Sepuluh tahun itu lama."

Ghazi diam.

"Tapi tidak ada satu hari pun Ibu melihat kamu benar-benar melupakan."

Ghazi menundukkan kepala.

Ia tidak menyangkal.

Karena memang tidak bisa.

Siti Maryam melanjutkan dengan suara pelan.

"Kalau suatu hari Allah memberi jalan..."

Beliau berhenti sejenak.

"Jangan ulangi kesalahan yang sama."

Ghazi mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya malam itu, sorot matanya berubah.

Bukan karena marah.

Bukan pula karena sedih.

Melainkan karena ada penyesalan yang tak pernah benar-benar selesai.

"Insyaallah, Bu."

Hanya dua kata itu yang mampu ia ucapkan.

Malam semakin larut.

Setelah memastikan ibunya sudah beristirahat dan meminum obat, Ghazi masuk ke kamar kerjanya.

Ruangan itu sederhana.

Sebuah meja kayu memenuhi sisi dekat jendela.

Rak buku berjajar rapi di dinding.

Beberapa pigura berisi foto perjalanan umrah bersama para jemaah memenuhi sudut ruangan.

Ghazi meletakkan kunci mobil di atas meja.

Lalu duduk perlahan.

Keheningan kembali menyelimutinya.

Tanpa sadar, tangannya merogoh saku belakang celana.

Ia mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat tua yang sudah menemaninya bertahun-tahun.

Dompet itu tampak mulai kusam di beberapa bagian.

Ghazi membukanya.

Di balik slot kartu yang paling dalam, terselip sebuah foto berukuran kecil.

Ia menariknya perlahan.

Foto itu sudah memudar.

Sudut-sudutnya bahkan mulai terlipat.

Namun wajah dua orang di dalamnya masih terlihat jelas.

Seorang laki-laki dengan setelan jas sederhana.

Seorang perempuan berbalut gamis putih dan kerudung senada.

Keduanya tersenyum canggung ke arah kamera.

Foto itu diambil beberapa menit setelah ijab kabul.

Ghazi mengusap pelan sudut foto yang mulai rusak.

Bukan karena takut foto itu hilang.

Melainkan karena benda kecil itu adalah satu-satunya kenangan yang selalu ia bawa ke mana pun pergi.

Pintu kamar diketuk pelan.

"Mas."

Suara Ja'far terdengar dari luar.

"Sudah tidur?"

Ghazi segera memasukkan kembali foto itu ke dalam dompet.

"Belum."

Ja'far membuka pintu sedikit.

"Tadi Ibu sudah tidur?"

"Sudah."

Ja'far mengangguk.

"Alhamdulillah."

Ia hendak menutup pintu, tetapi langkahnya terhenti.

"Oh ya..."

"Besok kita jadi survei hotel untuk keberangkatan umrah bulan depan?"

Ghazi mengangguk singkat.

"Jadi."

"Baik."

Pintu kembali tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Ghazi menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Pandangannya jatuh pada dompet yang masih berada di atas meja.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Ia kembali mengingat wajah Adzra bukan sebagai kenangan.

Melainkan sebagai seseorang yang benar-benar telah ia temui.

Dan untuk pertama kalinya pula...

Ia mulai bertanya dalam hati.

Apakah pertemuan hari ini benar-benar hanya sebuah kebetulan... atau Allah sedang membuka pintu yang selama ini telah tertutup?

***

--Bersambung--

    Selamat membaca, jangan lupa follow akun instagram dan tiktok othor @Duyung_Indahyani123

1
RahmaYesi
Cerita yang bagus. Semangat ya ...
Duyung Indahyani: hai kak rahma, terima kasih
total 1 replies
nunu
next lanjut kak ceritanya
Duyung Indahyani: thank sudah membaca kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!