Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Diruangan Dokter Angga?!
Deandra masih duduk di atas tempat tdiur, samping Sandra yang masih belum sadarkan diri. Dia menatap wajah cantik yang tirus itu. Merasa kasihan dengan keadaan Sandra saat ini.
"Cepat sadar ya Nyonya, aku ingin segera lepas dari suami anda itu. Lagian saya juga ingin mengejar cinta saya sendiri" ucap Deandra.
Memang dia ingin mengejar Angga, meski sebenarnya tidak mungkin juga dia mendapatkan Angga yang sejatinya memang sudah mempunyai tunangan. Sebenarnya hanya sebuah alasan saja agar dia bisa segera bebas dari suaminya.
Melihat bagaimana Afkha bersikap begitu padanya, membuat Deandra takut jika suatu saat nanti, dirinya bisa saja jatuh cinta pada Afkha. Sekarang saja dadanya sering sekali berdebar ketika dia berdekatan dengan Afkha.
Deandra kembali menemui anaknya, Resa terlihat nyaman saja dengan pengasuh barunya itu. Terkadang Deandra malah bingung sendiri kenapa suaminya masih menugaskan pengasuh ketika tujuan awal dia menikahinya adalah sebagai istri pengganti dan juga Ibu pengganti. Sekarang Deandra malah hanya sebagai Istri pengganti saja.
"Bu, aku izin keluar sebentar ya? Ingin mengecek Restaurant" ucap Deandra.
Sejak Green Sakura sudah kembali lagi ke tangannya dan bahkan sudah atas nama dirinya. Deandra sama sekali tidak mengeceknya, sekarang dia ingin mengecek Restaurant itu agar bisa tahu bagaimana perkembangannya.
Tapi memang Afkha pernah bilang jika Restaurant itu sudah ada yang mengurus, orang kepercayaannya. Tapi Deandra hanya ingin melihat saja suasana Green Sakura sekarang setelah 2 tahun di tinggalkan oleh orang tuanya dan berpindah tangan ke orang lain.
"Boleh dong Sayang, kamu bisa pergi sesekali kalau memang merasa bosan di rumah. Lagian sekarang Resa juga sudah ada pengasuhnya. Kalau memang kamu mau pergi, bisa pergi saja. Tapi izin dulu sama suami kamu" ucap Ibu
Aku malas sebenarnya izin sama dia, tapi kalau aku tidak izin sama sekali pasti akan marah besar. Akhirnya Deandra pergi ke kamarnya, mengambil ponsel dan menghubungi suaminya. Namun tidak mendapat jawaban, mungkin memang Afkha sedang ada pekerjaan.
Tidak mau menggangguk suaminya yang sedang bekerja, akhirnya Deandra memilih untuk mengirim pesan saja. Dia segera bersiap dan akhirnya bisa pergi dengan diantar oleh supir karena memang Ibu yang tidak mengizinkan dirinya pergi kalau tidak bersama dengan supir.
Aku sekalian mampir ke rumah sakit sebentar kali ya, menemui Kak Angga. dia juga katanya ada yang ingin dia bicarakan sama aku waktu itu.
Deandra tersenyum sendiri jika dia membayangkan tentang Angga. Selalu saja merasa senang ketika dia mengingat wajah laki-laki itu.
"Pak ke rumah sakit dulu saja sebentar. Aku ada urusan sebentar" ucap Deandra dengan menyebutkan salah satu nama rumah sakit besar di kota ini.
"Baik Nona"
Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan tersenyum sendiri karena bisa bertemu dengan Angga.
Senyuman Deandra yang selalu merekah ketika dia akan bertemu dengan Angga. Berjalan menyrusuri lorong rumah sakit dan menyapa beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Dia jadi mengingat bagaimana pertama kali dia masuk ke rumah sakit ini sebagai pekerja baru. Dan Angga yang datang untuk membantunya dan mengantarnya ke ruangan kepala rumah sakit. Angga memang mempunyai kenangan yang sangat indah bagi Deandra.
"Ah, aku senang sekali bisa bertemu dengannya saat ini. Sekarang lebih baik aku telepon saja dulu Kak Angga agar dia tidak terkejut saat aku datang"
Deandra segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang yang dia bawa. Menghubungi nomor Angga, sudah tersenyum sendiri bahkan sebelum mendengar suara Angga.
"Hallo, Kak aku di rumah sakit ini. Ingin menemui Kakak untuk pembicaraan yang ingin Kakak bicarakan padaku yang waktu itu" cerocs Deandra yang begitu senang karena Angga mengangkat teleponnya.
"Oh, kalau begitu kebetulan sekali. Kamu langsung saja ke ruangan saya"
Deandra mengangguk meski sadar Angga tidak mungkin melihatnya. Segera dia mematikan sambungan teleponnya. Lalu segera berjalan ke arah ruangan Dokter Angga. Tanpa mengetuk pintu, Deandra langsung membuka pintu ruangan dengan senyuman yang lebar.
"Hai, Kak Ang-ga" Senyuman yang perlahan menghilang ketika dia melihat dua orang lain selain Angga di dalam ruangan itu. Bahkan Deandra sudah tidak bisa bergerak lagi, tangannya yang memegang hendel pintu dan langkah kakinya yang berhenti di ambang pintu.
Kenapa bisa dia ada disini sekarang? Ya Tuhan, nasib buruk apalagi ini? Deandra menggeleng pelan dengan wajahnya yang benar-benar terkejut sekali ketika dia melihat Afkha dan juga Asistennya yang ada disana.
"Den, kebetulan sekali kamu datang. Tuan Afkha juga datang kesini, jadi biar aku sekalian saja jelasin. Tadinya aku akan menyuruh kamu untuk menjelaskannya. Eh, Tuan Afkha yang keburu datang kesini" ucap Angga.
Deandra mengerjap, dia tersenyum dengan kaku. Rasanya bibirnya itu benar-benar tidak bisa tersenyum dengan lebar. Aduh, kalau aku tahu dia juga ada disini. Lebih baik aku tidak jadi datang saja kesini. Bagaimana ini, ya ampun. Dengan terus bergumam dalam hati, Denadra berjalan menghampiri mereka. Tatapan Afkha sudah setajam pedang samurai saja. Namun Deandra pura-pura tidak melihatnya.
"Ah, Tuan Afkha juga ada disini rupanya. Selamat siang, Tuan" sapa Deandra, disini Angga belum tahu tentang pernikahan mereka dan Deandra berharap dia tidak akan pernah tahu.
"Tuan?!" tanya Afkha dengan nada yang rendah dan juga tatapan yang begitu tajam menatap Deandra.
Apa? Kau tidak meminta aku memanggilnya Sayang 'kan? Jangan sampai, ini ada Kak Angga. Janganlah hancurkan reputasiku di depan pria yang aku sukai. Ahh.. DIa ini benar-benar ya, tapi aku takut dengan tetapannya itu. Bagaimana ini?
Deandra ingin mengabaikan tatapan tajam dari suaminya itu. Tapi, dia tetap takut, membuatnya merasa berada di jurang yang mematikan saja.
"Emm, Kak, jadi apa yang ingin Kakak bicarakan padaku?" tanya Deandra, beralih menatap Angga. Dia mencoba tidak menghiraukan keberadaan Afkha disana dan dengan tatapan suaminya yang tajam itu.
"Kamu duduklah dulu, kalau begitu kita duduk di sofa saja" ucap Angga yang berdiri dan berjalan ke arah sofa di ruang kerjanya ini.
Deandra segera duduk di sofa tunggal, karena dia tidak mau jika harus duduk berdampingan dengan Afkha. Kalaupun dia duduk berdampingan dengan Angga, pasti suaminya akan semakin marah dan semuanya kacau. Setidaknya aku harus mempertahankan agar Angga tidak mengetahui tentang pernikahan aku dan Afkha.
"Jadi begini..."
Pembahasan mengalir begitu saja dari mulut Angga. Semuanya adalah tentang obat berdosis cukup tinggi yang akan di berikan pada Sandra jika dia sampai satu tahun dia tetap koma.
Sebuah obat yang di sutinkan lewat jalur infusan, yang akan menggerakan kembali saraf-saraf yang ada di dalam tubuh Sandra, sehingga saraf motorik otaknya juga akan segera berfungsi kembali dengan rutin memberikan obat itu.
Bersambung