Season 1 :
"Jika laki-laki yang menghamili mu adalah seorang Dokter, apakah papamu masih akan melakukan itu?"
Aurel tersentak, ia menatap Dokter itu dengan seksama.
"Apa maksud Dokter?"
"Aku akan menikahimu!"
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan seorang dokter yang mati-matian menengang teguh sumpah jabatannya, hingga kemudian ia merelakan hidupnya, kepentingannya, perasaannya.
Lalu apakah akan selesai di sini? Masalah kembali datang ketika pria yang menghamili gadis itu muncul, dan tentang siapa sebenarnya pria itu dan apa hubungannya dengan Jessen, membuat hidup Jessen menjadi sangat rumit.
Season 2 :
Kehidupan baru David - Alea dimulai. Kehilangan bertubi-tubi yang dialami David membuatnya hancur dan rapuh.
Yang ia miliki sekarang hanyalah janin yang ada dalam kandungan Alea. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Bagaimana kehidupan mereka?
Siapa Ayah David?
Bagaimana dengan Jessen - Aurel?
Simak terus di COMPLICATED (David - Alea Story) ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Jadi Seperti Ini?
Jessen duduk di kursi itu dengan gelisah. Di fitting room itu Aurel sedang mencoba gaun yang akan di gunakan untuk pemberkatan dua Minggu lagi. Semua acara lamaran dan lain sebagainya diadakan ala kadarnya karena memang sudah tidak banyak waktu lagi. Perut Aurel sudah hampir membesar. Namun bukan itu yang membuat Jessen gelisah, tetapi perasaannya yang mendadak aneh.
Kenapa sekarang ia sangat khawatir jika gadis itu tidak memberinya kabar sama sekali? Kenapa ia sangat nyaman ketika bersama dengannya? Jessen benar-benar tidak mengerti. Apakah ia jatuh cinta? Pada gadis itu? Gadis yang membuatnya harus melakukan semua hal ini? Gadis yang menyeretnya ke dalam pernikahan macam ini?
Jessen mengacak rambutnya, ketika kemudian matanya menatap sosok yang muncul itu. Sosok itu muncul dengan ball gown mengembang, gaun bagian atas bermodel Sabrina, dengan permata yang menghiasi dada. Gadis itu nampak sangat cantik meskipun belum ada satupun makeup yang membungkus wajahnya. Kulit putih mulusnya sangat serasi dengan gaun yang membungkus tubuhnya.
"Bagaimana, Ko?" tanya Cik Florence, pemilik bridal yang ia percayakan untuk acara kelak.
Jessen ternganga, sungguh ia tidak menyangka gadis tujuh belas tahun itu begitu mempesona dengan gaun yang sebenarnya belum pantas ia kenakan itu. Astaga, apakah sekarang ia masuk dalam kategori pedofilia? Tapi dia sudah tujuh belas tahun, bukan lima belas kebawah!
"Ko Jessen?" Cik Florence terkekeh, ia tampak bahagia melihat client-nya itu suka dengan gaun pengantin koleksinya.
"Oh ... iya bagus, yang ini saja!" Jessen gugup, apalagi ketika wajah dalam balutan gaun pengantin itu tersenyum dengan paras memerah. Sial!
Cik Florence hanya mengangguk sambil menahan tawa, lalu dengan hati-hati membawa Aurel masuk kembali ke fitting room untuk berganti baju.
Jessen kembali resah, kenapa ia jadi seperti ini? Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya, semua berubah dan menjadi aneh ketika ia bertemu dengan gadis itu!
"Semoga lancar sampai hari-H ya!" ujar Cik Florence ketika ia dan Aurel kembali muncul di hadapan Jessen.
"Amin, terimakasih Cik!" Aurel tersenyum, kemudian menjabat tangan pemilik Floo Bridal itu.
Jessen pun sama, ia tersenyum lalu menjawab tangan wanita yang mungkin usianya tidak berbeda jauh dengannya itu.
"Hati-hati!" ujar Cik Florence ketika Jessen dan Aurel sudah keluar dari butiknya.
"Koko kenapa?" tanya Aurel ketika mereka sudah berada dalam mobil.
"Entah, aku sendiri tidak tahu." jawab Jessen jujur sambil tersenyum kecut. Ia mulai membawa mobilnya meninggalkan bridal itu.
"Koko sakit?" gadis itu masih belum menyerah, ia menatap sosok yang sudah fokus dengan kemudinya itu.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Jessen balas menatap gadis itu, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Katanya Koko sudah bikin poin-poin yang harus kita sepakati bersama?"
"Memang, aku sudah bikin." Jessen tidak menoleh, ia takut malah jadi tidak fokus.
"Mana, aku kan belum baca?"
Kali ini Jessen terpaksa menoleh, ia tersenyum, "Kita ke obsgyn dulu, lalu makan dan bahas semua poin-poin itu, gimana?"
Aurel tampak berpikir, "Nanti di Obsgyn aku bakal diapain?"
Jessen tertawa, astaga ... memang dalam pikiran Aurel dia mau diapakan sama dokter kandungan?
"Tentu diperiksa lah, memangnya mau diapain lagi, Sayang?"
Aurel tampak terkejut, Jessen bisa melihatnya dari sudut mata. Astaga! Kenapa bisa kelepasan manggil Aurel dengan sebutan sayang? Jessen tampak gugup, sungguh semua diluar kendalinya.
"Sayang?" Aurel menatap Jessen tidak percaya.
"Iya, latihan biar nggak kagok kalau di depan orangtua kita." jawab Jessen mencoba bersikap biasa saja.
"Oh ...," Aurel mengangguk pelan sambil tersenyum, tampak wajahnya memerah.
Jessen memaki dirinya sendiri. Sebenarnya dia kenapa sih? Jatuh cinta dengan gadis yang sedang mengandung benih laki-laki lain? Sebegitu tidak lakunya kah dirinya?
Ahh ... Jessen menjadi pening, kenapa semua jadi seperti ini?
***
"Jessen, are you sure?" Dokter Andi tampak terkejut.
Jessen menghela nafas panjang, lalu mengangguk pelan.
Dokter kandungan itu masih melotot menatap Jessen tidak percaya. Gadis tujuh belas tahun ini pacarnya dan sedang hamil dua belas Minggu?
"Parah kau, Sen!" Dokter Andi geleng-geleng kepala, lalu mempersilahkan Aurel memposisikan diri untuk di USG.
Aurel menatap Jessen, ketika Jessen mengangguk ia bergegas bangkit dan naik ke ranjang. Seorang perawat sudah siap dengan kain putih yang kemudian di gunakan untuk menutup bagian bawah perut Aurel sampai ke kaki. Setelahnya ia mengoleskan gel dingin itu di perut.
"Sini Sen!" panggil Dokter Andi sambil menggerakkan tranduser itu.
Jessen mendekat, kenapa harus dia sih? Kan dia bukan bapak si anak! Ahh ... Jessen makin pusing. Ia bergegas melangkah mendekati Dokter Andi.
"Lihat, sudah terbentuk sempurna ya!"
Jessen tertegun ketika menatap janin itu. Kepala, tubuh, tangan, dan kakinya sudah begitu jelas. Jessen dapat melihatnya dengan jelas. Mendadak mata Jessen memanas. Mana tega Jessen harus menarik paksa janin itu dari rahim ibunya? Mana tega?
"Sabar, sebentar lagi sudah bisa kamu gendong!" Dokter Andi tersenyum, lalu menepuk lembut pundak Jessen.
"Iya, terimakasih Dokter." Jessen merasa matanya berkaca-kaca. Hei, kenapa begini? Janin itu bukan darah dagingnya!
"Jadi kapan kalian menikah?" tanya Dokter Andi sambil menuliskan resep vitamin.
"Dua Minggu lagi, Dokter."
Aurel sudah kembali duduk di sampingnya. Dokter Andi tersenyum, lalu menyodorkan resep itu pada Jessen.
"Lancar ya, buat pernikahan kalian, buat persalinan nanti."
Jessen dan Aurel mengangguk kompak. Jessen menerima resep itu dan buku periksa bulanan Aurel.
"Dokter, boleh tanya?" Aurel menatap Dokter Andi takut-takut.
"Boleh, mau tanya apa?"
"Dia sehat kan, Dokter?" Aurel menatap lurus ke mata dokter kandungan itu.
"Sehat, dia sehat normal, perkembangannya bagus." jawab Dokter Andi sambil tersenyum.
Aurel tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Tenang, calon suamimu meskipun belum spesialis, ia pernah koas di state Obsgyn, dikit banyak tau lah soal kayak gini. Jangan khawatir."
Sekali lagi Aurel tersenyum, ahh ... seandainya Dokter Jessen benar-benar ayah dari janin ini, seandainya ... tunggu kenapa jadi seperti ini?
"Kalau gitu kami pamit dulu ya, Dok." Jessen bangkit, lalu mengulurkan tangannya.
"Iya, hati-hati ya. Bulan depan jangan lupa balik ke sini." Dokter Andi tersenyum, lalu menjabat satu persatu tangan yang mengulur itu.
Jessen hanya tersenyum, lalu membukakan pintu untuk Aurel. Mereka melangkah keluar, ketika sampai di parkiran pun Jessen dengan lembut membukakan pintu mobil untuk Aurel.
"Hati-hati!" Jessen mengulurkan tangannya untuk pegangan gadis itu.
"Terimakasih!" Aurel tersenyum sambil menatap Jessen dalam-dalam. Ia tidak tahu bahwa senyum itu makin membuat dokter tiga puluh tahun itu panas dingin.