Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Kilas-Balik
"PERGIIII!!!!"
Teriakan melengking dari seorang gadis cantik menggema kuat, memantul di antara dinding-dinding beton area parkir bawah tanah sebuah bar eksklusif dan mewah di kawasan elite Los Angeles.
Suaranya yang jernih namun penuh amarah sanggup mengalahkan deru mesin mobil-mobil sport yang terparkir rapi di sana.
Gadis berusia 26 tahun itu bernama Alceena Brox Riccardo.
Malam ini, penampilannya luar biasa memukau dengan gaun malam satin berwarna merah menyala yang membungkus siluet tubuhnya dengan sempurna, kontras dengan emosinya yang sedang berada di titik didih. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun menahan beban amarah yang nyaris membuat kepalanya pecah.
Di hadapannya, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam melangkah mundur dengan wajah pias. Mereka adalah bodyguard pribadi yang selama ini bertugas mengawal Alceena.
"Tapi, Nona Alceena... Tuan berpesan agar kami—"
"Aku bilang pergi, ya pergi! Jangan ikuti aku malam ini! Jika aku melihat wajah kalian lagi dalam radius seratus meter, aku pastikan kalian berdua dipecat besok pagi!" potong Alceena dengan tatapan mata yang berkilat tajam, sedingin es.
Menjadi seorang artis besar di Hollywood dengan popularitas yang meroket tajam memang membuat hidup Alceena selalu dikelilingi oleh penjagaan ketat.
Ke mana pun dia melangkah, kamera-kamera paparazzi gila selalu siap mengintai, memburu setiap detail kehidupannya untuk dijadikan konsumsi publik. Namun malam ini, Alceena tidak peduli pada citra, tidak peduli pada skandal, dan tidak peduli pada kilatan blitz kamera. Dia hanya ingin bebas. Dia ingin melarikan diri dari kenyataan pahit yang baru saja menghantam hidupnya beberapa jam yang lalu.
Setelah memastikan kedua pengawalnya benar-benar melangkah pergi dan menghilang di balik lift parkiran, Alceena berbalik. Dengan langkah anggun yang dihentakkan dengan penuh kemarahan oleh sepatu hak tingginya, dia berjalan menuju pintu masuk bar.
Dua orang penjaga bertubuh raksasa di depan pintu masuk VIP bar tersebut langsung bersiap menghadang, namun gerakan mereka terhenti seketika saat Alceena mengangkat tangan kanan-nya.
Di sela jari-jarinya yang lentik, terselip sebuah kartu berlapis emas dengan grafir khusus—kartu member VIP tingkat tertinggi yang hanya dimiliki oleh segelintir kaum elite di Los Angeles.
Kedua penjaga itu langsung menundukkan kepala dengan takzim, membukakan pintu kayu mahoni yang berat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Alceena melangkah masuk, disambut oleh dentuman musik low-beat yang elegan, aroma mahal perpaduan antara parfum premium, cerutu kualitas atas, dan alkohol berkelas.
Alceena baru saja meledak. Seluruh sistem sarafnya seolah terbakar karena kabar pernikahan kekasihnya sudah sampai di telinganya.
Wah, benar-benar brengsek!
Pikiran itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, memicu rasa sakit yang teramat sangat di dadanya.
Pria itu—Aldridge—kekasih yang sudah menjalin hubungan bersamanya selama dua tahun terakhir, tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama sebulan penuh. Alceena sempat mengira pria itu diculik, atau mengalami kecelakaan, atau sedang sibuk dengan proyek bisnis di luar negeri.
Dia bahkan sempat menangis mengkhawatirkan keadaan pria itu.
Namun, apa yang dia dapatkan sore tadi? Sebuah hantaman kenyataan yang luar biasa kasar.
Tanpa ada kata putus, tidak ada kata usai, si brengsek Aldridge tiba-tiba memuntahkan undangan pernikahannya sore tadi melalui seorang kurir.
Dan yang paling menjijikkan dari semua itu adalah nama pengantin wanitanya. Aldridge menikah dengan jalang pribadinya—sekretaris murahan yang selama ini selalu Alceena curigai namun selalu dibela oleh Aldridge dengan alasan 'profesionalisme'.
"Profesionalisme keparat," umpat Alceena dalam hati. Langkahnya membawanya langsung menuju meja bar marmer hitam yang panjang, mengabaikan beberapa tatapan mata dari pengunjung lain yang mulai mengenalinya di balik pencahayaan yang temaram.
Alceena langsung mendudukkan diri di salah satu kursi tinggi.
"Ahhh, sialan!!! Tuangkan Lagi untuku," ucapnya ketus sambil menatap tajam ke arah bartender muda yang berdiri di depannya.
Gelas pertamanya sudah kosong dalam sekali teguk bahkan sebelum dia sempat duduk dengan benar.
Bartender itu, seorang pria muda berwajah tampan dengan apron kulit, menelan ludah dengan gugup melihat aura intimidasi yang dipancarkan oleh sang diva.
Dengan cekatan namun hati-hati, dia mengambil botol Whiskey terbaik dan menuangkan cairan amber itu ke dalam gelas Alceena.
Alceena menyambar gelas itu, meminumnya hingga setengah. Rasa hangat yang membakar tenggorokannya sedikit memberikan ketenangan pada otaknya yang panas, namun rasa sakit hati dan harga dirinya yang diinjak-injak tidak bisa hilang begitu saja.
Seorang Alceena Brox Riccardo, wanita yang dipuja oleh jutaan pria di luar sana, dicampakkan begitu saja demi seorang wanita murahan? Dan parahnya, dia harus menelan fakta bahwa dia ditinggal nikah tanpa kejelasan.
"Aku tidak akan membiarkan media tahu aku menangisi pria brengsek itu," bisik Alceena pada dirinya sendiri.
Jemarinya mengetuk-ngetuk meja bar dengan gelisah. Ego dan harga dirinya yang setinggi langit menolak untuk terlihat sebagai korban yang malang. Dia butuh pengalihan. Dia butuh sesuatu untuk membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa Aldridge tidak memiliki dampak apa pun dalam hidupnya.
Pandangan Alceena kembali tertuju pada bartender di depannya yang sedang mengelap gelas.
Sebuah ide gila, impulsif, namun terasa sangat tepat di kepalanya yang mulai terpengaruh alkohol, tiba-tiba muncul.
Alceena memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan sebelah tangan, membiarkan tatapan matanya yang sayu namun intens mengunci pandangan sang bartender.
Hingga akhirnya dia berkata pada bartender di depannya, "Mau jadi simpananku? Hm?"
Bartender itu seketika menghentikan kegiatannya.
Matanya membelalak terkejut. Siapa yang tidak tahu siapa wanita di depannya ini? Alceena Brox Riccardo, bintang besar yang wajahnya terpampang di papan reklame Sunset Boulevard. Mengajak seorang bartender biasa untuk menjadi pria simpanan?
Namun, Alceena tidak sedang bercanda.
Tatapan matanya menunjukkan keseriusan yang mutlak. Dia benar-benar mengajak pria di depannya, semata-mata karena dia tidak mau terlihat meratapi nasibnya yang ditinggal nikah. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa mendapatkan siapa saja, kapan saja, hanya dengan menjentikkan jarinya.
Melihat keseriusan di mata Alceena, bartender itu perlahan menguasai keterkejutannya. Dia hanya tersenyum sopan, sebuah senyuman profesional yang biasa dia gunakan untuk menghadapi pelanggan VIP yang sedang mabuk atau memiliki permintaan aneh.
Pria itu meletakkan gelas yang baru diaktifkannya, lalu sedikit membungkuk agar suaranya tidak tersamarkan oleh musik.
"Anda mau mencari simpanan, Nona Riccardo? Sepertinya pria di ujung sana adalah orang yang tepat."
Bartender itu menggeser posisinya sedikit, lalu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah seorang pria yang sedang mabuk sendirian di meja VIP sudut remang-remang bar tersebut.
Sudut itu hampir tidak terjangkau oleh lampu utama, menciptakan siluet misterius di sekeliling pria yang dimaksud.
Alceena mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk sang bartender.
Di sudut yang gelap itu, tampak seorang pria dengan postur tubuh yang luar biasa tegap dan atletis, bahkan dalam posisinya yang sedang bersandar lunglai di sofa kulit. Kemeja putihnya sudah terbuka beberapa kancing atasnya, menampakkan dada bidang yang kokoh.
Pria itu memegang sebotol minuman keras langsung di tangannya, tampak sangat frustrasi dan tidak peduli dengan dunia di sekitarnya.
"Siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya di kota ini," ucap bartender satunya lagi yang baru saja datang mendekat membawa es batu.
Dia ikut menatap ke arah sudut remang tersebut dengan rasa ingin tahu yang sama besar.
Alceena tidak bersuara, namun telinganya masih mendengarkan dengan saksama penuturan kedua pekerja bar tersebut, sementara matanya tetap mengunci sosok pria di sudut sana.
"Kudengar dia dari Chicago," sahut bartender pertama yang tadi ditanya oleh Alceena.
Dia melipat kedua tangannya di atas meja bar, berbicara dengan nada berbisik seperti sedang membagikan rahasia besar.
"Tapi dia makan, tidur, hingga minum seharian penuh lagi di sini. Hampir dua minggu dia berada di bar ini tanpa pulang ke mana pun."
"Dua minggu?" Bartender kedua menaikkan alisnya terkejut. "Dan manajer bar kita tidak mengusirnya? Biasanya aturan kita sangat ketat untuk pelanggan yang membuat kekacauan atau terlalu mabuk."
"Itu dia masalahnya. Manajer bar sendiri yang mengatakan pada semua staf: 'Jangan mengganggunya. Biarkan dia melakukan apa saja yang dia mau selama dia membayar'." Bartender pertama menggelengkan kepalanya heran.
"Dia orang kaya?" tanya bartender kedua lagi, berasumsi bahwa pria itu pastilah seorang miliarder tersembunyi atau putra dari seorang konglomerat yang sedang memiliki kuasa besar.
Bartender pertama tertawa kecil, sebuah tawa yang meremehkan namun juga penuh dengan nada tidak percaya. "Tidak, dia pria gigolo yang sedang patah hati."
Sambutan tawa tidak percaya langsung terdengar dari dua temannya sesama staf bar yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan itu.
Bagi mereka, seorang pria tampan yang menghabiskan waktu dua minggu penuh di bar mewah tanpa kejelasan status pekerjaan tidak lebih dari seorang pemuas nafsu wanita-wanita kaya yang kebetulan sedang kehilangan pelanggannya atau dicampakkan.
"Gigolo?" tanya Alceena lirih.
Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang penuh arti. Matanya kembali menatap ke arah pria di sudut remang itu dengan intensitas yang berbeda.
Jika pria itu adalah seorang gigolo yang sedang patah hati, maka situasinya menjadi jauh lebih sempurna.
Alceena tidak perlu mengkhawatirkan komitmen, tidak perlu mengkhawatirkan perasaan, dan yang paling penting, pria itu bisa dibeli dengan uangnya yang berlimpah.
Mereka berada di perahu yang sama—sama-sama dihancurkan oleh cinta, dan sama-sama membutuhkan pelarian.
Tiba-tiba, Alceena terbangun dari duduknya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat gaun merahnya bergerak anggun, menarik perhatian beberapa orang di sekitar bar. Efek alkohol gabungan dari rasa sakit hati membuat darahnya berdesir cepat, membakar sisa-sisa keraguannya.
"Aku akan ke sana," ucap Alceena tegas pada bartender di depannya. Suaranya tidak menerima bantahan. "Bawakan minuman terbaik untuk kami ke meja itu. Sekarang."
Tanpa menunggu jawaban dari sang bartender, Alceena melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri.
Setiap langkah yang diambilnya memancarkan aura kekuasaan dan dominasi. Di bawah lampu bar yang temaram, Alceena berjalan laksana seorang predator yang siap memangsa buruannya. Dia tidak lagi terlihat seperti wanita yang baru saja ditinggal nikah; dia adalah seorang ratu yang sedang berjalan menuju takhtanya yang baru.
Sementara itu, pria di sudut remang sama sekali tidak menyadari kedatangan bahaya yang berwujud seorang wanita cantik berbaju merah.
Pria itu bernama Xander Hayes-Stone. Dia memang berasal dari Chicago, sebuah kota yang beberapa minggu lalu masih menjadi pusat dunianya sebelum semuanya hancur berkeping-keping.
Xander memilih untuk lari ke Los Angeles, tempat di mana keluarga besar dari neneknya—keluarga Valerio—berada.
LA seharusnya menjadi tempat yang asing baginya, tempat di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai Xander dari Chicago.
Xander lari dari kenyataan yang terlalu kejam untuk dihadapinya. Hatinya telah mati, terkoyak tanpa sisa karena kekasihnya—wanita yang teramat sangat dicintainya dan direncanakan untuk menjadi pendamping hidupnya—telah menikah dengan pria lain dan mengkhianati dirinya dengan cara yang paling keji.
Rasa sakit itu begitu membakar hingga Xander memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam lautan alkohol selama dua minggu terakhir, mencoba mematikan seluruh indra dan perasaannya agar tidak perlu merasakan perih yang terus menggerogoti dadanya.
Xander baru saja hendak mengangkat botol Whiskey-nya lagi ke mulut ketika sebuah bayangan menghalangi cahaya temaram yang menerpanya. Aroma parfum mawar yang sangat mahal dan memabukkan tiba-tiba menyeruak, mengalahkan bau alkohol yang menyengat di sekitarnya.
Xander mendongak dengan pandangan mata yang kabur akibat mabuk berat.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita bergaun merah dengan kecantikan yang luar biasa, menatapnya dengan tatapan mata yang tajam, lapar, dan penuh determinasi.
Alceena menatap pria di hadapannya dari dekat. Ternyata, wajah pria ini jauh lebih tampan daripada yang terlihat dari kejauhan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan meskipun matanya tampak sayu dan merah karena mabuk, ada kilatan maskulinitas yang sangat kuat terpancar dari dirinya. Tubuhnya yang kokoh membuat Alceena tahu bahwa pria ini bukanlah sembarang pria.
Alceena tidak ingin membuang waktu. Dia tidak ingin berbasa-basi, tidak ingin berkenalan, dan tidak ingin tahu apa yang membuat pria ini berakhir mengenaskan di sudut bar. Dia hanya ingin melampiaskan seluruh amarah, dendam, dan rasa sakit hatinya malam ini juga.
Dengan gerakan berani, Alceena melangkah maju hingga lututnya menyentuh pinggiran sofa tempat Xander duduk. Dia membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Xander hingga pria itu bisa merasakan napasnya yang hangat berbau alkohol mahal.
"Hey kau, ayo kita bercinta!!" ucap Alceena.
Tanpa ba-bi-bu, tanpa ragu, kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merahnya, meruntuhkan seluruh batas kewajaran, menantang sang pria yang sedang hancur untuk masuk ke dalam kegilaan yang sama dengannya.