NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

...~Gorengno~...

Lagu Ada Band masih berputar pelan pada radio di ruang tengah. Lampu temaram dinyalakan, memberikan kesan hangat pada gelap yang merayap pelan. Sore ini hujan tidak turun, namun tetap memberikan efek dingin yang menusuk bahkan sebelum Bakda Maghrib.

Naira baru saja keluar kamar saat melihat ayahnya kembali dengan motor bebek merahnya.

"Dari mana, Yah?"

Ayahnya bergegas masuk dengan langkah tergesa. "Nai, kamu tunggu di rumah dulu, ya. Nanti Arka datang."

"Kenapa? Ayah mau ke mana?"

"Mau antar periksa Ibumu. Dari tadi siang panasnya tidak turun-turun, badannya sampai ndrodog.¹"

Pria paruh baya itu bergegas masuk ke kamar diikuti Naira. Perhatian gadis itu tertuju ke arah ibunya. Koyo terpasang di pelipis, dengan bibir yang bergetar. Ayah Naira berusaha memasangkan sweater rajut tebal.

Naira segera mendekat untuk membantu. Ia memasangkan syal dan topi rajut milik ayahnya, lalu dengan telaten mengoleskan minyak kayu putih di dada, telapak tangan, serta kaki sang ibu.

"Ibu..." Suara gadis itu lirih, hatinya mencelos melihat keadaan ibunya yang biasanya ceria kini tampak ringkih.

"Ibu nggak apa-apa," bisik wanita paruh baya itu dengan suara yang nyaris tenggelam dalam gemetar tubuhnya.

"Ayo, Pak," ajak ibu Naira.

Mereka melangkah beriringan keluar rumah tepat ketika sepeda motor Arka terparkir sempurna. Pria itu segera melompat turun dan bergegas membantu.

"Hati-hati, Pak," ucap Arka setelah motor ayahnya menjauh.

Arka menoleh ke samping, mendapati Naira yang memasang wajah muram dan sendu.

"Ibumu pasti sembuh."

"Makasih, Mas. Duduk dulu, ya," ucap Naira, lalu melangkah lebih dulu ke dalam. "Mau teh atau kopi?" tanyanya pada Arka yang memilih duduk di kursi rotan teras.

"Kopi saja."

Naira mengangguk, lalu menyeret langkah menuju dapur. Saat itu juga, ia tertegun melihat keadaan dapur yang berantakan. Piring dan wajan kotor menumpuk di bak cuci piring. Bahkan wajan penggorengan yang biasa diletakkan di pojok, kini nangkring begitu saja di atas kompor minyak.

Perut Naira berbunyi samar. Semenjak pulang kerja, ia hanya mandi lalu mengerjakan tugas di kamar, belum sempat melihat dapur. Dengan langkah malas, ia mengambil cangkir di rak lalu membuatkan kopi untuk Arka. Pandangannya menyapu sekeliling, tak ada makanan yang bisa disuguhkan. Bahkan untuk makan malam pun kosong. Hanya ada sisa nasi di dalam bakul.

Naira melangkah kembali ke teras, menyuguhkan kopi untuk Arka ke atas meja bundar rendah.

"Mas, kalau nunggu di sini sebentar, mau?"

Arka mengernyitkan dahi. "Mau ke mana?"

"Ke tempat nasi goreng Pak Sur."

"Kamu belum makan?"

"Belum. Ini ada sisa nasi dingin di bakul, mau aku suruh gorengkan."

"Kita ke sana bareng aja."

Naira menggeleng cepat. "Nanti Mas capek."

"Enggak. Lagipula, aku diminta jagain kamu. Masak kamu ditinggal?" Arka terkekeh pelan. "Nanti yang ada, aku hanya jagain rumah kosong."

Naira ikut terkekeh. "Ya sudah, aku ambil jaket sama nasi dulu."

"Eh, jalan kaki saja. Motor biar taruh samping rumah."

Naira segera masuk ke dalam mencari sweater hangat dan dompet kecil serta mengambil sebakul nasi dingin di dapur.

Setelah mengunci pintu utama, ia mendapati Arka sudah menunggu di halaman sambil menatap langit malam yang cerah.

"Ayo, Mas."

Mereka berdua jalan beriringan. Suara katak terdengar samar namun bersahutan dengan jangkrik. Jalanan perkampungan tampak agak gelap, hanya mengandalkan penerangan kekuningan dari teras rumah warga.

Kedai Pak Sur hanya berjarak beberapa rumah, tapi entah mengapa perjalanan terasa lama, ditemani rembulan yang terang benderang. Mereka diam, dengan tangan Naira yang erat memegang bakul nasi.

"Aku pedas, ya," ucap Arka memecah keheningan.

"Nanti meler."

"Nggak."

Naira terkekeh begitu sampai di kedai Pak Sur. Bukan tempat yang besar, hanya warung bambu di halaman depan rumah dengan lampu petromaks temaram. Aroma gorengan cukup pekat di hidung, dan untungnya, kedai masih sepi.

"Eh, Naira," sapa Pak Sur yang sedang minum kopi.

"Mas Arka," sapanya kemudian.

"Iya, Pak. Kucingnya sekarang di mana?"

"Wah, malah nanya kucing. Sudah dikandangin sama anakku, takut kalau manjat pohon mangga lagi," kekeh pria tua itu. "Naira mau pesan apa?"

"Pak, bisa minta tolong gorengkan?" ucapnya pelan sambil mendorong bakul nasi dingin yang dibawanya.

"Duduk dulu. Mau dimakan di sini atau bawa pulang?"

Naira menoleh ke arah Arka. "Makan di sini mau, Mas?"

"Boleh."

"Makan di sini saja, Pak."

Kedua orang itu mengambil duduk. Arka memilih duduk berdampingan dengan Naira. Suara kursi plastik berdecit pelan saat Arka duduk.

"Mau pedas, nggak?"

"Pedas sedang satu. Yang satunya pedas banget," jawab Naira.

Setelahnya, suara kompor minyak berdesis pelan. Lampu petromaks di tengah warung sesekali berbunyi wussshh. Aroma tumisan bawang putih dan cabai yang pekat membuat mata terasa perih, ditambah bunyi wajan yang berisik.

Saat Pak Sur sibuk membolak-balik nasi, mereka berdua diam cukup lama. Sesekali lengan Arka menyenggol bahu Naira yang jauh lebih pendek, memberikan kehangatan samar.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Seorang wanita paruh baya berdiri di depan kedai dengan senyum taring emas yang berkilau di bawah cahaya petromaks.

"Eh, ada Mas Arka dan Naira," sapanya dengan mata berkilauan bak menemukan harta karun.

"Bude Wati," desis Naira pelan.

"Beli nasi goreng?" tanya wanita itu dengan basa-basi yang tidak perlu.

"Iya, Bude. Bawa nasi sendiri," jawab Naira siaga.

"Naira nggak masak buat Arka?"

Deg!

Naira membeku. "Enggak."

"Ibumu? Biasanya dia paling ribut belanja di tukang sayur," ujar Bude Wati sambil duduk di depan Naira. "Tapi hari ini tumben nggak kelihatan."

"Ibu sakit, nggak masak," jawab Naira cepat, ketus.

"Oalah. Bude sendiri ngapain ke sini?"

"Ambil pesanan nasi goreng," jawab Wati tenang. "Pak Sur, pesanan anakku mana?"

"Itu dekat meja, sudah dibayar."

Setelah mendapatkan pesanannya, Bude Wati berpamitan dengan tatapan intens dan senyum lebar.

Setelah kepergian Bude Wati, hanya tersisa suara desis minyak dan wajan Pak Sur. Arka baru saja menghabiskan kerupuk terakhirnya.

"Jangan dipikirin."

Naira menoleh. "Orangnya suka ikut campur."

"Kadang, cukup jawab yang perlu. Diam untuk hal yang nggak perlu," Arka menggeser duduknya, menatap Naira. "Itu bakal buat mereka pergi sendiri."

"Mas Arka kayaknya pernah ketemu orang begitu."

"Banyak. Mereka cuma penasaran."

"Penasaran atau gosip?"

Arka terkekeh pelan. "Dua-duanya."

Dua porsi nasi goreng lengkap dengan telur, ayam, serta potongan kubis tersaji. Aroma bawang yang pekat tercium menggugah selera.

"Ini pedas," Pak Sur menunjuk satu piring. "Yang ini pedas sedang."

"Sekarang kita makan saja. Biar meler kepedasan," bisik Arka pelan.

...----------------...

¹Ndrodog \= Gemetar.

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!