NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Sahabat Terbaik

 Di rumah kontrakan An Na, ia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuknya dan Anqi. Hari ini menu makanan mereka yakni mie cup instan dan telur rebus.

Anqi menatap benda berbentuk gelap di depannya dengan wajah bingung. Ia menunjuk mie cup itu dan bertanya dengan polos kepada An Na. “An Na… benda aneh ini bagaimana cara memakannya? Apakah harus dimakan dengan wadahnya juga?”

An Na seketika tertawa. “Ya ampun, Nona Besar! Mana ada orang makan wadahnya! Ini namanya mie cup, begini caranya…” An Na pun dengan sabar mengajari Anqi 'membuka tutupnya, menyeduh air panas, menunggu beberapa menit, dan jadi... Makanannya sudah siap dimakan'.

Baru saja Anqi hendak menyuap sendok pertamanya, tiba-tiba suara dering nyaring terdengar dari meja. Tring! Tring!

“Sebentar ya, Qi, aku angkat telepon dulu,” ucap An Na lalu bergegas mengangkat panggilan itu.

Belum lama berbicara, wajah Anna langsung berbinar penuh kegembiraan. Ia melompat kecil kegirangan. “Yai! Aku diterima! Anqi, aku diterima kerja di Perusahaan Desain ternama!”

Anqi hanya menatap benda pipih yang dipegang An Na itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia menunjuk benda itu dan bertanya, “Benda apa itu yang tiba-tiba berbunyi dan bisa mengeluarkan suara orang lain?”

An Na tersenyum sambil mengangkat benda itu tinggi-tinggi. “Ini namanya handphone. Alat ajaib ini untuk kirim pesan, telepon, dan dapat berita dari seluruh dunia. Singkatnya, ini penghubung informasi zaman sekarang.”

“Begitukah…” gumam Anqi sambil mengangguk-angguk pelan, otaknya bekerja keras mencerna penjelasan itu.

“Sudahlah, jangan dipikirkan terus. Nanti juga paham. Ayo makan selagi hangat,” ajak An Na sambil duduk kembali.

Saat sedang asyik makan, Anqi kembali bertanya dengan wajah serius, “An Na, untuk apa bekerja? Bukankah lebih enak di rumah saja?”

An Na hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. Ia menepuk dadanya lalu menatap Anqi tak percaya. “Aduh Nona, kau ini memang dari zaman batu ya? KERJA itu tujuannya cari UANG! Supaya kita bisa beli makan, bayar tempat tinggal ini, beli baju, beli barang yang kita mau. Kau pikir uang itu bakal jatuh dari langit seperti hujan emas? Kalau ada, aku sudah membawa baskom dari dulu!”

Anqi hanya diam termenung, seolah baru saja mendapatkan pelajaran paling rumit sedunia.

“Sudah, makanlah. Aku mau bersiap-siap dulu, besok hari pertamaku bekerja, Aku tidak boleh terlambat sedikit pun!” ucap An Na sambil bangkit dari kursi dengan semangat, meninggalkan Anqi yang masih terlihat bingung.

 Keesokan paginya, An Na bangun lebih awal dan bersiap dengan tergesa-gesa. Saat An Na hendak berangkat, Anqi pun terbangun dan ikut keluar dari kamar.

“Anqi, kau di rumah saja ya. Kalau nanti ingin keluar, pastikan pintunya dikunci rapat, mengerti?” pesan An Ma mengingatkan.

Anqi hanya mengangguk patuh, namun tiba-tiba ia bertanya sambil menatap penasaran, “An Na… apakah aku tidak punya benda ajaib yang kemarin kau pegang itu? Yang bisa berbunyi dan mengeluarkan suara orang lain itu?”

An Na tertawa kecil, “Oh, maksudmu handphone? Aku tidak tahu di mana handphone milikmu, tapi tenang, aku punya satu untukmu.”

An Na segera mengambil ponsel lamanya, lalu menuliskan nomornya sendiri di sana. “Nah, ini pakai dulu ya. Ini nomorku sudah aku simpan di dalamnya. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku.”

An Na pun dengan sabar mengajari Anqi cara menyalakan layar, membuka menu, dan cara menelepon. Ternyata Anqi sangat pintar dan cepat sekali menguasai cara menggunakannya.

Baru saja selesai mengajari, An Na melirik jam di dinding dan tersentak kaget. “Aduh, sudah mau terlambat!”

An Na pun langsung berlari menuju pintu sambil berteriak mengingatkan sekali lagi, “Ingat ya, Anqi! Kalau keluar pintunya dikunci dulu!”

“Iya, aku ingat!” jawab Anqi tenang dari dalam, sambil memperhatikan benda pipih ajaib di tangannya itu dengan penuh minat.

Setelah An Na berangkat, Anqi mulai mengotak-atik handphone pemberian itu. Ia membuka YouTube dan terbelalak takjub melihat gambar bergerak di layar yang bisa mengeluarkan suara. Ia asyik mengetik dan menekan-nekan layar sambil berdecak kagum, seolah sedang memegang benda ajaib.

Namun, lama-kelamaan ia mulai merasa bosan. Akhirnya, Anqi memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Saat hendak menutup pintu, ia bingung melihat kunci dan engsel pintu yang aneh itu.

“Ah, sudahlah. Yang penting tidak terbuka,” gumamnya santai. Ia pun membiarkan pintu itu tertutup begitu saja tanpa dikunci, lalu berjalan pergi.

Ia berjalan santai hingga sampai di area pasar. Matanya tertuju pada sebuah gerobak jajanan yang mengeluarkan aroma harum menggugah selera. Ia berdiri diam menatap makanan itu dengan rasa penasaran. Penjualnya yang merasa diperhatikan segera menegurnya.

“Nona, mau beli apa? Silakan pilih,” tawar penjual itu ramah.

Anqi menatap polos, lalu menjawab jujur, “Tidak, aku tidak punya uang.”

Mendengar itu, wajah penjual langsung berubah masam. “Kalau tidak punya uang, sana pergi! Jangan berdiri di sana menghalangi orang yang mau beli!” ketusnya mengusir Anqi.

Anqi pun pergi dari sana. Namun, saat hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dan menyenggol bahunya. Anqi terhuyung sedikit, tapi tidak terluka.

Pintu mobil segera terbuka, dan turunlah seorang pria berpenampilan rapi. Begitu melihat wajah gadis itu, pria itu tertegun sejenak, ia mengenali wajah pasien yang pernah ia tolong dulu.

“Maaf, kau tidak apa-apa kan?” tanya pria itu cemas sambil memeriksa keadaan Anqi. “Namaku David Chen. Kau boleh panggil aku David saja.”

“Namaku Yu Anqi,” jawabnya singkat.

“Kau… bukannya pasien yang dulu dirawat di rumah sakit? Senang sekali bisa bertemu lagi dengan keadaan sehat begini,” ucap David tersenyum. “Bolehkah kita bicara sebentar? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan soal kesehatanmu.”

Anqi mengangguk setuju. Akhirnya, mereka pergi ke sebuah kafe yang nyaman tidak jauh dari sana. David memesan minuman dan beberapa makanan ringan, lalu menawari Anqi.

“Silakan, pesanlah apa saja yang kau suka,” ucap David ramah.

Anqi menelan ludah, matanya menatap menu yang penuh tulisan asing. Ia mendekatkan mulutnya dan berbisik pelan, “Aku… aku tidak punya uang.”

David tertawa kecil mendengar kekhawatirannya. “Tenang saja, aku yang traktir. Aku yang bayar semuanya. Pesanlah apa yang kau inginkan.”

Mendengar itu, wajah Anqi langsung berbinar. Ia menunjuk beberapa nama makanan dan minuman yang terdengar paling aneh dan unik di daftar menu, penasaran seperti apa rasanya.

Setelah pesanan dicatat, David mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Anqi. Tangan pria itu terulur perlahan, lalu menyentuh kening Anqi untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Anqi tersentak kaget, langsung memundurkan kepalanya dengan tatapan waspada dan curiga.

“Apa yang kau lakukan?! Apakah kau orang jahat yang ingin mencelakaiku?” tanya Anqi tajam, siap siaga jika harus melawan.

David menarik tangannya kembali sambil tersenyum tipis, berusaha menenangkan gadis di hadapannya itu. “Jangan takut, aku hanya memeriksa suhu tubuhmu. Dari cara bicara dan tingkah lakumu tadi, sepertinya ada yang berbeda. Aku menduga kau mungkin mengalami amnesia atau hilang ingatan setelah kejadian kecelakaan itu. Sebaiknya kondisi ini diperiksakan saja agar tidak membahayakan dirimu nanti.”

Belum sempat Anqi menjawab, pelayan datang membawa pesanan mereka. Begitu makanan dan minuman diletakkan di meja, fokus Anqi seketika beralih. Tanpa ragu, ia langsung menyantap hidangan itu dengan sangat lahap, seolah sedang memakan makanan paling lezat di dunia. David hanya duduk diam sambil tersenyum, memperhatikan tingkah polos dan keluguan gadis itu yang baginya sangat menghibur.

Tak lama kemudian, semua makanan di piring habis tak tersisa. Anqi menyeka mulutnya, lalu membungkukkan badannya kepada David dengan penuh rasa hormat.

“Terima kasih banyak atas makanannya, David!” ucapnya tulus.

Saat Anqi hendak berbalik pergi, David segera menahannya. “Tunggu dulu. Kau yakin tidak apa-apa? Apakah kau tidak membutuhkan bantuan lain atau ingin aku mengantarmu pulang?”

Anqi hanya mengangkat tangannya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang, langkah kakinya tetap berjalan menjauh.

“Aku tidak apa-apa! Terima kasih!” teriaknya lantang, lalu pergi begitu saja meninggalkan David yang masih duduk di kafe itu.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!