Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tak Terduga
“Li Xia, apa yang terjadi di luar?” tanya Yanfei dengan nada sedikit bingung. Setelah selesai membeli buku dan barang-barang yang dibutuhkannya, ia sudah memerintahkan kusir untuk segera membawanya kembali ke kediaman. Namun, baru saja kereta bergerak perlahan, tiba-tiba terdengar suara kuda yang meringkik kaget dan berhenti mendadak seolah menghantam sesuatu.
Li Xia yang duduk di sebelahnya segera menoleh ke arah luar, lalu menjawab dengan suara lembut, “Nona, sepertinya ada sesuatu yang menghalangi jalan kereta ini.”
“Keluar dan lihat apa yang terjadi,” perintah Yanfei sambil tetap duduk tenang di dalam. Ia menguap pelan, merasa tubuhnya sedikit lelah karena sudah beraktivitas dan berjalan-jalan seharian penuh sejak pagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Li Xia kembali mendekat, namun kali ini suaranya terdengar bergetar dan tidak tenang. “Nona… ada sesuatu…”
Mendengar nada bicara itu, Yanfei langsung membuka tirai jendela dan mendongakkan kepalanya keluar. Begitu melihat apa yang ada di hadapannya, matanya langsung terbelalak.
“Nona, ini adalah anak yang kita temui saat perayaan lampu malam itu,” jelas Li Xia dengan nada waspada.
Anak kecil itu—yang pertama kali mereka temui membuat kekacauan, dan saat pertemuan kedua justru terlihat ingin mencelakai dirinya sendiri—kini tergeletak lemah di depan roda kereta. Yang paling membuat hati Yanfei terasa sesak adalah kepala bocah itu terluka dan mengeluarkan darah segar yang mengalir turun membasahi wajahnya.
“Angkat dan bawa dia masuk ke dalam kereta segera!” perintah Yanfei dengan nada cemas.
Li Xia hanya bisa menurut dan segera menggendong tubuh kecil itu dengan hati-hati membawanya masuk ke dalam. Begitu terlihat jelas, kondisi anak itu sungguh memprihatinkan: pakaiannya robek-robek dan kotor, tubuhnya penuh debu dan lumpur, wajahnya terlihat sangat pucat pasi, dan seluruh tubuhnya terguncang hebat seolah masih diliputi rasa takut yang luar biasa. Anak seusia ini seharusnya masih bermain dan dirawat dengan baik, namun nyatanya ia sudah harus menghadapi situasi yang bisa membahayakan nyawanya sendiri. Sungguh sangat menyedihkan.
“Dia terlalu ketakutan dan juga terluka cukup parah. Jika dibiarkan, bisa saja ia mengalami demam tinggi karena peradangan luka,” gumam Yanfei sambil segera mengeluarkan sebuah kotak obat kecil dari dalam tasnya.
Dengan gerakan yang terampil dan tenang, ia memasukkan sebutir pil hitam kecil ke dalam mulut bocah itu, lalu menggunakan air bersih untuk membersihkan darah dan kotoran yang menempel di luka-lukanya. Ia menempelkan ramuan obat yang sudah disiapkan pada bagian yang terluka dan membungkusnya dengan kain bersih. Dalam waktu singkat, tubuh anak yang tadinya terlihat berantakan itu kini tampak lebih terawat dan kondisinya mulai terlihat lebih stabil.
Yanfei menatap wajah bocah itu dengan pandangan yang dalam dan penuh perasaan. Entah mengapa, setiap kali melihat anak ini, dadanya terasa sesak dan berat seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana. Rasa perih yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata menjalar di hatinya, membuatnya ingin sekali menangis tanpa alasan yang jelas.
Meskipun ia bukanlah tabib istana yang memiliki gelar resmi, namun selama enam tahun meninggalkan ibu kota, ia tidak ingin larut dalam kesedihan yang membelenggunya. Ia memutuskan untuk mengisi waktunya dengan mempelajari berbagai hal, termasuk membaca buku-buku ilmu pengobatan dan bahkan belajar langsung dari seorang tabib terkenal yang tinggal terpencil di lembah obat. Berkat pengajaran langsung dari orang yang sangat ahli itu, kemampuannya dalam menangani luka dan penyakit ringan hingga menengah sudah cukup baik dan bisa diandalkan.
Kereta pun kembali melaju, namun tidak menuju kediaman keluarga Duan. Sebaliknya, mereka berhenti tepat di depan sebuah penginapan yang cukup besar dan terlihat bersih. Yanfei turun dan dengan tangannya sendiri menggendong tubuh bocah itu, membawanya naik ke lantai atas ke sebuah kamar yang sudah disewa untuk keperluan malam ini.
“Nona, anak ini sungguh sangat malang,” ujar Li Xia dengan nada sedih. Ia juga merasa iba; meski baru bertemu dua kali, namun dalam kedua pertemuan itu, anak ini selalu terlihat sedang dikejar atau terlibat dalam bahaya.
“Bantu aku membeli satu set pakaian yang cocok untuk anak usia ini. Tubuhnya penuh debu dan kotoran, kita harus membersihkannya dengan baik,” perintah Yanfei.
Meskipun hari sudah mulai larut, namun kawasan ini masih cukup ramai karena dekat dengan pusat kota. Li Xia segera melangkah keluar dan bergegas menuju toko pakaian terdekat untuk membeli kebutuhan yang diminta. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa beberapa potong baju yang bersih dan nyaman.
“Ini sudah saya dapatkan, Nona.”
“Kondisinya masih belum stabil. Malam ini aku akan tetap berada di sini untuk merawatnya dan memantau kondisinya. Jangan sampai ia terkena demam tinggi yang bisa memperburuk keadaannya,” kata Yanfei sambil memeriksa suhu tubuh anak itu dengan telapak tangannya.
“Baik, Nona. Saya akan mengawasi dari luar kamar,” jawab Li Xia.
“Panggil juga pengawal yang aku perintahkan untuk mengikuti anak ini malam itu,” tambah Yanfei.
“Baik, Nona.”
Li Xia segera turun ke bawah untuk memanggil pengawal yang dimaksud sekaligus memastikan semua kebutuhan malam ini tersedia. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap dan berpakaian seragam pengawal datang menghadap dengan sikap hormat.
“Hamba Bao Zhi menghadap Nona. Apakah ada perintah yang hamba harus laksanakan?” tanyanya dengan nada tegas.
Yanfei menatap pria itu sejenak, lalu bertanya langsung, “Apakah kau adalah pengawal yang aku perintahkan untuk mengikuti dan memastikan keamanan anak kecil ini pada malam perayaan lampu sebelumnya?”
Ia merasa khawatir, anak ini sudah terluka parah dan tergeletak di jalanan sedemikian rupa, sedangkan malam sudah semakin larut. Jika ia memiliki keluarga, orang tuanya pasti sedang cemas dan panik mencarinya.
“Benar, Nona. Hamba adalah orangnya,” jawab Bao Zhi dengan kepala tertunduk.
“Siapa namamu?”
“Hamba bernama Bao Zhi.”
“Karena kau sudah mengikuti anak itu sebelumnya, seharusnya kau mengetahui di mana ia tinggal dan siapa keluarganya, bukan?” tanya Yanfei lagi dengan nada yang lebih serius.
Pertemuan pertama anak itu sudah terlibat dalam kejadian yang membuatnya dikejar-kejar, dan kini pada pertemuan kedua ia justru terluka parah dan dikejar lagi. Siapa sebenarnya yang mengincarnya? Mengapa mereka tidak melepaskan seorang anak kecil yang tidak berdaya?
Mendengar pertanyaan itu, wajah Bao Zhi terlihat malu dan cemas. “Izinkan hamba menjawab, Nona. Setelah Nona meninggalkan anak itu di tepi danau malam itu, hamba segera berusaha mengikuti dan mengawasinya dari kejauhan. Namun, anak itu bergerak sangat cepat dan lincah, tiba-tiba menghilang begitu saja di antara keramaian pasar. Hamba gagal melacak keberadaannya dan tidak tahu ke mana ia pergi. Hamba pantas menerima hukuman karena tidak menjalankan tugas dengan baik.”
Yanfei menarik napas panjang, lalu melambaikan tangan pelan. “Baiklah, jika memang begitu, kita bicarakan soal hukuman nanti saja. Pergilah segera kembali ke kediaman keluarga Duan dan sampaikan kabar bahwa malam ini aku tidak bisa pulang dan akan menginap di tempat ini. Jangan membuat ibu atau ayah khawatir.”
“Siap, Nona. Hamba akan segera melaksanakan perintah,” jawab Bao Zhi, lalu berbalik dan melesat pergi secepat angin menuju kediaman.
Setelah kepergian pengawal itu, Li Xia mendekat kembali dan bertanya dengan nada ragu, “Nona, apakah kita benar-benar akan menginap di sini malam ini dan tidak pulang?”
Yanfei hanya mengangguk pelan sambil menatap anak kecil yang terbaring lemah di atas tempat tidur. “Hm… kita akan menginap di sini dulu. Keadaannya belum aman untuk dipindahkan lagi, dan aku ingin memastikan ia benar-benar membaik sebelum kita memutuskan langkah selanjutnya.”
Di luar jendela, malam semakin larut dan angin bertiup semakin dingin. Namun di dalam kamar itu, suasana terasa tenang dan hangat, dipenuhi dengan perhatian tulus dari seorang wanita yang entah mengapa merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak malang itu.