Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 1
“Mas, aku mau kamu menikahi Amelia. Aku tidak akan bisa memberimu keturunan. Tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Anggap ini permintaan terakhirku.”
Mata Rosa berkaca-kaca saat menyelesaikan ucapannya. Tatapannya penuh tekad dan enggan dibantah oleh pria di samping brankar yang saat ini tengah menggenggam erat tangannya.
“Apa yang kamu katakan? Kamu tidak akan pergi ke mana pun, tetap di sini sebagai istriku. Aku akan menjadikanmu satu-satunya. Soal anak ... aku menikahimu bukan untuk memberiku keturunan. Aku hanya ingin kita menghabiskan waktu bersama seumur hidup. Jangan terus meminta sesuatu yang sukar aku lakukan, Sa.” Hanan mengeratkan genggamannya pada tangan sang istri yang terasa dingin.
Rosa menggeleng pelan. Kristal bening semakin menggenang di pelupuk matanya seolah satu kedipan saja akan meruntuhkan semua pertahanannya.
“Mas dengar sendiri, ‘kan, apa kata dokter, kemungkinan untuk sembuh terlalu kecil. Aku tidak bisa menjalani kewajibanku sebagai seorang istri sepenuhnya. Hidup harus tetap berlanjut. Aku akan tenang jika Mas mau nikah dengan Amel. Dia gadis yang baik—bahkan aku berani jamin lebih baik dari aku.”
Tatapan Rosa penuh keputusasaan.
Dokter mendiagnosis bahwa penyakit wanita itu sudah memasuki stadium akhir. Akan sulit untuk menyembuhkannya di titik ini.
Hanan bisa melihat sinar kehidupan di mata istrinya yang mulai meredup, tapi dia menolak untuk menerima fakta ini.
Tidak bisa.
Begitu besarnya rasa cinta Hanan pada Rosa sehingga bahkan jika sang istri sendiri yang memintanya mencintai perempuan lain, hatinya akan tetap membatu, apalagi ini adalah adik istrinya sendiri.
“Hidup dan mati ada di tangan Tuhan, Sa. Dokter punya diagnosis, tapi Tuhan punya solusi. Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu kali ini.”
Hanan mati-matian menahan diri agar tidak goyah dengan keputusannya. Dia bisa melihat setetes cairan bening mengalir di pipi pucat Rosa. Dia benar-benar tidak akan menyerah pada istrinya hanya karena apa kata dokter yang bukan pemilik takdir. Dia masih memiliki kepercayaan diri bahwa perempuan kesayangannya itu akan sembuh dan keluar dari ruangan memuakkan ini.
Yang tak Hanan sadari, tak semua sembuh berarti pulang ke rumah. Tak semua sembuh berarti kembali dengan napas lega. Bisa jadi sembuh yang paling adil adalah kembali pada sang pencipta.
Amelia berdiri di luar ruangan. Dia mencuri dengar semua percakapan kakaknya dan sang ipar. Gadis itu menghela napas panjang dengan pandangan yang senantiasa menatap langit-langit lorong rumah sakit, seolah berusaha menjelajahi pikirannya sendiri untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Apa yang diminta Rosa pada suaminya sudah lebih dulu dikatakan pada Amelia. Dan jawabannya jelas, gadis itu menentang keras. Permintaan kakaknya terlalu tidak masuk akal. Bahkan dia tanpa sadar membentak bahwa bahkan jika mereka benar-benar kehilangan Rosa, akan lebih baik jika kakak iparnya itu hidup sendirian selamanya dan tetap setia pada kakaknya.
Amelia bersumpah bahwa dia tak akan pernah menyentuh apa yang menjadi milik kakaknya dan pantang baginya untuk melanggar sumpahnya sendiri.
Amelia sudah melarang keras kakaknya untuk tidak mengatakan hal ini pada Hanan, tapi nyatanya bahkan batu pun kalah keras oleh pendirian wanita itu. Gadis itu menghela napas frustasi. Dia tahu bahwa hal ini tak akan berakhir baik, terbukti dari sosok Hanan yang kini menatap tajam ke arahnya setelah keluar dari ruangan Rosa yang tertidur lelap sehabis menangis.
“Aku harap kamu puas dengan apa yang sudah kamu lakukan, Mel. Kamu berhasil menghancurkan harapan terakhir kakakmu sendiri.”
Amelia menegang di tempatnya. Lagi-lagi suara kaku dan dingin itu yang menyapu gendang telinganya.
Tak ada jawaban spontan yang mampu terucap dari bibir tipis Amelia. Dia hanya mengumpulkan keberaniannya untuk menatap sosok Hanan yang berdiri menjulang di depannya. Dia seolah terdakwa yang tengah diadili. Tangannya mengepal di atas lutut berusaha meredam aura menakutkan yang diberikan oleh kakak iparnya.
“Kenapa Mas selalu bicara seolah-olah aku telah berbuat jahat pada Mbak Rosa? Mbak Rosa juga kakakku. Aku tidak pernah punya niat apa pun untuk menghancurkan hidup orang yang aku sayangi.” Amelia terus memaksakan diri menatap netra gelap Hanan yang pada akhirnya membuat nyalinya ciut. Apalagi setelah menjawab demikian, Hanan tertawa sinis.
“Orang lain mungkin akan percaya kata-katamu, tapi penilaianku tidak akan pernah salah.” Hanan maju selangkah membuat Amelia semakin tertekan.
“Tidak! Mas Hanan salah—kali ini benar-benar salah.”
Amelia ingin sekali meneriakkan kalimat itu pada sosok di depannya, tapi mulutnya lebih dulu terkunci karena dia tahu bahwa Hanan dengan kepercayaannya adalah suatu hal yang bahkan ombak setinggi gedung pencakar langit pun tak akan bisa meruntuhkannya.
Ruang napas Amelia seolah menyempit dan oksigennya semakin berkurang seiring dengan jarak di antara mereka yang menipis. “Dengar Amelia, sampai kapan pun aku tidak akan tertarik dengan perempuan licik sepertimu. Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu kamu.”
Kalimat terakhir Hanan menggema di lorong rumah sakit. Tempat itu seolah sepi mendadak. Jantung Amelia mencelos untuk sesaat. Tangannya terkepal erat berusaha mengumpulkan kepingan hatinya yang nyaris melebur.
Apa dirinya memang seburuk itu?
Sejak awal dia tahu bahwa kakaknya dicintai sedemikian hebatnya oleh Hanan. Senang rasanya karena Rosa menemukan seseorang yang menyayanginya sepenuh hati, terlepas dari keadaannya yang membawa serta penyakit mematikan. Namun, Amelia tidak mengerti dari mana kebencian Hanan berasal.
Hanya beberapa bulan setelah kakaknya dan Hanan menjadi sepasang kekasih, pria itu seolah menebar kebencian yang sulit diabaikan. Pria itu tak segan membentak dan menghinanya dengan kata-kata menusuk.
Amelia selalu kebingungan setiap kali pria itu mengatakan hal yang sama tentang dia yang akan merebut milik Rosa.
Gadis itu bersungguh-sungguh, bahkan meski dia iri sekali pun pada semua kasih sayang yang dimiliki oleh kakaknya, dia tak pernah berniat mengambil milik orang lain.
“Aku tidak tahu kenapa Mas Hanan begitu membenciku, tapi aku benar-benar menyayangi Mbak Rosa. Aku tidak peduli dengan pikiran Mas. Jadi, tolong tidak perlu mengataiku secara berlebihan.”
Hanan mendengus singkat dan kembali ke ruang rawat Rosa—meninggalkan Amelia dengan ribuan duri yang menempel di hatinya oleh kata-kata yang tak akan bisa ditarik kembali bahkan meski Hanan ingin suatu saat nanti.
***
“Kakak iparmu itu sudah keterlaluan, Mel. Harusnya kamu membiarkanku memukulnya waktu itu.” Kanaya emosi sendiri setelah mendengar perlakuan Hanan pada sahabat baiknya itu.
Ini bukan pertama kalinya Kanaya mengetahui bagaimana sikap Hanan pada Amelia. Minggu lalu dia bahkan memergoki pria itu membentak Amelia saat memberikan makan siang pada Rosa. Semua perkara bubur yang dibawa Amelia masih terlalu panas. Padahal itu perkara sepele karena buburnya masih bisa didinginkan lebih dulu. Namun, Hanan dengan kebenciannya pada Amelia sudah tahap maksimal.
Kanaya nyaris membalas Hanan dengan pukulan andalannya mengingat dia adalah atlet taekwondo dengan penghargaan nasional, tapi Amelia segera menahan sahabatnya agar tidak membuat keributan lebih jauh.
“Mas Hanan selalu mengira jika aku akan merebut kebahagiaan kakakku sendiri.” Amelia memasang raut masam. “Termasuk mengambil suaminya.”
“Tapi kamu sungguh tidak memiliki perasaan apa pun lagi padanya, ‘kan, Mel?”
Amelia termenung sesaat—membiarkan pertanyaan sahabatnya menggantung tanpa jawaban untuk beberapa saat.
“Aku—“