"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kotak Hitam Aurora
Alarm darurat berwarna merah darah masih terus berdenyut, memuntahkan pendaran cahaya yang mengintimidasi ke seluruh penjuru ruangan bawah tanah.
Suara sirene rendah yang monoton menggema berulang-ulang di antara dinding beton tua Gudang 17, menciptakan tekanan akustik yang membuat udara di dalam ruang steril itu terasa semakin pekat dan berat untuk dihirup.
Alea berdiri terpaku, tubuhnya kaku di depan rak arsip besar yang telah bergeser dan menyingkap keberadaan ruang rahasia Aurora.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.
Denyut nyeri di pelipisnya belum sepenuhnya reda, karena kilasan-kilasan ingatan yang mendadak melesat masuk ke dalam benaknya beberapa menit lalu masih menyisakan gaung yang nyata.
Sebuah taman bermain yang diselimuti cahaya sore yang hangat... sebuah ayunan kayu berwarna merah yang bergoyang pelan... suara tawa renyah seorang anak laki-laki yang terdengar begitu akrab... dan sebuah kalimat yang terus berulang seperti pita kaset rusak tanpa bisa ia pahami maknanya:
Jangan lepaskan tangannya...
"Alea."
Suara bariton Adrian yang berat dan tegas seketika menarik Alea kembali dari labirin memorinya.
Wanita itu mengerjapkan mata, menstabilkan napasnya, lalu menoleh.
Adrian telah berdiri di depan sebuah meja logam tua yang tertanam kokoh tepat di tengah-tengah ruangan inti Aurora.
Di atas meja itulah kotak hitam misterius yang sebelumnya mereka lihat kini berada.
Kotak tersebut tidak terlalu besar, memiliki panjang sekitar empat puluh sentimeter dengan material serat karbon tebal bercampur logam matte berwarna hitam pekat.
Tidak ada logo, tidak ada stiker inventaris, dan tidak ada identitas apa pun yang melekat di permukaannya.
Namun, justru kesederhanaan yang ekstrem dan desainnya yang kokoh itulah yang membuatnya tampak jauh lebih penting sekaligus berbahaya daripada brankas korporat mana pun yang pernah mereka lihat.
Adrian membungkuk sedikit, mengamati permukaan kotak tersebut dengan ketelitian seorang pakar keamanan.
"Ini bukan sekadar brankas biasa untuk menyimpan dokumen rahasia."
Alea melangkah mendekat, mencoba mengabaikan lampu merah yang terus berputar di atas kepala mereka.
"Apa maksudmu?"
Adrian menunjuk ke sebuah panel kaca kecil berbentuk persegi yang tertanam di sisi kanan penutup kotak.
"Lihat mekanisnya. Ini pemindai biometrik."
Alea mengernyitkan kening.
"Sidik jari? Berarti kita harus meretasnya?"
"Bukan sidik jari," Adrian menggeleng perlahan, matanya menyipit meneliti garis sensor di balik kaca.
"Ini pemindai DNA generasi lama. Menggunakan jarum mikro-sensorik untuk mendeteksi struktur genetika."
Kini, seluruh tubuh Alea benar-benar membeku.
"DNA?"
"Ya," Adrian mengangguk perlahan, ekspresi wajahnya mengeras.
"Teknologi seperti ini sangat langka dan berbiaya luar biasa mahal dua puluh tahun yang lalu. Tidak ada perusahaan biasa yang menggunakan proteksi tingkat ini hanya untuk menyimpan berkas saham atau kontrak kerja."
Tatapan Adrian beralih dari kotak tersebut, mengunci manik mata Alea dengan keseriusan yang mutlak.
"Sistem ini hanya dirancang untuk satu tujuan, memastikan bahwa kotak ini tidak akan pernah bisa dibuka oleh siapa pun di dunia ini, kecuali oleh orang-orang spesifik yang garis darahnya telah didaftarkan ke dalam sistem."
Mereka berdua saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam di antara raungan sirene. Dalam detik yang sunyi itu, sebuah pemahaman intuitif mendadak melintas di benak mereka secara bersamaan.
George Corisand tidak meninggalkan kotak ini untuk sembarang orang.
Kotak ini tidak dimaksudkan untuk ditemukan oleh para eksekutif perusahaan, pihak berwajib, atau bahkan Eleanor.
Kotak ini ditinggalkan khusus untuk mereka berdua, Adrian dan Alea.
Sirene darurat kembali meraung dengan nada yang semakin melengking, dan lampu merah di langit-langit berkedip dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Indikator bahwa waktu yang mereka miliki untuk berada di tempat ini sebelum sistem mengunci total atau mengirimkan sinyal bahaya ke luar semakin menipis.
Adrian menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri.
"Kalau teoriku tentang hubungan masa lalu kita benar..." Ia mengulurkan tangannya yang kokoh ke arah panel biometrik di atas meja.
"...maka hanya ada satu cara di dunia ini untuk membuktikannya."
Dengan kemantapan yang dipaksakan, ujung jari Adrian menyentuh permukaan kaca hitam panel tersebut.
Hening. Beberapa detik berlalu tanpa ada reaksi apa pun dari mesin tua itu. Jantung Alea seolah berhenti berdetak saat menunggu hasil.
Kemudian—BIP!
Lampu indikator kecil di sudut panel menyala hijau terang.
Sinar pemindai lateral bergerak naik-turun di bawah permukaan kaca.
Layar LCD kecil di sisi kotak yang semula mati mendadak menampilkan baris teks digital berwarna hijau:
IDENTITAS TERKONFIRMASI: ADRIAN HUTAMA
Mata Alea melebar sempurna.
"Adrian... jadi kau..."
Namun, sebelum mereka sempat memproses rasa terkejut tersebut, layar digital kecil itu kembali berkedip dan mengubah tampilannya. Sebuah instruksi baru muncul dengan huruf kapital yang tegas.
VERIFIKASI KEDUA DIPERLUKAN
Adrian menoleh ke arah Alea, memberikan sebuah tatapan yang tidak memerlukan kata-kata.
Alea sudah mengerti apa yang harus ia lakukan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar akibat gelombang adrenalin yang menghantam tubuhnya, Alea melangkah maju dan meletakkan telapak tangannya di atas sisa ruang panel pemindai.
Ruangan itu kembali diliputi keheningan yang menegangkan.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
BIP!
Suara klik mekanis yang tajam terdengar dari dalam kotak, disusul oleh perubahan tulisan di layar digital:
IDENTITAS TERKONFIRMASI: ALEA CORISAND AKSES AURORA DIBERIKAN
Clang. Klik.
Suara pengunci logam tebal yang terlepas menggema di seluruh ruangan steril tersebut.
Penutup kotak hitam bermaterial serat karbon itu perlahan-lahan terangkat dengan sendirinya, didorong oleh hidrolik kecil yang bekerja dalam senyap.
Alea merasakan bulu kuduknya meremang sepenuhnya.
Sesuatu yang telah dikubur, disembunyikan, dan dilindungi dengan taruhan nyawa selama dua dekade kini akhirnya terhampar terbuka di hadapan mereka.
Di dalam kompartemen kotak yang dilapisi beludru hitam tersebut, hanya terdapat tiga buah benda yang tertata rapi, sebuah map kulit tua berwarna cokelat, sebuah flash drive bermaterial baja perak dengan port enkripsi khusus, dan selembar foto fisik.
Adrian mengulurkan tangan dan mengambil selembar foto fisik itu terlebih dahulu.
Namun, begitu matanya menangkap gambar yang tercetak di atas kertas foto yang telah sedikit menguning tersebut, untuk pertama kalinya sejak rangkaian misteri ini dimulai, wajah Adrian kehilangan seluruh ketenangan dan kendali emosi yang biasa ia miliki.
Pria itu tampak mematung, rahangnya sedikit terbuka karena syok.
"Alea..." suara Adrian terdengar sangat lirih, nyaris menyerupai bisikan angin yang tercekat di tenggorokan.
Alea yang didera rasa penasaran segera merebut foto itu dari tangan Adrian.
Begitu matanya fokus pada gambar tersebut, dunianya seakan-akan berhenti berputar pada porosnya.
Dalam foto beresolusi tinggi itu, terlihat dua orang anak kecil yang diperkirakan berusia sekitar tujuh tahun.
Seorang anak laki-laki bertubuh tegap dengan potongan rambut rapi, dan seorang anak perempuan berambut panjang dengan binar mata yang cerah.
Mereka sedang duduk berdampingan di atas rumput hijau di bawah naungan sebuah pohon ek yang sangat besar, tertawa lepas ke arah kamera.
Anak laki-laki itu memegang sebuah mainan pesawat kayu, sementara anak perempuan di sampingnya mendekap sebuah boneka kain kecil.
Namun, yang membuat dada Alea bergemuruh hebat adalah empat orang dewasa yang berdiri berjejer di belakang kedua anak tersebut.
George Corisand. William Hutama. Eleanor Corisand. Dan Raymond Hutama.
Keempat orang tua mereka berdiri bersama, saling merangkul dengan senyuman tulus yang sangat lepas, memancarkan kehangatan sebuah hubungan keluarga yang sangat dekat, sesuatu yang belum pernah Alea lihat seumur hidupnya.
Sebab sepanjang yang ia tahu, keluarga Corisand dan Hutama selalu berjarak dan murni berinteraksi karena urusan persaingan bisnis yang kaku.
Namun, perhatian Alea tidak bertahan lama pada figur empat orang dewasa itu. Tatapannya kembali terkunci mati pada dua sosok anak kecil di depan mereka.
Karena tidak peduli seberapa keras ia mencoba menyangkalnya, ia sangat mengenali struktur wajah mereka.
Anak laki-laki kecil yang memegang pesawat mainan itu adalah Adrian.
Dan anak perempuan kecil di sampingnya... adalah dirinya sendiri.
Seluruh permukaan kulit Alea mendadak terasa sedingin es.
"Ini... ini tidak mungkin, Adrian..." bisiknya dengan suara yang bergetar hebat.
"Kita... kita tidak pernah bertemu sebelum perjodohan dan pernikahan kontrak ini dimulai. Ibu selalu bilang aku menghabiskan masa kecilku di luar kota, dan kau berada di bawah asuhan ketat keluarga Hutama. Ini tidak masuk akal!"
Adrian tidak menjawab sepatah kata pun.
Matanya terus menatap foto itu, beralih antara wajah Alea kecil dan dirinya sendiri.
Ia tidak mampu memberikan penjelasan apa pun, karena logikanya yang biasanya berjalan runut kini telah patah oleh bukti fisik di tangannya.
Foto itu terlalu tua untuk dimanipulasi dengan teknologi digital modern, tekstur kertasnya asli, dan ekspresi kebahagiaan di wajah mereka terlalu sempurna untuk dipalsukan.
Alea tiba-tiba mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Sebuah kilasan memori lain kembali menghantam benaknya dengan kecepatan yang menyakitkan.
Seorang anak laki-laki berlari di antara semak mawar... suara tawa riang yang memantul di dinding taman... sebuah tangan kecil yang hangat menggenggam erat tangannya yang gemetar saat ia terjatuh...
Lalu, sebuah suara bariton yang sangat ia rindukan, suara George Corisand terdengar menggema di dalam kepalanya, berbicara dengan nada yang penuh penekanan:
"Kalian harus selalu bersama. Ingat itu, Alea. Adrian."
"Alea!"
Adrian dengan sigap menangkap dan menopang tubuh Alea ketika wanita itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan hampir ambruk ke lantai beton.
Napas Alea memburu, dadanya naik-turun dengan tidak teratur saat ia bersandar pada lengan kokoh Adrian.
"Aku... aku pernah mendengar suara itu, Adrian..." bisik Alea dengan mata terpejam rapat, mencoba menghalau rasa pening yang mendera.
"Apa yang kau lihat? Apa yang kau ingat?" tanya Adrian bertubi-tubi, ada nada kecemasan yang mendalam dalam suaranya.
"Aku tidak tahu semua detailnya..." Alea membuka matanya secara perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian yang berada sangat dekat dengannya.
"Tapi di dalam sini... aku merasa seolah-olah aku memang sudah pernah mengenalmu jauh sebelum semua pernikahan kontrak ini direncanakan."
Hening sejenak melingkupi mereka berdua.
Untuk pertama kalinya sejak malam pertama mereka di penthouse The Obsidian, tidak ada lagi sekat kontrak bisnis di antara mereka.
Tidak ada lagi ego yang saling berbenturan, tidak ada lagi kecurigaan, dan tidak ada lagi pertengkaran formalitas.
Yang tersisa hanyalah dua manusia yang dilingkupi oleh kebingungan yang sama, dan ketakutan yang sama terhadap konspirasi masa lalu mereka.
Adrian perlahan melepaskan pegangannya pada Alea setelah memastikan wanita itu bisa berdiri dengan stabil, lalu beralih mengambil map kulit tua yang berada di dalam kotak hitam.
Dengan tangan yang mantap, ia membuka halaman pertama yang berisi sebuah dokumen resmi dengan kop surat tanpa nama instansi.
Judul di bagian atas dokumen itu hanya terdiri dari satu kata yang dicetak tebal:
AURORA
Di bawah judul tersebut, terdapat sebuah baris sub-judul yang langsung menarik perhatian mereka:
Program Perlindungan dan Integrasi Subjek A-17 dan H-17.
Alea melangkah mendekat, matanya bergerak membaca baris berikutnya yang berisi rincian data subjek. Detik itu juga, sisa-sisa warna darah di wajahnya seakan menghilang sepenuhnya.
Subjek A-17 : Alea Corisand Subjek H-17 : Adrian Hutama
"Apa... apa sebenarnya arti dari semua ini, Adrian?" bisik Alea, suaranya nyaris hilang ditelan ketakutan. "Subjek? Kita berdua adalah subjek dari sebuah program?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Jemarinya dengan cepat membalik halaman berikutnya dari dokumen tebal tersebut.
Matanya yang tajam bergerak dengan kecepatan tinggi, membaca setiap baris instruksi, laporan medis, dan catatan garis lini masa yang tertera di sana.
Semakin banyak lembar dokumen yang ia baca, semakin gelap dan mengeras ekspresi di wajah pria itu.
"Alea..."
"Kenapa? Apa yang tertulis di sana?"
Adrian menoleh, menatap Alea dengan pandangan yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka terikat dalam pernikahan ini, suara Adrian terdengar benar-benar terguncang dan rapuh.
"Ini sama sekali bukan proyek bisnis."
Alea membeku di tempatnya.
"Bukan?"
Adrian menggelengkan kepala secara perlahan.
"Selama ini, berdasarkan berkas-berkas saham dan server yang kita retas, kita mengira Aurora adalah sebuah proyek investasi rahasia, sebuah rencana merger skala besar, atau strategi korporasi yang sengaja disembunyikan oleh kedua orang tua kita untuk menguasai pasar Valerika."
Adrian memutar map kulit tersebut, menunjukkan baris paragraf pembuka di halaman kedua kepada Alea.
"Tapi ternyata asumsi kita salah total."
"Lalu apa?"
Adrian menelan ludahnya yang terasa kelat, mencoba menstabilkan suaranya sebelum membacakan kalimat pertama dari manifesto dokumen tersebut:
"Program Aurora dibentuk bukan untuk kepentingan komersial, melainkan sebagai protokol perlindungan mutlak untuk mengamankan Adrian Hutama dan Alea Corisand dari ancaman eliminasi sistemik yang lahir akibat peristiwa berdarah pada tanggal 17 Agustus dua puluh tahun lalu."
Atmosfer di dalam ruangan rahasia itu mendadak terasa turun hingga ke titik beku. Kata "peristiwa berdarah" dan "eliminasi sistemik" seolah menampar kesadaran mereka.
Alea menatap Adrian dengan tatapan kosong, mencoba mencerna informasi tersebut, sementara Adrian membalas tatapannya dengan intensitas yang sama.
Tak satu pun dari mereka yang memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal 17 Agustus dua puluh tahun lalu.
Namun, satu hal kini telah terpampang nyata dengan sangat jelas, mereka baru saja membuka sebuah pintu gerbang menuju rahasia hitam yang jauh lebih besar, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sekadar urusan pernikahan kontrak atau persaingan bisnis antar-keluarga.
Mereka adalah target yang sedang disembunyikan oleh orang tua mereka sendiri.
Dan tepat pada detik menegangkan itu..
BRAK!!!
Sebuah suara benturan logam yang sangat keras dan dahsyat bergema dari arah luar, mengguncang pintu baja utama yang membatasi ruang rahasia dengan area gudang luar.
Getarannya bahkan terasa hingga ke lantai beton di bawah kaki mereka.
Keduanya tersentak hebat. Adrian dengan cepat mengalihkan seluruh fokusnya ke arah pintu.
Detik berikutnya, melalui sela-sela raungan sirene yang masih berdenyut, telinga terlatih Adrian menangkap suara yang paling tidak ingin ia dengar dalam situasi seperti ini.
Suara langkah kaki. Banyak langkah kaki yang berat, bergerak dengan ritme yang cepat, taktis, dan sangat teratur.
Seseorang atau sekelompok orang bersenjata telah berhasil menjebol pertahanan luar Gudang 17 dan kini sedang bergerak mengepung posisi mereka.
"Kita harus bergerak sekarang!" perintah Adrian dengan nada suara yang kembali dingin dan penuh otoritas taktis.
Dengan gerakan kilat, Adrian langsung menyambar flash drive perak, foto masa kecil mereka, dan map kulit dokumen Aurora dari dalam kotak hitam, lalu memasukkannya dengan aman ke dalam kompartemen rahasia di dalam tas ransel taktis yang ia bawa.
Sementara itu, Alea yang berhasil menguasai rasa takutnya segera bergerak menuju meja logam dan mematikan lampu meja serta sistem monitor, mereduksi pencahayaan di dalam ruangan agar keberadaan mereka tidak langsung terlihat dari koridor luar.
Suara sirene darurat masih terus meraung monoton, berpadu dengan gema langkah kaki sepatu bot militer yang kini terdengar semakin dekat, hanya berjarak beberapa meter di balik dinding lorong.
Lalu, dari balik koridor luar yang remang-remang, terdengar sebuah suara pria asing yang berbicara dengan nada yang datar, dingin, dan penuh ancaman mutlak:
"Cari setiap sudut. Mereka tidak mungkin pergi jauh."
Sebuah suara kedua menyahut dari arah lorong kiri dengan nada yang sama kejamnya:
"Ingat perintah atasan. Habisi mereka jika melawan, dan jangan biarkan mereka melangkah keluar dari gudang ini dengan membawa satu lembar pun dari arsip Aurora."
Di dalam kegelapan ruang rahasia yang kini hanya diterangi oleh kedipan lampu darurat merah, Alea dan Adrian saling berpandangan satu sama lain.
Rasa takut yang sempat ada kini telah mengkristal menjadi sebuah insting bertahan hidup yang kuat.
Misteri tentang siapa diri mereka dan apa itu Aurora baru saja resmi dimulai.
Dan sekarang, di tengah kepungan kawasan industri tua Valerika, mereka tidak lagi sekadar mencari jawaban mereka sedang diburu untuk dimusnahkan.