NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Katarsis Dalam Sangkar

Desis uap dingin dari ventilasi buatan di langit-langit restoran kolonial itu semakin intens, membawa hawa sedingin es yang perlahan mulai membekukan permukaan debu di lantai marmer tua.

Udara di dalam ruangan pengap itu kini terasa berlipat ganda lebih berat, menyumbat tenggorokan dengan rasa sesak yang mencekam.

Namun, bagi Adrian dan Alea, penurunan suhu ekstrem ini hanyalah stimulus eksternal yang gagal mengusik fokus mereka.

Di bawah lampu neon putih yang menyengat dan berkedip tidak stabil, insting bertahan hidup mereka justru berada pada level tertinggi, memosisikan logika di atas rasa takut yang primitif.

Julian, di sisi lain, mulai menampakkan kerapuhannya secara total.

Napas pria itu memburu cepat, memutih di udara dingin yang mulai menggigit kulit, sementara tangannya yang gemetar hebat mencoba menarik gagang pintu kayu yang telah terkunci rapat dari luar oleh mekanisme elektronik eksternal.

Sifat emosionalnya yang tidak stabil membuatnya menjadi elemen paling rapuh di dalam ruangan ini.

"Buka! Sialan, buka!" teriah Julian dengan suara parau, memukul permukaan kayu tebal itu hingga telapak tangannya memerah dan lecet.

Namun, pintu kokoh itu tetap bergeming seolah-olah telah menyatu secara permanen dengan dinding beton pelabuhan.

Dia berbalik dengan wajah frustrasi yang dipenuhi keringat dingin, menatap Adrian dan Alea dengan mata yang menyipit panik.

"Ini semua gara-gara kalian! Jika aku tidak melibatkan kalian dalam urusan dokumen ini, aku tidak akan terjebak di tempat sialan ini!"

Adrian tidak mengindahkan histeria dan tuduhan tidak berdasar dari Julian.

Langkah kakinya bergerak tenang, ritmis, namun sangat taktis menuju ke arah meja kayu panjang tempat dokumen-dokumen palsu tadi berserakan secara acak.

Dia membungkuk sedikit, mengambil selembar kertas yang memuat cetakan tanda tangan kakek Alea, lalu mengarahkannya tepat di bawah pendaran lampu neon untuk menganalisis serat kertas serta metode pencetakannya.

"Gelisah dan berteriak tidak akan pernah bisa memutus aliran arus elektromagnetik pada kunci pintu itu, Julian," ucap Adrian tanpa repot-repot menoleh, suaranya yang bariton terdengar sangat datar, dingin, dan terkendali, menciptakan kontras yang aneh sekaligus mengintimidasi di dalam situasi kritis mereka saat ini.

"Daripada kau membuang sisa oksigen di dalam ruangan ini hanya untuk berteriak panik, sebaiknya kau perhatikan uap yang keluar dari ventilasi itu. Ini bukan gas beracun yang mematikan. Ini adalah uap kondensasi dari sistem pendingin berbasis nitrogen cair yang telah dimodifikasi secara khusus. Seseorang di luar sana ingin menurunkan suhu ruangan ini hingga di bawah titik beku dalam waktu tiga puluh menit untuk melumpuhkan fungsi motorik kita."

Alea berjalan mendekati Adrian, mengabaikan hawa dingin yang mulai menembus blazer hitam tipisnya.

"Mereka ingin membekukan logika kita, Adrian. Mengirimkan Julian sebagai umpan emosional, memutus seluruh jaringan sinyal komunikasi, lalu mengunci kita di dalam sangkar ini. Ini bukan sebuah upaya pembunuhan fisik secara langsung, ini adalah eksperimen tekanan psikologis."

"Tepat sekali," Adrian melirik Alea dari sudut matanya, menangkap sedikit getaran halus di bahu istrinya akibat suhu ruangan yang merosot tajam dengan cepat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau meminta izin terlebih dahulu, Adrian melepas blazer hitam tebal berpotongan mahal miliknya sendiri dengan satu gerakan taktis yang efisien, lalu menyampirkannya ke atas bahu Alea yang tampak rapuh namun tegap.

Gendang telinga Alea menangkap bisikan pelan dan dalam dari pria itu saat membetulkan posisi blazer di pundaknya, mengirimkan aliran kehangatan yang tak terduga.

"Gunakan ini. Aku sama sekali tidak membutuhkan seorang sekutu bisnis yang mati membeku sebelum kita berhasil memecahkan kode sirkuit ini."

Alea tertegun sejenak untuk beberapa detik.

Aroma tubuh Adrian yang maskulin, dominan, dan sisa kehangatan fisik yang tertinggal dari blazer itu segera menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa nyaman dan aman yang asing di tengah kepungan udara es yang mematikan.

"Terima kasih," gumam Alea, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian yang sedalam sumur tua penuh misteri namun luar biasa kokoh.

"Lalu, apa langkah taktis pertama kita untuk menghancurkan sangkar Faraday aktif ini?"

Adrian kembali memfokuskan perhatiannya pada layar gawai satelitnya yang masih terus menampilkan indikator merah yang statis.

"Sebuah sangkar Faraday aktif bekerja dengan cara memancarkan gelombang elektromagnetik tandingan pada seluruh struktur logam atau baja yang tertanam di dalam dinding bangunan ini. Untuk mematikannya secara total, kita harus memutus sumber daya listrik utamanya. Di dalam bangunan kolonial tua seperti ini, sekring pusat atau panel distributor biasanya berada di ruang bawah tanah atau di balik dapur utama."

"Aku tahu persis di mana letak dapur utamanya," sela Alea dengan cepat, ingatan masa kecilnya saat mengunjungi restoran ini bersama kakeknya mendadak muncul ke permukaan.

"Ikuti aku."

Namun, sebelum langkah kaki mereka sempat melangkah lebih jauh, Julian tiba-tiba berlari dengan kalap dan menghalangi jalan mereka.

Pria itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan wajah yang dipenuhi oleh perpaduan rasa cemburu, amarah, dan dendam yang membara.

"Kalian tidak akan pergi ke mana-mana sebelum memberikan penjelasan padaku! Alea, lihat dirimu baik-baik! Kau tega mengabaikan aku yang telah bersamamu dan mendukungmu selama bertahun-tahun demi pria robot yang tidak punya perasaan ini? Dokumen ini... dokumen ini nyata, Alea! Ayahmu telah dikhianati secara licik oleh keluarga Hutama tiga tahun lalu!"

Alea menghentikan langkah kakinya tepat di depan Julian.

Dia menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan mata yang tidak lagi berisi amarah atau kebencian, melainkan sebuah rasa kasihan yang sangat mendalam atas kedangkalan berpikir pria tersebut.

Kebersamaan masa lalu mereka mendadak terasa seperti sebuah distorsi frekuensi yang sangat usang, tidak relevan, dan tidak memiliki arti lagi di dalam kepalanya.

"Julian, dengarkan aku baik-baik untuk terakhir kalinya di dalam hidupmu," ujar Alea, suaranya bergetar halus menahan dingin namun sarat akan ketegasan mutlak seorang putri dinasti media.

"Pria yang dengan bodohnya kau sebut sebagai 'robot' ini adalah orang yang semalam terjaga bersamaku di dalam kegelapan penthouse untuk memastikan keselamatan jiwaku. Dia adalah orang yang mengorbankan waktunya untuk menganalisis kode sabotase di kantorku tadi siang saat semua pegawaiku sendiri mulai meragukan integritasku. Sementara kau? Kau membiarkan ego kekanak-kanakanmu dimanfaatkan secara penuh oleh musuh tanpa nama untuk menjebak kita semua di dalam sini. Hubungan kita sudah selesai sejak lama, Julian, dan hari ini, dengan tindakan cerobohmu ini, kau sendiri yang telah menghancurkan sisa rasa hormat terakhirku padamu."

Kata-kata yang keluar dari bibir Alea menghantam mental Julian seperti gada besi yang berat.

Pria itu mundur selangkah dengan tubuh yang lemas, kedua tangannya jatuh ke samping tubuh, dan matanya menatap lantai marmer dengan tatapan kosong yang hancur.

Katarsis emosional itu selesai seketika di dalam ruangan tersebut, memutuskan seluruh rantai masa lalu Alea secara bersih, mutlak, dan permanen di depan mata Adrian.

Adrian yang mengamati konfrontasi emosional itu sejak awal hanya menarik sudut bibirnya tipis, membentuk sebuah senyuman asimetris yang sangat samar.

Ada rasa puas yang aneh, intens, dan tidak rasional yang tiba-tiba menggelitik dadanya melihat bagaimana Alea dengan begitu tegas dan tanpa ragu memilih posisinya di sampingnya, membuang masa lalunya ke dalam tempat sampah sejarah.

"Eskalasi emosional pihak ketiga telah selesai," ucap Adrian dengan nada dinginnya yang khas.

"Sekarang, mari kita urus urusan korporasi dan keselamatan kita yang sebenarnya."

Mereka berdua melangkah dengan cepat melewati koridor remang-remang menuju dapur restoran yang terletak di bagian belakang bangunan, meninggalkan Julian yang masih terduduk lesu dan patah hati di tengah ruangan utama.

Di dalam dapur luas yang kini dipenuhi oleh deretan perabot stainless steel yang telah kusam, berkarat, dan tertutup debu tebal, Adrian dengan bantuan pencahayaan minimal langsung menemukan sebuah kotak panel listrik besi berukuran besar yang tertanam di dinding dekat pintu keluar darurat.

"Panel listrik utama ini telah dipasangi sebuah modul sekunder nirkabel tambahan," kata Adrian, jemarinya yang panjang bergerak dengan sangat cekatan membedah engsel kotak panel besi itu menggunakan sebuah pisau lipat taktis kecil yang selalu ia bawa di dalam saku celananya.

Setelah penutup besi itu berhasil terbuka dengan suara derit nyaring, terlihat sebuah sirkuit elektronik modern berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan kabel-kabel tua di sekelilingnya.

Sebuah lampu indikator hijau kecil tampak berkedip dengan ritme yang sangat cepat.

"Ini adalah pemutus arus otomatis jarak jauh yang dikendalikan oleh sinyal frekuensi radio khusus. Alat inilah yang memegang kendali atas penguncian pintu depan dan sistem pelepasan nitrogen cair di ruangan tadi."

"Apakah kau memiliki kapasitas untuk memutus aliran arusnya secara aman?" tanya Alea.

Dia berdiri sangat dekat di samping tubuh tegap Adrian, menggunakan gawai pribadinya sebagai sumber cahaya tambahan untuk menyinari sudut dapur yang remang-remang tersebut.

"Aku bisa memotongnya dengan mudah, namun jika aku langsung memotong kabel utamanya secara acak, sistem keamanan cadangan pada modul ini akan menganggapnya sebagai bentuk sabotase fisik. Sistem akan langsung mengunci secara permanen seluruh akses hidrolik pada pintu keluar," jawab Adrian.

Dahi pria itu mulai meneteskan beberapa butir keringat dingin meskipun suhu di sekitar mereka sangat rendah.

Otaknya bekerja dengan kecepatan penuh seperti superkomputer, memetakan setiap jalur diagram sirkuit rumit di hadapannya.

"Aku harus melakukan proses bypass arus manual dengan cara menghubungkan kutub positif pada modul ini langsung ke ground bodi panel besi. Langkah ini akan menciptakan hubungan arus pendek (korsleting) buatan yang akan memaksa seluruh sistem keamanan melakukan reboot total selama sepuluh detik. Dalam jendela waktu sepuluh detik itulah, kunci mekanis akan terbuka."

"Lakukan sekarang juga," ucap Alea tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam nada suaranya. Dia menatap wajah samping Adrian dengan sepasang mata yang memancarkan keyakinan penuh pada kemampuan pria itu.

"Aku mempercayakan keselamatan kita pada keputusanmu, Adrian."

Kata 'percaya' yang keluar secara tulus dari bibir Alea seolah menjadi katalisator instan bagi gerakan tangan Adrian.

Dengan tingkat presisi yang setara dengan seorang ahli bedah digital, Adrian menusukkan ujung logam pisau lipat taktisnya ke celah sirkuit merah tersebut, menghubungkan dua titik logam sensitif secara bersamaan dengan satu tekanan kuat.

BZZZZT!

Sebuah percikan api berwarna biru terang melompat keluar dari dalam panel listrik, disertai oleh bunyi letupan pendek yang cukup keras.

Seketika itu juga, seluruh lampu neon yang menyinari restoran padam total dalam satu kedipan, mengembalikan mereka ke dalam kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh pendaran samar cahaya yang menembus jendela-jendela pecah.

Namun bersamaan dengan kegelapan itu, suara desis uap nitrogen cair dari langit-langit berhenti seketika.

Dua detik kemudian, terdengar bunyi KLIK-KLAK mekanis yang sangat berat dari arah pintu depan restoran, sebuah tanda bahwa sistem kunci elektronik telah kehilangan daya utamanya dan terbuka secara otomatis.

Adrian mengembuskan napas panjang yang sempat ditahannya, menurunkan tangannya yang terasa sedikit kaku akibat ketegangan dan suhu dingin.

Di dalam kegelapan dapur yang sunyi dan pekat, dia bisa merasakan embusan napas hangat dari Alea yang ternyata berdiri tepat di hadapannya, hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

Jarak fisik di antara mereka kini nyaris tidak ada, mengikis seluruh batasan formalitas kontrak yang selama ini mereka bangun dengan kaku.

"Sistem sangkar telah lumpuh, pintu terbuka," bisik Adrian, suaranya terdengar jauh lebih rendah, dalam, dan menyimpan nada intim yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya di dalam kegelapan yang sunyi itu.

"Ya, kita berhasil keluar dari jebakan ini bersama," sahut Alea dengan suara lembut yang bergetar.

Dia menatap siluet tegas wajah Adrian dalam temaram cahaya bulan, menyadari sebuah realitas baru bahwa di dalam labirin yang berbahaya dan penuh konspirasi ini, aliansi kontrak di antara mereka telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.

Ini adalah sebuah ikatan emosional dan logika yang tidak akan bisa dihancurkan atau digoyahkan oleh draf wasiat atau manipulasi masa lalu mana pun.

Di luar bangunan restoran tua yang sunyi, pintu dari sebuah mobil sedan hitam misterios yang terparkir jauh di sudut jalan setapak terbuka secara perlahan.

Sang perancang skenario agung melangkah keluar ke udara malam yang dingin, menatap lurus ke arah bangunan restoran kolonial yang kini telah kembali gelap gulita tanpa tanda-tiga kehidupan.

Dia mengangkat gawainya yang kini menampilkan pembaruan status sistem: Sistem Keamanan Lumpuh Total Akibat Korsleting Internal.

Sebuah tawa rendah yang penuh dengan rasa kepuasan taktis terdengar keluar dari bibir pria paruh baya tersebut.

Skenario jebakan di dermaga tua ini sejak awal memang tidak pernah dirancang untuk mengakhiri hidup kedua pewaris tersebut secara fisik.

Ini adalah sebuah ujian tekanan ekstrem yang sengaja diciptakan untuk memaksa Adrian Hutama dan Alea Corisand saling mengandalkan seluruh dinding pertahanan satu sama lain, memotong semua gangguan emosional dari pihak ketiga seperti Julian, dan mengunci komitmen aliansi mereka secara permanen dan mutlak.

Dan malam ini, kedua pewaris dinasti bisnis terbesar itu telah lulus ujian dengan nilai yang sangat sempurna.

Mereka melangkah keluar dari labirin dermaga tua tidak lagi sebagai dua orang asing yang terikat oleh selembar kertas kontrak di atas meja, melainkan sebagai satu unit kekuatan baru yang solid, dingin, dan siap menghancurkan siapa pun yang berani mencoba terusik di dalam bayang-bayang kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!