Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9 - Resah
Walau Wirra pulang pagi dan menginap di tempat lain, Anna sama sekali tak menaruh curiga pada sang suami. Dia begitu percaya pada Wirra. Pria itu begitu mencintainya. Wirra bahkan menolak seorang gadis muda yang dia kenalkan. Tak ada alasan bagi dirinya untuk mencurigai sang suami. Wirra tak mungkin bermain api di belakangnya.
Wirra Pramudya adalah sosok suami yang setia.
Itulah mengapa, begitu Wirra tiba di kediaman mereka, Anna menyambut suaminya itu dengan senyuman hangat. Wanita itu bahkan sudah menyiapkan makanan sejak pagi-pagi sekali agar sang suami bisa langsung makan begitu tiba di rumah. Karena biasanya, Wirra tak pernah makan di luar. Suaminya itu akan selalu makan masakan yang dibuatnya. Bahkan, sebelum datang ke acara reuni, Wirra terlebih dulu makan masakan buatan Anna.
“Kamu pasti lelah, Mas. Ayo, sarapan dulu. Setelah itu langsung mandi dan istirahat. Nanti akan aku siapkan air hangat untuk berendam,” ujar wanita itu masih dengan senyuman lembutnya. Wirra mengangguk dan membalas senyum istrinya itu.
“Memangnya kalian sudah berapa lama tidak bertemu? Sampai lupa waktu seperti ini.”
Wirra seketika menghentikan langkah lalu menoleh dengan dahi yang berkerut ke arah sang istri yang tengah menggandengnya.
“Kalian? Apa maksudnya dengan 'kalian'?”
“Maksud? Tidak ada maksud apapun, Mas. Aku hanya meringkas pertanyaan saja. Maksud dari kalian itu, ya, kamu dan teman-teman SMA kamu. Kalian menghadiri reuni sampai lupa waktu begitu. Bahkan sampai tengah malam pun kalian masih mengobrol. Memangnya sudah berapa lama tak bertemu?” jelas Anna.
Wirra mengembuskan napas panjang. Dia merasa lega.
Pria itu pikir, Anna sudah menaruh curiga tentang apa yang dia lakukan malam tadi bersama Meyta. Tapi ternyata, istrinya itu hanya menanyakan acara reuni yang tak pernah dia hadiri itu.
“Ya ... Kami sudah dua belas tahun lebih tidak bertemu. Bahkan tak saling berkomunikasi,” jawab Wirra yang merujuk pada pertemuan terakhirnya dengan Meyta.
Anna hanya menganggukkan kepalanya.
Wanita itu masih menggandeng lengan Wirra. Menggiring sang suami hingga tiba ke meja makan. Seperti biasa, Anna mengambilkan nasi beserta lauk pauk dalam sebuah piring dan memberikannya pada Wirra. Wanita itu bahkan terus duduk di samping Wirra dan menemani suaminya itu hingga selesai menyantap makanan yang tersaji.
“Aku siapkan air hangat dulu ya, Mas,” ujar Anna setelah Wirra menghabiskan seluruh makanan yang dia sajikan.
Wirra menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan terima kasih pada Anna. Pria itu menatap punggung sang istri yang perlahan menjauh.
Bagaimana mungkin dia tega menyakiti wanita yang sudah mengurusinya dengan baik seperti ini? Dia tak mungkin tega untuk meninggalkan Anna.
Tapi, dia juga tak mau kehilangan Meyta. Terlebih setelah apa yang terjadi di antara mereka. Menjadikan Meyta istri kedua adalah jalan satu-satunya.
Tak akan ada yang tersakiti jika itu terjadi.
Anna bahkan sudah ikhlas dimadu sejak berbulan-bulan lalu. Anna pasti akan menyukai Meyta, begitu juga sebaliknya. Mereka semua pasti akan berbahagia. Dia akan senantiasa berlaku adil pada kedua istrinya kelak. Begitulah tekad Wirra.
......................
Sementara itu, Meyta yang baru saja tiba di kediamannya, langsung memeluk Mutiara dan meminta maaf pada anaknya itu.
“Tidak apa-apa, Ma. Rara kan sudah mandiri. Rara berani kok tidur sendiri,” ucap Mutiara.
Meyta hanya tersenyum tipis mendengarnya. Sebenarnya, wanita itu meminta maaf pada sang anak, bukan karena tidak pulang ke rumah malam tadi. Meyta meminta maaf karena tanpa sadar, dirinya sudah memberi contoh yang buruk pada anaknya.
Dan sejak saat itu, Meyta memutuskan untuk tak mau lagi berkomunikasi dengan Wirra. Meyta takut akan mengulang kembali kesalahan malam tadi, jika dia masih berhubungan dengan Wirra.
Berbanding terbalik dengan Wirra. Sejak pertemuannya dengan Meyta, setiap jam dia menanyakan kabar wanita itu. Bahkan, begitu membuka mata, Wirra langsung menyambar ponsel dan mengucapkan selamat pagi kepada Meyta.
Namun, berapa kali pun Wirra menyapa dan mengirimkan banyak pesan, Meyta tak berniat untuk membalasnya. Hal itu tentu saja membuat Wirra menjadi resah. Pria itu pun berusaha untuk menghubungi Meyta. Namun, wanita itu juga tak menjawab panggilan telepon darinya.
Dan beberapa saat kemudian, Wirra mendapatkan sebuah fakta baru. Meyta memblokir nomor ponselnya.
“Kamu kenapa sih Mey? Kenapa tidak membalas satu pun pesanku? Sekarang, kamu bahkan memblokir nomorku?!” gunamnya.
Wirra benar-benar resah. Sudah lebih dari 24 jam dari sejak terakhir kali mereka bertemu. Wirra merindukan wanita itu. Tapi nampaknya tak begitu dengan Meyta. Wanita itu abai padanya.
“Apa kamu mau mencampakkan aku lagi, Mey?” gumamnya lagi.
Pria itu terlihat berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.
“Setelah kejadian itu kamu masih sanggup untuk mengabaikan aku?! Apa aku kurang pandai memuaskanmu?” ucapnya lagi.
Wirra geram. Dia tak mungkin hanya tinggal diam.
Wirra menyambar kunci mobilnya. Pria itu gegas melajukan kendaraannya. Kantor Meyta adalah tujuannya. Sembari melangkahkan kakinya menuju mobil, Wirra membuka sosial media milik Meyta. Pria itu mencari informasi mengenai lokasi kantor wanita itu.
“Ini dia,” gumam Wirra dengan wajah berbinar.
Mencari alamat kantor tersebut di jejaring internet, Wirra lantas menyalakan peta digital miliknya. Dengan gegas menginjak pedal dan melajukan kendaraannya.
Butuh waktu hampir satu jam untuk Wirra tiba di sana. Wirra memastikan kembali foto yang terpampang di media sosial milik Meyta, lalu membandingkannya dengan gedung yang kini ada di hadapannya.
“Benar. Ini dia kantornya Mey,” gumamnya.
Waktu hampir menunjukkan pukul 13:00 WIB saat Wirra berada di sana. Tadinya Wirra ingin masuk ke gedung berlantai tiga itu. Tapi, langkah kaki Wirra terhenti saat melihat sosok seorang wanita dan seorang gadis kecil yang perlahan mendekat.
Wajah Wirra seketika sumringah. Dia sungguh merindukan cinta pertamanya itu. Bahkan hanya dengan melihat sosok Meyta dari jauh pun, dia sudah merasa senang.
Namun tak begitu dengan Meyta.
Wajah wanita itu terlihat mengeras. Terlebih saat Wirra langsung berjongkok dan menyapa Mutiara.
“Kamu baru pulang sekolah ya, Ra?” tanyanya.
Mutiara menatap sang ibu lebih dulu sebelum menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Wirra.
“Kenalkan, nama om, Wirra. Om itu teman dekat Mama kamu.”
Meyta yang tak senang dengan pernyataan Wirra, langsung meminta Mutiara untuk masuk ke gedung tempatnya bekerja. Mutiara pun menurutinya.
“Buat apa kamu ke sini, Wir?!” ketus Meyta, setelah memastikan sang anak sudah tak lagi berada di sana.
“Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Kamu bahkan memblokir nomorku?” tanya Wirra.
“Bukannya sudah aku katakan. Aku tidak mau lagi kita saling berhubungan, Wir. Aku tidak mau menjadi duri dalam daging di pernikahan kamu. Apa kata-kata yang aku ucapkan belum jelas?”
Wirra berdecak kesal. Meyta masih sama keras kepalanya seperti dulu. Dia hanya menganggap benar, apa yang dia yakini saja.
“Tidak akan ada yang mengganggap kamu sebagai duri dalam daging, Mey. Aku akan tunjukkan kepada kamu bahwa Anna akan merestui hubungan kita. Setelah aku menyeritakan tentang kamu pada Anna, kalian berdua akan aku pertemukan.”
Meyta tersenyum sinis.
“Kalau begitu, jangan datangi aku lagi sebelum kamu berbicara dengan istrimu yang aneh itu.”
“Aneh?” tanya Wirra kesal. Pria itu merasa tak terima jika Meyta mencibir Anna dengan sebutan aneh.
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus