NovelToon NovelToon
Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:256.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mukarromah Isn.

Atas nama jodoh, diantara garis takdir dan do'a yang panjang, mana yang akan terjadi?


"Kamu nikah sama aku aja"

"Nggak mau, nama kamu Qais dan aku Layla"

"Memangnya kenapa?"

"Kamu belum pernah dengar kisah Layla majnun ya? Namanya Qais dan Layla. Mereka tidak bisa bersama sampai kematian menjemput"

"Yaudah aku ganti nama aja"

Asma Layla Husna, tak mengerti dengan takdir hidupnya. Berawal dari pertemuan mereka karena hampir saling menabrak, Qais tiba-tiba langsung mengajak Layla menuju ikatan sah. Namun sekelumit kisah cinta terjadi selanjutnya, saat takdir seperti menghadirkan sosok lain selain Qais. Belum lagi kisah Fatah Bilal Alzam, yang harus terjebak ikatan dengan gadis preman pasar


Jangan lupa follow ig author ya
@mukarromatul28

Like, komen, dan vote.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Kenzo dan Qais

Malam datang kala rembulan sudah menggantikan tugas mentari di langit, jutaan bintang dan planet menjadi temannya yang berkelip indah

"Siapa sih yang dateng sampai ayah harus bela-belain pulang dari rumah sakit?"

"Ayah udah nggak papa, tamu ini lebih penting menurut ayah"

"Assalamu'alaikum" suara mobil berhenti didepan rumah diiringi dengan ucapan salam. Dari suaranya terdengar laki-laki

"Wa'alaikumussalam" Naufal berdiri dari duduknya bersiap menyambut tamu diikuti Layla dan Bilal, Yusuf dan Zara juga masih ada disana, mereka juga penasaran dengan orang itu

"Kenzo" Naufal berpelukan dengan laki-laki yang mereka perkirakan berusia belasan tahun lebih muda dari ayah mereka

"Kamu sendiri?"

"Aku mengajak adikku" seorang laki-laki berpakaian serba hitam masuk tanpa mengucap salam membuat Layla, Yusuf dan Zara berdiri dari duduk mereka masing-masing

"Qais?" ucap Zara dan Yusuf serentak, sedangkan Laila terdiam walau ia sempat menyebut nama laki-laki itu dalam hati

"Ila, kamu kenal?" Bilal melirik adiknya yang ikut berdiri, Layla yang tersadar segera kembali duduk dan menggelengkan kepalanya

"Nggak, cuma kaget aja liat tamu nggak sopan ngucap salam" balasnya julid melihat Qais yang menyalami tangan Naufal dan mengucap salam seolah tersindir

"Ilal, Ila kenalin ini Kak Kenzo"

"Mirip banget sama Kak Naufal dan Kak Aqila" ucap Kenzo, suaranya berubah sendu kala teringat perempuan yang ia sebut namanya sudah pergi

"Maaf, ada masalah cukup besar diperusahaan sampai membuat kami terpaksa pindah kota, aku selalu lupa meminta nomor kalian saat bertemu, hingga Kak Aqila pergi aku tidak tau" Kenzo menghela nafasnya, ia tak menyangka hal ini sama sekali

"Sudah takdir Allah seperti itu" jawab Naufal, ia menepuk punggung Kenzo yang sekarang menyamai tingginya

"Kau sudah menikah?"

"Istriku sedang dirumah karena anak kami sedang rewel, giginya sedang tumbuh" Naufal mengangguk mengerti, hal itu juga pernah terjadi dulu pada Bilal dan Layla

Mereka duduk di ruang tamu itu, Naufal duduk di sofa single, Bilal, Layla, Yusuf dan Zara duduk berdempetan yang berhadapan langsung dengan Qais dan Kenzo yang menatap mereka

"Apa kalian mengenal Qais?" Tanya Naufal, Yusuf dan Zara mengangguk sedangkan Layla dan Bilal menggeleng. Layla tentu tak mau mengakui aksi gila laki-laki itu

"Padahal kalian sudah saling kenal sejak kecil, apa tidak ingat apapun?" Sikembar saling pandang kemudian menggeleng lagi, bayangan laki-laki bernama Qais tak tercatat dalam riwayat memori masa kecil mereka

"Hahaha, kalian saat itu sangat kecil dan baru memasuki TK, Qais sudah SD, kita bertemu di depan sekolah kalian saat bun..."

"Saat kalian sudah pulang sekolah" Kenzo buru-buru memperbaiki kalimatnya, ia takut mengucap kata 'bunda' dan menyinggung hati si kembar

"Kami tidak ingat apa-apa" jawab Bilal sedangkan Layla terdiam, pikirannya justru tertuju pada anak laki-laki yang melamar dirinya dengan permen, ia menggelengkan kepala, apa benar laki-laki itu Qais?

"Benarkah? Dia memberi Ila permen saat itu tapi tidak diterima" jawab Kenzo dengan sedikit kekehan, Layla terdiam tak menduga laki-laki itu adalah Qais. Beruntung Kenzo tak mengatakan jika sat itu Qais mengajaknya berpacaran

"Aku nggak inget, kamu inget?" Tanya Bilal, mungkin karena menurutnya itu momen yang tak terlalu berkesan hingga tidak tersimpan dengan baik dalam memori otaknya

Layla mengangguk kemudian menggeleng, dan mengangguk lagi

"Apa?" Bilal kembali bertanya karena bingung dengan jawaban yang diberikan adiknya

"Mungkin sedikit ingat" jawab Layla seadanya

Qais terdiam menatap wajah perempuan didepannya yang ia tau berbohong, Layla pasti ingat dengan jelas kejadian itu. Qais bahkan tak mengerti dengan hatinya yang sudah seperti terikat pada gadis bernama lengkap Asma Layla Husna itu, tapi ia tak bohong kalau getaran rasa itu ada setiap dirinya ada didekat Layla

Saat dimana kejadian mereka saling menabrak di gang sempit, hal pertama yang dilihatnya adalah name tag yang berbentuk pin tertempel di jilbab gadis itu, ia tentu masih ingat wajah gadis itu sekalipun beberapa tahun lagi. Yang paling menonjol adalah sebuah tanda lahir berbentuk tai lalat kecil yang tumbuh didekat jempol gadis itu

"Kalian berbincang dulu, nikmati makanannya, ayah perlu mengobrol sebentar dengan Kak Kenzo" Naufal dan Kenzo berdiri menuju halaman belakang, menyisakan lima anak yang mulai beranjak dewasa

"Nggak nyangka bro, ternyata kita udah kenal lama" Yusuf langsung pindah duduk disamping Qais

"Itu sebabnya aku meminta itu padamu" balas Qais dengan sesekali mencuri pandang kearah Layla yang sengaja mengalihkan pandangan kearah lain

"Meminta apa?" Bilal yang penasaran bertanya mendengar percakapan mahasiswa didepannya ini

"Kau tidak perlu tau" jawaban dari Qais membuat Bilal mendengus

Layla mencubit tangan kakak kembarnya pelan membuat Bilal meringis dan menatap kearahnya dengan tanda tanya, Layla menunjuk kearah Zara yang duduk disebelahnya sesekali menunduk dan tersenyum, membuat mereka bergidik

"Kak Zara" Layla memanggilnya pelan, Zara menoleh dengan sedikit terkejut

"Ila aku nginep disini ya, ada hal yang mau aku ceritain sama kamu, ini penting" balasnya dengan sesekali tertawa

Layla mengangguk saja, ia berpikir mungkin sepupunya terlalu setress masuk jurusan kedokteran mengikuti langkah orang tuanya sampai menjadi seperti ini. Walau Darren dan Diana membebaskannya untuk memilih, Zara tetap memilih menjadi dokter. Melihat orang tuanya memakai jas putih dan menolong orang hampir setiap hari membuatnya memiliki cita-cita yang sama yaitu seorang dokter

Malam semakin larut, jarum pendek pada dinding menyentuh angka sepuluh dengan jarum panjang berada di angka dua belas. Saat itulah Kenzo dan Qais berpamitan pulang, entah apa yang dibicarakan Naufal dan Kenzo sampai begitu lama di taman belakang. Zara dan Layla hanya berbicara sedikit diantara banyaknya pembicaraan yang tiga laki-laki didepan mereka bahas, mulai dari sepak bola sampai menjurus kearah mesin motor.

"Hati-hati dijalan" mereka mengatar kepergian saudara itu sampai depan pintu

"Apa kami boleh kesini lagi om?" Layla mendelik mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Qais

"Tentu saja, datanglah kapanpun pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian"

"Kalau pintu yang lain apa boleh?"

"Hah?" Naufal tak mengerti maksud perkataan Qais

"Dia memang seperti itu kak, maklumi saja" Kenzo lebih dulu mencium tangan Naufal kemudian diikuti Qais dibelakang. Naufal mengangguk saja tak ambil pusing

"Yusuf, Zara, kalian menginap saja ya, ini sudah terlalu malam untuk pulang, paman takut kalian kenapa-napa" ucap Naufal, ia memandang langit yang sepertinya juga akan mulai menumpahkan air hujan

"Kita memang berniat menginap disini paman, kami sudah memberitau orang rumah" balas Zara, ia sudah tak sabar ingin menceritakan sesuatu pada Layla

"Syukurlah kalau begitu, sepertinya hujan juga akan turun. Segera tidur ini sudah jam sepuluh malam" mereka berempat mengangguk, Zara akan tidur dikamar Layla dan Yusuf di kamar Bilal. Sebenarnya ia tak berniat untuk menginap, tapi karena melihat langit yang berbalut mendung juga permintaan dari Zara tak kuasa membuatnya menolak

1
itsme A
aduhh sumpah galmove sama kisah Naufal aqeela ya Tuhann, merinding banget /Sob//Sob//Sob/
stnk
kereeeen.....👍👍👍👍
Wayan Sucani
Menguras air mata
Wayan Sucani
Edisi menangis bersambung...
Kau kuras emosi kami Thor..
Ati Rohayati
Luar biasa
Sri Wulandari
Taj Mahal ceritanya hampir sm dg kisah orangtuamu ila😊
Sri Wulandari
Istri sholehah yg bs menenangkan hati dan perasaan suaminya ketika merasa sedih & terpuruk ❤️
Sri Wulandari
Buat ayah nessy menerima karmanya atas apa yg telah d lakukan pd klrgnya jg orang-orang yg telah d sakitinya thour
Sri Wulandari
Pasti Cewek yg suka sm qais tentunya secara qais khan suka nyamperin layla d fakultas nya
Sri Wulandari
Apakah orang tua kenzo & qais d bunuh.... itulah yg membuat kenzo d ttpkn d panti asuhan buat melindungi dia😔
Sri Wulandari
Qais adalah versi Naufal waktu jd badboy d kampusnya dulu
Sri Wulandari
Bikin nangis sj thour.... jd k ingat kisah cinta mereka berdua g k bayang sprti ap rasa sedih & rindu yg terpendam Naufal sm aqila walaupun dia terlihat kuat & tegar d dpn anak-anaknya jg klrgnya 😭😭😭😭😭
Sri Wulandari
Si kembar ngumpet dengar sepupunya datang🤭
Riyani Yahya
Luar biasa
Henny Saraswati
ceritanya bagus,,tidak bertele-tele dalam menyelesaikan konflik yg ada
Widdy Widdy
Luar biasa
Mom_Sa
kmrin sibuk nangisin kisah emak bapaknya, Skrang nangisin kisah anaknya. emng ya othor nih hobi bikin org nangis brjamaah..😭
Sri Puryani
mksh thor....cerita yg bagus....
menguras air mata😭
Sri Puryani
semoga krn kelskuan mereka baik jd dpt keringanan hukuman
Sri Puryani
klo qais & rio ditangkap, hukum jg rangga thor jgn biarkan dia hidup tenang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!