"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 9. Lamaran Kakek
Mama Anika segera menghampiri suaminya yang sudah masuk ke dalam kamar lebih dulu. Namun, di saat sampai di depan pintu mama Anika mendengar suaminya tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Bagaimana Tuan? Apa yang harus saya lakukan?" tanya papa Derrick pada seseorang yang tengah dia hubungi.
Dengan perlahan, mama Anika masuk ke dalam kamar tanpa mengganggu suaminya. Duduk di pinggiran ranjang, menunggu percakapan suaminya hingga selesai.
"Baik. Akan saya lakukan."
Setelah itu papa Derrick memutus sambungan telepon. Berbalik badan dan terkejut mendapati istrinya yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Siapa Pa?" tanya mama Anika.
"Teman Papa, Ma," jawab papa Derrick yang sepettinya enggan mengatakan pada istrinya.
Mama Anika pun tidak berani bertanya lagi ketika wajah suaminya terlihat serius seperti ini.
"Bagaimana tanggapan Papa mengenai keinginan Runa? Mama takut dia salah jalan, Pa. Apa lagi kita masih baru di sini."
Tercetak begitu jelas raut kekhawatiran di wajah Anika. Meskipun Arruna anak yang bandel, tetapi Anika tidak bisa membiarkan putrinya itu salah jalan.
"Mama tenang saja. Biar Papa yang urus. Sekarang siapkan makanan untuk menyambutnya," ujar Derrick pada istrinya.
"Memangnya dia beneran datang?" Anika tampak ragu akan hal ini.
"Papa yakin dia datang."
***
"Revald! Revald!"
Seorang pria tua tengah menggedor gedor pintu apartemen milik Revald. Dengan wajah yang sangat marah, pria itu tidak hentinya memukul pintu yang ada di depannya saat ini.
Sementara Revald yang tengah bersiap setelah mendapat kabar dari Arruna, pria itu pun berjalan menuju pintu apartemennya.
"Berisik banget sih!" gerutunya sambil membuka pintu.
"Mana calon menantu Kakek? Hah! Bukannya di bawa pulang ke rumah, malah di sembyuiin di apartment!" maki Gladio menerobos masuk begitu saja ketika pintu sudah terbuka.
Revald mundur dari tempatnya, menatap jengah pada kakeknya yang tengah mencari sesuatu di apartemennya.
"Dia nggak ada di sini, Kek," beritahu Revald. Lalu pria itu kembali membenarkan bajunya yang masih berantakan.
"Terus kamu sembunyiin di mana?" tanya Gladio dengan suara lantang.
Geram sekali pada Revald. Pria tua itu sudah menunggu kedatangan mereka di rumah, tetapi Revald tak kunjung datang ke rumah membawa calon istrinya.
"Dia masih di rumahnya. Ini Revald disuruh ke sana sama orang tuanya," ujar Revald.
Pria itu kemudian mengambil kunci mobil beserta dompetnya. Tidak lupa menatap penampilan dirinya darj balik cermin yang menempel di dinding.
"Ya udah, Kakek ikut. Sekalian Kakek nikahkan kalian malam ini," ujar Gladio seenaknya. Membuat Revald menghela napas berat. Beruntung dia sudah membuat perjanjian dengan Arruna.
"Asal Kakek nggak malu-maluin di sana," lirih Revald yang langsung mendapat pikulan di kepala.
"Cucu kurang ajar!"
***
Revald tampak mengamati rumah kecil yang ada di depannya saat ini. Lalu mencocokkan alamatnya dengan yang dikasih tahu Arruna di chat mereka.
"Benar rumahnya ini?" tanya Gladio menoleh ke arah Revald.
"Ah, iya Kek," jawab Revald. Padahal ini juga baru pertama kalinya dia ke sini.
"Ya udah, masuk!" ajak Gladio.
"Kakek nggak masalah?"
"Nggak. Asal kamu segera menikah."
Gladio melangkah lebih dulu. Revald sedikit termenung, lalu mengikuti Gladio di belakangnya.
Mereka pun di sambut dengan ramah oleh keluarga Derrick. Meski baru pertama kali bertemu, tetapi di pandangan Revald keluarga Arruna terlihat sebagai keluarga yang harmonis. Meskipun hidup dalam kesederhanaan.
"Maksud saya ke sini, ingin meminang putri Pak Derrick," ucap Gladio langsung pada intinya. Membuat Revald dan Arruna mengerjap kaget. Tidak menyangka bakalan secepat ini. Terlebih lagi Gladio tidak bertanya dahulu pada Revald.
"Kek," panggil Revald dengan suara lirih. Sementara Derrick terus menatap ke arah Revald.
"Bagaimana Pak Derrick? Apakah Bapak tidak keberatan jika putri Bapak yang cantik ini menikah dengan cucu saya?" ulang Gladio. Menghiraukan panggilan Revald.
Derrick menatap Revald tanpa bisa diterjemahkan. Tatapan pria paruh baya tersebut seperti menaruh dendam pada Revald. Membuat Revald menciut di tempatnya.
"Bagaimana Pak?"
Sudah tiga kali Gladio menanyakan hal yang sama. Hingga Anika menyenggol suaminya.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah