Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Gema adzan Subuh bersahut-sahut menembus pekatnya fajar, memecah kesunyian kompleks Pondok Pesantren Al-Hidayah.
Di dalam kamar yang masih temaram, Jeffry terbangun lebih awal.
Pria itu mengusap wajahnya pelan, merapikan duduknya, lalu berbalik menatap sosok di sampingnya.
"Puja... bangun, Dek. Sudah masuk waktu Subuh," panggil Jeffry lembut.
Suaranya halus, bernada sejuk yang hangat di tengah udara pagi yang menusuk tulang.
Puja melengos pelan, matanya berkedip-kedip menyesuaikan dengan cahaya temaram lampu tidur.
Namun, saat kesadarannya berangsur pulih, pupil matanya seketika melebar. Ia merasakan kehangatan yang asing menempel di tubuhnya.
Pandangannya tertuju ke lantai di samping ranjang.
Guling pembatas yang semalam ia taruh tegak di tengah-tengah tempat tidur kini tergeletak bisu di atas lantai kayu.
Jadi semalam guling itu jatuh? Dan yang aku peluk semalam...?!
Sontak darah Puja berdesir hebat. Sensasi lengan kokoh Jeffry yang secara tak sadar ia jadikan sandaran sepanjang malam membuat pipinya memanas seketika.
Rasa malu dan gengsi yang bercampur aduk membuat dadanya bergemuruh.
Cepat-cepat Puja mengibaskan bayangan itu, menggelengkan kepalanya keras-keras seolah ingin membuang ingatan semalam.
Tanpa mengeluarkannya dalam kata-kata, Puja membuang muka dan langsung bangkit dari ranjang.
Langkah kakinya tergesa-gesa menuju kamar mandi, membanting pintunya pelan, lalu menyalakan kran air untuk membasuh wajahnya yang memerah.
Beberapa saat kemudian, Puja keluar dari kamar mandi dengan mukena putih polos yang sudah terpasang rapi di tubuhnya.
Wajahnya basah oleh sisa air wudhu, masih memancarkan garis-garis ketegangan dan jarak yang ia bentang rapat-rapat.
"Ayo..." ajak Puja datar, berasumsi bahwa sebagai putra Kyai dan seorang Ustadz, Jeffry akan memimpin sholat Subuh di masjid utama pondok bersama para santri.
Namun, Jeffry tidak melangkah menuju pintu luar.
Pria itu justru menggeser sedikit meja kecil di dekat sudut kamar, mengibaskan sajadah lebar yang sudah ia hamparkan secara sejajar—satu untuk imam di depan, dan satu untuk makmum tepat di belakangnya.
"Kita sholat berjamaah di sini saja. Aku ingin lebih mengenal istriku," ucap Jeffry seraya menatap Puja dengan pendar mata yang teduh, menyiratkan kehangatan yang sabar.
Puja terpaku di tempatnya berdiri. Tenggorokannya terasa tersumbat.
Keinginan Jeffry untuk menjalin ikatan terasa begitu nyata, namun di dalam dadanya, benteng penolakan itu masih berdiri kokoh.
Meski begitu, tak ada alasan baginya untuk menolak sebuah panggil ibadah.
Puja akhirnya melangkah pasrah, mengambil posisi di atas sajadah belakang.
"Luruskan dan rapatkan shaf," bisik Jeffry lembut sebelum membalikkan badan menghadap kiblat.
Saat takbiratul ihram digaungkan oleh suara bariton Jeffry yang merdu dan sarat akan kekhusyukan, ruangan sempit itu seketika diliputi kedamaian yang menyayat hati.
Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang dilantunkan Jeffry begitu indah, menggema halus merasuk ke dalam relung dada Puja.
Untuk sejenak, di tengah sujudnya yang panjang, air mata Puja kembali menetes perlahan.
Ada pergolakan batin yang dahsyat antara rasa sakit atas mimpinya yang terkubur dan getaran asing atas ketulusan pria yang kini berdiri sebagai suaminya.
Seusai salam dan doa yang dipanjatkan secara khusyuk, Jeffry memutar tubuhnya menghadap Puja. Ia mengulurkan tangan kanannya yang bersih, menunggu dengan sabar.
Puja menatap telapak tangan itu sejenak dengan kepasrahan yang pekat.
Tanpa menatap mata Jeffry, ia menyambut uluran tangan tersebut dan mencium punggung tangannya—sebuah kewajiban yang terasa berat namun terpaksa ia jalani.
"Semoga Allah memberkahi pernikahan kita, memautkan hati kita dalam kebaikan, dan mengampuni segala kekhilafan kita," bisik Jeffry penuh kesungguhan sembari mengusap puncak kepala Puja yang tertutup mukena secara lembut.
Sentuhan itu membuat Puja menarik tangannya seketika.
"Aku mau keluar sebentar. Ada urusan jam delapan nanti," ujar Puja cepat tanpa memandang Jeffry, berusaha mengalihkan suasana.
Jeffry berdiri, merapikan sarungnya seraya menatap Puja dengan rasa ingin tahu, namun tetap mempertahankan kelembutannya.
"Urusan apa, Puja? Jika perlu, aku bisa mengantarmu."
"Tidak usah!" potong Puja cepat, suaranya kembali meninggi dan penuh penolakan.
"Aku cuma mau bertemu dengan teman-temanku di warung es Pak Bagyo. Aku bisa pergi sendiri."
Mendengar nama warung yang berada di luar kompleks pondok, Jeffry menghela napas pelan.
Nasihat sang ayah semalam kembali bergema di pikirannya—bahwa Puja butuh waktu, penyesuaian, dan ruang untuk meredakan kekecewaannya.
Mengungkungnya hanya akan membuat luka perempuan itu semakin menganga.
"Baiklah kalau kamu ingin bertemu sahabat-sahabatmu," ucap Jeffry mengalah dengan senyum tipis.
"Tapi izinkan aku yang mengantarmu sampai ke sana. Jalanan menuju jalan raya masih sepi di jam pagi, dan aku tidak ingin terjadi apa-apa pada istriku."
"Aku bukan anak kecil, Ustadz," desis Puja dingin, menyebut panggilan formal yang mempertegas jarak di antara mereka.
"Aku tahu. Tapi ini tanggung jawabku sebagai suamimu," balas Jeffry tenang, tak terpengaruh oleh nada ketus Puja.
"Bersiap-siaplah. Kita sarapan sebentar dengan Abah di meja makan, setelah itu aku antarkan kamu."
Puja mengepalkan jemarinya di balik lipatan baju. Kebaktian dan kemantapan sikap Jeffry selalu berhasil mengunci ruang geraknya.
Tanpa bisa membantah lagi, Puja mengangguk kasar lalu berbalik memunggungi suaminya, bersiap untuk menghadapi hari pertama yang dipenuhi kepura-puraan dan penyesalan.
Puja melepaskan mukenanya dan merapikan sajadahnya dengan gerakan canggung.
Udara pagi di dalam kamar itu masih terasa riuh oleh detak jantungnya sendiri yang belum sepenuhnya tenang.
"Puja, jangan lupa pakai hijabnya kalau keluar. Aku tidak mau ada lelaki lain yang memandang wajah cantik istriku," ucap Jeffry tiba-tiba, menyatukan jemarinya di depan dada sembari menatap Puja dengan pendar mata yang begitu hangat dan jujur.
Langkah Puja seketika terhenti. Jemarinya membeku di atas lipatan kain mukena.
Ia hanya bisa memandang wajah suaminya yang sedang memuji kecantikannya dengan raut tenang tanpa dosanya itu.
Ada desir aneh yang menyengat dadanya, namun Puja cepat-cepat memalingkan wajah, berusaha keras menutupi semburat merah yang diam-diam menyulut di pipinya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia menyambar jilbab instan di atas meja dan menyarungkannya ke kepala sebelum melangkah keluar kamar.
Ia melangkah turun menuju ruang makan. Pemandangan di sana seketika memangkas sisa kenyamanan Puja.
Di dekat meja makan yang berisi deretan hidangan pagi, Bibi Ningsih dan Ningrum sudah berdiri rapat dengan tangan terlipat di dada.
"Aduh, aduh... putri raja baru saja turun," cetus Bibi Ningsih dengan suara melengking penuh sindiran, matanya memindai Puja dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Di sini, semua wanita itu sudah di dapur dari sebelum Subuh! Bukan santai-santai menunggu makanan dihidangkan!"
Ningrum ikut mendesah keras, mencibir sinis. "Iya, Bu. Di pesantren ini, menantu itu harus paham diri. Bukan malah berakting seperti tuan putri!"
Puja menyunggingkan senyum tipis—senyuman dingin yang sarat akan keberanian untuk bertahan.
"Tapi saya bukan pembantu," ucap Puja halus namun menusuk, menatap kedua wanita di hadapannya tanpa mengedipkan mata.
Wajah Bibi Ningsih dan Ningrum seketika memerah padam.
Mereka tak menyangka anak gadis yang baru kemarin sore dinikahi keponakannya itu berani memberi perlawanan secara terbuka.
Tepat di saat ketegangan memuncak, Jeffry melangkah masuk ke ruang makan.
Bibi Ningsih yang melihat kedatangan keponakannya langsung memotong jalan, menunjuk Puja dengan jari bergetar menahan amarah.
"Jeffry! Lihat sendiri bagaimana kelakuan istrimu!" ucap Bibi Ningsih bernada tinggi.
"Baru satu hari jadi menantu di rumah ini, bahasanya sudah seperti orang tidak berpendidikan! Tolong kamu ajari sopan santun istrimu ini! Dia baru saja menyebut kami memosisikannya seperti pembantu!"
Ningrum mengangguk cepat, memperkeruh suasana.
"Iya, Mas Jeffry. Tolong diajari tata krama. Jangan sampai nama baik keluarga Abah tercoreng cuma gara-gara kelakuan dia!"
Jeffry berdiri tegap. Sorot matanya yang semula teduh perlahan berubah serius, memancarkan wibawa dingin yang seketika mengunci ruangan.
Pria itu menatap bibi dan sepupunya secara bergantian, lalu menghela napas panjang.
"Bibi, Ningrum..." panggil Jeffry dengan suara baritonnya yang tenang, namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Tolong jaga nada bicara kalian di rumah ini."
Bibi Ningsih tertegun, "Tapi Jeffry, dia—"
"Puja adalah istri saya," potong Jeffry cepat, memotong ucapan Bibi Ningsih sebelum wanita itu sempat menuntaskannya.
"Memang benar, Dia bukan pembantu di rumah ini. Tugas seorang istri adalah mendampingi suami, bukan dibebani harapan untuk melayani seluruh isi rumah seolah-olah dia tidak memiliki kehormatan."
Jeffry melangkah maju, berdiri persis di samping Puja—sebuah gestur pasang badan yang membuat Puja tertegun di tempatnya.
"Jika ada hal mengenai tata krama atau aturan di rumah ini yang belum Puja pahami, itu adalah kewajiban saya sebagai suaminya untuk membimbingnya secara pribadi dan dengan kelembutan. Bukan dengan cara dipojokkan, disindir, apalagi dibanding-bandingkan," tegas Jeffry, menatap Bibi Ningsih lurus-lurus.
"Saya mohon dengan sangat, hargai keberadaan istri saya sebagaimana kalian menghargai saya di pesantren ini."
Bibi Ningsih dan Ningrum bungkam seribu bahasa. Wajah mereka mengeras menahan malu dan kekesalan, tak sanggup menyanggah pembelaan tajam yang keluar dari mulut putra mahkota Pesantren Al-Hidayah tersebut.
Untuk mencairkan ketegangan yang membeku di udara, Jeffry memalingkan pandangannya ke arah Puja. Sorot matanya kembali melunak seperti semula.
"Puja, bisakah kamu buatkan kopi untukku?" minta Jeffry lembut.
Puja menganggukkan kepalanya pelan, menyembunyikan keterkejutannya atas pembelaan Jeffry yang sama sekali tak ia sangka.
"Iya, sebentar," sahutnya lirih lalu berbalik melangkah menuju dapur, meninggalkan ruang makan yang kini diselimuti keheningan kaku.