Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7.Tugas Kelompok yang Dipaksakan
Suasana kelas XI-2 tiba-tiba riuh ketika guru mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk dan mengumumkan satu hal yang langsung mengubah ekspresi wajah seluruh siswa. Termasuk dua orang yang selalu saja sejalan dalam hal berselisih—Kenzo dan Anisa.
"Untuk tugas proyek berikutnya, kalian akan dibentuk menjadi kelompok-kelompok berdua. Pembagiannya sudah saya susun," ujar Bu Guru sambil menatap daftar nama di tangannya, tak menyadari badai yang baru saja akan ia ciptakan.
Nama-nama disebutkan satu per satu. Teman-teman yang mendapatkan pasangan saling bersorak gembira, memilih bergandengan tangan sambil menunjuk senyum bahagia. Hati Anisa berdebar cemas. Ia berdoa dalam hati, semoga pasangannya bukan orang yang sama yang selalu ia temui dalam setiap perdebatan setiap harinya. Namun doanya seakan tak didengar saat nama berikutnya meluncur dari bibir Bu Guru dengan tenang:
"Kenzo dan Anisa... satu kelompok."
Detik itu juga, Anisa menoleh spontan ke arah Kenzo. Dan tepat saat itu, Kenzo pun menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu sejenak—sama-sama berisi ketidaksukaan, keterkejutan, dan keterpaksaan yang mendalam. Wajah Kenzo tampak semakin kaku dari biasanya. Matanya menyiratkan jelas: "Kenapa harus dia?" Begitu juga Anisa, hatinya seakan mencelos ke dasar perut. Mengapa dari sekian banyak orang di kelas ini, mereka harus selalu berakhir bersama dalam hal-hal yang justru tak diinginkan?
Setelah pelajaran selesai, suasana di dalam kelas perlahan sepi. Hanya Kenzo dan Anisa yang masih tertinggal di bangku masing-masing, tak beranjak sedikit pun. Udara di antara mereka terasa berat dan penuh keengganan. Kenzo berdiri lebih dulu, melangkah mendekat ke meja Anisa dengan langkah yang pelan namun tetap terdengar tegas. Wajahnya tak menyiratkan sedikit pun kegembiraan.
"Jadi... kita terpaksa bekerja sama," ucap Kenzo memecah keheningan lebih dulu. Suaranya datar, dingin, dan penuh penekanan pada kata 'terpaksa', seakan bekerja sama dengan Anisa adalah hal paling berat yang harus ia emban seumur hidupnya. "Aku tidak suka bertele-tele. Kita bagi tugas saja agar cepat selesai dan tidak banyak cekcok. Kamu kerjakan bagian ini, aku yang kerjakan sisanya."
Anisa menatap lembar kertas yang didorongkan pelan ke arahnya. Alisnya berkerut tak senang. Cara bicara Kenzo seakan ia sudah menentukan segalanya sepihak, tanpa menanyakan pendapatnya sedikit pun. Rasa kesal perlahan kembali merambat naik di dadanya.
"Siapa yang memintamu menentukan semuanya sendiri?" sahut Anisa tak tinggal diam. Ia mendorong kembali kertas itu ke arah Kenzo, menatap lurus ke manik mata lelaki itu. "Kita satu kelompok, Kenzo. Bukan kamu atasanku yang memberi perintah begitu saja. Setidaknya dengarkan pendapatku dulu sebelum membagi tugas sesuka hatimu."
Kenzo menghela napas panjang, menahan amarah yang mulai kembali muncul. Ia menatap Anisa dengan tatapan tak suka. "Aku melakukan ini agar kita efisien. Bukankah kamu sendiri juga tak ingin berlama-lama denganku? Jadi lebih baik selesaikan masing-masing bagian, lalu digabungkan. Selesai. Tanpa perlu banyak debat seperti biasanya."
"Justru karena kita harus bekerja sama, kita harus berdiskusi dengan baik, bukan memerintah seakan aku tak punya suara," balas Anisa tegas, berdiri dari kursinya hingga ketinggian mereka nyaris seimbang. "Aku juga ingin mengerjakan bagian yang menurutku mampu aku kerjakan. Bukan bagian yang kau paksakan kepadaku. Apakah begitu sulit bagimu untuk sedikit saja mendengarkan orang lain?"
Percakapan itu pun kembali berubah menjadi perdebatan. Kenzo ingin segala sesuatunya berjalan cepat sesuai rencananya. Anisa menginginkan kerja sama yang setara dan saling menghargai. Tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang merasa salah. Mereka berdiri berhadapan di tengah ruangan kelas yang sepi itu, saling menatap tajam seakan siap berdebat hingga kapan pun diperlukan. Namun di balik kemarahan mereka berdua, ada satu kesamaan yang tak diucapkan: keduanya sama-sama menyadari bahwa tugas ini tak mungkin diselesaikan dengan terus saling berselisih. Akhirnya, dengan sisa-sisa kekesalan yang masih tersisa, mereka menyepakati pembagian tugas baru—setelah Kenzo sedikit menurunkan egonya dan mendengarkan usulan Anisa.
"Baiklah. Sesuai usulanmu," ucap Kenzo akhirnya dengan nada yang masih terdengar berat, seakan menelan pahit menanggung keterpaksaan. "Tapi ingat. Jangan sampai bagian yang menjadi tanggung jawabmu berantakan. Karena nilai kelompok ini akan dinilai bersama. Aku tak ingin usahaku hancur hanya karena sikapmu yang sembarangan."
Anisa tersenyum tipis, senyum yang sedikit mengejek namun juga penuh tekad. "Tenang saja. Aku bertanggung jawab atas pekerjaanku. Dan aku pun berharap... kamu tidak terlalu memaksakan cara kerjamu kepadaku lagi. Karena aku bukan bawahanmu."
Mulai hari itu, sebuah kenyataan pahit harus mereka terima: untuk sementara waktu, mereka tak bisa lagi hanya saling berselisih dan menjauh. Mereka harus duduk bersama, berdiskusi, bekerja sama, dan menyatukan pikiran—meskipun setiap pertemuan diawali dengan rasa enggan dan ketegangan yang nyata. Tugas kelompok yang dipaksakan ini menjadi jembatan yang tak diinginkan, namun entah mengapa... perlahan membawa mereka berdua untuk melihat sisi yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
BERSAMBUNG...