Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJUANGAN UNTUK MENEMPA SENJATA
Sena memasang kuda-kuda lalu dengan sekejap mata, Sena menghentakkan kakinya ke tanah. Ajian Gelap Ngampar yang ia serap dari kitab-kitab rahasia Panawijen meledak dari dadanya. Suara dentuman bagai petir menyambar di siang bolong memecah keheningan kawah, memancarkan gelombang petir biru-ungu yang menggelegar ke segala arah.
*CRASH! CRASH!*
Tiga ekor jin tingkat tinggi yang mencoba menerjang langsung hancur berkeping-keping menjadi abu hitam terkena sambaran petir ajian tersebut, bahkan sebelum sempat menjangkau tubuh Sena.
Tanpa memberi ruang untuk bernapas, Sena melesat cepat bagaikan kilat Ajian Saipi Angin. Gerakannya melampaui batas kecepatan mata telanjang. Ia menyusup di antara kerumunan siluman penjaga, merentangkan kedua tangannya, lalu menyatukan telapak tangannya dalam segel gaib.
"Ajian Cakra Bhaskara"
Bola api emas membara tercipta di sekeliling tubuhnya dan meledak secara radial. Lengkingan tangis dan teriakan histeris menggema di dasar kawah saat belasan jin terbakar hidup-hidup, leleh dan musnah hancur oleh keaslian api kebatinan Sena. Pembantaian itu berlangsung begitu cepat, brutal, dan tanpa belas kasihan.
Melihat pasukannya dibantai dalam hitungan detik, sang pemimpin jin meraung murka dan mengayunkan gada batunya sekuat tenaga ke arah kepala Sena.
*BOOM!*
Gada batu raksasa itu hancur berkeping-keping begitu menghantam dinding perlindungan gaib di sekitar tubuh Sena. Belum sempat raksasa itu menarik tangannya, Sena sudah meloncat meniti sisa lengan sang jin dan mendarat tepat di dadanya.
Jemari tangan kanan Sena mengeras bagaikan cakar besi, dilapisi pendar cahaya hitam kelam "Ajian Brajamusti". Dengan gerakan kilat, Sena mencengkeram leher raksasa bertanduk itu dan mencekiknya rapat-rapat.
"Ugh...aaghh..." sang pemimpin raksasa tercekik hebat, tubuh gaibnya yang besar bergetar hebat saat ajian Brajamusti Sena mulai membakar aura jiwanya dari dalam.
Sena menatap mata merah raksasa itu dari jarak beberapa jengkal. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi, bagaikan malaikat pencabut nyawa.
"Kau lihat rekan-rekanmu yang baru saja aku musnahkan?" bisik Sena, suaranya sarat akan hawa membunuh yang pekat dan mematikan. "Jika kau masih ingin bernapas di kawah ini... kumpulkan seluruh Besi Meteorit Hitam kualitas terbaik sekarang juga, atau kepala dan seluruh pasukanmu habis di tanganku malam ini."
"Tu-tunduk... hamba tunduk, tuan!" jerit sang pemimpin jin bersuara parau, ketakutan setengah mati.
Sena melemparkan tubuh raksasa itu ke tanah hingga menimbulkan debu belerang. Sang pemimpin jin yang ketakutan beserta sisa-sisa pengikutnya yang gemetar langsung merayap pasrah, menggali cadas kawah dengan jemari mereka sendiri demi mengumpulkan bongkahan besi meteorit paling murni dan menumpukkan nya di hadapan kaki Sena.
Sena menatap gunungan Batu Meteorit Hitam yang dikumpulkan para jin yang gemetar. Dengan mata yang jeli, ia memilah bongkahan yang paling memancarkan rona biru gelap dan aura terkuat. Batu-batu itu terasa sangat dingin saat disentuh, namun menyembunyikan potensi panas yang mematikan.
Ia memasukkan batu-batu pilihan tersebut ke dalam buntalan kain tebal yang diikatkan di punggungnya. Buntalan itu kini terasa cukup berat, bahkan bagi seseorang dengan kekuatan kebatinan seperti Sena.
"Kembalikan sisanya ke dalam bumi" perintah Sena dingin kepada pemimpin jin yang babak belur itu. Makhluk-makhluk gaib itu segera patuh, merayap kembali ke celah-celah kawah sambil membawa sisa batu yang tak terpakai.
Sena mulai melangkah turun menyusuri jalur pendakian yang licin dan gersang. Udara pegunungan yang dingin menusuk tulang, kontras dengan beban berat yang dipikulnya. Ia menghela napas panjang, pelipisnya basah oleh keringat.
Dalam pikirannya, terlintas sebuah memori asing dari masa depan yang pernah ia saksikan. "Jirlah..." gumamnya, bibirnya menyunggingkan senyum masam. "Andai saja aku punya cincin penyimpanan gaib seperti di film-film itu, pasti jauh lebih mudah. Tidak perlu repot-repot memikul beban seberat ini."
Perjalanan kembali ke Lulumbang memakan waktu berhari-hari. Saat Sena akhirnya meletakkan buntalan berat Besi Meteorit Hitam di hadapan Mpu Sura, sang empu tua memeriksa bahan tersebut dengan anggukan puas. Namun, ia tidak langsung menyalakan perapian.
"Logam luar angkasa ini adalah fondasi yang sempurna," ujar Mpu Sura sambil mengusap bongkahan batu meteor yang dingin. "Tapi dasar senjata ini harus memiliki sifat yang dinamis. Aku butuh Besi Kuning yang terpendam di wilayah terlarang di sebelah timur, dan Minyak Siluman Labah sebagai bahan bakar penempa."
Sena mendengarkan dengan tatapan datar. "Ada lagi?"
Mpu Sura tersenyum sinis. "Hanya itu untuk saat ini."
Selama berminggu-minggu berikutnya, Panawijen dan sekitarnya menjadi saksi bisu petualangan Sena mengumpulkan sisa bahan.
Ia harus bertarung habis-habisan dengan siluman Labah raksasa di dalam gua gelap yang penuh jaring mematikan. Ia juga harus membedah wilayah terlarang, mengalahkan puluhan jin penjaga tanah demi mengambil segenggam Besi Kuning yang legendaris. Setiap pertarungan makin mengasah kemampuan kanuragan dan ajian saktinya, membuat aura Sena makin kelam dan menindas.
Akhirnya, Sena kembali ke pondok Mpu Sura dengan tubuh penuh luka goresan dan aura kelelahan yang nyata, namun dengan seluruh bahan tambahan yang lengkap. Besi Kuning, Minyak Labah, dan bahan-bahan langka lainnya sudah terkumpul.
"Bahan fisik sudah lengkap, Mpu," ujar Sena, suaranya parau karena kelelahan. "Sekarang, tempa lah senjata itu."
Mpu Sura menatap tumpukan bahan yang telah dikumpulkan Sena, lalu menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Logam sudah siap. Api sudah siap. Namun, senjata dalam cetakan mu itu bukanlah senjata biasa. Ia menuntut jiwa yang agung untuk mendiaminya," ujar Mpu Sura pelan, suaranya berbobot. "Kita belum selesai."
Sena mengerutkan kening. "Masih ada hal lainnya?."
Mpu Sura melihat ke arah perapian. "Bahan fisik hanyalah wadah. Agar pedang itu mampu membelah ilmu gaib dan memiliki kekuatan magis, wadah itu harus memiliki roh yang mendiaminya. Dan hanya ada satu makhluk yang rohnya cukup kuat untuk wadah tersebut."
Sena merasakan firasat buruk.
"Kau harus pergi mencari dan menangkap sesosok Naga dan membawanya kemari. Naga itu akan kita kurung untuk mendiami senjata yang akan ditempa"
Sena mengusap wajahnya yang kusam oleh debu dan keringat. Ia menatap Mpu Sura dengan pandangan kosong, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja keluar dari mulut empu sepuh di hadapannya.
"Naga?" ulang Sena, suaranya terdengar sangat lelah. "Baiklah. Katakan padaku, di mana aku bisa menemukan makhluk itu, Puncak Semeru, Palung Laut Selatan"
Mpu Sura berdeham pelan. Pandangannya mendadak menghindari tatapan tajam Sena.
Pria tua itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu merapikan perkakas tempanya dengan gerakan canggung.
"Yah. mengenai lokasi pastinya.." Mpu Sura terbatuk kecil. "Aku juga tidak tahu."