Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di resto tante Ami
Di jam kerja setelah coffee break tiba tiba saja Mario merindukan Rania tanpa alasan. Ia meminta Dani memanggil Rania masuk ke dalam ruang kerjanya yang terpisah. Yaitu ruang kerja seorang CEO, lebih privasi dibanding tempatnya bekerja bersama Galih dan Dani.
"Nia pak Mario memanggil kamu, beliau ingin melihat laporan keuangan proyek seminggu kemarin."
Dani menjelaskannya pada Rania yang segera mencari map berisi laporan tersebut.
Untung saja ada alasan pekerjaan pikir Dani. Bosnya terlalu bucin beberapa hari ini.
Rania bergegas menuju lantai atas melewati tangga penghubung disebelah meja kerjanya. Perasaannya selalu berdebar setiap Rania akan menemui Mario didalam ruangannya. Seulas senyum terpancar sebelum tangannya mengetuk pintu.
"Rania masuklah."
Laki laki itu mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas kearah Rania yang mulai mendekat menuju mejanya.
"Ini laporan nya,,, "
Nia menyerahkan map kehadapan Mario namun Mario malah menarik tangannya kemudian memeluk Rania.
"Nia aku berhasil memenangkan tender perusahaan di Jepang. Ini sangat berarti bagiku Nia."
Mario meluapkan kebahagiaannya pada Rania sang kekasih. Nia mengulas senyum karena ikut bahagia mendengarnya.
"Selamat Mario, aku bangga padamu."
Balas Rania melepaskan diri dari pelukan Mario.
"Kamu akan ikut bersamaku lusa Nia, aku juga akan melakukan taken kontrak di Tokyo."
Rania terkejut mendengar ucapan Mario karena pekerjaan Mario tidak ada kaitannya dengan Rania.
"Apa maksudnya? "
Tanya Rania kebingungan.
"Bukankah kantor kita akan mengadakan perjalanan ke Jepang, tapi kali ini aku hanya ingin pergi bersamamu selama di Tokyo."
Ya, memang sebagai sebuah penghargaan atas kerja keras karyawannya Mario memutus kan untuk memberangkatkan seluruh karyawan berwisata ke Jepang. Itupun sudah melalui izin sang papa.
Dananya Mario keluarkan dari kantong pribadi.
"Hem apa aku akan pergi ke Tokyo bersamamu atau dengan teman teman, aku tidak tahu Mario."
Tersirat keraguan diwajah Rania.
"Oh ayolah Rania jangan kejam terhadapku."
Mario merengek seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan.
"Apa kata mereka nanti jika aku tidak bergabung, kamu bisa menyusul ku setelah pekerjaanmu selesai. Tetaplah bersikap profesional Mario"
Semua acara sudah tersusun rapi sesuai jadwal yang Dani buat untuk retreat tahun ini. Biasanya mereka hanya akan pergi paling jauh ke Bali, namun kali ini berbeda dari biasanya. Anggap saja Mario terlalu baik disaat hatinya bahagia.
"Baiklah kita lihat nanti, aku bisa saja tiba tiba menculikmu ditengah keramaian."
Goda Mario mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.
"Lakukan jika kamu bisa."
Ledek Rania menantang.
"Apa Galih juga ikut? "
Tanya Rania dengan ragu, berhasil menghilangkan raut bahagia diwajah Mario.
"Sayangnya dia juga ikut, papa memintaku mengajaknya."
Mario sadar jika Rania tidak nyaman berada di dekat Galih. Karena Galih terus saja meracuni pikiran kekasihnya. Maka itu ia ingin bertamasya hanya berdua saja disana.
"Baiklah, aku harus kembali bekerja nanti aku bisa kena marah atasan ku jika terus pacaran."
Rania berniat meninggalkan ruangan Mario namun kembali ditahan olehnya.
"Akulah atasanmu itu, jadi bersantai lah sejenak Nia."
Mario memeluk Rania dari belakang. Dia menenggelamkan wajahnya dipundak Rania.
Keduanya nampak mesra sampai pintu terbuka tanpa aba aba. Alangkah terkejutnya Rania melihat siapa yang baru saja tiba.
"Pak Wijaya,,, "
Suara bergetar Rania berhasil mengalihkan perhatian Mario.
"Papa, ada apa datang ke kantor? "
Mario sedikit kikuk disaat ketahuan tengah bermesraan dikantor oleh papanya.
"Kamu ini aneh Mario, apa perlu alasan papa mengunjungi bisnis papa sendiri? "
Pak Wijaya memperhatikan air muka Rania yang jelas terlihat gugup bahkan takut.
"Kembalilah ke mejamu Nia, aku perlu bicara dengan papa. Nanti siang kita makan bareng."
Mario menuntun tubuh Rania agar segera keluar.
"Saya permisi pak."
Pamit Rania hanya dibalas senyuman oleh Pak Wijaya.
"Mario minta maaf sudah mencampur adukan pekerjaan dan urusan pribadi. Pa Mario ingin menikah dengan Rania, mungkin saat di Jepang Mario akan melamarnya."
Tanpa pikir panjang ia mengucapkan niatannya dihadapan sang papa tanpa kehadiran mama tercinta.
"Katakan jika papa dan mama merestui, apa orang tua Rania juga akan berpikir yang sama? Mario kita dan keluarga Rania berbeda, apa kamu siap jika harus mengikuti keyakinan Rania atau sebaliknya apa Rania mau mengikuti ajaran keluarga kita? Kalian siap berkorban sebanyak yang kalian miliki?"
Pak Wijaya dan mama Sela bukannya tidak merestui Mario dan Rania, hanya saja jurang diantara mereka terlalu dalam untuk dilalui. Ini menyangkut pegangan keduanya.
"Aku akan berusaha jika Rania memintaku melakukannya, tolong restui kami pa. Bukankah kalian yang selalu menuntutku untuk menikah? "
"Lalu kamu akan melukai perasaan mamamu yang telah mengandung juga melahirkan mu Mario. Sejak kecil kamu dididik oleh mama sehingga tumbuh dewasa dengan baik dan sukses."
Papa seolah memberi isyarat jika mereka tidak ingin Mario berpindah keyakinan dengan mengatas namakan cinta.
"Mario tidak mengerti semua ini pa, tolong beri Mario kesempatan untuk mencari jalan keluarnya."
Mendengar usaha Mario meyakinkan papanya membuat Rania menitikan air mata. Sejak tadi dirinya belum beranjak didekat pintu hanya untuk menguping pembicaraan mereka.
"Aku minta maaf Mario, seharusnya aku tidak pernah mencoba ini semua."
Rania segera pergi begitu tahu percakapan mereka telah berakhir.
Sejak obrolan Mario dan pak Wijaya yang ia dengar Rania lebih banyak melamun dibanding mengerjakan tugasnya. Pikirannya terbang jauh menerka nerka apa yang harus ia lakukan sebelum terlambat nantinya.
"Nia, sadar hey! "
Erik harus menjentikkan jemarinya beberapa kali baru membuat Rania tersadar.
"Iya ada apa Erik? "
Rania bertanya penuh kebingungan.
"Pak Galih memintamu datang ke proyek sekarang juga Nia, ada bahan yang harus de return karena salah ukuran. Cepatlah sebelum dia marah."
Erik memperlihatkan pesan singkat dari Galih pada Rania agar percaya.
"Baiklah aku akan kesana."
Didalam perjalanan Rania mencoba menelpon seseorang.
"Papa apa kabar? Mama lagi apa sekarang?"
Tanya Rania sambil tersenyum mengusap air matanya.
"Mamamu sedang masak untuk makan siang nak, Nia apa kamu baik baik saja sayang? "
Ternyata itu papanya Rania yang sudah lama ia rindukan. Tidak biasanya suara Rania serak jika menelpon keluarga hanya untuk bertanya kabar.
"Nia cuma mau kasih kabar kalau lusa Nia dan seluruh tim kantor akan tamasya ke Jepang pa. Mama sama papa ingin dibawakan apa?"
Tanya Nia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa saja terserah kamu sayang, asal kamu sehat dan baik baik dimanapun nak. Papa dan mama rindu kamu."
"Pa, Rania boleh bertanya sesuatu? "
Tiba tiba hening melanda keduanya. Pasti Puteri kesayangannya tengah mengalami masalah yang cukup berat.
"Ada apa Nia, ceritakan pada papa nak! Agar kamu tidak terbebani kedepannya."
"Rania jatuh cinta pada orang yang salah pa, Nia dan Mario memiliki perbedaan. Apa mungkin kami bisa terus bersama? "
Seolah mengerti ke mana arah perkataan Rania menuju, sang papa memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan.
"Jika kalian berjodoh akan dengan sendirinya bersatu, selalu ada jalan dari setiap masalah nak. Jika akhirnya harus berpisah maka berlapang dadalah. Bukankah obat patah hati itu jatuh cinta lagi Nia? "
Memang begitu mudah mengatakannya, namun bagi Rania yang mengalami itu semua terasa berat dan pahit. Kenapa harus bertemu jika akhirnya berpisah?
Bukankah kejam jika pergi disaat sedang sayang sayangnya?
"Nia tahu papa khawatir, tapi Rania bisa menentukan hidup Rania tanpa harus mengambil jalan yang salah. Terima kasih pa sudah mengingatkan Nia."
Setelah merasa cukup mendapat ketenangan Rania memutuskan sambungan telponnya. Mobil kantor pun sudah tiba di lokasi proyek yang sudah banyak kemajuan, beberapa lantai sudah berdiri kokoh tanpa sepengetahuan Rania.
Rania bergegas mencari keberadaan Galih yang menurut info pak satpam tengah mengawasi pembangunan lantai paling atas.
Rencananya klien Mario dan Galih akan mendirikan super block dengan kualitas bergengsi. Bahkan para tenant sudah mengantri mengambil beberapa unit untuk mereka sewa bahkan pembelian permanen.
Rania sedikit ragu untuk menaiki lift menuju atas, ia trauma dengan kejadian tempo dulu.
Untungnya sesaat kemudian Galih sudah turun sehingga Rania tidak perlu naik keatas.
"Harusnya telpon jika sudah sampai, kamu tunggu saja di kantor."
Rania mengekori Galih entah kemana tapi bukan kedalam kantor.
"Naiklah!"
Perintah Galih pada Rania setelah ia membukakan pintu mobil untuknya.
Rania menurut saja tanpa bertanya ia akan dibawa kemana.
Di perjalanan keduanya tidak mengeluarkan suara apapun, hanya keheningan menemani yang kemudian disertai gerimis tepat di jam istirahat.
Mobil Galih berhenti di restoran milik tante Ami. Galih turun terlebih dulu agar bisa memayungi Rania.
Rania selalu dibuat bingung oleh sikap Galih yang kadang baik kadang juga bisa sangat menyebalkan.
"Nia kamu kehujanan sayang? "
Tante Ami menyambut kedatangan keduanya ditengah ramainya suasana resto saat makan siang.
"Tidak tante, tapi pak Galih sedikit kebasahan."
Rania melihat jas dibagian pundak Galih basah demi melindunginya.
"Tidak masalah, ayo kita makan siang dulu ma."
Ajak Galih pada sang mama juga Rania.
Ketiganya duduk di dekat meja kasir karena hanya itu meja yang tersisa.
Rania tidak mengerti kenapa Galih mengajaknya makan siang. Padahal ia sudah janji akan makan siang bareng Mario. Mungkin kekasihnya sudah kelabakan mencari keberadaan nya.
"Tante sengaja meminta Galih membawa kamu, ada hal yang ingin tante sampaikan Nia."
Tante Ami memulai percakapan sebelum makanan tiba di meja.
"Apa itu tante? "
Mungkin mengenai dirinya kah? Rania menjadi penasaran.
"Tante ingin melamar kamu untuk Galih Nia,,,"
Galih tersedak ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.
"Ma, apa apaan ini? Jangan bikin Galih malu didepan Rania ma ! "
Galih memotong tanpa memberi mamanya kesempatan.
Ia bangkit berniat mengajak Rania kembali ke kantor.
"Galih duduk! Mama belum selesai bicara."
Pinta tante Ami, Raniapun memberi sorot mata agar Galih menurutinya.
"Tante tahu ini gila mungkin, tapi Nia asal kamu tahu Galih selalu mengkhawatirkan keadaan kamu kedepannya jika terus bersama Mario. Galih tidak ingin kamu bernasib sama dengan Zahra."
Lagi dan lagi Galih mempermasalahkan dirinya, dan itu sampai ke telinga Tante Ami. Namun ingin marah pun Rania tidak enak terhadap tante Ami yang begitu baik.
"Tante, Nia Terima kasih sebelumnya karena tante sudah perduli pada Nia. Tapi Nia tahu apa yang Nia inginkan, mungkin pak Galih masih terjebak dimasa itu. Ia terlalu enggan menerima takdir dan selalu mencari seseorang untuk disalahkan, hanya demi bertahan selama ini. Tapi Nia tidak bisa menerima lamaran tante, namun jika berkenan Nia bisa jadi pendengar yang baik untuk pak Galih."
Rania melirik ke arah Galih yang menunduk menahan malu.
"Aku minta maaf Rania, mama sungguh diluar dugaanku. Tolong jangan terlalu dipikirkan ucapan mamaku."
Sesungguhnya tante Ami tahu betul sedalam apa isi hati anak bungsunya. Dia diam namun selalu memperhatikan Rania di setiap kesempatan. Mungkin diawali dengan rasa penasaran, bersimpati hingga rasa suka itu tumbuh begitu saja. Sejak mengenal Rania yang tante Ami tahu kini Galih berhenti clubbing, tidak bergonta-ganti pacar bahkan mabuk mabukan.
Namun Galih belum bisa menyadari hal itu, sehingga ia hanya uring uringan setiap melihat Rania dan Mario bersama.
Rania juga tahu tante Ami melakukannya agar Galih bisa bangkit dari keterpurukan dan memulai lembaran baru.
Andai saja Rania bertemu Galih terlebih dulu mungkin bisa saja hatinya berlabuh pada Galih. Tapi ia masih memiliki perasaan untuk Mario saat ini. Disaat semua orang menginginkan dirinya menyerah, justru Rania ingin terus mencobanya.
Rania memilih kembali ke kantor menggunakan taxitaxi karena ia tidak ingin bersama Galih lagi. Pikirannya terus tertuju pada ucapan tante Ami. Bagaimana bisa beliau berpikir sejauh itu, sejauh mana Galih bercerita tentang dirinya pada sang mama?
Sejak tadi Mario memberinya pesan menanyakan keberadaan kekasih hati yang tak kunjung memberi kabar.
Di kantor Mario uring uringan tidak jelas membuat kepala Dani pusing dibuatnya.
"Loe bisa tenang tidak Yo ? Gue yakin Rania baik baik saja."
Dani mencoba memberi arahan pada Mario agar bersikap dewasa sedikit saja.
"Bagaimana bisa? Loe tahu bagaimana Galih memperlakukan cewek diluaran sana. Sejak awal mereka bertemu Rania terlihat tidak nyaman berada di dekat Galih."
"Sorry Yo before, apa orang tua loe setuju jika kalian pacaran?"
Bukannya memberi tanggapan soal Galih Dani malah memberi pertanyaan menohok.
Sesaat Mario terdiam menatap kearah pemandangan di jendela besar kantornya. Mario tercatat sebagai pemilik gedung pencakar langit tempatnya berpijak, namun ia hanya mengambil tiga lantai dari dua puluh total untuk menjadikannya kantor pusat. Selebihnya ia sewakan kepada para clientnya.
"Mereka tidak melarang gue pacaran sama Nia, tapi kemungkinan besar mereka akan sulit menerima rencana lamaran gue Dan."
Nafas Mario terdengar berat menceritakan percakapannya dengan sang papa beberapa waktu lalu.
Dani hanya manggut manggut tanda mengerti.
"Apa loe serius sama Rania? "
Dani mencari kebenaran pada air muka sahabatnya yang ia kenal sejak kelas satu SMA.
"Loe tahu ini pertama bagi gue menaruh hati pada seorang perempuan. Gue terlalu sibuk mengurus perusahaan papa Dan. Kali ini gue tidak ingin mengalah dari Galih."
Dani terkejut mendengar kalimat terakhir yang Mario ucapkan. Dahinya berkerut jelas meminta Mario menjelaskan apa maksud perkataannya.
"Gue terlalu sayang pada Galih sehingga tidak berani membuka hati untuk Zahra. Gue pikir Zahra menyukai Galih karena kedekatan mereka begitu jelas. Tiga tahun sudah gue menutup hati karena takut kami akan menyukai gadis yang sama lagi. Namun ternyata Rania juga memiliki rasa yang sama dengan gue Dan."
Senyum Mario terukir begitu manis setiap ia mengingat Rania pujaan hati.
Kini giliran Dani yang menghela nafas berat. Sahabatnya ini sungguh tidak peka ternyata. Dirinya saja tahu jika Galih juga menyukai Rania.
Mereka yang tengah asik nongkrong merokok ria di lobby tower Wi corp. mendapati sosok gadis yang tengah dibicarakan turun dari taksi.
Lantas Mario mematikan rokoknya yang baru ia hisap sekali ke asbak.
"Dari mana saja kamu Nia? "
Masih sekitar tiga meter jarak keduanya Mario sudah setengah berteriak.
Suara bariton miliknya menggema mengisi lobby umum di lantai satu.
Rania menempelkan telunjuknya pada bibir mungil miliknya meminta Mario tidak usah heboh.
"Kenapa berisik sekali? Tadi aku makan siang dengan tante Ami, maaf aku tidak sempat memberi kabar."
Rania berjalan lurus menuju lift tanpa ingin berhenti, Mario mensejajarkan langkahnya.
"Apa dengan Galih juga? "
Mario mencoba sabar jika memang benar.
"Dia ada disana."
Terpaksa Rania berbohong.
Keduanya naik lift hanya berdua tanpa memberi kesempatan pada Dani untuk ikut. Laki laki bertubuh tinggi itu padahal sudah berlari kecil demi bisa masuk lift.
Rania mengulum senyum melihat tingkah usil Mario pada Dani.
Mario melirik kearah CCTV yang berada di pojok atas, hingga sedetik kemudian ia sudah mengungkung tubuh Rania ke sudut lift.
Rania merasakan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya. Sungguh ia belum siap melakukan skinship dengan Mario meski mereka sudah pacaran beberapa minggu.
"Temani aku saat di Tokyo nanti, aku hanya ingin berdua saja."
Lagi, Mario berusaha membujuk Rania agar memisahkan diri dari rombongan kantor.
"Baiklah, aku akan mencari alasan supaya tetap di hotel saja."
Dahi Mario mengkerut mendengar jawaban Rania.
"Maksudku supaya aku bisa menemanimu disana, jadi terpaksa aku akan berbohong nantinya."
Mario kini mengangguk mengerti, kemudian ia menempelkan kedua kening mereka sehingga Rania bisa mencium nafas Mario yang bau tembakau.
Ting,,,
Suara pintu lift terbuka dilantai delapan belas, otomatis mempertontonkan kedekatan mereka untuk para tim pelaksana. Maklum saja ruangan itu terbuka tanpa pintu pemisah.
Rania segera mendorong tubuh Mario agar menjauh darinya. Para karyawan dilantai itu tidak menyangka jika gosip tentang Rania dan pak Mario bukan isapan jempol belaka.
"Lanjutkan pekerjaan kalian! "
Perintah Mario setelah berbalik, ia merasa gegabah memperlihatkan kedekatannya dengan Rania selama di kantor.
"Baik Pak. "
Serentak kelima anggota tim perencana menjawab sekaligus mengalihkan pandangan mereka dari arah lift.
Hufh,,,
Rania menghembuskan nafasnya kasar. Kali ini ia tertangkap basah, lain kali dirinya harus bisa menjaga batasan dengan Mario.
"Bisakah kamu berhenti merokok? Aku tidak suka, aku juga mengkhawatirkan kesehatan organ vitalmu."
Rania bercuap ria tanpa beban memarahi Mario.
"Aku bukan perokok aktif Nia, hanya saat tertentu baru aku menyulut sigaretku yang stoknya tidak banyak."
Cup,,,
Mario mengecup pipi Rania sebelum dia mendorong tubuh kekasihnya keluar dari lift. Sementara dirinya masih harus naik satu lantai lagi.