Prolog
Cinta dan penantian adalah sebuah paket yang berbeda, namun memiliki keterkaitan.
Banyak laki-laki yang datang namun belum ada yang mematahkan penantian Sheina terhadap Dave selama bertahun-tahun?.
Hingga akhirnya Sheina bertemu dengan teman Dave yaitu Rangga.
Apakah Rangga dapat mematahkan penantian Sheina?
Apakah Sheina dapat membuka hatinya untuk Rangga?
Apakah Sheina dan Dave bisa bersatu? Atau justru Sheina dan Rangga yang akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9
HARGA DUA GELAS
“Tumben, kamu sudah berada di kampus”, sapa Ratu yang baru tiba di kampus dan langsung duduk disamping Sheina.
Sheina hanya terdiam.
“Kenapa, apakah masalah Dave lagi?”.
Sheina masih diam.
“Bicara lah, wak, kalau kamu diam seperti ini kelas terasa horor tahu tidak?”.
Hmmm, Sheina menghela nafas dan membuangnya secara kasar.
“Masalah .....”.
“Assalamualaikum abang-abang dan kakak-kakak”, terdengar suara dosen pengampuh mata kuliah memasuki ruangan.
“Waalaikumussalam”, serentak mahasiswa.
“Tumben ini dosen sudah datang biasanya telat datangnya seperti kamu”, celoteh Ratu.
Sheina tidak menghiraukan celotehan Ratu.
“Maaf kakak-kakak dan abang-abang, saya hanya ingin menginformasikan bahwa untuk delapan pertemuan kedepan saya tidak dapat hadir, jadi untuk tugas kuliahnya kalian buat makalah tentang mata kuliah kita dan dikumpulkan setelah saya kembali, apakah kalian mengerti?”.
“Mengerti pak”, serentak mahasiswa.
“Apakah ada pertanyaan lagi?”.
“Pak?”, panggil Ratu.
“Iya, ada apa ?”.
“Memangnya ada apa kok bapak tidak masuk?”.
“Saya ingin menikah dan bulan madu, ini undangannya untuk kelas ini”.
“Oh, selamat menempuh hidup baru pak semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah”, serentak mahasiswa.
“Amiin, terima kasih. Baiklah cukup sekian untuk pertemuan hari ini dan saya sudahi dengan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, serentak mahasiswa.
“Wak, kita ke kantin yok”.
Sheina menganggukkan kepalanya dan mereka pun menuju kantin.
“Wak, kamu yang pesan dan aku yang mencari mejanya!”, celoteh Ratu ketika berada didepan kantin.
“Nanti saja lah pesannya, noh lihat masih banyak antrian”.
“Ya sudah, yok duduk disana saja”, tunjuk Ratu di salah satu meja yang kosong .
Mereka pun bergegas menuju meja tersebut.
“Ga, kamu ingin pesan apa?”, tanya Dave ketika berada didepan kantin.
“Biasa”.
“Ok”
Dave bergegas memasuki antrian guna memesan minuman sedangkan Rangga mencari meja yang kosong.
“Wak, memangnya ada masalah apa?”, tanya Ratu ketika merasa **** nya sudah mendarat di kursi.
“Masalah kantor”, jawab Sheina yang melepas tas punggungnya dan meletakkannya di atas meja.
“Memangnya kenapa lagi dengan kantormu?”.
“Hmmm, aku dipecat sementara”.
“Ha”.
“Biasa saja kali tidak perlu lebay begitu”.
“Ya aku kaget saja, kok bisa, memangnya kenapa?”.
“Ketahuan sabotase data”.
“Memangnya bagaimana ceritanya?”.
“Panjang kali lebar sama dengan luas”.
“Kamu sudah dipecat pun masih saja bercanda”.
“Jadi menurut mu, aku harus menangis histeris, begitu?”.
“Ya setidaknya sedih kek atau bingung mau mencari pekerjaan dimana”.
“Apa kamu lihat aku sedang ketawa ketiwi?”.
“Ya tidak, jadi kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang baru apa belum?”.
“Belum, aku masih bisa kembali lagi di kantor kalau aku mau dan ini hanya di pecat sementara”.
“Sampai kapan?”.
“Sampai aku bosen menganggur”.
“Isss, manusia satu ini memang luar biasa. Hmm, sudah sana pesan minuman keburu kering ini tenggorokan!”.
Sheina pun bangkit dari duduknya dan bergegas memasuki antrian.
Sial, kenapa bisa ada Dave sih disini?, ya Allah kenapa lah Engkau pertemukan aku dengan Dave lagi? dan kenapa juga bisa satu kampus begini? , batin Sheina.
Sheina kemudian menundukkan kepalanya sedangkan Dave bergegas meninggalkan antrian karena sudah mendapatkan pesanannya.
Astagfirullah, kan aku yang meminta dia untuk menemani daftar kuliah dikampus ini kenapa justru aku menyalahkan Allah? ya Allah ampuni lah hambamu yang sedang patah hati ini, batin Sheina dibarengi menepuk-nepuk kening dengan tangannya.
“Kenapa mbak? pusing?”, tanya salah satu mahasiswa yang berada di antrian.
Seketika Sheina mendongakkan kepalanya, kemudian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Alhamdulillah, sudah pergi rupanya dia, batin Sheina.
“Ini nah pesananmu?”, Dave menyodorkan minuman didepan Rangga.
“Thanks”.
Itu kan temannya Sheina?, Sheinanya kemana?, batin Dave ketika matanya tidak sengaja melihat Ratu.
“Hai yank”, sapa Nadia yang baru tiba dikantin.
“Hei”.
“Hai Rang”, sapa Nadia dan Della bersamaan.
Rangga yang masih asyik dengan ponselnya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
“Nad mau pesan apa?”, tanya Della.
“Nanti saja del, noh antriannya panjang?, memangnya kamu mau mengantri?”.
Della hanya senyum.
“Sudah duduk sini dekat Rangga dan kalau haus itu kan ada minumannya Rangga, iya kan Rang?”, goda Nadia.
“Apaan sih Nad”.
“Hahaha, boleh kan Rang?”, tanya Nadia.
Rangga hanya membalas dengan senyuman.
“Duh Rang, manis banget sih senyum mu, pantes saja uwak satu ini tergila-gila. Aku pun kalau tidak punya kekasih mungkin juga akan tergila-gila dengan mu?”, goda Nadia.
“Dengar itu Rang yang punya kekasih saja bisa tergoda dengan mu apa lagi yang jomblo”, tambah Dave.
“Hahaha”, Nadia, Della dan Dave tertawa bersama.
Tiba-tiba mata Della tertuju ke Sheina yang sedang berjalan menuju mereka dengan membawa dua gelas jus alpukat.
Sepertinya ada mainan malam ini, akan aku permalukan kamu, Shei, batin Della dengan senyum liciknya.
Rangga yang merasa haus mulai mengambil minuman yang ada disampingnya, seketika matanya tertuju ke arah Sheina yang berjalan ke arah mejanya.
Semakin hari kamu semakin cantik, Shei, batin Rangga dengan senyumnya.
Sial, harus melewati meja Dave dan ditambah lagi ada iblis pula. Ya Allah bantu hamba untuk membasmi iblis beserta komplotannya, batin Sheina.
Sheina kemudian mempercepat langkahnya untuk melewati meja Dave, namun siapa sangka langkahnya terhenti sebab Della sengaja menjegal kaki Sheina.
Praang!
Dua jus yang dibawa Sheina jatuh begitupun dengan Sheina.
Semua orang yang ada di kantin pun terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Nadia, Dave dan Rangga.
“Uppp sorry”, ucap Della.
Sheina seketika bangkit dan membalikkan tubuhnya.
“Sheina?, sorry, aku tidak sengaja”.
Hmmm, Sheina menghela nafas dan menghembuskannya secara kasar. Matanya tertuju ke arah Rangga, kemudian dengan santainya Sheina berjalan mendekati Rangga dan mengambil jusnya.
Byurr!
Segelas jus membasahi Della.
“Shei”, Della bangkit dari duduknya dengan berteriak.
“Upps sorry, aku tidakk sengaja”.
“Kamu sengaja kan”, teriak Della menahan amarahnya.
“Kenapa?, lagian tidak perlu teriak-teriak kali, Del, ini kantin bukan kebun binatang”.
“Kamu tahu tidak kalau baju ini harganya mahal, apakah kamu sanggup menggantinya?”.
“Bodoh amat, kak nanti gelas yang pecah diganti sama mak lampir ini ya, namanya Della. Iya kan Del?”.
“Cuiih, apa urat malu mu sudah putus, kamu yang memecahkan dan aku yang disuruh ganti?”.
“Kamu tidak bodoh kan ,Del?, Apa jangan-jangan kamu mulai amnesia?, apa kamu lupa siapa pelakunya?, kenapa,?, apa kamu tidak sanggup hanya membayar dua gelas?, oh atau kamu lupa membawa uang?”, ejek Sheina.
“Jangankan dua gelas, bahkan mulutmu pun bisa aku bayar”.
“Apakah kamu yakin?”.
“Kenapa tidak dan kamu hanya perlu menyebutkan berapa nominalnya, detik ini juga aku bisa memberikannya”.
Sheina hanya menganggukkan kepalanya kemudian naik ke atas meja.
“Mohon perhatiannya guys, untuk malam ini siapa pun yang ada di kantin ini bisa makan dan minum sepuasnya sebab ada nona Della yang cantik ini yang akan mentraktir kita semua, iya kan Del?”, ejek Sheina.
“Shei, apakah kamu sudah gila?”, teriak Della.
Sheina kemudian turun dari meja.
“Bukannya tadi kamu ingin tahu harga mulutku?, padahal itu hanya harga dari beberapa kalimat saja yang keluar dari mulutku bukan harga mulutku. Kenapa harus terkejut begitu,Del?, apa masih kurang?, atau apa uang mu tidak cukup untuk itu?”.
“Jangankan untuk membayar itu semua bahkan tubuhmu pun bisa aku bayar, jangan-jangan harga tubuhmu jauh lebih murah dari harga mulutmu?”.
“Kenapa? apa kamu juga tertarik dengan tubuhku?”.
“Jangan halu, najis sekali tertarik dengan tubuh penggoda seperti mu. Aku hanya ingin mempromosikan tubuh mu kepada om-om. Kali Saja ada yang berminat kan lumayan loh, Shei, bisa kamu gunakan untuk biaya hidup berbulan-bulan”.
“Wow, ternyata teman main mu dengan om-om ya? pantas saja uangnya terus mengalir”.
“Kepala ot*k mu, apa kamu pikir aku kekurangan uang seperti mu sehingga harus menjadi wanita penggoda. Asal kamu tahu om-om yang aku maksudkan adalah teman ayah ku kerja dan mereka semuanya ber uang loh. Aku yakin tubuhmu akan laku kalau dijual ke mereka”.
“Kalau teman ayahmu saja ber uang, berarti ayahmu juga ber uang dong. Takutnya nanti ayahmu pula yang tertarik dengan tubuhku”.
“Apa kamu pikir aku sudi punya ibu tiri seperti mu, jangan harap!”.
“Hahaha, apa kamu pikir aku juga sudi punya anak tiri yang tong kosong seperti mu? mungkin pun laki-laki yang ada disamping mu juga tidak akan sudi punya kekasih sepertimu, iya kan mas?”, tanya Sheina ke Rangga.
Rangga hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Sheina.
“Kenapa ? apa kamu juga tertarik dengannya?”.
“Jika dia bukan seperti laki-laki yang ada dihadapanmu?, kenapa tidak?”.
“Kamu...”.
Sheina kemudian berlalu meninggalkan meja Della menuju ke pelayan.
Jangan harap kamu bisa merebut Rangga dari ku, Shei, Rangga hanya milikku, hanya milikku, batin Della.
“Kak, jus jeruknya satu ya!”, pinta Sheina ke pelayan.
“Ok, sebentar ya”.
“Eh, wak, kok bisa kamu berurusan dengan mak lampir itu?”, tanya Ratu dari arah belakang.
“Ntahlah”.
“Kak ini jusnya”, pelayan menyodorkannya ke Sheina.
“Terima kasih kak, ini uangnya”.
“Ok”.
“Kamu ingin pergi kemana, wak?”, tanya Ratu penasaran.
“Lihat saja”.
Isss memang manusia satu ini, suka sekali berurusan dengan mak lampir dan gerombolannya, gumam Ratu.
Sheina berjalan menghampiri Rangga.
“Maaf mas, ini jus yang tadi aku ambil”.
Rangga seketika menoleh ke sumber suara dan didapati Sheina berada disampingnya. Rangga menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Sheina kemudian membalikkan tubuhnya dan berniat ingin pergi dari meja tersebut, sedangkan Della terlihat sangat marah dengan kejadian tersebut. kemudian Della mengambil jus tersebut dan berniat menyiramkannya ke Sheina.
“Jus ini tidak pantas untuknya, dasar wanita penggoda”.
Byuurr !
Sheina membalikkan tubuhnya, dia sangat terkejut sebab yang terkena siraman jus bukan dirinya melainkan Rangga.
Rangga yang mengetahui gerak gerik Della, kemudian mengambil inisiatif menggunakan tubuhnya untuk melindungi Sheina dan untuk seperkian detik mata mereka bertemu.
“Rang, maaf aku tidak bermaksud .....”.
Kalimat Della terpotong ketika Rangga membalikkan tubuh menghadap kepadanya. Matanya sangat tajam dan mengisyaratkan amarah yang sangat besar membuat Della merasa ketakutan dan tidak bersuara.
Tiba-tiba Sheina menepuk-nepuk punggung Rangga, seketika Rangga membalikkan tubuh menghadap Sheina.
“Mas, kali ini minta ganti jusnya dengan mak lampir ya bukan dengan saya dan saya tidak ada hutang serta urusan apapun lagi dengan mas nya”.
Rangga hanya tersenyum mendengar penuturan Sheina.
Kemudian Sheina bergegas meninggalkan mereka semua.
Hanya mendengar suaramu saja amarahku sudah mereda, batin Rangga.
“Rang, maaf aku...”.
Lagi-lagi kalimat Della terpotong sebab Rangga memilih berlalu meninggalkan mereka semua daripada harus mendengar penjelasan Della.