Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Pandangan Apa Itu?
"Aisyah, tolong antarkan ini ke ruang tamu ya!" Pinta Ummi, sambil menyerahkan dua cangkir teh dan beberapa potong bolu di atas piring dalam nampan.
"Baik, Ummi," ucapku, seraya menerima nampan.
Aku pun segera membawanya ke ruang tamu. Terlihat, di sana ada Abah Yai yang sedang membaca sebuah buku tebal entah apa judulnya, karena semuanya menggunakan tulisan arab tanpa harokat. Sedangkan di depannya, terlihat Gus Ilyas tengah menghafal hadits. Terbukti dengan caranya menerawang dan mengulang-ulang beberapa kalimat hadits yang pernah kudengar dari Ustadz Yusuf.
Ah, ternyata anak kyai harus menghafal juga ya. Aku pikir mereka sudah pintar sejak lahir, jadi nggak perlu hafalan kayak aku. Aku pun mengulum senyum memikirkan itu, ada-ada saja.
"Monggo di minum tehnya, Abah Yai, Gus," ujarku, sambil mengangguk menyapa keduanya.
Kulihat Abah Yai membalas dengan anggukan yang sama denganku, dan tersenyum. Kemudian kembali membaca buku.
Sedangkan Gus Ilyas, "Terima kasih ...," ucapnya, kemudian tersenyum sambil memandangiku dengan pandangan yang ... entah.
Rasanya aku tidak asing dengan pandangan itu?
Ah ya, aku ingat, Ustadz Yusuf! Kenapa tatapannya mirip sekali sih? Memangnya ada yang salah denganku?
Hey, kaum lelaki! Jaga pandangan kalian! Aku bukan mahrom kalian tau!
"Sama-sama, Gus." Aku pun segera berlalu, meninggalkannya yang masih diam terpaku.
Untung tadi aku langsung menunduk, kalau tidak, bisa gawat ini. Bisa goyah pondasi imanku, semoga jangan sampai Ya Allah. Secara, dia 'kan nggak kalah jauh dari Ustadz Yusuf.
Astaghfirullah, Aisyah! Mulai lagi, ya! Padahal tadi baru saja diingetin, huh! Sebagian hati memaki.
Ya, kadang memang isi hati seperti itu. Sebagian membawa kebaikan, sedangkan sebagian lainnya membawa keburukan. Tinggal kitanya saja yang harus pandai-pandai memilih. Mau menjadi baik, atau menjadi buruk. Semua tergantung pada perilaku kita.
.
Usai membaca beberapa nahwu dan shorof dalam kitab Alfiyah, aku segera bergegas ke dapur, membantu Bu Siti yang tengah memasak beberapa makanan khas daerah ini.
"Masaknya banyak sekali, Bu, nggak kaya biasanya?" tanyaku, sambil mengupas bawang merah.
"Iya, soalnya hari ini akan ada orang yang datang," jawab Bu Siti, sambil tangannya mengaduk sayur di depannya.
"Memangnya siapa, Bu?"
"Nanti kamu juga akan tau," Hmm ... Bukannya menjawab dengan jelas, malah membuatku semakin penasaran.
Aku pun kembali diam, setelah mendapat jawaban yang tidak memuaskan.
Selang beberapa menit, Salsa menghampiriku.
"Mbak, yuk ikut aku, cepat ganti baju!" ujarnya, sambil menarik tanganku menjauhi bawang.
"Emang kita mau ke mana?" tanyaku, menghentikan acara penarikan tangan olehnya.
"Nanti Mbak akan tau. Tapi sebelum itu, Mbak harus ganti baju dulu, soalnya ...," Salsa menggantung kalimatnya.
"Apa? Bau bawang ya?" Aku menebak.
Sedangkan yang di tanya malah menahan seyum penuh arti. Ishh ... menyebalkan!
Aku pun segera ganti baju ditemani olehnya, kemudian bergegas mengikutinya ke rumahnya.
Sampai di rumah, semua sudah berkumpul. Ada Abah Yai, Ummi Khaddijah dan, Gus Ilyas. Seperti sebelumnya, dia mengulum senyum saat melihatku.
"Aisyah, Ummi boleh minta tolong sama kamu?" ujar Ummi.
"Minta tolong apa, Ummi?" tanyaku, sedikit mendekat.
"Nanti, tolong kamu temani Salsa ke bandara, ya. Jemput Zahra, dia pulang dari Kairo hari ini," ucapnya lembut.
"Baik, Ummi. Ehmm, kalau boleh tau, siapa saja yang ikut?"
"Harusnya sih Abah sama Ummi, Ilyas dan juga Salsa. Tapi, hari ini Abah ada tausiyah yang nggak bisa ditinggalin. Ummi juga lagi kurang enak badan ini, takut mabok perjalanan. Jadi yang berangkat jemput kalian saja ya? Ilyas, Salsa, kamu sama Yusuf," ujarnya, menerangkan.
Sama Ustadz Yusuf juga? Aaa ... jadi deg-degan ini.
"Oohh, ya sudah, sebaiknya Ummi istirahat saja. Biar cepat enakan badannya," saranku, merasa kasihan melihat Ummi yang kelihatan pucat.
"Iya, Umm. Tadi 'kan Ilyas udah ingetin supaya Ummi istirahat saja, biar cepet enakan. Ummi nggak mau 'kan kalau Mbak Zahra nanti khawatir?" Gus Ilyas ikut menambahkan.
"Ya sudah, Ummi istirahat dulu ya. Nanti sampaikan sama Yusuf, bawa mobilnya hati-hati, jangan ngebut," nasehat Ummi. Kami pun mengangguk mengiyakan, kemudian Ummi segera berlalu meninggalkan kami.
Tidak berapa lama Ustadz Yusuf datang, kami pun segera berangkat.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.