Bagaimana jadinya jika kedua orang yang memiliki sikap yang bertolak belakang mejalani kehidupan dalam sebuah ikatan pernikahan?
Dewa pria sederhana yang ingin meraih asa si Universitas internasional dengan bermodalkan bea siswa. Bertekad menjadi siswa terbaik, justru mengantarkannya ke jurang kehancuran hingga harus menikah dengan Zoya. Wanita pembuat masalah yang ternyata memiliki kehidupan penuh luka.
Zoya di benci oleh Ayahnya sendiri karena di anggap sebagai pembunuh sang ibu. Kurangnya kasih sayang dan perhatian membuat Zoya menjadi anak yang sangat nakal.
Sampai ia di jebak oleh Kakaknya sendiri hingga menikah dengan Dewa untuk balas dendam.
Bagaimana kisahnya? langsung baca ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewa Vs Zachary.
Zoya yang sudah panas telinganya langsung keluar dari barisan. Jujur saja ia sangat iri dengan Zachary yang selalu banggakan, di pandang orang. Tapi entahlah, ia rasanya tak berdaya. Seharusnya ia bangga memiliki kakak seperti Zac. Bukan malah membencinya seperti ini. Zoya ingin sekali marah, tapi marah pada siapa?
Zachary? Dia memang sangat hebat. Kalau ia mau, mungkin ia juga bisa menandinginya. Tapi ia selalu ingat sikap Ayahnya yang selalu tak memandangnya.
"Kenapa kau disini?" Zoya mengangkat wajahnya saat mendengar suara orang mendekat.
"Bukan urusanmu" kata Zoya ketus. Ia sedang malas berbicara dengan Dewa.
"Kenapa kau terlihat tidak suka dengan Zac? Bukankah dia kakakmu?" tanya Dewa sedikit penasaran karena melihat Zoya tak seantusias siswa lain.
"Kenapa kau bertanya?" Zoya mengangkat alisnya melempar pertanyaan pula.
"Ya, aku lihat kau tidak seperti siswa lain yang kagum dengannya. Harusnya kau bangga kan" kata Dewa menjelaskan.
"Hmmm..Kenapa kau ingin tau?" Zoya kembali bertanya membuat Dewa jengkel, apasih susahnya menjawab, pikirnya.
"Kalau tidak ingin memberi tahuku ya sudah" kata Dewa merasa malas. Ia juga tak begitu perduli sebenarnya.
Hening....Tidak ada obrolan apapun antar keduanya. Zoya sendiri memilih sibuk mencoret-coret kertas dan Dewa juga diam saja entah memikirkan apa.
"Dewa....Coba lihat ini" kata Zoya menjujukkan kertas bertuliskan angka 13456789.
"Ada apa dengan angka itu?" tanya Dewa mengerutkan dahinya.
"Coba lihat yang benar ..Apakah ada yang salah?" kata Zoya mendekatkan kertas itu pada Dewa.
Dewa meneliti tulisan itu dan ia baru sadar kalau angka itu tidak ada angka 2 nya.
"Tidak ada 2 nya?" kata Dewa.
"Ya, sama sepertimu. Tidak ada duanya di hatiku" kata Zoya mengedipkan matanya menggoda.
"Receh" kata Dewa malah tersipu karena godaan Zoya.
"Aku serius, tapi kalau di pikir-pikir, wajahmu memang cocok banget jadi orang susah ya" kata Zoya lagi.
Dewa mendengus kecil, baru saja ia senang karena gombalan Zoya. Kini ia kembali di hina lagi, dasar menyebalkan. gerutu Dewa dalam hatinya.
Zoya tersenyum tipis saat melihat wajah Dewa cemberut, ia kemudian mendekatkan dirinya dan berbisik.
"Susah di lupakan maksudnya"
Ucapan Zoya membuat Dewa tersenyum, ia bisa merasakan hembusan nafas Zoya membuat ia menoleh. Jarak mereka berdua begitu dekat, mungkin hanya sekitar beberapa inci saja. Dewa langsung terperangkap oleh mata indah Zoya membuatnya langsung terdiam.
Zoya yang awalnya ingin menggoda Dewa itu malah terhipnotis oleh tatapan Dewa yang tajam dan dingin, membuat jantungnya berdetak kencang. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya dari mata itu.
Dewa sendiri langsung tersadar dan membuang muka bersamaan dengan beberapa siswa yang baru saja terlihat masuk.
*****
Semenjak kejadian itu, Zoya tak pernah lagi menganggu Dewa. Ia sengaja menghindari pria itu karena ada rasa aneh dalam dirinya jika bertemu dengan Dewa. Zoya seperti senjata makan tuan, ia yang ingin menggoda Dewa tapi malah ia yang tergoda oleh Dewa.
Dewa juga agak heran sih sebenarnya dengan sikap Zoya itu. Tapi ia juga tak ambil pusing, ia malah bisa belajar dengan tenang di kampus.
Selama empat bulan disana, Dewa sudah bisa menunjukkan kehebatannya. Ia bulan lalu bahkan sudah ikut lomba siswa antar kampus di Kota Bandung. Sekarang ia sedang berdiri menatap Zachary yang tampak lincah bermain basket.
Mahasiswa disana tak henti bersorak saat melihat Zac yang terlihat begitu keren. Entah kenapa Dewa merasa tertantang dan ingin bermain dengan jagoan satu kampus itu.
"Aku ingin bertanding denganmu" ucapnya berdiri tepat di depan Zac.
"Memangnya siapa dirimu berani melawanku" kata Zac mengerutkan dahinya heran melihat orang yang berani melawannya.
"Tidak penting siapa aku, aku hanya ingin tau hebatnya siswa terfavorit disini" kata Dewa datar saja.
"Kau yakin ingin melawanku? Aku takut kalau kau kalah nanti, kau akan malu" kata Zac tersenyum sinis dan menatap remeh pria di depannya.
"Kita lihat saja" kata Dewa sedikit kesal karena sikap Zac yang sombong. Ia langsung merebut bola basket yang berada di tangan Zac.
Zachary tak bisa menyembunyikan senyum sinisnya melihat keberanian Dewa. "Mau bermain-main denganku? Baiklah, bersiaplah untuk malu" batin Zac.
Pertandingan keduanya cukup sengit karena saling berkejaran poin. Semua siswa disana tampak ikut menonton pertandingan itu, mereka tentu saja mendukung Zac yang memang sudah terbukti kehebatannya. Tapi Dewa pun tak kalah hebatnya, sekarang ia unggul lima poin dari Zac.
"Anak ini pintar juga ternyata" batin Zac mulai kuwalahan menghadapi Dewa. Ia mencoba mengecoh Dewa namun ia malah keseleo membuat ia terjatuh.
Dewa langsung mengambil bola itu dan satu lemparan lolos membuat kemenangan untuknya. Mahasiswa disana pun kaget namun juga langsung terpesona dengan Dewa. Mereka bertepuk tangan riuh.
Zac mengertakkan giginya tak senang karena ia kalah, ia kemudian bangkit dan mendatangi Dewa yang masih berdiri disana.
"Congrats Bro, Kau memang hebat" kata Zachary mengulurkan tangannya untuk bergive five dengan Dewa.
"Terima kasih" kata Dewa bingung sebenarnya dengan tingkah Zac ini.
Zachary hanya tersenyum dan menepuk pundak Dewa sebelum pergi dari sana. Dewa juga ingin pergi namun ia sedikit kaget saat melihat Tara.
"Wow! Dewa...Kau benar-benar hebat sekali" kata Tara berdecak kagum menatap Dewa yang sangat keren karena sudah mengalahkan dua siswa terpopuler di kampus ini.
"Aku hanya bermain" kata Dewa berwajah biasa saja.
"Tapi kau itu hebat tau, Kau satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Zac" kata Tara masih memuji kehebatan pria itu.
"Ke kantin yuk, Pasti haus banget habis tanding" kata Tara menarik lengan Dewa agar mengikutinya. Ia menunjukkan kepada mahasiswa disana kalau ia dekat dengan siswa yang sudah mengalahkan Zachary.
Para wanita disana tampak begitu iri pada Tara yang bisa dekat dengan Dewa. Tara tersenyum puas melihat hal itu. Sepertinya ia harus segera memanfaatkan keadaan ini.
Sedangkan Zoya yang melihat hal itu tampak mengerutkan dahinya, penasaran apa hubungan Tara dan Dewa.
*****
Tara menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia baru saja menambah sedikit bedak dan lipstiknya. Ia tersenyum puas saat melihat wajahnya yang sudah cantik.
"Cantik" ucapnya tersenyum lalu memasukan bedaknya ke dalam tas.
"Ya, Bukankah itu modalmu untuk merayu para lelaki disini?" Tara sedikit kaget saat mendengar suara di belakangnya. Sedetik kemudian mendengus saat melihat Zoya.
"Untuk apa kau kesini?" kata Tara menatap malas pada si biang onar ini.
"Tentu saja ke toilet, By the way aku ucapkan selamat karena sudah bisa menggaet anak baru itu" kata Zoya membuat Tara tersenyum sinis.
Happy Reading.
Tbc.