NovelToon NovelToon
Mirror!

Mirror!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rayu Tha

Ketika hidup terlalu menakutkan untuk dilewati sendirian. Membawa dua hati dengan pikiran dan pengalaman hidupnya masing-masing untuk bertemu dan menjalin sebuah kisah yang berjalan beriringan waktu.

Cinta, kasih sayang, dan perhatian adalah segala hal yang berarti untuk seorang Amy. Bukan karena sosoknya mendapatkan banyak, justru karena dia tidak pernah mendapatkan semua itu. Membuat Amy tumbuh menjadi gadis yang selalu menutup dirinya. Rasa penasaran seorang Reihan J. Deastara mulai mengusik hidup Amy. Semua masalah dan rasa sakit terungkap satu persatu. Membuat Amy keluar masuk labirin kehidupan yang mendewasakan dengan kisah cinta yang tidak terduga. Mencintai Reihan adalah anugerah untuk Amy. Juga awal tumbuhnya luka yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayu Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amyra : Perkenalan

Rasanya tidak mengenakan sekali tidak bisa bergerak dengan leluasa. Rasa perih dari bagian telapak kakiku yang terluka pagi tadi membuat gerakanku jadi terbatas. Untuk hari ini sepertinya aku hanya akan menghabiskan waktu istirahat siangku dalam kelas saja. Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Membuka sepatu yang ku gunakan dan melihat plaster luka yang sudah kembali penuh dengan darah.

Aku clingukan diruang kelas. Memperhatikan sekeliling lalu bangkit dengan menahan sakit. Ku Gunakan lagi sepatu yang tadi ku buka. Berjalan perlahan menuju pintu belakang menuju toilet sekolah. Tanganku baru saja berpegangan pada gagang pintu, saat pintu itu lagi-lagi terbuka secara tiba-tiba. Aku menatapnya tanpa sengaja. Teman sebangku ku. Segera ku tundukan wajah.

"Apa gue semenakutkan itu buat lo?!" ujarnya dengan langkah yang semakin mendekat ke arahku. Menggiring langkahku ke pojokan dengan langkah kakinya yang jenjang. Perlahan aku mengangkat wajahku, melihat bagaimana dia menatap, kakiku langsung terasa makin lemas. Matanya terlihat memerah. Dan bayangan bagaimana aku selalu mendapat pukulan saat dirumah melintas dalam benakku.

"Jangan pukul lagi!" teriakku reflek sembari menutupi bagian wajahku dengan menyilangkan lenganku sebagai pertahanan.

Sesaat, aku dapat merasakan, seketika ketakutan dan rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku. Tapi aku juga menyadari, yang terjadi kini bukanlah hal yang sama seperti dirumah. Teman sebangku ku ini, bukan orang-orang di dalam rumahku. Mereka jelas berbeda.

"Ma, maaf!" ucapku cepat-cepat pergi dari kondisi yang menakutkan itu. Nafasku rasanya tercekat dengan kondisi dimana aku disudutkan seperti itu. Tidak banyak yang bisa ku lakukan selain menjauh sesegera mungkin dan menghindari percakapan apapun selama sisa jam pelajaran nanti dengan sosoknya. Ya! Aku tidak ingin ada yang tahu bagaimana hariku setelah disekolah. Tidak apa-apa kan?! Setiap manusia mempunyai rahasia hidupnya masing-masing. Termasuk aku.

Begitu tiba di toilet, hal pertama yang kelakukan tentu saja masuk ke dalam salah satu ruang yang kosong. Duduk diatas kloset untuk menenangkan diri. Mengatur nafas dan menyesali kebodohan dari kata-kata dan tindakan yang terucap tiba-tiba karena ketakutan.

"Bodoh!" gumam ku menghentakkan kaki. Rasa langsung perih menjalar memenuhi ruang tubuhku. Saat itulah aku menyadari, hal penting yang harusnya aku lakukan dengan datang ke toilet. Dengan niat mengambil plaster luka dalam saku rok yang ku pakai, aku mendapati tanganku hanya meraih botol kecil yang ku pastikan itu adalah obat luka. Aku menatap botol kecil itu dengan perasaan sedih bercampur pasrah.

Sepertinya aku telah lupa memasukan plaster luka itu atau mungkin aku menjatuhkan saat berjalan menuju toilet tadi. Hari yang buruk!

Dengan berjalan pelan, aku berhasil kembali ke dalam kelas. Kembali dengan menerima tatapan yang tidak biasa dari teman sebangku dan gengnya yang kini tengah menduduki bangku tempat dudukku. Sedangkan teman yang satunya tengah duduk di atas meja. Ketiganya menatapku dengan cara memperhatikanku selangkah demi selangkah. Rasanya benar-benar tidak mengenakan sekali dipandang seperti itu.

Pada langkah kesekian, aku semakin ragu melangkah maju. Melihat bagaimana mereka mulai membicarakan sesuatu, setelah menatapku dengan seksama, aku benar-benar menghentikan langkahku.

"Ketinggalan sesuatu?" teman sebangku ku itu tiba-tiba langsung menatap dengan tajam. Memainkan plaster luka yang sepertinya memang aku jatuhkan saat memasukannya ke dalam saku rok sekolahku.

Aku melihat sebentar ke bawah kakiku. Merasakan perih yang kembali berdenyut. Bukan karena lukanya yang tertekan ketika aku berjalan, tapi karena tatapan itu membuatku sulit menghilangkan rasa takut yang sudah terlanjur tertanam dalam benakku.

Terlebih saat sosok itu berjalan kearah ku. Rasanya jantungku berdegup dengan kencang. Apakah dia akan menanyakan maksud omonganku yang tadi!! Atau kah dia tersinggung karena sepertinya omonganku mungkin telah membuatnya merasa dituduh menyakitiku.

"Ketinggalan ini?!" ucapnya saat sudah berdiri dihadapan ku. Tangannya menyerahkan plaster luka yang ku jatuhkan.

Belum sempat benar-benar menatapnya, dia dengan wajah bosannya, menarik tangan kananku, membuka telapak tangan dan menaruh plaster luka itu di atas telapak tanganku.

"Sebaiknya cepat! Sebentar lagi bel masuk sekolah berbunyi." omongannya selesai. Dan, bel masuk langsung berbunyi dengan lantang. Menandakan, jam pembelajaran berikutnya akan segera dimulai.

Aku hanya sedikit membungkuk. Seperti kebanyakan orang akan reflek mengucapkan terima kasih, tidak bagiku. Untuk mengeluarkan kata-kata dihadapan orang lain, sangatlah susah untukku. Terlebih untuk menyampaikan maksud dari omonganku. Rasanya benar-benar membutuhkan banyak waktu.

Sebelum kembali keluar menuju toilet, aku menoleh ke arah teman sebangku ku itu. Menatap punggungnya yang baru akan duduk diatas kursinya, tetapi dijahili oleh temannya. Aku berpaling kembali dan mendapati Rahma melotot kearah ku dengan tatapan curiga.

"Mau kemana?"

"I, ini!" jawabku memperlihatkan plaster luka padanya.

Sejenak melihat kearah ku lagi dari atas sampai bawah, Rahma semakin menatap curiga. Matanya tetiba memicing ke arah belakang dengan tajam. Dan sebuah isyarat menunjuk ke arah bawah dari yang dilihat oleh Rahma.

"Jangan sampai keduluan guru! Gue nggak punya banyak alasan." ucapnya menepuk pundak ku. Aku hanya bisa mengangguk dengan itu.

Terkadang, aku sangat tidak percaya dengan lingkungan ku. Tidak percaya dengan dunia ku. Tidak percaya dengan hidupku. Selama ini, semuanya baik-baik saja saat aku menghadapi semuanya sendirian. Membuat jarak dan batas terhadap lingkungan dan orang-orang sekitar karena aku merasa hal itu akan lebih baik bagi orang lain. Akan lebih sedikit orang yang akan ku libatkan dalam masalah jika aku menjauhi orang-orang. Tetapi memang, aku tidak bisa memungkiri, orang-orang saling berhubungan untuk bisa saling membantu satu sama lainnya.

Aku baru akan masuk ke dalam kelas melalui pintu belakang kelas, tepat saat pak Ali menghentikan langkahku. Memanggilku ke pintu depan, dan menghadap padanya karena mendapati ku terlambat masuk ke dalam kelasnya.

"Tidak biasanya siswi pendiam seperti mu terlambat masuk kelas?!" komentar pertama Pak Ali. Aku hanya bisa menunduk. Tidak bisa menjelaskan apapun, karena terlalu segan menjelaskan hal kecil yang melibatkan orang lain sebagai saksi. Terlebih terhadap hal yang mereka tidak ketahui alasannya kecuali untuk menebaknya.

"Sudah selesai mengganti plester pada lukanya?" Siska tiba-tiba melengok dari dalam kelas setelah mencolek pundak ku.

Kembali aku mendapatkan tatapan yang sama. Pak Ali melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kaki kiri ku memang sedikit berjinjit, apakah karena itu pak Ali membiarkan semua ini dan membiarkanku mengikuti kelasnya.

Secepat kilat tangan Siska mencubit bahuku. Memintaku untuk bergegas masuk dengan ekspresi yang jelas-jelas mengisyaratkan kalau dia sedang jengkel entah karena apa.

Masuk ke dalam kelas, dari bangku disamping, aku mendapat tatapan yang tidak biasa. Dia melihatku dengan mengerutkan kening dan menatap tajam. Dia memang menyeramkan. Aku semakin menunduk. Terlebih begitu sudah tiba di bangku tempat ku duduk, aku segera mungkin duduk dan berusaha mengabaikan tatapan yang masih mengarah padaku.

"Reihan Diastara!" dia mengulurkan tangan tanda perkenalan dirinya padaku.

Aku langsung menoleh padanya dengan kaget bercampur heran.

"Nama lo siapa?" tanyanya lagi yang kali ini membuatku yakin kalau dia memang sedang mengenalkan dirinya padaku.

"Amy!" jawabku berbisik sembari sedikit mendekat pada jangkauan pendengarannya. "Amy Rashita!" aku menjabat tangannya sejenak. Lalu bergegas mengeluarkan buku pelajaran ketika Pak Ali berdeham cukup keras sembari melirik kearah ku.

"Mari kita mulai pelajarannya..."

Hening.

...***...

1
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
BeautyBabe
semangat thor.... bikin pembaca bahagia dpt pahala loh... baper nih
Sun Flower 🌻: terima kasih semangatnya.. lagi keliling" cari inspirasi ini. Ditunggu yah
total 1 replies
Zizi Suartini
Sesenang itu sih bacanya, bikin nagih banget huhuh
Sun Flower 🌻: terima kasih suportnya
total 1 replies
Windy Miller
Semoga kedepannya bisa makin bagus dan author ga pusing2 mikirin hal negatif ya. Fighting!
zuluandzephyr
lanjut thor ceritanya semakin seru dan meneganng kan heheh semangat thor
SnowySecret
Keren kak 🤩🤩 Semangat terus...
Sun Flower 🌻
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!